
Dengan keadaan wardah yang seperti ini tidak memungkinkan bagi izdi untuk tetap bertahan di pesantren. Kesehatannya istrinya masihlah sangat penting baginya.
" Umi wardah pamit. Umi sehat-sehat di sini. Lain waktu wardah akan berkunjung kembali kemari," ujar wardah berpamitan pada ibu izdi itu.
" Iya nak, sehat-sehatlah di sana," jawab umi.
Mereka semua berjalan ke arah mobil dan segera melajukan menjauhi arah pesantren. Umi dan aba terpaksa harus melepas kepergian mereka dengan bahagia. Setidaknya inilah yang terbaik bagi mereka dan calon cucu mereka.
Ketika dalam perjalanan pulang ...
" Mas maafin wardah ya," ucap wardah kepada izdi. Izdi menatap istrinya dengan penuh tanda tanya.
" Kenapa minta maaf?" tanya izdi pada istrinya
" Seharusnya kita bersama umi mas tapi ini malah harus segera kembali karena keadaan wardah seperti ini," jawabnya sambil menatap suaminya seperti merasa bersalah.
" Tidak apa-apa sayang ... Umi mengerti kok. Kan memang harus segera di bawa ke rumah sakit untuk check up. Mas juga khawatir kalau tidak segera di periksakan. Soalnya mas sendiri bukan dokter obgyn jadi tidak begitu paham dengan hal ini," jawab izdi pada istrinya.
" Iya mas. Makasi ya," jawab wardah.
" Istirahatlah! Mas akan fokus menyetir supaya lekas sampai," jawabnya dengan lembut.
Wardah yang beristirahat akhirnya memberi kesempatan pada suaminya untuk mengendarai mobil dengan fokus. Sesekali izdi menatap istrinya yang terlelap. Putranya yang berada di belakang bersama mas azzam dan fatimah.
" Iz ... Jika lelah kita bisa bergantian!" seru azzam.
" Tentu mas kita akan bergantian setelah ini," jawabnya yang membuat azzam tersenyum. Azzam menatap putra kecil wardah dan izdi yang masih asik dengan tidurnya di pangkuan fatimah.
" Apakah dia lelah sekali? Sampai molor seperti itu tidurnya," ujar azzam pada istrinya.
" Namanya anak-anak mas habis main lama banget giliran tidur pulasnya pake banget," jawab fatimah pada suaminya.
" Fat ... Apakah sebenarnya wardah baik-baik saja?" tanya izdi yang masih di mode khawatir.
__ADS_1
" Baik iz ... Hanya saja dia memang butuh betres untuk kehamilan sekarang. Belum tahu juga ya iz ini hanya melihat dari tanda-tanda saja. Khawatirnya dia sedang hamil kembar. Karena tubuhnya merespon lelah itu berlebihan menurutku sih iz. Aku kan bukan obgyn jadi tidak bisa memastikan," jawab fatimah yang sebenarnya membuat hati izdi bahagia sekali mendengarnya. Itu artinya istrinya harus benar-benar menjalani pemeriksaan segera.
Di pesantren ...
" Umi ... Kenapa?" tanya aba.
" Umi gapapa bah. Ini sedang kepikiran wardah saja tadi wajahnya itu pucat sekali. Umi kasihan melihatnya.
" Kita doakan yang terbaik saja umi ya," jawab aba sambil memeluk istrinya itu supaya lebih tenang.
...****************...
" Iz bergantilah denganku supaya kamu bisa beristirahat barang sejenak," ucap azzam supaya bisa menggantikan adik iparnya itu.
Namun saat izdi menghentikan mobilnya ada dorongan dari belakang yang sangat kuat spontam semua yang ada di dalam mobil berteriak. Karena izdi sudah mematikan mesin mobilnya. Mobil yang di tumpangi mereka bergeser jauh di km 75. Kecelakaan kembali menimpa izdi.
" Ahhhhhhh ...... Allahu akbar!" teriak semua yang berada di dalam mobil tersebut. Kepanikan terjadi di dalamnya. Karena hal itu sangatlah terjadi begitu cepat sehingga tak ada yang bisa berbuat apaa-apa.
Banyak warga berlarian untuk menolong mereka dan mengeluarkan penumpang dari mobil tersebut. Nampak fatimah membungkukkan badannya untuk melindungi putra izdi itu. Mereka semua di bawa ke rumah sakit terdekat dari sana. Kabar itu segera sampai pada orang tua fatimah dan keluarga pesantren.
" Dokter dimana istri, anak dan saudara saya?" teriak izdi saat sadar.
" Mereka di ruangan ini pak. Tolong tenanglah sebentar," jawab dokter dengan sabar.
" Dok bantu saya ... Saya juga seorang dokter saya ingij mengetahui keadaan mereka," ujar izdi dengan wajah cemas dan bingung. Aang dokter paham bahwa beliau adalah dokter izdi. Dosen di sebuah universitas yang terkenal. sang dokter yang menangani duduk dan menjelaskan sesuatu tidak mengenakkan.
" Dokter izdi ... Maafkan kami perempuan yang memeluk seorang anak laki-laki. Kami tak bisa menyelamatkannya," ucapan sang dokter itu sangatlah pilu membuat kepala dan air mata izdi turun. Lidahnya kelu tak dapat berucap. Ya perempuan itu adalah fatimah kakak dari istrinya.
" Dok ... Jangan bercanda. Saya mohon selamatkanlah dia! Dia sudah melindungi putraku jadi saya mohon dok," tangis izdi memohon.
" Jangan seperti ini dokter. Saya juga hanya seorang dokter bukan Tuhan yang bisa memberikan sebuah nyawa kembali. Perempuan itu tak bernafas dokter. Dia tak memiliki luka di luar hanya saja dia tak bernafas lagi," jawab sang dokter.
" Jangan katakan itu dokter. Anda pasti bisa membuatnya kembali bernafas.," tangis izdi pecah. Pasalnya azzam dan fatimah baru menikah tidak adil bagi mereka jika berpisah saat ini. Izdi terus menurutuki kebodohannya yang tadi berhenti di sana. Andaikan itu tak ia lakukan mungkin saat ini fatimah masih baik-baik saja.
__ADS_1
Di ruangan lain ...
" Bagaimana keadaanmya sus apakah sudah stabil?" tanya dokter yang menangani.
" Mulai stabil dok ... Tapi pasien ini sedang hamil dokter," semua orang yang mendengar jadi tercengang. Perempuan di hadapan mereka yang sedang di tangani adalah istri dari dokter izdi. Dia sedang hamil bayi kembar.
" Sebisa mungkin kita memberikan asupan untuknya. Kondisinya kurang stabil sebelum kecelakaan. Kecelakaan ini membuat kondisinya kurang baik," ucap dokter obgyn yang memeriksanya.
" Ayo kita berikan tambahan vitamin bagi janinnya! Carikanlah yang terbaik," jawab dokter umum yang menangani hal itu.
Ketika semua orang sibuk menangani pasien kecelakaan. Kedua orang fatimah dan wardah telah datang ke rumah sakit.
Mereka bingung mencari putri-putri dan menantunya serta cucunya adzKan.
" Sebelah sini bu! Si kecil ada di ruangan ini. Alhamdulillah dia baik-baik saja," jawab suster. Mereka masuk ke ruangan itu untuk memastikan keadaan adzKan dan itu membuat mereka lega. Mereka pun pindah ke bilik lain.
" Azzam ... " panggil ibu mertuanya.
" Ma ... Tolong lihatkan keadaan fatimah dan yang lain," pinta azzam sambil menangis pada mertuanya. Karena dia dalam keadaan tidak bisa berjalan.
" Baik nak ... Tunggulah di sini. Semua akan baik-baik saja tenanglah. Pa ... Temani azzam sampai keluarga yang lain datang," pinta istrinya.
" iya ma," jawab sang suami singkat. Mama langsung keluar dari ruangan azzam.
" Nak apa yang terjadi?" tanya papa mertuanya. Azzam memegang tangan mertuanya sambil menangis.
" Pa ... Maafkan azzam. Jika azzam tak meminta izdi berhenti untuk bergantian menyetir tidak mungkin kecelakaan ini terjadi," tangis azzam menyesal telah membuat mereka dalam keadaan bahaya. Bahkan saat ini dia sangat mengkhawatirkan wardah yang sedang hamil dan istrinya entah bagaimana keadaannya.
" "Tenanglah nak ... Sudah jangan bercerita dulu. Istirahatlah semua pasti baik-baik saja," jawab paap mertuanya yang memberikan kata penenang bagi snag menantu meskipum dirinya gusar dan banyak pertanyaan tapi ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu.
.
.
__ADS_1
Sorry baru up nggeh. Author sedang ada jadi panitia PAT anak2 kelas 9 sayangku. Kemarin masih harus berkutat dengan dunia nyata jadi gak bisa up. Makasihhhhh ya mohon maaf love you readers. Semangat terus ya puasanya ...