
Ketiga insan itu dalam keadaan ambigu. Baik maria, Izdi, Wardah mereka adalah pasangan yang terbentuk dengan segala kerumitan yang ada. Hubungan terjalin tanpa ada pemberitahuan apapun itulah sebuah takdir. Yang harus di jalani oleh ketiganya. Namun ketiganya sama-sama menemukan senyuman bahagia saat bersama. Ketiganya sama-sama memiliki jalan cintanya masing-masing. Namun takdir menemukan mereka dengan satu rasa satu cinta yakni Ahmad Izzudin Al Qasaam. Pemuda yang di kelilingi banyak perempuan cantik sehingga menggeser posisi Rangga sang interpreneur pemuda tampan sukses namun tidak dengan cintanya.
Di dalam masjid dekat rumah bu sumi wardah menumpahkan rasa rindunya pada sang pemilik alam. Dimana Allah-lah yang menyatukannya dengan sang suami. Karena Allah pula dia dapat menikah dengan izdi dan atas izin Allah pula dia bertemu dengan maria istri lain dari Izdi.
Nuansa Islami nampak kental di dalam masjid. Air mata Wardah kembali tumpah dalam sujud terakhirnya malam ini. Bendungan air matanya tak dapat dia tahan. Air mata mulai menganak sungai ke sajadahnya. Rasa hati yang membuncah serta kekecewaan yang mendalam pada suaminya membuat wardah tak bisa berkata-kata. Tangisnya adalah perwakilan dalam tutur katanya. Betapa sakitnya hati wardah saat ini. Saat suaminya memiliki istri lain.
" Ya Allah ... Wahai dzat yang membolak balikkan hati. Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ala dhinik. Ampuni hamba ya robb jika hati ini salah. Ijinkanlah hamba sejenak merenung, menyendiri tanpa memikirkan sesuatu yang membuat pikiran ini buruk pada orang lain. Ya Allah mungkin hamba berdosa saat ini telah meninggalkan suami hamba tanpa izin darinya dan mungkin malaikat pum melaknat. Ampunilah segala khilaf hamba yang hanya manusia biasa ini ya Allah. Robbana atina Fiddunya hasanah wa fiil akhiroti hasanah waqina adzabannar," doa wardah di sepertiga malam.
Wardah kembali pada saat dia sebelumnya menikahi izdi. Malam itu wardah pun berdoa di sepertiga malam untuk menetralisir hatinya yang sakit. Kali ini pun dia dalam keadaan yang sama. Bahkan tidak ada orang terdekat diantara wardah. Kali ini wardah merasa butuh waktu untuk memahami keadaannya.
Sepertiga malam izdi ...
Rumah sakit nampak begitu dingin. Kedinginan malam nampak menusuk pori-pori yang terbuka. Izdi nampak sendu berada di mushola rumah sakit.
" Laa yukallifullaha nafsan illaa wus'aaha. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuatu dengan kesanggupannya ( Qs. Al Baqoroh 286 ),"
Izdi memegang dadanya tak ada yang berhak atas dunia ini kecuali Allah. Izdi mencoba memahami keadaan wardah yang entah dimana. Semoga istrinya segera keluar dari zona penderitaannya dan kembali membuka hati untuk izdi. Izdi sangat merindukan gadis itu. Handphone pun tak diaktifkan oleh wardah. Khawatir pasti tapi apa yang bisa izdi lakukan dia bukan orang yang memiliki kekuasaan seperti di novel-novel yang bisa menemukan istrinya dimana saja. Dia hanya seorang hamba Allah yang berstatus sebagai dokter.
__ADS_1
" Sayang ... Semoga kamu baik-baik saja dimanapun berada. Mas memaafkanmu dan mas minta maaf. Segeralah mengaktifkan handphone-mu," monolog izdi seusai berdoa.
Dalam keadaan bersama Maria pun yang memang pada dasarnya seorang putri dari kyai. Diapun kembali meneteskan air matanya. Bagaimana berdosanya dia saat meninggalkan suaminya saat itu. Dimana nuraninya dan dimana sikap taatnya sebagai istri yang sholihah. Andaikan dia tidak pergi mungkin tidak seperti ini kejadiannya.
" Ya Allah ampuni segala dosa yang sudah Maria lakukan. Kembalikanlah keadaan semula dalam keadaan baik. Saat ini suamiku adalah suami dari seseorang. Buatlah mereka berdamai dengan cara-MU. Satukanlah mereka melalui cinta dan kasih-MU. Maria bukanlah orang jahat jika istri izdi tak menerima kehadiran hamba maka izdi boleh memilihnya dan meninggalkan hamba. Ya Allah dunia dan seisinya milikmu begitu pun jalan takdir yang kami tempuh semua adalah ijin dari-MU. Robbana hablana min ajwajina qurrota a'yun waj alna lilmuttqqina imama," dalam hati maria saat berada di atas ranjang rumah sakit.
Malam ini semua berkasih pada sang pemilik dalam doa. Terlalu sibuk dengan urusan duniawi seakan - akan membuat mereka lupa akan kepada siapa mereka kembali. Dunia hanyalah skenario dunia perfilman. Sejatinya mereka kan kembali pada pemilik-Nya.
" Nduk ... Istirahat bayinya biar sehat," ucap bu sumi yang saat ini sudah merubah panggilannya karena wardah memintanya. Wardah tersenyum menunjukkan deretan giginya.
" Bu .. Wardah ingin sekedar membantu tidak melakukan apapun juga tidak baik," jawab wardah.
Setiap pagi mereka selalu melakukan aktivitas membuat kue untuk di jual. Wardah yang memiliki keahlian memasak dengan enak. Ia gunakan itu untuk membantu bu sumi.
" Nduk ... Yakin tidak memanggil suamimu kemari. Ini sudah 1 minggu berlalu dia harus tahu bahwa akan segera punya bayi. Paling tidak kabari bahwa kalian baik-baik saja," ucap bu sumi yang membuat wardah tersenyum.
" Biarkan seperti ini dulu bu saya masih ingin menikmati kesendirian. Mungkin saat ini dia sudah ada yang menemani," jawab wardah pada bu sumi yang tersenyum.
__ADS_1
" Neng wardah sedang cemburu ya sama pak suami. Neng ndak baik lama-lama cemburu belum tentu yang di sana selingkuh lohh," goda bu sumi pada wardah. Namun wardah menggeleng dengan senyum.
" Dia memang tidak selingkuh bu tapi ada istri lain," jawab wardah yang akhirnya mengeluarkan rahasianya.
" Yakin ... Dia istrinya? Sudah dapat penjelasan belum nduk dari suamimu?" tanya bu sumi memastikan.
" Entahlah bu saya merasa belum mendengarkan penjelasan saja rasanya sudah kalah. Dia istri yang perfect bu. Cantik, seorang yang memiliki jabatan, tinggi, senyumnya sangat menawan, auratnya juga tertutup, pinter pokoknya paket komplit bu. Saya jadi minder sebelum mendpatkan penjelasan," jawabnya sambil mengenang pertemuan mereka di kampus. Yang kedua bertemu di rumah sakit. Perbincangan itulah yang membuat dirinya meninggalkan izdi. Entah bagaimana sekarang keadaan mereka wardah enggan mencari tahu.
" Nduk harusnya sepahit apapun dibicarakan dulu. Jangan langsung pergi siapa2 tahu suamimu itu memiliki alasan yang jelas. Tapi ya sudah gapapa sekarang benahi hati dan diri. Jika suatu saat mau pulang kamu sudah siap dengan semua keadaan," ucap bu sumi sambil mengelus kepala wardah. Wardah pun jadi memeluk bu sumi. Saat ini beliaulah tempat ternyaman bagi wardah.
" Ya bu ... Maksih banyak untuk semuanya," jawab wardah. Wardah pun sampai saat ini tak mengaktifkan hp-nya. Karena dia enggan sekedar mendapatkan telpon atau apapun itu bentuknya. Hidup ini harus tetap berjalan dengan pikiran waras.
" I miss you mas iz," lirih wardah.
.
.
__ADS_1
.
Lanjut ya reader!!!! Jangan lupa like, subscribe,gift-nya.