
Malam ini adalah malam bersejarah bagi kisah wardah dan izdi dimana mereka merasa kehilangan antara satu dengan yang lain. Tak ada ujian di luar batas kemampuan manusia itu sendiri. Rintik hujan pun ikut menangis menyaksikan kisah cinta mereka. Gelas jika pecah untuk kembali sempurna itu akan susah, namun semoga kisah cinta mereka dan perjuangan wardah bukanlah kisah indah sesaat. Izdi yang sudah nampak frustasi akan kepergian wardah tak bisa berbuat apa-apa. Sedari awal dia tahu bahwa istrinya adalah tipikal orang yang tidak terbuka. Gadis itu hidup dengan segala kemampuan yang dia miliki. Tak ingin merepotkan, tak ingin menjadi beban, dan tidak ingin menyusahkan siapapun bahkan suaminya sendiri. Itulah seorang wardah.
Namun du balik ketertutupannya itu membuat seorang izdi ngeri. Inilah yang dia takutkan jika tak ada komunikasi secara intern dengan istrinya. Gadis itu lebih suka menyendiri daripada langsung mengatakan ketidakcocokannya dengan izdi.
" Sayang kamu dimana ? Tidakkah kamu kasihan padaku," monolog izdi dengan hati yang terluka. Dia dalam perjalanan pulang dengan hati entah yang bagaimana. Semuanya nampak samar tak ada kebahagiaan bagi izdi.
Handphone izdi kembali berdering kali ini ada telp dari asistennya.
" Dokter, nona maria masih dalam kondisi tidak stabil. Bisakah dokter ke rumah sakit?" tanyanya pada izdi.
Izdi yang menatap layar hpnya jadi memutar kendaraannya ke arah rumah sakit. Dia terpaksa ke rumah sakit karena keadaan maria tak memungkinkan.
Di tempat lain ( Sebuah Masjid) ...
" Maafkan wardah mas. Saat ini wardah hanyalah perempuan biasa. Bukan wanita yang kuat seperti biasanya. Entah kapan wardah bisa kembali padamu. Saat ini wardah masih ingin sendiri. Mungkin saat ini dia datang untuk membahagiakanmu mas. Tapi aku merasa minder bersanding dengannya yang begitu cantik dan mendekati sempurna," ucap wardah di depan masjid.
Tak berselang lama wardah merasakan bahwa tubuhnya tidak enak. Dia merasa pusing dan pening mendera secara tiba-tiba. Mualpun menderanya.
" sepertinya masuk angin mbak," ucap ibu-ibu fi depan wardah. Wardah tersenyum dan mulai berdiri namun pandangannya gelap.
Bruukkkkk.
Tubuhnya lunglai dan terjatuh di hadapan ibu tersebut. Ibu di hadapannya berteriak dan meminta tolong. Ini kedua kalinya wardah pingsan. Namun saat ini dia jauh dari orang tuanya. Saat ini pula dia tak berada di samping izdi. Beberapa orang membawanya ke puskesmas terdekàt.
Di tempat lain ...
" Dokter nona maria sedang kritis. Selama ini dia tak mengkonsumsi obatnya dengan benar!" seru asistennya. Izdi berjalan cepat sambil menelpon dokter penyakit dalam. Dia meminta agar segera ke rumah sakit karena ada pasien yang darurat. Izdi yang sampai di ruangan itu langsung menghampiri maria.
__ADS_1
" Maria bertahanlah ... Bukankah selama ini kamu mau sembuh. Maka saat ini waktunya kamu berjuang kembali," bisik izdi. Namun maria tak menjawabnya tetapi air mata nampak keluar dari matanya yang sedang tertutup rapat.
" Dokter, ijinkan saya memeriksanya. Permisi!" seru dokter spesialis yang menangani keadaan maria. Nampak serius dokter Rey menganalisa keadaan tubuh maria. Izdi mengamatinya dari kejauhan" Ambilkan obat saya segera!" seru Rey dengan terburu-buru. Asistennya mengulurkan obat yang telah disediakan. Dengan gerakan cepat sang asisten mengambilkannya.
"Ini dok obatnya," ucap sang asisten. Dokter rey mengambil obatnya dan segera menyuntikkan ke dalam infus maria. Dokter Rey nampak menatap arlojinya dengan memainkan infus untuk melihat reaksi.
" Alhamdulillah... Sudah bereaksi," ucap dokter menghela nafas.
" Bagaimana?" tanya izdi dengan ekspresi wajah entah bagaimana.
" Sudah melewatinya. Dia alergi obat iz jadi responnya tidak baik," jawab rey dengan helaan nafas yang lega. Izdi masih bingung menghadapi hal yang berada di depannya ini. Maria adalah istri pertamanya yang sah secara agama sedangkan Wardah adalah istri keduanya yang sah secara agama dan negara. Perbedaan
diantara mereka adalah jika wardah sudah melengkapi hidup izdi dalam berumah tangga sedangkan maria izdi belum sama sekali menyentuhnya karena perjanjian pra nikah diantara mereka pribadi.
" Alhamdulillah makasih Rey," jawab izdi seyogyanya yang lempeng. Rey dibuat heran oleh ekspresi izdi.
"Kenapa iz?" tanya Rey dengan memperhatikan izdi. Dokter di hadapannya itu hanya menggeleng.
" Pulanglah ... Kata dokter Rey dia sudah melewatinya," ucap izdi pada asistennya. Pemuda itu mengangguk dan undur diri.
Izdi dan Rey berbincang sebentar. Sambil keluar dari rumah sakit. Mereka menuju taman sebelah gedung rumah sakit.
" Darimana kamu mendapatkan gadis memiliki riwayat penyakit seperti itu iz?" tanya rey dengan serius. Izdi menatap dokter di sebelahnya.
" Dia tamuku kemarin sore Rey. Dia pingsan di depan office. Aku juga tidak tahu jika dia sedang sakit," jawab izdi jujur tentang kehadiran gadis itu. Rey kembali menatap izdi.
" Lalu jika kamu di sini bagaimana dengan istrimu iz?" tanya rey pada dokter izdi. Dokter izdi mencoba tersenyum ringan.
__ADS_1
" Dia sedang istirahat ingin sendiri aja," jawab izdi sedikit berbohong. Dia tidak ingin rumah tangganya menjadi breaking news besok di pagi hari. Cukup keluarga mertuanya yang paham akan hal ini.
" Ada ya istri pengen punya waktu sendiri gitu iz?" tanya rey yang masih jomblo itu penasaran. Izdi jadi sedikit terkekeh.
" Kamu baru tahu kan. Aku baru merasakan. Hahahah. Rumah tangga itu asik-asik serem Rey. Tapi tantangan yang menyenangkan," ujawab izdi dengan santai. Rey langsung mendelik mendengar ucapan izdi.
" Mana ada iz rumah tangga itu asik serem. Yang benar kalau ngomong. Anda ini bikin saya ndak pengen nikah aja," ucap Rey masih dengan menggeleng.
" cobalah berumah tangga Rey. Nikahilah gadis yang kamu cintai biar rumah tanggamu lebih menyenangkan. Berani kan?" tanya izdi. Namun Rey menggeleng.
" Aku khawatir dia tak memahami pekerjaan iz. Itu bahkan sangat merepotkan. Masih belum siap di repotkan aku iz," jawabnya dengan emmbuang nafas dengan kasar. Izdi tersenyum dan menyentuh pundak Rey.
" Rey menikah tidak seburuk bayanganmu. Nikah itu ibadah percayalah semua akan baik-baik saja. Dengan begitu rasa khawatir akan hilang dengan sendirinya," ucap izid menasehi pemuda di sampingnya. Rey hanya menggeleng.
" Entahlah semoga aku bis segera merubah mindset ini. Melakukan hal yang menyenangkan itu masih menjadi hobbyku saat ini Iz," jawab Rey dengan tersenyuk kecil.
Di ruangan kecil nampak seseorang sedang diperiksa oleh seorang mantri kesehatan yang di temani oelh ibu tua di sampingnya.
" Dos pundi pak mantri ... Kenapa genduk ini?" tanya si bibi pada si mantri. Yang memeriksa tersenyum.
" Selamat bu putrinya sedang hamil," jawab sang mantri.
" Oh," tanpa ada kata-kata lagi dari mulut si bibi karena terkejut. Bibi kira gadis ini masih bersekolah tapi realitanya dia sudah hamil. Hal itu malah membuat si bibi berpikir macam-macam.
.
.
__ADS_1
.
Ikuti terus ya reader jangan lupa likenya ya. Mksihhh, vote jangan lupa.