Cinta Dalam Sujudku

Cinta Dalam Sujudku
Terapi Fatimah


__ADS_3

Pagi ini seperti biasa wardah menyiapkan keperluan izdi. Izdi pun menikmati pelayanannya sebagai istri yang sholihah. Saat wardah beberes kamar.


" Sayang tidakkah kamu ingin kuliah kembali. Kapan hari kak Aby memberiku sebuah saran untuk masa depanmu," ucap izdi.


" Ingin sebenarnya mas. Tapi bukankah kita masih harus mencekkupkan keadaanku? Jika hamil aku fokus dulu jika tidak aku study ya?" jawab wardah sekaligus bertanya secara antusias. Ya inilah wardah gadis muda yang penuh semangat. Izdi tersenyum tampan pada istrinya.


" Tentu saja sayang," ucapnya sambil memeluk wardah.


" Berbahagialah selalu sayangku," pinta izdi dengan mencium puncak kepala wardah.


" Aamiin. Mas juga," jawabnya dengan mengingatkan suaminya sudah jam 7 kurang. Dia harus segera berangkat. Izdi mengangguk dan menyambar tasnya. Wardah pun di rangkul oleh izdi untuk pergi ke bawah bersama.


" Mas bekal makan siangnya sudah di mobil ya? Jangan lupa di makan," ucap wardah mengingatkan suaminya.


" Nanti siang ada janji dengan dokter Obgyn sayang. Mas jemput ya?" tanya izdi mengingat janjinya.


" Wardah naik taksi saja mas. Pulangnya saja bareng," jawab wardah. Supaya suaminya itu tidak lelah bolak balik. " sekalian mau lihat kakak mas," ucapnya menimpali. Izdi mengernyit.


" Apa tidak apa-apa sayang?" tanyanya.


" Tidak apa-apa mas mereka keluargaku," jawab wardah dengan tanpa beban. Izdi pun mengangguk paham akan istrinya.


Beberapa saat kemudian izdi melajukan mobilnya ke arah rumah sakit. sesampainya di rumah sakit ia melihat para dokter berada di depan. Pemandangan yang tumben alias jarang terjadi. Izdi pun menghampiri Rahman.


" Ada apa mas? Kok banyak dokter," sapa izdi pada dokter rahman. Rahman sedikit berbisik.


" Kita akan kedatangan dokter Rubiah Annisa Putri spesialis Radiologi. Dengar-dengar dia mau dijodohkan dengan Rangga iz. Sahabatmu itu memang terlalu lama menjomblo membuat pak pemilik rumah sakit gemes. Hahahah, tawa rahman pecah. Izdi hanya tersenyum getir. Ia khawatir dengan perasaan sahabatnya. Bisa jadi saat ini dia ingin kembali pada fatimah. Tapi ya sudahlah kembali lagi takdir Allah yang punya.


" Mas kita masuk saja yuk!" ajak izdi. Rahman mengangguk tetapi segera mengajak semua dokter ke ruang rapat.


" Kita ke ruang rapat langsung iz, tadi papa Rangga sudah calling bahwa ada rapat dadakan," ucap Rahman. Izdi mengangguk dan mengikuti rahman dari belakang. Semua dokter menuju ruang rapat.


15 menit kemudian rapat di mulai oleh pimpinan rumah sakit. Nampak Rangga masuk dengan ekspresi datarnya. Diikuti dengan gadis berperawakan tinggi tanpa hijab cantik mengikutinya dari belakang dengan senyuman yang indah dan menawan. Semua dokter pria menatap dengan mata bahagia karena ada pemandangan baru di rumah sakit.


" Assalamualaikum ... Selamat pagi semua," ucap ayah Rangga. Semua dokter menjawab salam beliau dan sapaan paginya.

__ADS_1


" Sengaja saya kumpulkan di ruang rapat kali ini untuk membahas status dokter fatimah yang baru saja saya angkat di jabatan barunya. Akan tetapi karena sebuah insiden dokter fatimah belum bisa kembali berdinas. Untuk beberapa waktu ke depan akan di gantikan oleh dokter Rubiah. Dokter Rangga silahkan jika yang ingin di sampaikan?" tanya sang ayah.


" Tidak ada pak. Silahkan dilanjutkan," jawab Rangga dengan ekspresi lempengnya. Izdi dan dokter rahman hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Rangga seperti orang tertekan.


Dokter rubiah di depan sudah mulai memberikan sebuah sedikit wacana di depan bagaimana ke depannya. Semua dokter menatap ke arahnya tanpa terkecuali tapi tidak dengan kami ( izdi dan rahman) sibuk mengamati Rangga saat ini.


1 jam rapat berjalan kami harus segera kembalinke tugas masing-masing karena ada pasien yang sudah mengantri. Saat ini kami belum bisa mendekati rangga karena pasien kami sudah harus di tangani.


" Mas nanti saja kita temui rangga," ucap izdi di pintu keluar ruang rapat.


" Oke," jawab Rahman.


" Istrimu jadi ceck up ya nanti?" tanya rahman. Izdi mengangguk dan kemudian berpisah di koridor rumah sakit.


di ruang Izdi ...


"Ada berapa pasien sekarang fid?" tanya izdi pada asistennya.


" Ada 25 pasien pak pagi ini," jawab hafid melihat daftar pasien pagi ini. Izdi menimpali lagi.


" Untuk visit berapa?" tanyanya.


" Baiklah 15 menit lagi bisa di mulai saya siapkan dulu," ucap izdi yang diikuti anggukan asistennya yang keluar ruangan. Hari ini pasien yang datang aman terkendali masih normal tidak membludak. Ia bisa dengan santai mendiagnosis keadaan mereka.


Seharian izdi dan Rahman bertugas menangani pasien. Mereka ingin menyelesaikan tugasnya. Karena izdi dan rahman ingin menemui rangga. Hari nampak sudah siang. Mereka baru saja menyelesaikan kunjungan terakhir.


Nampak dari kejauhan gadis bercadar memakai gamis kuning kupu nampak terlihat cantik sekali seger. Dia sedang mengobrol dengan seseorang di seberang.


" Iya Umi hari ini mau cek up doanya supaya di kasih yang terbaik," ucap wardah dengan lemah lembut.


Rangga berada di sampingnya terdiam. menatap gadis itu. Wardah kaget saat ingin melangkah tiba-tiba ada rangga di sampingnya.


" Khumairah?" sapanya yang membuat wardah terkejut. Senetral mungkin dia menjawab ucapan rangga.


" Dokter rangga ... Sudah selesai dinas ya? Tanya wardah padanya.

__ADS_1


" Sedang apa di sini khumairah?" tanya rangga tanpa jeda.


" Saya mau ketemu suami saya dokter rangga mas izdi," jawab wardah pelan.


" Astaghfirullah ... Maafkan saya nyonya izdi. Silahkan apa perlu saya antar?" tanya rangga sambil menatap istri izdi.


" Saya bisa sendiri dokter. Permisi!" pamit wardah. Namun wardah menoleh saat rangga mengatakan sesuatu.


" Suamimu selalu saja jadi incaran gadis cantik yang baik. Sampaikan padanya nyonya izdi, aku mengagumi istrinya. Permisi!" seru dokter rangga yang membuatnya menggelengkan kepala. Namun siapa sangka hal itu malah di saksikan oelh suaminya. Izdi dengan tersenyum mendekati istrinya.


" Hai ... Sayangku. Sudah dari tadi?" tanya izdi. Wardah tersenyum.


" Baru saja mas. Temanmu itu meresahkan perempuan. Pada istri temannya kok seperti itu," jawab wardah dengan perasaan kesal.


" Kan memang kamu khumairahnya sayang. Hahahah," tawa izdi yang membuat wardah mencubiy lengannya.


"Eh, iya-iya sayang jangan dong sakit. Maaf ya," jawab izdi dengan memeluk istrinya.


" Kenapa dengannya pagi-pagi kok sudah seperti orang mabuk mas?" tanya wardah.


"Dia sedang galau tidak senang dengan kedatangan seseorang ke rumah sakit yang katanya dia adalah calon yang akan dijodohkan dengannya. Dari pagi mukanya udah masam di tekuk-tekuk. Aku sama mas rahman mau ke ruangannta tapi kamj sibuk dari pagi," jawab izdi menjelaskan keadaan hari ini. Wardah hanya menggangguk dan kembali bertanya pada suaminya.


" Mas sudah makan siang?" tanya wardah dengan begitu perhatiannya.


" Belum sayang ... Barusan visit terakhir. Eh pas lihat istriku di godain dokter rangga. Jadi punya tontonan gimana gitu. Hehehe," ucap izdi.


" Maaf ya mas. Mungkin dia sudah mulai hafal dengan suaraku," jawab wardah cemberut di balik cadarnya.


" No problem honey. Ayuk ke ruanganku!" ajak izdi.


Mereka pun masuk lift menuju ruangan suaminya.


.


.

__ADS_1


Semakin rumit ya guys cinta mereka..


Dukung terus ya dear. Jangan lupa dibanyakin like-nya. Vote jua ....


__ADS_2