Cinta Dalam Sujudku

Cinta Dalam Sujudku
Kembali canggung


__ADS_3

Izdi di suruh naik ke atas untuk menemani wardah di kamarnya. Rasanya canggung sekali. Lebih dari sebelumnya. Jika di pernikahan dulu mereka malu tapi kali ini izdi canggung sungkan dan sebagainya.


Sesampainya di kamar ...


" Apa?" tanya wardah.


" Gak ada sih," jawab izdi bingung.


" La ke sini mau apa hayo?" goda wardah." Emang udah boleh?" tanya wardah.


" Bolehlah ... Kan mau ketemu adzkan. Dimana dia?" tanya izdi membuat wardah menggeleng.


" Entah dimana dia. Sepertinya udah kabur," jawab wardah dengan terkekeh melihat kecanggungan izdi.


Suami sekaligus ayah dari putranya itu jadi menggaruk kepala yang tidak gatal. Bingung mau ngapain. Wardah memberikan handuk dan pakaian lengkap.


" mandilah mas setelah itu sholat!" seru wardah.


Izdi mengambil apa yang diberikan wardah. Dia tak sengaja menyentuh tangan istrinya yang terasa lembut. Hatinya jadi berdesir. Wardah menarik tangannya sambil tersenyum.


" Makasih," ucap izdi sambil berlalu. Wardah mengangguk.


Di kamar lain...


"Cantik," ucap Azzam.


" Emang ... Dipikir jelek apa," jawab fatimah sewot. Fatimah yang melepas hijabnya toba-tiba dibantu azzam spontan saja dia berdiri.


" Apa? Mas azzam mau apa?" tanya fatimah gugup dan canggung bercampur rasa nona-nona eh nano-nano.


" Bantu bukalah. Apa sih kok suudhon aja!" seru azzam sambil senyum-senyum tidak jelas.


" Buka sendiri aja mas," jawab fatimah.


" Mas bantuin buka semua juga gapapa kan udah halal kali sayang ... " jawaban azzam membuat fatimah reflek jadi patung. Membeo, terdiam, terpesona, terkejut, terkesima apalah istilah itu. Fatimah merasakan hal aneh menjalar ke hatinya. Rasa hangat ketika dicintai seseorang.


" kok bengong?" tanya azzam.

__ADS_1


" Gapapa mas. Fatimah mandi dulu!" seru fatimah. Azzam mengangguk pada istrinya yang terlihat gugup saat ini.


Di kediaman izdi ...


" Coba telpon adikmu bi dimana dia? Ini sudah malam," ucap umi pada putra pertamanya.


" Iya mik," jawab abi.


Umi menatap lesu pada putrinya yang kini sedang tertunduk.


" Jadi selama ini adikmu tidak pernah bercerai. Terus kenapa zizah dengan teganya kamu membuat pernyataan palsu. Umi tidak mengerti jalan pikiranmu nak," sesal umi karena percaya begitu saja tanpa tabayyun terlebih dahulu.


Di balkon rumah izdi terjadilah perbincangan antara adik dan kakak itu melalui via ponsel mereka.


" Tidak pulang iz?" tanya kak Abi.


" Izdi belum tahu kapan bisa pulang kak masih ada kepentingan yang tidak bisa di tinggalkan. Ada apa kak?" tanya izdi.


" Umi ingin bicara padamu menyelesaikan pembicaraan yang tertunda," jawab abi.


" Semuanya sudah terlanjur. Biarkan saja, oh iya kalau masih di sana gapapa kak tapi izdi belum bisa pulang. Pembicaraannyq di lanjut kapan-kapan saja," jawaban ini dan ucapNnya kini terdengar tenang dan tidak emosi.


" Salam ke umi dan aba," ucap izdi sebelum memutuskan saluran ponsel seluler mereka. Abi menghela nafas dan berjalan ke arah umi.


" Izdi tidak pulang mik, dia titip salam pada umi dan aba. Tapi dari segi bicaranya sudah lebih tenang tidak emosi umi," ucap abi. Umi hanya mengangguk saja.


Kemudian tanpa banyak bicara umi dan aba kembali beristirahat. Zizah masih terdiam di tempat. Abi menatap adik perempuan satu-satunya.


" Dek ... Jangan kamu merusak masa depan orang lain karena masa lalumu. itu sangatlah tidak adil. Setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Jadikanlah ini pelajaran penting dalam hidupmu. Kakak harap ini yang terakhir. Ingatlah ujian seseorang itu porsinya berbeda-beda," ucap abi mengingatkan adiknya. Abi saat ini yang sedang dekat dengan seseorang menjadi bingung mau mengajaknya ke rumah di pesantren namun masih ada problem yang belum terselesaikan.


" Kak ... Tapi semua bukan sepenuhnya salahku," jawab zizah dengan menatap kakaknya. Abi menatap adiknya zizah.


" Lalu siapa? Orang yang sudah tinggal di bawah tanah itu maksudmu? Jadi kamu masih merasa benar dengan kelakuanmu ini zizah? Sadarlah tindakanmu ini menyakiti umi," cecar abi yang mulai kesal dengan adiknya.


" Tapi wardah juga tidak menyanggah perselingkuhan itu kak," jawab zizah masih kekeh. Abi kali ini duduk menatap lekat adiknya.


" Apakah perlu menjelaskan sesuatu yang dia tidak lakukan? Kakak tahu betul jika wardah bukanlah tipikal yang suka mengumbar perkataan kasar," jawab abi seperti memojokkan adiknya itu.

__ADS_1


" Kakak dan adik sama saja membela wanita yang sama. Zizah ndak mau mengatakan apapun. Cukup kalian menghakimi zIzah. Kalian tidak akan memahami keadaan zizah yang kalian lihat semua adalah kesalahan-kesalahan itu," ujar zizah dengan marah.


" Karena kesalahan itu bersifat fatal zizah. Bukan permasalahan ringan. Kamu memisahkan istri sah dari suaminya dan menikahkan suaminya dengan perempuan yang sudah dia ceraikan. Apakah itu tidak kejam? Pikirkanlah baik-baik dan aku tidak butuh jawabanmu selagi dirimu masih meraaa benar," ucap abi yang langsung pergi meninggalkan adiknya. Karena jika diteruskan maka dia tidak bisa menjamin emosinya tidak stabil.


Abi segera berlalu dan pergi ke kamarnya. Lama-lama dia emosi pada adik perempuan satu-satunya.


Di kamar wardah ...


Izdi melihat istri dan putranya sudah terlelap. Dia tak menyangka jika wardah tak menceraikannya. Apa yang dikatakan kakaknya zIzah hanyalah kebohongan belaka. Kenapa dengan kakak zizah sebenarnya. Izdi duduk di samping wardah sambil mengelus rambut istrinya.


" Sayang ... Tidak ada niat aku meninggalkanmu. sebelum aku mengalami kecelakaan itu aku sudah berusaha memperbaiki hubungan kita. Tentang anak jangankan dia. Aksesku padamu saja mereka tutup bagaimana aku bisa menghubungi kalian," lirih izdi. Kemudian izdi mencium putranya. " Berbahagialah kalian setelah ini. Kehadiranku kali ini harus berguna bagi kalian baik jadi seorang suami maupun ayah. Waktu 4 tahun terbuang sia-sia.


Izdi pun melelapkan dirinya di samping adzkan. Dia ingin menikmati rasanya nyaman tinggal tidur bersama putranya. Izdi bersyukur wardah tak menyembunyikan status ayahnya pada adzkan. Bisa saja wardah melakukannya karena kemarahan atau bahkan kebencian tapi istrinya tak sekalipun memberikan memory buruk tentang ayah. Yang dia sampaikan adalah bahwa ayahnya sedang bekerja suatu hari ayaj akan datang. Itupun wardah memberi tahu putranya itu wajah ayahnya. Dia tak menutupi apapun dari putranya. Yang dia tutupi hanya keburukan ayahnya.


Saat izdi mencoba memejamkan mata. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi rangga menelpon.


" ada apa telpon malam begini?" tanya izdi mengernyitkan dahi.


" sudah buka puasa belum," ledek rangga.


" Hei ... Dasar kucing sialan ngapain malam-malam cuma nanya udah buka puasa. Kurang kerjaan banget ya kamu? Istri mana ? Buaknnya kamu juga belum buka puasa ?" ledek izdi balik pada sahabatnya itu.


" Eh ... Jadi kemana-mana. Udah tak bantuin loh beneran nih gak terima kasih," suara rangga sedikit mengkode. Izdi langsung menebak.


" Baiklah ku usahakan besok ngga ... Ngomong-ngomong makasih ya! Ini surprise yang luar biasa. Nikmat yang lebih dari apapun," ucap izdi.


" Yuhu .. udah ah. Segera buka puasa sono biar usaha gue gak sia-sia ," desak rangga sambil terkekeh dan mematikan handphonenya.


" Hmmm ... Dasar kucing!" seru Izdi.


" Dimana kucing mas!" seru istrinya. izdi langsung membelai rambut istrinya.


" Tidak ada tidurlah kembali," jawabnya.


.


.

__ADS_1


.


Maaf ya baru up 1 athor kurang fit ya. Maksihhhhh likenya- sayangku semua.


__ADS_2