Cinta Dalam Sujudku

Cinta Dalam Sujudku
Pagi Hari di Kediaman Fatimah


__ADS_3

Pagi hari yang cerah menyelimuti seantero kota. Kediaman fatimah yang terletak di paling ujung nampak rumah mewah yang sangat besar. Pagi hari ini mama fatimah dan wardah itu sibuk di dapur karena sangat bahagia saat kedua putrinya bisa berdamai dengsn keadaan. Nampak si cantik nasya mendekati Nyonya yusuf yang sedang memasak.


" Tante ... Nasya bisa bantu!" seru gadis cantik itu sambil tersenyum. mama fatimah mengangguk.


" Eh sayang, kemarilah nak! Silahkan mau bantu yang mana? Tante jadi berasa punya 3 putri," jawab mama fatimah. Nasya tersenyum bahagia.


" Makasi tante," ucap nasya sambil memulai potong-potong sayur.


Di tempat lain ...


" Dek sudah bangun?" tanya fatimah pada adiknya. Wardah mengangguk sambil tersenyum. Inilah momen yang dia tunggu yakni bisa menjadi adik untuk kakaknya.


" Kak wardah ingin mengatakan sesuatu," kilatan wajah adiknya menggambarkan kesedihan di dalamnya. Fatimah mengangguk dengan yakin.


" Wardah sedang hamil kak," jawabnya membuat fatimah berbinar. Dia langsung memeluk adiknya bahagia. Wardah jadi heran pada kakaknya.


" Alhamdulillah bagus itu dek kakak akan jadi seorang bibi. Eh, jangan tante aja kali ya kan masih muda. Dek apapun itu kamu harus jaga kesehatan anak dalam kandunganmu bukan butuh asupan gizi saja dia juga butuh mental yang sehat," ucap fatimah selayaknya seorang dokter.


" Kak ... Aku?" tanya wardah. Fatimah menggeleng pasti.


" Mulai hari ini jangan bersedih, bahagialah demi keponakanku. Berjanjilah pada kakak," ucap fatimah meyakinkan adiknya. Wardah mengangguk bersemangat.


" Tentu kak. Aku akan melakukannya," jawab wardah. Fatimah menggandeng adiknya.


" Kita turun sekarang!" seru fatimah yang sedari tadi sudah dengan seragam dinasnya.


Mereka turun bersama menuju meja makan. Nampak di meja makan sudah ada si azzam dengan gagahnya dan si nasya yang comel. Fatimah menggandeng adiknya ke tempat duduknya.


" Silahkan duduk tuan putrinya mama papa!" seru fatimah sambil tersenyum.


" Makasih kak," senyum wardah merekah, nasya yang melihat jadi senang memiliki kakak perempuan.


Tanpa semua orang sadari sedari tadi azzam sudah memperhatikan fatimah. Azzam jadi teringat obrolannya semalam dengan gadis itu. Fatimah yang sedang menyantap makanannya jadi merasa tidak nyaman ada yang memperhatikannya dia coba untuk mengedarkan pandangannya dan dia mendapati tatapan azzam untuknya. Fatimah menaikkan dan menurunkan alisnya sambil berkomat kamit ada apa. Namun pemuda itu menggeleng dan tersenyum. Selang beberapa menit kemudian saat semua orang sudah selesai sarapan. Tiba-tiba azzam memberanikan diri mengatakan sesuatu.

__ADS_1


" Pak yusuf bolehkan saya mengantar fatimah ke rumah sakit. Kebetulan hari ini saya ada kunjungan perusahaan di jakarta dan searah dengan rumah sakit," izin azzam pada ayah fatimah. Gadis bernama fatimah itu membolakan matanya untuk apa pemuda itu mengantarkannya. Dia bisa berangkat sendiri.


" Tentu saja nak silahkan! Nasya bantu om menjaga wardah ya nak," ucap pak yusuf sambil tersenyum.


" Siap om yusuf, serahkan kakak cantik pada nasya. Hari ini spesial untuk kakak cantik sebelum nasya pulang," jawab nasya pada mereka semua.


Mereka semua tertawa. Nasya melirik kakaknya dan berkata lirih.


" Curang," nasya meledek kakaknya. Namun kakaknya hanya tersenyum miring saat adiknya mengatakan itu. Azzam pun segera menuju mobilnya. Di sana sudah ada fatimah.


" Apa? Kenapa mengajakku berangkat bersama?" tanya fatimah.


" Sedang ingin saja fatimah," jawaban azzam tidak dapat di mengerti.


Azzam membuka pintu dan mempersilahkan gadis itu masuk dalam mobilnya.


" makasih mas," ucap fatimah. Kata 'mas' bagi azzam sangatlah menarik di telinganya entah kenapa rasanya adem banget di hati. Azzam pun berlari ke arah kemudi dan masuk. Dia pun menjalankan mobilnya.


Di jalan menuju rumah sakit ...


" Mas Azzam saya jawab setelah rapat selesai ya. Saya masih ikut zoom meet darurat," ucap fatimah lirih. Azzam yang paham mengangguk. Ada sebersit kagum pada fatimah. Dulu ketika dia mengunjungi fatimah kala itu dia sedang terpuruk dan seperti tidak akan normal kembali. Tapi hari ini gadis itu seperti menemukan jati dirinya yang baru. Azzam tersenyum sendiri saat mengingatnya. Waktu itu dia hanya iba pada fatimah. Namun kali ini iba itu menjadi kagum.


" Mas ... Fatimah sudah selesai. Tadi nanya apa?" tanya fatimah menatap azzam. Azzam pun berbalik ke arah fatimah.


" Masuk kerja udah lama?" tanya azzam.


" Baru beberapa minggu mas. Oh iya mas azzam sendiri ada proyek di sini?" tanya fatimah. Azzam mengangguk pelan.


" Pembukaannya 2 minggu lagi fatimah saya hanya memastikan semuanya sudah dalam kondisi siap," jawabnya dengan santai. Fatimah melirik sambil tersenyum pada azzam.


" Wah bakalan punya temen pengusaha nih fatimah nanti," goda fatimah pada azzam. Pemuda itu jadi terkekeh mendengar penuturan fatimah.


" Jangankan teman, suami pengusaha pun akan terkabul sepertinya," ledek azzAm yang membuat fatimah malu dan wajahnya seperti tomat. Merah-merah tidak jelas.

__ADS_1


" Ag, mas azzam bisa saja. Semoga sukses acaranya," ucap fatimah ketika memasuki pelataran rumah sakit. Azzam mengangguk dan memegang dadanya dan mengamini," Aamiin,".


" Mas makasih ya saya turun dulu," ucap fatimah. Azzam mengatakan sesuatu yang membuat alisnya berkerut.


" Pulangnya jangan lupa kirim pesan," azzam mengatakan sambil tersenyum. Fatimah pun tersenyum aneh.


" Baiklah mas," fatimah pun segera turun dan melambaikan tangan.


Interaksi kedua insan itu tak luput dari pandangan Zizah yang masih berada di rumah sakit. Perempuan itu merasakan bahwa kecurigaannya selama ini benar bahwa azzam menaruh hati pada fatimah. Terbukti saat pemuda itu berjongkok di hadapan fatimah ketika sakit.


Saat fatimah melewati azizah tanpa sengaja..


" Oh, jadi sekarang dekat dengan azzam. Sudah sembuh rupanya," ujar zizah seperti mengatakan sesuatu dengan tidak suka. Fatimah hanya melirik zizah yang menatapnya tidak suka. Fatimah tak menghiraukannya mungkin saja calon saudaranya itu baru saja melihat azzam bersamanya. Dia tidak ingin menanggapi karena sudah ada pasien yang menunggu. Fatimah melewatinya begitu saja.


Di kediaman pak yusuf ...


" Kakak cantik ... Menikah itu menyusahkan gak sih kak? kok ya nasya serem gini sih," ucap nasya yang terlihat sangat tidak suka.


" Sya ... Menikah itu memiliki ujiannya sendiri. Jadi, jangan pernah takut untuk menikah. Kakak pun masih berharap masih bisa kembali dengan mas izdi meskipun tidak tahu bisa apa tidak. Hanya Allah yang tahu hasil akhirnya," jawab wardah dengan dewasa. Nasya hanya mengangguk.


" Kak ... Apakah kakak bahagia menikah dengan mas izdi?" tanya nasya dengan serius. Dia biasanya yang bawel kekanakan kini nampak serius.


" Tentu saja nasya ... Kakak mencintainya tanpa syarat. Hanya saja saat ini ujian kami begitu berat," jawab wardah sambil tersenyum.


" Kakak cantik semangat harus sabar dan jagalah adik bayi di dalam sini," jawab nasya sambil menunjuk perut wardah.


" Tentu saja nasya dia adalah buah hati kami. Kakak pasti akan menjaganya dengan baik," jawab wardah sambil memeluk nasya.


.


.


.

__ADS_1


Obrolan keduanya begitu intens nasya yang kekanakan jadi bersikap dewasa.


Boom like-nya ya readers makasihhhh...


__ADS_2