
Sesampainya di ruangan izdi, dia segera membaringkan sang istri. Izdi segera mengambil perlengkapan untuk memeriksa istrinya yang sudah tak sadar dan lemah itu. Izdi yang mencoba untuk tenang memberikan pertolongan pertama pada istrinya.
Hingga beberapa waktu dia menatap wardah yang masih belum sadar. Izdi memegang tangan istrinya dengan lembut. Dia tatap wajah sendu istrinya. Pengorbanannya begitu besar untuk keluarganya.
" Sayang, mas mohon jangan memikirkan hal yang membuat kondisimu seperti ini. Jangan di tanggung sendiri, bukankah ada mas di sampingmu? Berbagilah dengan suamimu ini," ujar izdi sambil menciumi tangan istrinya.
5 menit
15 menit
25 menit
Mata yang tertutup rapat itu akhirnya mulai bisa melihat sinar cahaya ruang dinas suaminya. Wardah yang baru siuman itu melihat sekeliling ruangan dan menatap lekat kearah suaminya.
" Mas, sudah lama aku seperti ini?" tanya istrinya. Izdi hanya menggelengkan kepalanya. Dia tak ingin menjelaskan apapun saat ini.
__ADS_1
" Sayang, jawab mas. Kenapa bisa seperti ini?" tanya izdi balik. Wardah mencoba mengingat-ingat dia berada dimana dan kenapa bisa di sini.
" Tunggu mas, Wardah agak pusing. Tadi setelah berbincang dengan mama wardah langsung ke kamar mandi," jawab wardah.
" Benar cuma seperti itu? Kenapa mas merasa ada yang ditutupi ya?" tanya izdi secara langsung.
Wardah tak menatap suaminya. Dia masih menatap kearah lainnya, tak ingin suaminya melihat matanya yang memerah karena ingin menangis. Dia mencoba mengatur nafasnya.
" Wardah???" tanya izdi dengan raut yang sudah ingin marah. Wardahpun menoleh kearah suaminya.
" Apalagi yang mama inginkan darimu Wardah? Menyerahkan suamimu ini pada kakakmu itu? Dan itupun akan kamu lakukan?" tanya izdi dengan agak mrnyakitkan.
" Mas," ucap wardah.
" Bukankah kamu putri yang taat pada orang tua?" ucap dan tanya izdi sekali lagi.
__ADS_1
" Mas, siapa aku? Aku benar-benar salah melangkah kali ini harusnya aku memang menjadi anak durhaka waktu itu dengan tidak menikahimu. Saat inipun aku merasa masih saja sendiri meskipun jelas-jelas aku sudah menikah. Aku jadi membenci takdirku sendiri," jawab Wardah panjang lebar dan melepaskan infus secara paksa. Dia ingin segera pergi dari ruangan suaminya. Dia lelah di terpa sana sini.
" Wardah! Apa yang kamu lakukan. Kamu sedang tidak baik kesehatannya, ayo kembali! Jangan kekanakan," Izdi marah sekaligus khawatir saat melihat tangan wardah berdarah karena infus yang ditarik secara paksa.
" Apa yang mas inginkan? Wardah tidak mau merepotkan siapapun. Mas marah bukan sama wardah? Jadi biarkan Wardah pulang," ucap wardah dengan nada yang agak tinggi.
" Wardah mas mohon jangan seperti ini. Duduklah sayang, mas minta maaf. Tadi mas khilaf," ujar Izdi menyesal.
" Mas Wardah sangat mencintai suami Wardah. Tidak pernah ada keinginan di hati ini untu menyerahkan dia pada perempuan lain meskipun itu kakak Wardah. Sakit mas hati Wardah saat mama meminta itu suami. Lidah wardah keluh, hati ini sakit untuk kesekian kalinya. Tapi Wardah lebih sakit lagi saat mas tidak mempercayai keputusan Wardah. Mas meskipun Wardah masih belum dewasa, tapi wardah tahu bagaimana jika kita sudah mencintai seseorang berbagipun tidak akan pernah wardah lakukan. Kecuali jika Wardah tak bisa memberikan kebahagiaan silahkan mas menikah lagi," jawab wardah panjang lebar diikuti tangisan kesal kepada orang - orang di sekelilingnya.
"Maafkan mas sayang," ujar izdi sambil memeluk dan menghujani istrinya dengan ciuman. Wardah tak bisa berkata apapun dia hanya bisa menangis. Izdipun menggendongnya ke tempat semula. Ia kembali memasangkan infusnya.
" Jangan tinggalkan Wardah mas," ucap wardah tanpa ekspresi tapi lelehan air mata itu mengalir di pipi cantik istri Izdi.
" Tentu saja, semua akan baik-baik saja," jawab izdi sambil memeluk istrinya.
__ADS_1