
Semua orang yang berada di dalam ruangan VVIP sedang berdoa serta bermunajad pada Allah anak menantu dan istri Izdi segera sadar dan pulih. Izdi terus saja memegang tangan istrinya. Abi dan Azizah yang melihat sangat bahagia karena dengan kejadian seperti ini adiknya akan lebih memahami istrinya seperti apa. Namun dalam hati kecil mereka mengkhawatirkan adiknya jika nanti berada di dalam suatu pilihan sulit. Semoga itu hanya praduga saja. Ke depannya semoga kebahagiaan selalu menyertai pasangan ini.
Di kamar lain ...
" Fatimah!" seru sang ibu saat melihat putrinya kembali membuka matanya. Tangis sang ibupun pecah saat fatimah sudah melebarkan penglihatannya. ketika sang ibu memeluknya, Fatimah mengurai pelukannya itu.
" Dimana Izdiku ma? Bukankah dia akan menikah denganku," ujar Fatimah membuat orang tuanya bungung. Fatimahpun nampak tenang saat menanyakan perihal Izdi.
" Nak bukankah kamu sedang ingin ke luar negeri demi karirmu dan promosi jabatan? Kenapa menanyakan Izdi?" tanya sang mama penuh selidik pada putrinya itu.
" Ma, bukankah kalian sedang memperbincangkan pernikahan kami. Tapi kenapa Fatimah bisa berada di tempat ini?" jawab fatimah seperti orang bingun. Sang ibu tanpa basa basi lagi memanggil dokter untuk segera ke ruangannya.
Beberapa menit kemudian ...
" Dr. Ini aneh sekali, kenapa putri saya hanya mengingat kejadian di malam sebelum dia berangkat ke luar negeri?" tanya sang mama pada dokter jaga hari ini.
" sebentar ya bu, coba saya periksa dulu. Seharusnya tidak ada masalah dengan ingatannya. sang dokterpun mulai mengajak Fatimah interaksi.
Satu menit
Dua menit
Tiga menit
Empat menit
" Nona tanggal berapa hari ini?" tanya dokter mencoba berkomunikasi dengan pasiennya. Mama hanya memperhatikan dari jauh.
" Agustus 2022 dok." ucap Fatimah dengan santai.
" Nona, apakah anda merasa pusing atau sakit di bagian kepala?" Tanya dokter mengulangi dengan pertanyaan lain.
" iya dok, sakit jika dibuat mengingat- ingat sesuatu," jawabnya dengan memegang kepala.
__ADS_1
" Baiklah nona beristirahatlah, permisi!" Ucap sang dokter yang kemudian keluar ruang rawat inap fatimah dengan mengkode sang mama.
" Ibu, silahkan ke ruangan saya sebentar!" seru sang dokter pada mama fatimah.
" Baik dok," jawabnya secara langsung.
Di sisi lain ...
" Nak, Fatimah mama ke ruangan dokter sebentat ya? Setelah ini mama segera kembali," ujar sang mama namun Fatimah hanya mengangguk tanpa menjawab apapun. Mamapun bergegas untuk ke ruang dokter jaga.
Nampak di ruangan VVIP ...
" Senja di sore hari
Menyampaikan risalah hati yang tak tersurat
Nampaknya senyuman indah tak tersungging
Bias cantik
Guratan garis wajah menawan
Tak lagi tampak
Di peredaran hari
Semua nampak tak sejalan
Namun kasih dan sayang
Tetap tersemat untuk dia seorang"
Rasanya sakit bagi Izdi melihat wajah cantik sang istri tak sadarkan diri. Dia hanya berharao kembali menemukan guratan kebahagiaan di wajah cantiknya. Dia hanya ingin melihat keindahan senyuman itu saat tersungging dengan ayunya. Beban di hatinya saat ini tak dapat di tolerir karena semuanya sangat terasa sakit berkepanjangan. Namun di tengah- tangah lamunannya.
__ADS_1
" Mas ," ucap seseorang lirih dengan menyentuh tangan Izdi. Sontak saja pemuda itu kaget dan spontan memeluk sang istri sambil menangis. Tanpa ada sahutan kata untuk menjawab ucapan kata yang dilontarkan sang istri.
" Aku baik- baik saja mas. Jangan menangis," ujarnya kemudian. Izdi yang memeluk istrinya merasa tenang saat perempuan yang dicintainya selalu bersikap tenang dalam keadaan apapun. Ya wardah memang tipikal perempuan yang santai dalam menghadapi sesuatu yang pelik.
Akhirnya Izdi melepaskan pelukannya pada wardah. Dia menatap bahagia wardah karena akhirnya dia sangat dewasa menghadapi sesuatu. Hanya saja dia tipikal perempuan yang cenderung tertutup.
"Sayang, maafkan mas jika kurang dalam penjagaan. Tapi mas benar-benar tidak tahu jika kamu sedang dalam kondisi kurang baik," Izdi bukanlah pemuda yang cengeng namun bersama wardah ia lebih sensitif. Perasaanya sedang terluka semenjak Fatimah melukai harga dirinya. Hatinya yang dia jaga setiap saat, pandangannya yang dia fokuskan hanya pada Fatimah, cinta kasihnya yang ternoda gara-gara pacaran. Semua dia lakukan hanya untuk Fatimah orang yang paling dia cintai setelah Umi dan kakaknya. Namun perilaku fatimah seakan menggoreskan luka yang mendalam di hatinya. Wardah datang untuk membantunya menyembuhkan luka itu. Gadis cantik itu hanya mampu bersanding dengan seseorang yang pernah mencintai kakaknya. Entah apa yang dia rasakan saat menikah dengan seorang Izdi yang jelas Wardah adalah seorang putri yang sangat patuh dan taat pada orang tuanya. Akan tetapi kepatuhannya tak bersambut dengan baik entah apa alasannya. Hingga saat ini Izdi tak bisa menyimpulkan apapun tentang keluarga Wardah.
" Mas, Wardah tidak apa-apa? Jangan memikirkan hal- hal yang tak seharusnya berfikir. Buatlah semuanya mudah mas. Semua merupakan ketetapan serta ujian darinya. Kita akan jalani semua bersama," ucapnya dengan tersenyum simpul seperti tak memiliki beban dalam dirinya. Seberat itukah hidupnya sehingga semua tak berat baginya.
" Benarkah seringan itu masalahnya sayang?" tanyaku memastikan keadaan hatinya saat ini. Aku tak ingin kecolongan kembali seperti yang lalu.
" Bukankah mas jodoh Wardah? Maka akan kita jalani bersama," jawabnya kembali dengan menatapku. Segurat harapan nampak di garis wajahnya yang ayu rupawan. Idealismenya sungguh menakjubkan. Gadis kemarin namun pemikirannya melebihi yang berumur.
" Insyaallah sayang, tapi jangan menyuruhku menikahi kakakmu. Jujur saja hatiku sangat ternoda dan sakit atas sikapnya yang kekanakan namun dampaknya luar biasa," jawabku secara gamblang tanpa ada sungkan sedikitpun. Karena aku ingin wardah tahu bahwa tak ada satupun yang kusembunyikan darinya. Namun dia hanya membalasnya dengan senyuman tanpa merespon ucapanku.
" Iz, coba tebuskna obat wardah nak. Ini sudah tinggal beberapa," ucap Umi padaku. Wardah pun mengangguk, aku segera mengambil resepnya dari tangan Umi. Namun kusempatkan membisikkan sesuatu ke telinga istriku.
" Jangan melakukan apapun tanpa sepengetahuanku, karena aku khawatir kamu sedang mengandung putraku. Jadilah istri yang taat," ucapku sangat lirih terhadapnya. Wardah sedikit terkejut dan menggangguk saja. Menandakan bahwa dia mengerti dan memahami yang diucapkan oleh suaminya.
Tanpa berbicara lagi Izdi keluar dan wardah menerbitkan senyumannya untuk Umi.
" Gimana nak masih sakit?" tanya umi dengan suara yang nyaris lemah lembut.
" Baik Umi sudah lebih enak untuk bergerak," jawabku pada ibu mas Idzi sekaligus bu nyai wardah selama di pondok.
" Nak, jika ada apa2 jangan sungkan bercerita pada suamimu. Kamu adalah tanggung jawabnya , bukalah semua masalahmu dengan putra umi. Masih mencintai mas izdi kan ya?" tanya umi dengan tersenyum pada menantunya. Wardah yang merasa digoda jadi tersenyum malu pada mertuanya.
" Nggeh umi, wardah akan memanfaatkan beliau demi kebahagiaan Wardah. Bukankah begitu nggeh umi?" tanya wardah dengan senyum mengembang di bibirnya.
Umipun jadi tertawa kecil ketika wardah kecil kembali riang. Seperti dia masih di pondok dulu
.
__ADS_1