
seusai perbincangannya dengan paman, rangga, rahman. Hati izdi mulai menemukan titik terang permasalahan dalam rumah tangganya. Dia yang ingin pulang karena sudah malam dan teman-temannya juga sudah sedari tadi ijin pulang dulu.
" Adzkan ... Anak baik ayah pulang dulu ya!" pamit Izdi pada putranya.
Adzkan mulai merajuk. Dia menggeleng tidak setuju. Tiba-tiba air matanya menetes. Izdi yang melihat memeluknya. Dia peluk putranya dengan penuh kasih sayang.
" Jangan pulang pa ... Temani adzkan," rengek adzkan pada papanya.
" Besok papa sini lagi nak," bujuk izdi. Namun putranya menggeleng.
Izdi menghela nafas. Harus bagaimanakah dia sekarang. Tidak mungkin dia berlama-lama di sini. Saat dia merasa agak bingung tiba-tiba suara wardah menghampiri mereka berdua.
" Bawalah dia ke kamarku mas. Tidurkanlah dulu!" seru wardah. Akhirnya senyum di wajah adzkan terbit. Izdi pun menggendong putranya ke kamar.
Sesampainya di kamar ...
" Pa ... Azdkan gak mau sendirian," adzkan tiba-tiba menangis.
" kenapa sayang kok nangis kan ada papa sekarang," jawab izdi.
" Pa ... Mama setiap malam pake penutup kepala yang panjang sambil menangis. Mama selalu minta supaya papa kembali mendampingi adzkan dan mama," tangis adzkan.
Blushhhh.
Rasanya hati berbunga namun miris. Dia selama ini malah berumah tangga dengan perempuan lain. sedangkan wardah di sini berusaha membesarkan putranya seorang diri. Papa yang bejat. Rasa-rasanya malu saat adzkan mengatakan itu.
" pa ... Jangan tinggalkan mama lagi ya. Kasihan mama pa. Semua orang tidak ada yang tahu pa jika mama menangis karena mama selalu tersenyum pa," ucap adzkan si anak cerdas. Di usianya yang menjelang 4 tahun logat bicaranya jelas dan sangat terdengar dewasa. Mirip sang mama sikapnya begitu dewasa di usianya yang masih muda.
" Papa ... pasti akan menjaga kalian. Papa janji nak. Tidurlah!" izdi menina bobokkan putranya itu sambil bersholawat. Dia harus memperbaiki semuanya. Mas rahman bilang tidak ada sesuatu yang terlambat.
صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد
Shallallah ala muhammad
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Shallallah alaihi wasallam
أَنْتَ شَمْسٌ أَنْتَ بَدْرٌ
Anta Syamsun Anta Badrun
__ADS_1
أَنْتَ نُوْرٌ فَوْقَ نُوْرِ
Anta nurun fauqo nurin
Sholawat jibril di lantunkan oleh sang papa dengan merdunya sehingga membuat adzkan terlelap di pangkuannya.
Tak berselang lama wardah masuk ke dalam kamarnya. Dia menatap adzkan sudah terlelap. Wardah pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Izdi yang mengetahuinya hanya diam dan memandang.
Beberapa menit kemudian saat di izdi akan beranjak mau pulang. Wardah sudah keluar dari kamar mandi dengan segarnya. Wardah tak menggunakan hijab membuat izdi jadi melongo.
Glek. Salivanya tertelan dengan lolos saat melihat istrinya sangat cantik.
" Ak pulang dulu wardah!" pamitnya. Wardah mengangguk tersenyum smirk.
" Iya mas hati-hati. Makasih sudah menidurkan adzkan," jawab sang istri. Saat ini wardah yakin suaminya itu sedang bingung menjabarkan kenapa dirinya tak memakai hijab di hadapannya. Karena dia yakin keluarga izdi mengatakan bahwa mereka sudah bercerai.
Izdi yang keluar dari rumah pak yusuf. Menjalankan mobilnya dengan perlahan. Dia menyusuri jalanan dengan senyuman pertama kali semenjak wardah menjauhi dirinya.
" Kenapa kamu tak menggunakan hijab sih wardah. Hati suami dalam diriku ingin datang padamu. Tapi sayang sekali kita sudah berpisah," ucap izdi lesuu.
Tangisan adzkan malam ini membuat izdi menyadari satu hal bahwa wardah adalah istri yang setia. Untuk apa dia dulu bercerai dengan wardah. Peeempuan itu sudah menjaga buah hati mereka dengan baik dan menjaga diri selama kuliah dengan baik. Kesalahannya dimana? Izdi heran dengan sikap keluarganya yang mudah terprovokasi orang lain.
" Apakah ada tamu? Kenapa bibi tidak menelpon?" tanya izdi dalam hati.
Saat dia memasuki rumah dia melihat aba, umi, zizah dan mas abi.
" Dari mana dek?" tanya zizah.
" Dari rumah pak yusuf," jawab izdi dengan dingin.
" untuk apa ke sana bukankah kamu sudah di buang oleh istrimu itu?" tanya zizah dengan kesal.
" Atas dasar apa kakak mengatakan bahwa dia membuangku?" tanya izdi menatap tajam ke arah zizah saat ini. Umi dan aba mencoba menengahi diantara kami.
" Tidak pantas nak berkunjung ke rumah yang bukan muhrim," jawab beliau berdua. Izdi pun duduk dan kembali berbicara denagns sedikit sopan.
" Umi berikan surat cerai izdi dengan wardah. Selama kami bercerai tak sekalipun aku melihat surat itu," tiba-tiba ucapan itu lolos begitu saja. Zizah nampak gusar saat adiknya menanyakan perihal surat itu.
" Umi tidak tahu nak.yang tahu kakakmu zizah" jawab umi dengan nada rendah.
" Surat itu ada pada maria," senyum smirk nampak dalam wajah zizah.
__ADS_1
" Kenapa kakak membawa orang yang sudah tidak ada dalam perbincangan kita. Harusnya kalian berdua tahu tentang itu," saat ini omongan izdi sudah mulai agak keras. Zizah kembali gusar.
" Tapi memang istrimu yang membawanya," jawab zizah gugup.
" Kak ... Jangan bohongi aku. Maria tak membawa apapun ke rumah kami yang ku jual rumah itu sudah ku kosongi sejak lama tak kutemukan berkas itu," jawab izdi tegas.
" Kamu mencurigai kakak dek?" zizah membalikkan sebuah pertanyaan. Izdi kembali menggeleng.
" Temukan surat itu kak. Berikan padaku ini rumah tanggaku biarkan aku yang menyelesaikan sendiri," jawab izdi kemudian berdiri. Saat dia ingin meninggalkan ruangan itu tiba-tiba zizah mengucapkan sesuatu yang membuat izdi marah. Sedari tadi dia menahannya dalam-dalam.
" jadi ini yang kamu peroleh setelah berkunjung ke rumahnya! Kamu sudah mulai mencurigai keluargamu sendiri! Katakan dek ... Apa mereka mulai menghasutmu?" seru zizah yang sudah meninggikan nadanya itu. Namun izdi berbalik dan mengatakn sesuatu yang membuat keluarganya diam seribu bahasa.
" Jika kalian tidak mengusirnya malam itu kami tidak akan terpisahkan! Aku merasa hina di hadapan mereka telah menelantarkan dua orang sekaligus!" Teriak izdi kemudian dia naik ke lantai atas dengan hati yang sangat hancur. Saat melihat tatapan kebencian dari sorot mata zizah. Dia yakin kakaknya memiliki tujuan terselubung. Tapi umi abi dan kakak seharusnya tabayyun dulu tidak menuruti kakak zizah.
Saat ini di ruang keluarga ...
" Zizah coba jelaskan kenapa adikmu mengatakan bahwa kita mengusir istrinya," ucap umi. Abi juga menunggu jawaban zizah. Karena saat itu abi tak ada di rumah sakit.
" Zizah tidak ingin mengatakan apapun. Saat ini zizah ingin tidur," kemudian zizah pergi begitu saja. Umi jadi menarik nafas dalam-dalam saat melihat putri satu-satunya itu berbeda.
" Kami memang mengusirnya umi ... " jawab abi tiba-tiba. Umi dan abi membolakan matanya. Tidak menyangka yang dikatakan putranya benar adanya.
" Kenapa di usir bah?" tanya abi dengan ekspresi tidak suka.
" Saat itu zizah dan maria mengatakan bahwa wardahlah penyebab izdi seperti itu. Aba yang sudah tak berfikir apapun tak melarang dan tak mengiyakan. Aba hanya diam. Wardah juga tidak menyanggah," jawab aba menjelaskan karena waktu itu umi di dalam ruangan.
" Ya ... Allah aba. Itu menantu aba loh. Dia yang menikah dengan putramu dalam keadaan ikhlas. Aba membela maria yang jelas-jelas telah meninggalkan putramu," jawab abi yang kemudian pergi. Dia merasa kecewa pada keluarganya. Sangat memalukan saat keluarga pesantren tapi sikapnya tidak sama sekali.
Akhirnya malam ini mereka memutuskan untu beristirahat dulu. Besok kembali berbicara. Umi sudah merasa kesal pada suaminya tapi umi taham. Walaupun bagaimana dia adalah imamnya ayah dari anak-anaknya.
" Mari kita istirahat dulu! Besok bicara baik-baik lagi dengan izdi," ucap umi mengajak aba istirahat.
Malam ini sangat menyedihkan. Bahkan bulan dan bintang pun tak bersinar.
.
.
.
Like ya jangan lupa giftnya makasihhhhhh.
__ADS_1