Cinta Dalam Sujudku

Cinta Dalam Sujudku
Terapi Fatimah 2


__ADS_3

Setelah pertemuan antara Rangga dan Wardah di lobi rumah sakit. Rangga mempersiapkan terapi fatimah yang tertunda 1 jam karena kesibukan pagi ini. Ia merasa dilelahkan dengan pemikiran yang tidak diingankan. Baru saja dia akan menyiapkan untuk terapi Fatimah tiba-tiba dokter Rubiah masuk ke dalam ruangannya.


" Dokter Rangga bisakah kamu membantuku?" tanyanya yang membuat rangga menghela nafas. Jawabannya terasa sangat kasar.


" Bisa tidak jangan menggangguku dulu. Ini saya ada jadwal terapi untuk pasien selalu gagal karena kamu selalu meminta bantuan saya terus dari tadi. Please jangan meminta sesuatu yang masih dikerjakan sendiri. Saya juga punya kesibukan nona Rubiah. Baiklah karena saya repot mohon pintu keluar di sebelah sana," ucap rangga dengan kasarnya. Rubiah berkaca-kaca saat mendengar ucapan Rangga. Ia pum berlari keluar dengan hati yang sakit.


Mana mungkin aku menikah dengan orang yang seperti itu. Orang tuaku pasti salah pilih. dia sangatlah kasar. Aku bisa habis olehnya. Batin Rubiah saat keluar dari ruangannya.


Di ruangan Rangga ...


Ada derap langkah 2 orang berjalan masuk. Ia pun kembali mengeraskan suara baritonnya.


" Kenapa kamu membawa papaku kemari! Bisa ndak kamu membiarkan saya tenang barang kali sejam saja! Saya mau ada terapi dengan pasien. Mengerti ndak sih?" teriak Rangga. Namun saat dia menoleh ternyata bukanlah rubiah yang datang akan tetapi Izdi dan istrinya. Mereka berdua melongo saat melihat rangga marah-marah tidak jelas. Rangga kemudian menggaruk-garuk kepalanya.


" Maaf ... tadi ku pikir dia datang lagi. Mood-ku benar- benar kurang baik saat ini izdi. Masuklah!" seru rangga kemudian duduk di kursinya dengan bernafas lega dan malu karena yang datang bukanlah gadis itu.


" Ada apa ngga ? Seharusnya juga tidak sekasar itu. Dia perempuan juga sob. Sebenarnya aku ingin mendengarkan ceritamu tapi aku masih harus mengantarkan istriku ke dokter Obgyn tadi sudah janjian. Nanti terapi-nya tanpa aku dulu ngga?" tanya izdi memastikan keadaan temannya. Rangga mengangguk mengiyakan ucapan izdi. Dalam diam rangga menatap istri izdi, dia merasa iri dengan sahabatnya. Dia beruntung memiliki wardah sebagai pengganti fatimah. Sedangkan dirinya malah sampai di jodohkan terkesan seperti pria yang tidak laku. menyebalkan sekali bagi rangga hidupnya.


" Oke iz. Lanjutkanlah aktivitasmu hari ini. Apakah istrimu sedang hamil?" tanya rangga pada sahabatnya.


" Belum tahu. Kemarin habis sakit bersamaan dengan kasus kakaknya itu," jawab izdi pada rangga. Izdi pun memegang telapak tangan wardah untuk mengajaknya segera ke ruang obgyn.


"Baiklah aku permisi ngga ... " rangga hanya mengangguk saat izdi berpamitan. Rangga menatap kepergian mereka berdua. Saat di dalam istri izdi sama sekali tak berkata. Mungkin dia kaget karena kata-kata rangga yang seperti bariton keras, marah dan sangat tidak bersahabat.


" Mas, dia kenapa semarah itu?" tanya wardah agak sock melihat sikap rangga. Izdi tersenyum menggoda.


" Karena kamu meninggalkannya tanpa perasaan. Hahahah," jawab izdi meledek istrinya.


" Eh ... mas kok gitu sih. Tanya beneran ini loh akunya," ucap wardah dengan cemberut. Izdi pun jadi memeluk istrinya di tempat umum sambil berbisik.

__ADS_1


" Dia sedang dalam masa perjodohan dengan dokter rubiah. Jadi agak labil sayang," jawab izdi yang membuat istrinya melongo dan ingin tertawa.


" Lah kan harusnya bahagia toh mas. Istrinya di kalangan yang sejajar dengan dirinya. Untuk apa marah-marah harusnya bersyukur. Temanmu memang sama anehnya denganmu mas," jawaban wardah malah membuat suaminya melotot karena merasa di ledek juga. Wardah jadi ingin tertawa- tawa melihat ekspresi suaminya.


Candaan mereka berakhir saat suda memasuki ruangan dokter obgyn. dr. Aisyah Rahman yang tak lain adalah istri dokter rahman. Ibu dari 1 putra yang masih terlihat seperti gadis karena berperawakan mungil.


" Silahkan masuk dokter izdi!" seru dr. Aisyah.


" Terima kasih dokter," jawab izdi. Kemudian dia memprsilahkan istrinya untuk duduk. Dokter Aisyah mempersilahkan kami untuk duduk. Beliau tersenyum dengan cantiknya.


" Hai ... Wardah. Bagaimana kabarmu hari ini?" tanya dokter Aisyah. Wardah tersenyum padanya sambil mengangguk sopan.


" Alhamdulillah baik dok," jawab wardah.


" Baiklah mari kita lakukan pemeriksaan ya. Apakah nyonya izdi ini hamil ataukah hanya sekedar mengecoh belaka karena mirip," ucap sang dokter sangat ramah sekali terhadap pasiennya. Aisyah pun melakukan pemeriksaan


.


.


1 jam kemudian ...


" Bagaimana dokter hasilnya?" tanya izdi. Senyum terbit di wajah dokter Aisyah. Sambil menggoda kedua insan di depannya itu.


" Masih harus di coba lagi dokter. Yang semangat harusnya biar segera positif," senyuman lebar di tunjukkan oleh dokter aisyah.


Blushhh. Rasanya wajah wardah seperti di terpa air panas langsung memerah dan hawa panas masuk ke dalam pori-pori kulit pipinya. Sedangkan izdi sudah tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan dokter Aisyah.


"Dokter iz, istrimu hanya mengalami sebuah trauma. Jika ada waktu luang ajaklah dia berlibur sejenak. Mungkin dengan begitu bisa lebih baik," ucap dokter aisyah.

__ADS_1


Izdi mendengarkan saran temannya itu. Dia hanya ingin yang terbaik untuk istrinya. Setelah lama di ruangan dokter aisyah. Izdi pamit untuk kembali ke aktivitas berikutnya. Aisyah pun mengangguk.


" Baiklah thank you dokter Aisyah, kami permisi dulu!" pamit izdi padanya.


" Dokter terima kasih. Senang bertemu denganmu," jawab Wardah yang kemudian berpelukan dengan dokter Aisyah.


Mereka pun kembali ke ruangan izdi. Namun sebelum sampai di ruangannya mereka melihat terapi yang di lakukan rangga pada fatimah. Wardah melihatnya, izdi pun ikut berhenti. Mereka menatap ke arah rangga yang dengan telaten merawat fatimah. Wardah tersenyum melihatnya.


" Bukankah mereka cocok ya mas?" tanya wardah yang menerawang ke arah rangga. Izdi tersenyum.


" Iya seharusnya mereka sudah menikah jika aku tidak hadir dalam kehidupan fatimah," kenangnya. Wardah spontan menoleh ke arah suaminya.


" Kok bisa mas?" tanya wardah.


" Fatimah adalah cinta pertama rangga, namun fatimah mencintaiku. Panjang jika di ceritakan sayang. Tapi, intinya rangga mengikhlaskan hubungan kami. Sebenarnya aku ingin menolak namun rangga memohon padaku supaya menerima fatimah," jawab mengenang kisahnya dengan fatimah atas permintaan sahabatnya. Wardah jadi menatap lekat ke arah suaminya.


" Mas kok aku baru tahu. Terus yang mas cintai sebenarnya siapa?" tanya wardah dengan serius. Izdi hanya tersenyum dengan menggeleng sambil menanggapi.


" Aku hanya mengagumi gadis kecil yang bertemu denganku waktu itu. Tapi sayang karena waktu itu aku sudah posisi dengan fatimah dan gadis itu masih kecil jadi aku kosongin aja semuanya. Biarkan mengalir pasrah sama yang di atas," jawab izdi.


" Mencintai kakakku ndak mas?" tanya wardah.


" Entah ya, apa itu namanya yang jelas aku begitu memperhatikan dan memenuhi semua kebutuhan fatimah. Aku tidak ingin dia bersedih. Entah apa cinta ataukah sayang ataukah yang lainnya yang jelas dia nomor dua setelah keluargaku," jawab izdi.


Wardah jadi heran. Ternyata seperti itu ceritanya. Kisahnya sebenarnya tak seindah di benakku. Harusnya sepasang kekasih itu saling melengkapi saling menyayangi. Bukan saling hanya memprioritaskan salah satu. Ada yang aneh. Mungkin ini penyebabnya mas izdi cepat melupakan kakak. Eitss ... Tunggu gadis kecil yang mana yang dia kagumi? Monolog wardah dalam hatinya.


.


.

__ADS_1


.


Hayoo siapa ya gadis kecil yan di maksud izdi. ( jangan lupa like, vote, komen ya) makashhhhh


__ADS_2