
Rangga terduduk lemas mengingat kejadian semalam yang merusak kehidupan wanita di depannya ini. Rangga mulai mendekati gadis itu.
" Maafkan aku ... Ku mohon aku benar-benar tidak bermaksud merusak dirimu. Aku terlalu frustasi kamu datang di waktu yang salah," ucap rangga dengan menyesal. Gadis itu masih saja menangis dengan suara yang sudah parau.
" Kamu benar ... Aku terlalu benci dengan sikapmu sehingga itu menjadikan malapetaka bagiku," ucapnya kemudian berdiri sambil gemetar karena akibat perlakuan rangga. Gadis itu meraih tasnya. Rangga manarik gadis itu ke dalam pelukannya.
" Maafkan aku Rubi ... Aku akan menikahimu," rangga memeluk gadis itu. Gadis yang selama ini dia benci. Gadis yang selama ini tidak ada niatan untuk ia nikahi. Rangga merasa menjadi lelaki yang sangat kurang ajar, bejat dan hina. Rubi adalah gadis yang masih suci. Bisa-bisanya dia di bawah pengaruh alkohol menjadi lelaki durjana. Rubi tak menjawab apapun, dia masih menangis dalam pelukan rangga. Gadis itu nampak syok dan masih tidak sanggup berjalan. Rangga menggendongnya dan menidurkannya di ranjang. Rubi menenggelamkan wajahnya di bawah selimut yang bengkak karena menangis semalaman. Rangga masih setia di sampingnya. Handphone-nya berbunyi nampak telpon dari izdi. Dia segwra mengangkat.
" Ngga ... Dimana orang tuamu mencari?" ucap izdi.
" aku sedang ingin sendiri iz. Aku baik- baik saja. Aku akan pulang nanti ini masih istirahat," jawab rangga.
" Maafkan aku sekali lagi ngga," ujar izdi di seberang sana.
" Tentu saja iz aku akan memaafkanmu," jawab rangga masih flat. Bukan karena dia membenci sahabatnya tapi dia ingat kelakuan bejatnya.
" Segeralah pulang ngga," ucap izdi sekali lagi.
" Tentu. Aku tutup dulu ya," jawab rangga yang kemudian menutup telponnya.
sedari tadi izdi menelpon di samping istrinya. Belum sempat izdi menjawab pamitan si Rangga hp sudah di matikan. Izdi menatap istrinya.
" Bagaimana mas?" tanya wardah
" Dia tidak marah namun suaranya flat entah apa yang terjadi. Aku khawatir dia masuk bar lagi. Jika itu terjadi akan sangat bahaya jika ada seseorang di sampingnya," jawab izdi.
" Semoga tidak mas," jawab wardah singkat jadi ikut merasa bersalah dalam kejadian ini.
Di tempat lain ...
Mungkin saat ini kamu sudah menebak kebiasaan burukku iz. Kamu adalah sahabat baikku. Kamu sangat hafal betul dengan kebiasaanku. Namun kali ini aku sudah melakukan kesalahan fatal iz. Maafkan aku telah merusak diriku sendiri mungkin inilah alasan kenapa gadis baik seperti wardah tak menjadi istriku. Batin rangga dengan sangat menyesal dan merasa hina akan dirinya sendiri.
__ADS_1
Rangga mendekati Rubi. Di balik selimut rangga membuka wajah rubi yang sembab dan sedang tertidur karena lelah. Rangga membelai wajah Rubi gadis yang selama ini dia hina malah dia menjadi korban atas kemarahannya tadi malam.
" Rangga jangan lagi ... Maafkan aku. Lain kali aku tidak akan mengganggumu," Rubi nampak ketakutan. Rangga kembali memeluk gadis itu untuk menenangkannya.
" Rubi tenanglah ... Aku tidak akan melakukannya setelah kamu mengizinkan. Aku mohon aku benar-benar khilaf," ucap rangga. Rubi masih nampak sedikit terguncang.
" Ku mohon rangga yang kamu lakukan menyakitiku," jawabnya lirih.
" Ya, aku tidak akan melakukannya rubi. Tenanglah," jawab rangga dengan mengelus punggung rubi. Rangga memberikan obat antibiotik dan obat penenang supaya gadis itu lebih baik.
Seharian rangga menjaga rubi yang trauma. Dia tidak memulangkan gadis itu. Rangga mulai menghangat saat melihat rubi. Gadis di depannya ini adalah korban kekejaman cinta di hatinya.
Di rumah sakit ...
Rahman dan izdi sedang mengobrol tentang kejadian semalam dengan rangga. Rahman menyimpulkan bahwa rangga saat ini sedang terpuruk. Pemuda itu sudah dua kali di tinggal mungkin kali ini sangat berat baginya. Dia berharap masih bisa menikahi gadis medsos itu jelas rahman.
" inilah mas yang tidak ku ketahui ternyata istriku adalah andil dari kesembuhan hati rangga. Kami menikah memang sangat mendadak," ujar izdi dengan menerawang kembali kejadian itu. Rahman hanya manggut-manggut.
Keadaan lainnya ...
Saat Rangga berada di bilik tempat kerjanya. Dering telp ciri khas jika khumairah telp. Itu berbunyi. Rangga melihat nama yang masuk. Iya itu adalah khumairah. Rangga mengangkatnya.
" Dimana kak? Tidak bisakah memaafkan aku? Sampai tidak pulang ke rumah?" pertanyaan itu datang bertubi-tubi. Rangga tersenyum getir.
" Saat ini aku dalam keadaan sangat rendah khum. Bahkan aku sudah merugikan orang lain. Mungkin inilah alasan kita tak berjodoh karena buruknya sikapku," jawab rangga menilai dirinya.
" Kak, tidak ada orang yang baik selalu ada kalanya kita melakukan kesalahan," jawab Wardah. Lagi-lagi rangga tertawa ringan.
" Kesalahan ini fatal. Aku merusak kehormatan orang lain karena emosiku," jawab rangga mulai dengan marahnya terhadap dirinya.
" Kak ... Apa yang terjadi? Kenapa berkata sepertu itu? " Wardah mulai khawatir dengan ucapan rangga yan menurutnya agak ngelantur.
__ADS_1
" Kali ini aku adalah seorang pendosa khum. Jangan pernah mendekatiku lagi meskipun sekedar berteman," ucap rangga yang kemudian menutup telponnya. Wardah terdiam seribu bahasa.
Apa yang kamu lakukan kak. Tidak ada seseorang yang menghakimi dirinya sendiru sebagai pendosa. Kali ini apa yang terjadi padamu. Batin wardah menyesal.
Flash back ...
Siang itu wardah dan rangga bertemu di toko bunga. Rangga hafal betul bunga kesukaan khumairah. Saat wardah mengambilnya spontan langsung mengenali gadis itu.
" Kali ini jangan mengelak lagi jika kamu bukan khumairah," ucap rangga pada wardah. Kali ini wardah pun mengangguk.
"Iya kak ini aku yang sudah menyakitimu beberapa bulan lalu," jawab wardah. Rangga menatap gadis cantik di balik cadar yang sedang berhadapan dengan dirinya itu.
" Ijinlah pada izdi. Aku ingin bertemu denganmu di cafe. Aku tunggu sore hari khum," ucapnya kemudian keluar dari sana. Namun ia berkata sesuatu pada pegawai di sana yang di dengar olehnya.
" Berikanlah nona itu satu buket bunga tulip yang masih segar. Nanti tagihannya masukkan ke list kantor kedua," ucapnya kemudian pergi. Sang pegawai mengangguk patuh karena rangga adalah pelanggan terbaik di toko Flower Garden. Meskipun dia di luar negeri namun dia tetap komunikasi jika tentang bunga.
" Kak ... Kenapa kamu masih sama seperti dulu. Harusnya saat ini kamu lebih bahagia kak," ucap wardah lirih.
" mbak ini bunganya dari pak rangga. Tagihannya ikut beliau ya. Terima kasih sudah ke toko kami," ujar sang pegawai toko dengan sangat ramah.
" Terima kasih," jawab wardah kemudian keluar dari toko sambari menelpon suaminya.
" Ya, sayang kenapa?" tanya izdi di tengah-tengah membuat laporan.
" Mas dokter rangga mengajakku ke cafe dekat rumah sakit. Dia memintaku ijin padamu," jawsb wardah haMbar. Izdi pun paham akan maksudnya.
" Datanglah sayang, nanti aku menyusul. Aku percaya padamu," jawab izdi kemudian mengakhiri panggilan.
Langkah kaki wardah pun akhirnya menuju cafe tempat dimana rangga ingin bertemu dengannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Bukankah aneh khum. Cinta ini untukmu tapi kelakuanku tak sebanding dengan hati ini. Rangga yang bodoh dan terlalu tergiur dengan amarah. Harusnya aku menjaga diriku khum jika ingin pantas denganmu. batin rangga di biliknya sambil menoleh ke arah rubi.