
Pagi ini sangat cerah seindah hati kedua insan yang sedang dilanda kasmaran. Kami yang baru kemarin sampai di pesantren belum sempat keliling. Aku sangat merindukan pesantren ini dimana aku banyak belajar di dalamnya.
" Apakah merindukan seseorang?" goda gus iz padaku
" Ada ... Entah dimana sekarang."
" Wah ... Pelanggaran, kenapa bisa merindukan orang lain daripada suaminya?" tanya gus iz dengan senyuman sinis
" Karena dia sangat berharga saat aku nyantri di sini mas."
" Lelaki mana?"
" Perempuan mana mas pertanyaan yang benar?" ucapku sambil mempraktekkan ucapan pada gus iz. Spontan saja suamiku itu merangkul sambil tersenyum.
" Inilah wardah ... Yang ku kenal dari umi, gadis dari kota namun entah kenapa sifatnya demikian santun tanpa banyak lelaki di sampingnya."
" Memangnya apa boleh gitu y mas?" tanyaku sambil meledek.
" Jangan macam- macam." jawabnya dengan mencubit hidungku.
Di tengah- tengah asiknya ngobrol dengan mas i tiba- tiba saja mas azzam datang. Otomatis mas izpun mengajaknya mengobrol.
" Kemarilah mas!"
__ADS_1
" Iya gus ... Ada apa?"
" Mas ... Apakah mas kenal dengan istriku?"
" Tidak gus ... Tapi saya seperti pernah melihat. Tapi kata bu nyai neng adalah alumni santri di sini."
Mas iz kulihat hanya tersenyum saja. Dia malah melirikk dengan tatapan aku tidak mengerti.
" Wardah sayang kemarilah!"
" Ada apa mas?"
" Tidakkah ingin mengucapkan sesuatu pada mas azzam?" tanya mas iz padaku, aku hanya menatapnya tanpa jeda. Mas Azzampun mulai menebak siapa diriku dibalik cadar.
" Bagaimana kabarmu ?"
" Baik." jawabku singkat " Mas ngobrolnya dilanjutkan saja saya mau ke ndalem dulu." pamitku pada mas iz. Beliau nampak hanya mengangguk dan tersenyum. Akupun mulai menjauh dari 2 insan yang entah apa yang mereka bicarakan.
di tempat yang sama...
" Kenapa dulu mas azzam tidak mengungkapkannya?"
" Mengungkapkan apa gus?"
__ADS_1
" Jika mas mencintai dia."
" Sudah gus ... Tapi dia hanya bilang. Saya sedang tidak ingin menjalankan hubungan dengan siapapun. Tapi ketika barusan gus bilang dia wardah saya kaget karena dia memiliki cita-cita yang tinggi."
" Entah saya harus bahagia atau merasa bersalah padamu mas, tapi aku hanya bisa menjawab dia gadis yang taat."
" Bukankah fatimah yang akan dinikahi gus? Kenapa jadi wardah?"
" Panjang ceritanya mas azzam, tapi terima kasih kamu tidak menikahinya. Hehehe aku jadi punya kesempatan untuk memilikinya."
" Dari kecil gus memang sangat beruntung. Bukankah begitu? Sampai jodohpun Allah kasih yang terbaik."
" Mas Azzam bisa saja, maafkan aku ya mas."
" Untuk apa mas minta maaf dia saja memang sudah menolakku, kenapa tiba-tiba minta maaf?"
" Umi cerita jika mas Azzam ingin mengkhitbahnya dan itupun di saat aku sudah menjadi suaminya. Padahal itu usaha terakhir mas untuk mendapatkannya."
" Inilah takdir gus berarti dia memang bukan jodohku melainkan jodohmu."
" Baiklah mas aku permisi, Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam wr.wb .. "
__ADS_1
Kepergian gus menyisakan rasa kecewa namun azzam yakin ketetapan Allah itu baik. Pesantren ini memiliki banyak kenangan tentang wardah gadis pendiam, misterius, rajin, cantik. Pesantren sangat indah saat itu. Namun gadis muda itu telah menemukan jati dirinya pada gus izdi. Kebahagiaan nampak terpancar di raut wajah gus iz dan wardah meskipun itu di tutup oleh cadarnya. Mereka sangat serasi gus iz adalah putra kyai yang mandiri dengan paras tampan dan sudah menjadi dr. Di sebuah rumah sakit di kota dan wardah gadis muda yang cantik nan sholihah. Dia sangat cocok mendampingi gus iz yang berada di tengah kesibukannya menjadi dokter. Dia gadis yang sangat sabar dalam kesehariannya.