Cinta Dalam Sujudku

Cinta Dalam Sujudku
Kehadiran Wardah


__ADS_3

Saat tangisan dalam hatinya tak dapat di bendung. Tadi pagi suaminya itu berbaik hati masih menghubunginya via pesan berpamitan namun wardah tak menanggapinya dengan baik. Bahkan ia tak membalas pesan dari suaminya itu. Wardah kecewa pada dirinya sendiri. Siapa tahu dia tulus berpamitan pada dirinya.


" Wardah kita sudah sampai," ucap Azzam. Wardah yang sadar langsung bergegas turun. Sedang azzam terbengong melihatnya.


" Sekhawatir itukah?" tanyanya dalam hati.


Kemudian azzam menoleh pada adiknya sambil menggeleng. Mungkin nasya lelah setelah perjalanan jauh. Azzam menyentuh adiknya dengan sangat lembut.


" Nasya ... Bangunlah kita sudah sampai," ujar azzam sambil mengelus puncak kepala adiknya. Nasya menggeliat sempurna seakan-akan tidur di ranjang empuknya.


" Sya ... Ikut turun tidak?" tanya azzam pada adiknya. Nasya langsung membulatkan matanya dengan sempurna.


" Ikut kak. Loh mana kakak cantik?" tanya nasya menoleh ke sana kemari. Azzam menjawab dengan malas pertanyaan adiknya.


" Makanya non jangan molor aja ... Orang lain keluar sampe gak tahu. Ayo turun dehhhh!" seru azzam pada nasya.


Saat wardah berjalan cepat ke ruang UGD di depan sana sedang banyak orang. Ada umik, aba, kedua putra kyai, rangga, dokter rahman keluarganya kakak dan kedua orang tuanya. Satu lagi ada istri lain dari izdi. Semua orang awalnya tidak menoleh namun saat nasya memanggil kakak cantik mereka semua spontan menoleh.


" Kakak cantikkk .... Kok di tinggal sih?" tanya nasya bergelayut manja. Semua jadi bertanya-tanya siapa gadis belia itu. Nampak dari kejauhan azzam ikut datang.


" Assalamualaikum," ucap azzam menyapa semua.


" Waalaikumsalam," jawab mereka bersamaan. Azzam mendekat pada umi dan Abi. Ada tatapan tidak mengenakkan dari Zizah. Namun azzam cuek saja dia biarkan gadis itu menatapnya tidak suka saat dia datang bersama wardah.


" wardah !" teriak sang kakak dan menghampirinya yang kemudian memeluk.


" Kak ... bagaimana?" tanya wardah lirih.


" Semoga ada kabar baik. Kami semua sudah menunggu," jawab fatimah pada wardah.

__ADS_1


" Maaf, aku belum bisa menjadi yang terbaik. Aku sudah berusaha kak," ucap wardah menangis. Fatimah memeluk adiknya dengan hangat. Ini pertama kalinya dia memperlakukan adiknya dengan baik.


Saat mereka sedang bercengkeramah ...


" Istrinya siapa?" tanya dokter.


"Saya!" seru wardah dan Maria bersamaan. Namun umi yang melihat dan mendengarnya jadi menggelengkan kepala.


" Biarkan wardah yang masuk dok!" seru umi.


Wardah berjalan dengan semangat setelah beberapa minggu tak bertemu suaminya. Sedangkan maria nampak tidak suka dengan wardah. Kali ini dia merasakan aura cemburu pada dirinya untuk istri muda izdi. Tapi sebenarnya dia sudah bukan istri izdi namun orang lain tidak tahu biarkan saja statusnya tetap menjadi istri izdi.


" Maria umi mohon jangan membuat masalah baru. Saat ini wardah sudah kembali," ucap umi. Maria hanya diam tak mengatakan apapun.


Sedangkan kini abi berjalan menuju ke arah azzam untuk mempertanyakan kenapa dia bersama wardah.


" Kami bertemu di kampung halaman saya Gus. Dia tinggal di rumah salah satu warga. Saya juga tak bisa berbuat banyak dia ingin jangan memberi tahu siapa-siapa," jawab Azzam.


Sedari tadi rangga juga sudah memperhatikan. Jadi, benar jika selama ini wardah tinggal di desa itu. Karena dia pernah bertemu sekali di sana dan itu pun dalam keadaan sakit karena kehamilannya. Saat ini kwluarga besar izdi belum tahu jika perempuan itu sudah hamil. Lebih baik tidak diberi tahu dulu karena ada maria di antara mereka.


" Baiklah ... Terima kasih," ucap Abi sambio menepuk bahu Azzam. Pemuda itu juga hanya tersenyum kecut karena merasa di curigai karena datangnya wardah bersamanya. Nasya sedari tadi bingung melihat mereka semua.


'Nasya Zilvana Rafasha' adalah gadis berusia 18 tahun namun sikapnya yang manja malah membuat dia seperti kekanakan. Saat ini dia sudah berkuliah di semester 2 kelas akselerasi yang dia tempuh selama bersekolah di 2 jenjang membuatnya lebih awal berkuliah. Saat ini Nasya sedang di pandangi oleh Abi. Abi merasa mengenali gadis muda di hadapannya ini. Namun nasya adalah nasya dia tak begitu peduli dengan sekitarnya. Dia happy dengan hidupnya tanpa pernah menyukai laki-laki manapun.


" Kak ... Saat ini aku bingung dengan apa yang terjadi, jadi aku mau jalan-jalan di sekitar sini. Boleh ya?" tanya nasya. Azzam mengangguk ia biarkan gadis kecil itu bermain sesuka hatinya. Saat dapat izin dia pergi melenggang begitu saja tanpa malu.


Rangga juga izin untuk ke ruangannya sebentar. Dia merasa lelah karena berdiri sedari tadi. Dia pun langsung pergi dari kamar izdi. Ia lega karena wardah sudah datang. Namun saat di koridor ada seseorang melempar botol minuman dan terkena kepala rangga.


" Eh, nona yang benar saja ini rumah sakit bukan lapangan. Seenaknya saja melempar botol minuman sembarangan," ucap rangga dengan kesal.

__ADS_1


" Ya maaf pak, aku sedang kesal. Lah bapak ngapain di belakang saya," jawabnya dengan menghela nafas berat. Dengan cepat rangga membulatkan indra penglihatannya. Dia yang salah aku yang kena. Di panggil bapak pula memangnya sudah setua itu dasar anak gadis najis. Udah kecil banget badannya kayak triplek berjalan. Gak ada bagus-bagusnya ngehina gue pake kata 'bapak' pula.


" Ulang sekali lagi ... Bapak?" tanya rangga dengan sinis.


" Iya bapak, emangnya kenapa? Ada yang salah?" tanya Nasya mulai kesal hanya karena sebuah botol udah kemana-mana jadinya.


" Dengar ya bocah, saya bukan bapak kamu saya juga bukan bapak-bapak saya masih single saya masih muda dan saya masih belum jadi bapak-bapak. Enak saja manggil bapak dasar anak ingusan," jawab rangga lalu pergi dari hadaoan nasya dengan kesal. Nasya jadi melongo lihat pemuda itu pergi begitu saja.


" Eh, Wah ... Baper nih orang. **** .. Emang aku peduli serah loh deh bapak mau ngambek mau apa. Aku kesal kakak cantik di antar ke keluarganya. Apa pedulinya dengan kamu bapak-bapak, salah panggil gitu aja sewot. Hadeh," jawab nasya setengah berteriak. Rangga yang mendengar segera berbalik dengan tatapan permusuhan. Dia mendekat ke arah nasya dan menggendong gadis itu dengan dongkol. Keadaan rumah sakit sedang sepi. Rangga menggunakan lift atasan sehingga tidak ada orang yang tahu.


" Hei, bapak-bapak ngapain turunkan aku. Ndak beres kamu ini lepasin gak?" ucap nasya sambil memukul punggung rangga.


" Kamu ini memang gadis kecil sialan ya. Udah ngatain bapak-bapak masih pukul pula. Berisik tahu gak," jawab rangga yang akhirnya sampai di ruangannya dan menurunkan gadia itu.


" Apa? Mau apa? Kenapa aku di bawah ke ruanganmu. Jangan macam-macam," ucap nasya dengan memegang dadanya.


" Apa? Terserah aku dong ngapain ruangan-ruangan aku kenapa kamu yang atur," jawab rangga sambil mendekat seperti ingin memeluk nasya. Namun rangga membisikkan sesuatu yang membuat jiwa kekanakan nasya hilang.


" Pakaian dalammu kelihatan nona. Mungkin saat kamu melempar botol airnya tumpah ke bajumu," jawaban rangga membuat pipi Nasya memerah seperti kepiting rebus.


Blushhhhh.


.


.


.


Salam kenal nasya dari rangga...

__ADS_1


__ADS_2