
Rangga yang panik akhirnya menelpon wardah. Entah dimana gadis itu saat ini berada.
Handphone wardah yang berbunyi saat banyak pelanggan datang membuatnya tak segera mengangkat panggilan. Karena sudah berulang kali akhirnya pelanggan ikut mengomentari.
" Mbak hpnya diangkat dulu siapa tahu penting!" seru salah satu dari mereka. Wardah mengangguk dan melihat nama siapa yang tertera. Rangga melakukan 10 kali panggilan dan 2 pesan masuk.
" Jika tidak sibuk angkatlah. Ini sangat penting wardah emergency," pesan dari rangga membuatnya menghela nafas.
" Bu saya telpon sebentar," pamit wardah. Bu sumi mengangguk karena harus melanjutkan.
Wardah berjalan ke dalam kamarnya. Wardah kemudian menelpon rangga. Apa yang sebenarnya ingin dia katakan dan seemergency apa.
" Assalamualaikum, " ucap wardah.
" Waalaikumsalam ... Alhamdulillah, wardah bisakah kamu ke jakarta dulu?" tanya rangga.
" Maaf kak saya tidak bisa," jawabnya dengan singkat dan ingin menutup telponnya. Namun suara keras rangga seakan-akan sedang mengatakan suatu hal yang tidak enak.
" Jika kamu menutup telpon saat ini akun pastikan kamubakan menyesal wardah. Jika tidak ingin maka tolonglah dengarkan aku baik-baik. Aku tidak akan mengulangnya sekali lagi.
" Katakan," jawab wardah enggan.
" Izdi mengalami kecelakaan dengan beberapa mobil. Saat itu izdi terjebak dalam mobilnya sehingga dia tak dapat melarikan diri. Akhirnya mau ndak mau peristiwa naas itu terjadi padanya. Jadi kami mohon jenguklah suamimu. Dia sedang kritis," ucap rangga dengan jelas dan lugas. Kemudian dia menutup panggilan telponnya.
Deg.
Hati ini rasanya sudah tidak karuan saat mendengar berita itu. Rangga pun tak membuat-buat berita itu. Karena dia menyampaiakan dengan sangat jelas dan menutup telponnya kembali. Ingatan wardah tentang semuanya jadi berputa-putar di kepalanya. Senyuman izdi, romantisnya malam pertama mereka, pembelaannya untuk dirinya daripada kepada kakaknya. Semua kembali datang ke memory wardah. Tetesan air matanya juga tidak terasa. Wardah baru ingat jika sebelumnya izdi berpamitan untuk mendampingi maria di pembukaan peresmian perusahaan terbarunya.
" Mas ... Maafkan wardah, bertahanlah untuk keturunanmu. Meskipun kamu belum mencintaiku sepenuhnya. Aku akan datang kembali untukmu mas," ucap wardah seorang diri. Rasa khawatir kini membuncah di hati wardah. Dengan terpaksa dia menghubungi nasya.
__ADS_1
" Nasya bisa bantu kakak?" tanya wardah sambil menangis yang tertahan.
" Tentu aaja kak ada apa?" Tanya nasya.
" Nasya kakak butuh bantuan untuk kembali ke kota, bisakah aku minta tolong pada kakakmu?" tanya wardah dengan hati-hati. Nasya tentu saja bahagia saat mendengar si kakak cantik membutuhkan bantuan dirinya.
" Okeh nasya bilangkan kakak. Kapan kak?" tanya nanya balik.
" Sekarang sya ... " jawaban wardah membuat nasya khawatir pasalnya suara kakak cantilnya sudah serak seperti menangis. Nasya kemudian berlari ke kamar abangnya.
" Babang ... help! Buka pintunya dong urgent," ucap nasya sambil menggedor-gedor pintu kamar azzam. Azzam bisinh dengan keributan yanh dibuat oleh adiknya. Ia pun akhirnya keluar.
" Ada apa sih sya ? Jangan rame ah malu," jawab si babang. Nasya menyodorkan handphonenya. Azzam mengkerut tapi nasya mengkode suruh ngomong.
" iya ada apa wardah?" tanyanya hati-hati.
Wardah di seberang sana sedang menangis. Azzam jadi ikutan di landa panik. Dia mencoba untuk menenangkan wardah yang entah kenapa. Namun tak berselang lama saat wardah sudah tenang lagi.
"Sebentar lagi saya ke sana kita berangkat!" seru azzam tanpa pikir panjang. Nasya menatap tidak percaya pada kakaknya. Sedekat itukah atau kenal pada kakak cantik. Mereka terlihat tidak canggung. Bukan seperti orang yang tidak kenal.
Azzam sangat terburu-buru saat nama izdi di sebut kecelakaan. Sedangkan nasya masih terheran-heran. Namun kakaknya menarik nasya untuk ikut.
" Ikutlah bersamaku buatlah kakak wardah tersenyum selama perjalanan," ucapan azzam semakin membuay nasya bingung. Bahkan dirinya hingga saat ini tak tahu siapa nama gadis cantik di balk cadarnya itu. Dan asal usulnya tapi kakaknya yang tampan ini malah lebih tahu namanya. Ini PR untuk nasya saat ini gadis itu sangat penasaran dengan azzam.
Sesampainya di rumah bu sumi ...
" Bu ... Wardah harus pergi sekarang. Semoga lain waktu wardah bisa berkunjung. Terima kasih sudah menampung wardah," ucap wardah sambil memeluk bu sumi. Sebenarnya dia tak ingin segera kembali tapi saat ini izdi dalam kondisi tidak baik.
Azzam yang melihat kepanikan di wajah wardah mencoba untuk mengkode adiknya itu agar menghibur wardah. Nasya tidak tahu harus memulainya dari mana karena saat ini kakak di sampingnya ini sedang melow.
__ADS_1
"Kakak cantik ... Ada apa? Jangan menangis. La tahzan dong kasihan cantiknya," nasya jadi aneh saat harus menghibur di kala sedih seperti ini. Wardah menerbitkan senyumnya meskipun ada guratan sedih dalam garis-garis halus di wajahnya.
" Nasya ... Boleh nd kakak bercerita sedikit?" tanya wardah yang diikuti anggukan nasya sambil senyum manis.
" Nasya ... kakak adalah tipikal orang yang bisa menangis ataupun tersenyum kapan saja. Tapi kali ini rasanya ada yang hilang air mata pun tak bisa kakak kontrol. Yang kakak sesalkan dia sudah memberikan kakak sebuah pesan tapi kakak tak membalasnya dan malah dapat kabar bahwa dia mengalami kecelakaan. Rasanya samgat syok nasya. Meskipun kakak terluka pada sikapnya atau rahasia yang dia jaga tapi ketika terjadi sesuatu dengannya hati kakaklah yang paling sakit," jawab wardah panjang lebar dan memelu nasya dengan erat. Wardah menangis tersedu-sedu di hadapan nasya. Azzam yang melihat mengiyakan pada adiknya. Biarkan wardah seperti itu dulu dia sedang kalut. Nasya paham.
Kali ini guratan kasih sayang nampak di wajah kakaknya. Ada yang aneh pada kakaknya. Tatapannya pada wardah bukanlah tatapan sahabat tapi sebaliknya. Tapi itu akan ditanyakan nasya di kemudian hari. Saat ini dia fokus pada kakak wardah.
1 jam.
2 jam.
3 jam.
4 jam.
Azzam menaiki sepedanya seperti alap-alap. Dia fokus sampai di rumah sakit dengan tepat. Nampak terlihat nasya tertidur dan wardah masih terjaga dengan tatapan sayu-nya. Mata bengkak dan hidung merah menyaksikan bahwa sakit di dalam hatinya benar adanya. Azzam pun mulai membuka suara.
" Dia pasti baik- baik saja," ucap Azzam.
" Dia harus baik-baik saja kakak karena sebentar lagi akan menjadi seorang ayah," jawab wardah membuat azzam kaget, bahagia, sedih, nano-nano. Rasanya campur jadi 1 saat mendengar berita baik itu. Sangat beruntung sekali gusnya itu.
" Tentu saja dia akan sembuh wardah ... percayalah semua akan baik-baik saja," jawaban Azzam mengambang tak jelas. Dia sedang tidak stabil setelah mendengar wardah hamil.
.
.
.
__ADS_1
Cemburu??? Tentu saja ... Itulah yang dirasakan azzAm.