
Hari ini Wardah diperbolehkan rawat jalan. Dia harus menjaga staminanya supaya membaik. Agar tidak ada hal yang kembali membuatnya jatuh pingsan di tempat umum lagi. Izdi menatap istrinya dengan penuh cinta. Keluarga izdi sudah pulang semenjak kemarin karena harus kembali beraktifitas.
Saat mereka melewati koridor rumah sakit. Nampak dari kejauhan mama dan papa wardah berjalan mendekat. Wardah masih menampilkan senyum terbaiknya. Mereka berhambur memeluk putrinya.
" Wardah maafkan kami, tidak menjengukmu sama sekali," ucap mamanya menyesal. Wardah hanya tersenyum memindai menatap wajah sang papa. Beliaupun masih nampak menunduk di hadapan putri tersayangnya.
Wardahpun menggapai tangan papanya.
" Pa, tidak ada hal yang yang mustahil di dunia ini. Kehadiran Wardah bukanlah nasib buruk untuk papa. Bisa jadi kedatangan Wardah di dunia adalah salah satu nikmat yang Allah berikan. Jangan menyesali keputusan apapun karena Wardah masih menyayangi papa dan Mama," ucapnya dengan lemah lembut. Sang papa pun berhambur merangkul putrinya. Pak yusuf sangat merindukan kesabaran Wardah. Beliau menangis di hadapan putrinya karena merasa gagal mendidik putri yang lainnya.
" Maafkan papa nak, papa mungkin sukses dalam menjalankan perusahaan namun papa gagal menjadi papa yang baik untukmu. Selalu berbahagialah dengan Izdi dia pemuda yang baik dan sangat mencintaimu," jawab sang papa di hadapan Wardah. Dia merasa kembali menemukan sosok ayah pada diri pak yusuf.
" Kakak dimana pa?" tanya wardah. Pak yusuf menunjuk kearah jendela dekat lorong. Fatimah nampak sedang melihat jalanan. bukan efek bunuh diri yang membekas pada dirinya namun dampak penyesalan yang mendalam sehingga membuatnya seperti saat ini. Wardahpun mendekati kakaknya, izdi yang melarang namun Wardah mencegahnya. Dia ingin bersama kakaknya sebentar sebelum pulang.
" Kak, bagaimana keadaannya?" tanya Wardah.
" Baik, kamu siapa?" tanyanya seperti orang yang tak mengenali adik semata wayangnya itu. Wardah mulai memasang mimik yang menyesal dan air mata mulai menggenang.
" Ini Wardah kak, lupakah pada adikmu?" tanya wardah sekali lagi. Fatimah hanya mengangguk ringan. Tanpa aba-aba Wardahpun memeluk sang kakak.
" Segeralah sembuh kak, aku menyayangimu. Percayalah tidak ada yang lebih baik dari takdir yang telah Allah tentukan. Jangan menyesali semuanya. Biarkan penyesalan itu keluar dari rongga hatimu kak," ucap Wardah mengiba. Air matanya mulai menetes tak terkendali. Fatimah memeluknya dengan erat.
" Terima kasih dek, semoga kakak segera mengingatmu. Maafkan kakak sudah melupakanmu dan semua orang," ucapnya sambil memeluk Wardah. Wardah semaki mengeratkan pelukannya. Dia baru pertama kali di panggil adik oleh sang kakak betapa senangnya hati wardah saat ini.
" Kak, aku sangat merindukanmu. Bahagialah selalu. Wardah hanya berdoa supaya kakak menemukan jodoh yang lebih baik dari yang sebelumnya," ucap wardah yang membuat fatimah tersenyum.
__ADS_1
" Makasih dek. Aamiin," jawabnya sambil melerai pelukannya.
" Wardah pulang ya kak? Saat ini wardah sedang sakit. Besok - besok kalau wardah lebih baik insyaallah akan berkunjung lagi," ucapnya kepada sang kakak. Fatimah mengangguk sambil menyunggingkan senyum cantiknya. Kakak yang cantik membuat wardah menangis untuk sekian kalinya. Namun kali ini berbeda tangan Fatimah menghapus air mata adiknya.
" Hati-hati ! jangan menangis dek kakak baik-baik saja. Pergilah suamimu sudah menunggu!" seru Fatimah dengan suara khasnya. Namun kali ini suara khas itu melunak dan menjadi lemah lembut. Wardah kaget saat dia tak mengingat izdi sama sekali. Dia adalah orang yang sangat penting dalam hidup kakaknya dan diapun melupakannya.
" Aku menyayangimu kak," ucap Wardah.
" love you more sayang," jawabnya dengan senyum.
seusai berbincang dengan kakaknya wardah menghampiri orang tuanya. berpamitan karena harus segera beristirahat.
" Pa, Ma wardah pulang dulu. Semoga kakak lekas membaik," ucap wardah.
" Aamiin makasih nak. Semoga kamupun segera membaik. Hati-hati di jalan!" seru mereka pada wardah. Wardah hanya mengangguk untuk menyetujui ucapan orang tuanya.
" iya pa," jawabnya singkat.
Kepergian mereka pun menyisakan rasa pilu. Tak bisa memilih maupun mendampingi. Tak terbayangkan jika akan berakhir seperti ini. Seharusnya saat ini putrinya sama-sama bahagia. Fatimah yang masih pada kondisi ini karena sebuah penyesalan tanpa batas dalam hatinya. Wardah yang berada dalam posisi sulit. Tapi tidak ada hal yang menjadikan semuanya tidak baik karena qadha dan qodar Allah.
" Allahu akbar, ampuni hamba ya Allah. Tak bisa menjadi imam yang baik untuk keluargaku," batin sang ayah saat melihat wardah yang telah pergi menjauh dan dan melihat fatimah yang duduk di kursi roda menghadap kearah jendela.
Pandangan Fatimah tak berarah ia tak mengingat apapun. Semua tak tersisa sedikitpun. Kenangan di belakang terlanjur gelap. Ke depanpun tidak tahu mau apa.
" Seandainya bisa kuhentikan waktu, ku hentikan saat ini. Hidup ini hambar tanpa ingatan yang tersisa," ujarnya seorang diri.
__ADS_1
Di perjalanan pulang...
" Mas, kenapa diam saja?" tanya wardah. Izdi jadi tersenyum saat istrinya mulai memperhatikan dirinya.
" Kelihatannya diam ya?" tanya izdi balik sambil tersenyum kecil. Wardah mengangguk dengan polosnya.
" Iya mas," jawabnya sambil menatap izdi. Izdi kemudian meraih tangan istrinya sambil mengecupnya.
" Mas sedang fokus, tetapi mas memikirkan perbincangan sayangku ini dengan kakaknya tadi. Sangat khawatir tapi tidak berani bertanya," ucapnya sambil nyengir karena kelihatan aneh seorang izdi yang notabene-nya pendiam jadi aneh jika seperti ini.
" Mas, saat ini kakak tidak mengingat siapapun. Padamupun kakak tidak kenal," ucap wardah dengan serius sambil emnatap ke jalanan. Spontan izdi mengerem mobilnya mendadak karena kaget dengan berita yang di sampaikan istrinya.
" Apa? Kenapa bisa demikian wardah. Dia hanya melakukan aksi bunuh diri kenapa jatuhnya malah hilang ingatan. Bukankah aneh?" tanya izdi menyelidik.
" Wardah juga kaget mas belum bisa menilisik kejelasannya. Hanya saja tadi sikap kakak sudah sangat berbeda," jawab wardah menjelaskan.
Izdipun memeluk istrinya karena tadi kaget dan mengerem mendadak. Jadi, dia merasa bersalah saat ini. Wardah hanya tersenyum saat suaminya bereaksi. Tapi wardah mrmakluminya karena memang mereka sudah lama menjalin hubungan.
" Maaf ya sayang mas tadi nge-rem mendadak. Ada yang sakit gak?" tanya izdi melihat iatrinya ke sana ke sini. Wardah jadi ingin tertawa.
" Mas wardah gak papa beneran, gak usah di ke sana siniin dong. Ntar malah apa-apa," ucap wardah sambil tertawa kecil. Izdi yang mendengar jadi menarik nafas menjewer hidung wardah. Semenjak di rumah sakit istrinya itu mulai bisa bercanda.
" Baiklah, ayo pulang sudah mau malam!" seru izdi pada wardah.
Perjalanan dari rumah sakit hingga malam menyisakan pilu di hati wardah dan orang tuanya namun tidak bagi izdi. Dia tidak percaya pada Fatimah begitu saja. Khawatir ada kebohongan berikutnya. Namun dulu saat bersama izdi gadis itu sangatlah baik tidak mungkin dia melakukan kebohongan dibatas kemanusiaan.
__ADS_1
" Semoga saja benar dan segeralah sembuh seperti sedia kala," batin Izdi sambil menoleh ke arah wardah yang sudah tertidur lelap.