Cinta Dalam Sujudku

Cinta Dalam Sujudku
Pertemuan keluarga


__ADS_3

Pagi ini rumah nampak ramai. Keluarga izdi datang kembali. Umi dan aba membawa serta kak Abi dan kakak ipar. Izdi nampak tak bersemangat.


" Mas ... Ayo! Umi sudah di bawah," ucap wardah. Namun izdi malah menarik istrinya serta memeluknya. Serta menghirup aroma tubuh istrinya yang terasa menenangkan.


" Tunggulah sebentar hatiku gamang sayang," jawabnya dengan lirih. Wardah pun tak bisa berkata apapun. Dia membalas pelukan suaminya.


Di bawah ....


" Eh ... Ada anak ganteng! Putra siapa ya?" tanya Abi mendekati adzkan. Si kecil adzkan hanya memandang tak kenal namun tak menjauhi abi.


" Putra mama wardah om ... " jawabnya dengan lancar. Bibi tersenyum karena adzkan bukan tipe anak yang nakal dia cenderung dewasa.


" Oh ... Ganteng banget sih ponakan om. Sayang mama papa dimana?" tanya abi memastikan. Si kecil adzKan membuat semua orang tertawa kecil.


" Sedang membuatkan adik untuk adzkan karena rumah ini terlalu sepi om," jawabnya dengan jujur dan polos. Sontak saja mereka semua terkekeh mendengar jawaban si kecil.


" Sini sayang sama mbah yai!" seru aba izdi. Namun adzkan tak kunjung mendekat ke aba. Dia masih terdiam di tempat. Bibi membisiki sesuatu ke adzkan akhirnya si kecil pun mau mendekat dan menjabat tangan kakeknya dengan takdzim.


Aba memeluknya dengan sangat merasa bersalaah. Namun adzkan yang si kecil itu tak memahami apapun urusan orang dewasa. Aba dan umi bergantian memeluk adzkan.


Selang beberapa waktu. Izdi dan wardah menuruni anak tangga. Tatapan izdi masih menunduk. Wardah hanya mengulas senyuman pada 4 orang keluarga dari suaminya. Nampak asing wajah perempuan cantik di samping umi. Dia pun ikut tersenyum.


" Assalamualaikum ..." ucap izdi pada keluarganya.


" Waalaikumsalam ," jawab mereka semua. Izdi kemudian duduk. Umi memandang putranya dengan mata berkaca-kaca.


" Nak .... " lirih umi.


" Jangan mengatakan apapun umi. Izdi tidak ingin mendapatkan jawaban tidak menyenangkan. Terima kasih sudah berkunjung kemari," jawaban izdi membuat umi berdiri dan mendekati putranya. Wardah yang memahami akan hal itu berinisiatif untuk berdiri. Namun izdi mencegahnya.


" Jangan kemana-mana sayang tetaplah di sini," ucap izdi sambil memegang pergelangan tangan istrinya.


" Tapi mas.... " jawaban wardah terpotong karena umi mengatakan hal yang membuatnya duduk.

__ADS_1


" Duduklah nak," ucap umi.


Akhirnya mau tidak mau wardah pun duduk di sebelah izdi dan umi duduk di hadapan putranya itu.


" Nak ... Maafkan umi. Umi benar-benar tidak tahu jika kakakmu mengatakan hal bohong. Aba juga tidak mengerti saat itu syok. Maafkan umi jika kurang tegas pada kakakmu itu," ucap umi pada izdi.


" Sebenarnya meminta maaf pun tak dapat mengembalikan waktu putraku yang hilang umi. Tapi siapalah izdi ini. Izdi juga putra umi. Saat ini izdi hanya butuh waktu untuk memaafkan diri izdi sendiri," jawab izdi dengan menunduk. Umi memeluk putranya.


" Nak ... Katakanlah bagaimana umi bisa menebus sakit yang kamu rasakan," ucap umi sambil menangis.


" Izdi tidak tahu umi," jawab izdi dengan air mata yang sudah meleleh. Namun di tengah tangisan itu.


" Pa ... Kenapa menangis? Adzkan sama mama tidak akan kemana-mana," jawabnya dengan polos. Adzkan melambaikan tangan agar putranya mendekat.


" Kemarilah sayang!" seru izdi.


" Papa ... Jangan nangis lagi. Masak pak dokternya adzkan cengng gini," ujarnya sambil menghapus air mata sang ayah.


" Iya pa ... Mama bilang papa kerja jadinya belum bisa pulang. Jadi adzkan setiap hari berdoa supaya papa kerjanya cepat selesai biar bisa pulang," ucap adzkan sedikit terbata-bata saat mengatakannya. Izdi memeluknya hal inilah yang membuat izdi begitu merasa bersalah karena wardah tak menceritakan hal buruk tentang keluarganya.


" Maafin papa ya nak," lirih izdi. Wardah sedari tadi menunduk saja. Umi memegang tangan menantunya.


" Katakan sesuatu nduk," ucap umi. Wardah sudah tidak tahan untuk tidak menjatuhkan air matanya.


" Maafkan wardah umi ... Tidak ada istri di dunia yang ingin di duakan umi. Bahkan wardah pun masih bisa merasakan sakitnya seperti apa. Tapi mengingat anak yang wardah kandung, setiap hari wardah berusaha menegarkan hati. Meyakini bahwa mas iz akan kembali dengan sendirinya. Saya juga tidak berusaha menghubunginya. Cukuo bagi wardah mendoakan suami yang jauh dari pandangan umi. Jika Allah mampu menyatukan kita dan memisahkan maka Allah pun sudah memiliki caranya kembali membuat hambanya berbahagia. Yang wardah lakukan adalah berusaha setiap hari untuk memaafkan putri umi. Rasanya penghinaan mbak zizah kala itu membuat wardah tak bisa menghadapi kenyataan hidup. Tapi ada hikmah di balik semua kejadian ini. Jika keluarga mas Iz berusaha menjauhkan suami wardah dari wardah tapi Allah mendekatkan bahkan mengeratkan kembali hubungan wardah dengan kak Fatimah. Hanya itu obat penawar kala itu umi. Sehingga wardah bisa sampai pada titik ini," jawab wardah panjang lebar. Izdi masih saja menunduk dan menangis. Umi mengecup pipi menantunya.


" Maafkan umi nak yang dibutakan oleh keburukan putri umi. Umi merasa gagal menjadi ibu yang baik bagi mereka," ucap umi kemudian. Wardah memegang tangan umi.


" Maafkan wardah juga umi," jawab wardah.


Di tengah-tengah kesedihan keluarga itu. Bibi datang dengan mengatakan bahwa sarapan pagi sudah siap. Mereka semua diajak untuk ke ruang makan. Izdi mengusap air matanya.


" Mas ... Sudah. Ayuk jangan seperti ini," ujar wardah memegang tangan suaminya dan menatap wajahnya. Izdi masih bersedih. " Sayang sudah dong ... Kita kan sudah bersatu lagi. Ayolah sayang!" rengek wardah pada suaminya.

__ADS_1


" Cantik" ucap suaminya yang membuat wardah menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya ucapan pergombalannya keluar di saat seperti ini. Wardah menatap istri kak abi.


" Mbak ... Ayo kita sarapan!" ajak wardah. Perempuan cantik itu tersenyum dan mengangguk. Izdi menyuruh istrinya agar menemani dia.


" Pergilah temani!" seru izdi. Wardah mengangguk dan tersenyum.


Wardah pun mengajak si mbak berdiri. Namun dia memegang wardah.


" Ajaklah aku jalan-jalan di sekitar sini dek," ucapnya tiba-tiba. Wardah menoleh pada dia.


" Sarapannya nanti saja ingin mengobrol denganmu sebentar," jawab perempuan cantik itu.


Mereka pun pergi ke taman belakang rumah. Wardah yang berjalan di sampingnya. Gadis itu menatap wardah.


" Kenapa bisa sesabar itu?" tanyanya tiba-tiba.


" Apanya mbak?" tanya wardah balik.


" Menghadapi permasalahan itu. Seharusnya kamu bisa melakukan lebih dari itu," ucap gadis itu menatap pada wardah.


" Hanya berharap bisa kembali utuh mbak. Jika aku tidak hamil mungkin berbeda ceritanya. Namun nyatanya aku hamil dan aku harus bisa membuat putraku nyaman. Aku tidak ingin dia tertekan. Biarlah dia tahu yang baik-baik tentang ayahnya dan keluarganya. Semua demi anak se kecil itu. Lambat laun wardah juga akan sembuh dengan sendirinya," jawab wardah sambil tersenyum.


" Mungkin aku tak bisa sepertimu wardah," jawabnya.


" Semua ada porsinya mbak. Mas abi juga orang baik," jawab wardah.


" Tapi dia tidak mencintaiku wardah. Aba yang memaksanya menikah denganku," jawaban gadis itu membuat wardah terhenti dan menatapnya dengan intens.


Kenapa bisa. Batin wardah saat melihat menantu umi yang pertama.


.


.

__ADS_1


__ADS_2