
Sehabis malam pesta ulang tahun izdi batin rangga selalu terganggu dengan mahram bercadar izdi itu. Entah apa yang membuat rangga tertarik pada keelokan di balik cadarnya. Tidakkah izdi ingin mengenalkan dia padaku.
"Eh ... Syit. Apaan yang kamu pikirkan rangga. Dia izdi dan dia wardah istrinya izdi. Hakmu apa ingin tahu tentang wardah," ucapnya di kamar sendirian. Rangga jadi oleng seperti kena hypnotis perempuan bercadar itu. Ia membuka chat-nya bersama khumairah. Ia mencoba kembali menghubungi dia. Tibs-tiba saja rangga kembali merindukan gadis medsos itu.
" Hai .. Khum. Apa kabar ? Tidakkah kamu merindukanmu. Akhir-akhir ini aku teringat denganmu karena seseorang. Bacalah jika kamu sempat," pesan itu ia kirim via DM.
Sudah lama Rangga menghubungi gadis itu tetapi ia sudah berulang kali gagal mendapat balasan. Rangga sampai tidak tahu harus seperti apa. Kisah cintanya amburadul meskipun karirnya bagus. Bukan tidak ada yang mau tapi rangga pemilih dan seleranya sama dengan izdi gadis dari kalangan sederahana. Jika gadis cantik banyak sekali. Ketika melihat wardah ia seperti dipertemukan dengan si khumairah. Rangga memikirkan khumairah sampai ia tertidur pulas dan mendengkur halus. Pemuda tampan itu sudah pernah berjuang untuk dua gadis namun nihil dia gagal ketika sudah sangat sayang. Entahlah kenapa itu harus terjadi dua kali dalam hidupnya.
Keesokan pagi harinya ...
" Pagi semua ... Om tante," sapa Rubi dengan tersenyum. Dia nampak menenteng sesuatu.
" Pagi ... Oh, rubi kemarilah nak! Kita sarapan bersama," ajak papa Rangga. Rubi mengangguk dan memberikan buah tangannya.
" Tan ... Ini aku ada buat puding makanya rubi ke sini. Buat makanan penutup saja," tawar rubi. Semua orang di ruang makan setuju. Namun rangga mau berdiri.
" Duduklah tidak sopan jika kamu pergi sekarang," ucap sang papa. Rangga pun kembali k tempat duduknya.
" Baiklah," jawabnya singkat dengan malas. Rubi pun akhirnya tersenyum kecut. Sebenarnya apa salahnya kenapa rangga tak menyukai dirinya. Toh mereka baru bertemu.
" Silahkan rubi sarapan dulu!" seru tante dan om. Rubi pun ikut sarapan pagi brsama mereka. Tak ada perbincangan apapun di meja makan hanya ada suara piring sendok bertabrakan. Puding yang tadi di bawa rubi pun sudah di hidangkan.
Layered chocolate pudding.
__ADS_1
Iya kurang kebih itulah nama pudding yang di bawa oleh Rubi. Semua orang mencicipi puddingnya tak terkecuali namun pujian itu datang hanya dari orang tua Rangga. Rubi pusing bagaimana membuat hati pemuda itu luluh lantah di hadapannya. Rangga yang sudah menyelesaikan makanannya sudah berdiri dan ingin berangkat.
"Pa, ma rangga duluan!" pamit rangga. Namun Rubi segera berdiri.
" Bareng yuk ngga ...," ajak rubi. rangga hanya menatapnya sinis.
" Aku ada keperluan lain kali saja," jawabnya langsung pergi tanpa menunggu jawaban rubi.
Oh .. ****. Batin rubi.
Mama rangga mencoba untuk berbicara dengan rubi. Supaya rubi mau mengerti akan sikap rangga. Pemuda itu jika di tekan maka sulit di kendalikan kuncinya hanya sabar. Rubi hanya menghela nafasnya agak kasar. Dia sudah nerupaya bangun pagi supaya bisa bertemu dengan rangga tapi responnya benar-benar tidak memuaskan.
" Sayang rubi ... Rangga tipikel orang yang tidak mau di kekang dan orangnya hamble. Jadi jangan sampai rangga menganggapmu posesif. Itu bisa berat bagimu sayang," ujar mama rangga mengingatkan calon mantunya.
" Tapi te .. di cueknya kelewatan. Rubi merasa ndak bersalah. Dianya gak respek sama sekali. Oh ... Entahlah apa yang salah pada wajahku ini," ucap rubi pada mama rangga.
Apa sebenarnya kekuranganku kenapa dia sangat benci dengan kehadiranku. Tidakkah dia melihat sedikit kecantikanku bahkan aku juga bukan gadis bodoh. Sepertinya aku harus menemuinya hari ini. Batin rubi dengan kesal karena sikap rangga masih saja sama seperti pertama kali bertemu. Perubahan moodnya bukan karena pertama bertemu tapi dia memang tidak ingin bertemu dengan rubi.
Sesampainya di rumah sakit ...
" Dokter rangga coba jelaskan sesuatu padaku tentang ketidaksukaanmu ini?" tanya rubi dengan serius kali ini. Rangga menatap sinis ke arah rubi. Kemudian dia duduk di kursinya.
" Nona Rubi ... Maafkan saya. Sebenarnya saya tidak tertarik dengan perjodohan kita. Tidak ada yang salah denganmu. Tapi hati saya yang salah karena sudah mencintai orang lain. Bukankah tidak mengenakkan jika kita menikah tapi hati ini masih membayangkan orang lain?" jawab dokter rangga membuat rubi terbelalak denga jawabannya. Rubi pun tidak putus asa karena harga dirinya terlanjut dipermainkan olehnya.
" Kenapa kamu tidak mencobanya? Bukankah aneh mencintai tapi lawannya tidak tampak," jawabnya sinis. Rangga pun mulai tersulut emosinya.
__ADS_1
" Apakah kamu tidak laku dokter rubi? Sampai kamu ingin bersanding dengan seseorang yang tidak mencintaimu. Memalukan tidak diharapkan pun masih saja ingin berlanjut," jawab rangga dengan sinis. Dia pun berdiri tanpa menatap rubi dan dia melewati gadis itu begitu saja. Namun akhir kata sangatlah menyakitkan.
" Aku sedang sibuk. Terserah kamu mau mematung di sini atau pergi. Saranku nikahilah orang yang bisa menghormatimu. Tapi sayang sekali aku tidak ada hormat-hormatnya padamu," ucapnya sambil berlalu. Menutup pintu agak keras. Rubi mrmejamkan matanya.
" kau lihat saja dokter jika aku bisa menikahimu akan ku balas perilaku aroganmu itu. Berani sekali kamu menghinaku," ucap Rubi lirih sambil memegang dadanya.
Di ruang praktek dokter Rahman...
" Rangga kenapa masuk ruanganku?" tanya rahman. Rangga menghela nafas kesal.
" Aku ingin menyelesaikan perjodohanku dengan Rubi mas rahman," jawab rangga dengan nada lesu.
" Kenapa? Apa sudah kamu pertimbangkan? Dia juga baik kok Rangga," tanya mas rahman. Rangga menggeleng.
" Aku yang tidak baik baginya. Karena dia bukan seleraku mas. Aku tidak ingin menyakiti namun hatiku berontak saat dia terus berusaha mendekatiku," ucapnya. Rahman duduk dan menatap rangga adik sepupunya.
" Rangga dengarkan pertanyaanku. Sebenarnya jika kamu ingin menjauhkan rubi, apa kamu sudah memilih seseorang? Atau masihkah fatimah dan khumairah? Mereka yang belum tentu ingin bersanding denganmu. Tapi rubi dia bersedia denganmu meskipun kamu mengasarinya. Coba di pikir dulu ngga ... Semua memang butuh proses," ucap rahman dengan segala kebijakan. Rangga masih menatap dengan kosong. Pikirannya malah kembali pada khumairah yang ada dalam Wardah. Akhir-akhir ini sangat diributkan dengan kesamaan diantara mereka. Pikirannya memang masih terfokus pada fatimah dan khumairah. Akan tetapi saat ini dia malah memasukkan wardah yang jelas-jelas istri orang ke dalam benaknya. Untuk Rubi dia sedang tidak ingin memikirkannya.
" Jawablah rangga apakah kamu tidak ingin bersama Rubi," ucap rahman sekali lagi.
"Tidak ... lupakanlah. Aku sedang pusing pusing mas," jawabnya lalu pergi.
.
.
__ADS_1
.
Fatimah.Wardah. Rubi. Entahlah????