Cinta Dalam Sujudku

Cinta Dalam Sujudku
Makan malam di kediaman izdi


__ADS_3

Pukul 17.50 dua mobil mewah masuk halaman rumah izdi. Wardah pun tersenyum saat mengetahui izdi datang. Namun senyuman itu pudar saat melihat Rangga di belakang Izdi. Pemandangan di depannya membuat Wardah memundurkan langkahnya. Dia berlari ke arah kamar. Hatinya harus baik-baik saja saat ini.


Izdi menoleh ke sana ke mari namun tak menemukan istrinya. Dia hanya menemukan sang bibi berjalan ke arahnya dengan pelan.


" Bi ... Dimana nona?" tanya izdi pada bibi. Karena izdi biasanya mendapati istrinya menyambut kedatangannya tapi tidak malam ini. Rangga masih saja menikmati pemandangan rumah izdi. Dia manggut-manggut dengan selera temannya ini.


" Nona masih di kamar tuan. Seharian memang belum sempat beristirahat," jawab sang bibi. Izdi pun mengangguk dan menyuruhnya untuk kembali ke belakang. Izdi menatap sahabatnya.


" Bersiaplah sholat maghrib aku akan menemui istriku dulu. Tempat sholat sebelah sana ya ngga! Kamar tamu sebelah sana! kamu bisa beristirahat sebentar," tunjuk izdi pada sahabatnya itu. Rangga mengangguk paham. Izdi pun kembali ke kamarnya dan Rangga di persilahkan ke kamar maupun ke tempat sholat. Dia bebaskan sahabatnya untuk menjelajahi rumahnya.


Di kamar izdi ...


" Sayang kok tidak turun?" tanya izdi pada wardah yang duduk di meja rias. Wardah tersenyum simpul begitu pun dengan izdi yang memeluk istrinya dari belakang sambil mencium puncak keningnya.


" Rindu sekali ya?" tanya wardah balik. Izdi malah melotot sambil senyum nakal. Wardah jadi membalikkan badan menatap suaminya.


" Tadi wardah tidak pakai cadar mas, ternyata teman mas ikut bersama sekalian," jawabnya sambil memegang kedua tangan suaminya. Namun izdi mulai mengangkat alisnya.


" Iya benar begitu? Kok rasa-rasanya kali ini aku mencurigai istriku ya?" tanya izdi balik. Istrinya menghela nafas berat. Dia tidak mau ada kesalah pahaman lagi sehingga wardah mengangguk.


" Ada mas ... Tapi nanti setelah tamunya pulang ya Wardah cerita," jawab wardah meyakinkan suaminya itu. Izdi mengangguk dan memeluk istrinya. Lalu dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena sebentar lagi sudah jam makan malam.


Wardah menyiapkan keperluan izdi yang sedang mandi. Sekilas wardah menangkap bayangan Rangga. Dia adalah pemuda medsos yang pernah ingin mengkhitbah dirinya. Namun malah dia tolak dengan alasan masih ingin bersekolah lagi. Dia pun berencana menunggu wardah sampai tamat. Akan tetapi lagi-lagi Rangga bernasib kurang baik. Orang tua wardah menikahkan dirinya dengan orang lain. Betapa kecewanya saat itu rangga. Wardah pun memohon maaf atas ketidak tahuannya jika harus menikah hari itu juga. Karena seharusnya adalah kakak yang menikah.

__ADS_1


" Sayang sholat dulu ya? Baru turun," ucap izdi pada wardah. istrinya mengangguk pelan. Kemudian mereka sholat berjamaah dengan khusu'.


Seusai sholat ...


" Astaghfirullahal adzim ... Astaghfirullahal adzim ...Allahumma sholli ala sayyidina muhammad. Ya Allah ya robb berkahilah keluarga kecil kami, luruskanlah jalan kami jika mulai berbelok. Jagalah cinta kami untuk-Mu. Allahumma Firlaha warkhamha wa'fuanha ...


Robbana hablana min azwajina durriyatina qurrota a'yun waj alna lil muttaqina imama," doa yang izdi panjatkan pada sang pemilik alam. Wqrdah mengamini semua doa suaminya. Wardah kemudian mencium punggung tangan izdi dengan ta'dzim.


" Mas ... Ada satu hal yang belum Wardah ceritakan," ucap wardah dengan pelan. Izdi menatap istrinya mencari sebuah kebenaran dan dia menemukannya.


" Apakah itu sayang?" tanya izdi pada istri tercintanya.


" Tentang sahabat yang malam ini mas bawa. Tadi sebenarnya wardah sudah di bawah saat melihat siapa yang mengikuti mas wardah langsung berbalik arah. Satu karena memang belum memakai cadar kedua wardah mengenalinya mas," ucap wardah. Izdi mulai mngernyitkan dahinya. Dia merasa istrinya ini populer di kalangan kaum adam yang memiliki figur kalangan atas. Ada cemburu pada kecil di depannya ini. Selama ini bukanlah izdi yang mencintai dia namun orang lain.


" Cantik ... Jangan jauh-jauh dari mas. Kenapa semakin ke sini mas semakin cemburu padamu," bisik izdi yang membuat wardah melongo dengan ucapan suaminya. Kali ini dia ingin tertawa untuk orang se perfect mas Iz cemburu pada anak gadis ingusan yang baru kemarin tinggal bersamanya.


" Jangan aneh-aneh deh mas. Apapun keadaanya Wardah tetap istri mas," jawabnya dengan tersenyum dari balik cadarnya. Wajah ayunya memanglah untuk izdi seorang. Mereka turun dengan mesranya membuat pemuda yang berada di bawah memperhatikan dengan melongo dan tersenyum serta menggelengkan kepalanya.


" Romantis ya kalian. Orang yang di bawah ini kayak penonton loh. Luwe amat manten baru dua ini," ujar Rangga mulai jahil. Izdi mulai melempar pandangan sengit sambil tersenyum smirk.


" Jangan mulai ya Ngga ... cukup kamu nikmati dan resapi aja pemandangan gini. Supaya kamunya cepat nikah," ledek izdi setelah sampai di bawah. Mereka pun tertawa bersama dan menuju ke taman belakang.


Sesampainya ...

__ADS_1


" Silahkan dinikmati dulu, tanpa ada pembicaraan. Setelah selesai silahkan berbincang ," ujar wardah dengan datar. Izdi hanya tersenyum saat melihat sahabatnya ngowoh melihat istri temannya yang lempeng. Sayang sekali dia tak dapat melihat wajahnya. Dia pun enggan untuk menatap ke arah rangga.


" Baiklah nyonya izdi," jawabnya singkat. Izdi sudah gak nahan tawa. Ini pertama kalinya rangga di atur oleh seseorang. Wardah memang bisa diandalkan.


" Duduklah sayang ... Kita makan malam bersama! " seru izdi yang menepuk kursi di sampingnya. Wardah mengangguk dan mendekat dan duduk di sampingnya.


" Hallo manten baru ... Mata Sayya ternoda dengan tingkah kalian. Tanggung jawab kalian setelah ini mencarikanku jodoh," ucap izdi dengan menggeleng kepala.


" Jodoh itu Allah yang atur dokter rangga. Jangan khawatir tentang itu. Jika mau memulai pasti segera menemukan kekasih hati," jawab wardah dengan santai. Kali ini rangga menatap ke arah istri izdi, dia tatap gadis itu. Suaranya mirip sekali dengan khumairah. Pikiran izdi berkelana kemana-mana. Dia dan khumairah tidak pernah bertemu karena belum berkesempatan tetapi dia pernah berkabar lewat gawai handphone. Suara Wardah dan Khumairah sama. Tapi Rangga segera mengahapus pikiran-pikiran itu dari benakmya. Dia kembali pada tujuannya kemari yakni meminta izin jika suami perempuan di depannya ini diminta tolong untuknpengobatan fatimah.


Makan malam ini sangatlah menyenangkan bagi Rangga. Masakannya lezat suasana tempat makan indah. Ia bangga pada sahabatnya itu mampu membeli sesuatu dengan hasil kerja kerasnya.


" Bolehkah saya berbicara ny. Izdi?" tanya Rangga dengan menatap ke arahnya. Wardahpun menatap ke arahnya tanpa canggung.


" Bolehkah Izdi membantu saya dalam proses penyembuhan fatimah kakakmu? Saya benar-benar butuh bantuannya untuk proses penyembuhan fatimah," ucap Rangga dengan yakin. Wardah masih nampak berfikir.


"Sebentar ... Ijinkah saya membersihkan tangan dulu," jawab wardah karena memang dia belum cuci tangan.


.


.


.

__ADS_1


Kira-kira di setujui gak ya sama Ny. Izdi?????


__ADS_2