
Cahaya matahari meneraangi lewat jendela-jendela kamar cottage serta tirai-tirai putih yang bergoyang mengikuti alunan langkah angin sepoi pagi hari.
Senyuman khas izdi terlihat mengembang saat bangun tidur. Manik matanya yang indah menatap istrinya yang tertidur pulas di hadapannya. Dia belai rambut wardah dengan lembut supaya tak membangunkannya. Namun si empunya nampak bergerak. Tak selang beberapa lama mata cantik milik wardah pun mulai terbuka. Dia tersenyum saat bangun menatap suaminya.
" Mas ... Sudah bangun?" tanya wardah berusaha untuk duduk. Izdi menahan istrinya.
" Ssstttttt .... Diamlah sayang istirahatlah! Pasti sangat lelah bukan?" tanya izdi pada istrinya. Dia mencium kening istrinya dengan mesra.
" Mas ... Bisa aja," jawab wardah sambil senyum. " khawatir adzkan datang masak wardah masih gini," sambungnya lagi. Izdi jadi terkekeh dan mengangguk.
" Pergilah ke kamar mandi sayang," jawab izdi pada akhirnya. Wardah segera beranjak dan membersihkan diri. Pemuda itu sudah lama tak berjumpa dengannya saat bertemu dia benar-benar membuat wardah kelelahan.
Di kamar mandi ...
Aroma theraphy kamar mandinya di penuhi aroma mawar. Kamar mandi juga di taburi kelopak mawar merah. Ruangan ini sangatlah romantis. Baru saja wardah ingin memanggil suaminya. Izdi audah berada di dalam kamar mandi. Dia tersenyum puas saat melihat senyuman merekah di wajah istrinya.
" Kamu suka sayang ?" tanya izdi. Wardah mengangguk pasti. Dia mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang.
" Kita mandi bersama. Itu adalah pahala lain suami istri," bisik izdi. Wardah memutar badannya sambil menatap suaminya.
" Modus!" seru wardah sambil senyum mengejek.
" Bebas dong ... Kan istri sendiri. Udah lama banyak dosa karena jauhan saatnya cari pahala. Bener gak tuh sayang?" ada saja alasan izdi untuk bersama wardah. Sebentar lagi dia akan kembali mengajak mereka jalan-jalan.
" anda memang selalu benar dokter izdi," jawab wardah.
Mereka pun menikmati waktunya yang berdua itu. Sebelum adzkan kembali berbaur dengan mereka. Wardah begitu menikmati waktunya dengan izdi. Izdi berjanji pada dirinya sendiri tidak akan ada yang kembali memisahkan mereka kecuali maut. Izdi beberapa kali memeluk istrinya.
Di hotel tempat fatimah dan azzam berada ...
" Sakit tahu ... Minggir ah!" seru fatimah dengan wajah lecek. Azzam terkekeh melihat istrinya.
__ADS_1
" Pahala sayang jangan marah dong.... Jelek tahu," jawab azzam dengan tertawa kecil pada istrinya.
" Ya ... Sekali dulu kan juga gapapa mas!" manja fatimahh. Azzam pun kembali terkekeh oleh istrinya.
" Gak berasa dong sayangku," jawabnya ngasal. " Makasih ya rasanya manis banget," ucap azzam yang kemudian pergi ke kamar mandi sambil tertawa bahagia.
" Manis? Manis dengkulnya itu apa ya?" kesal fatimah. Namun saat melihat kebahagiaan suaminya dan betapa dia sudah berusaha menjadi istri pemuda itu. Ternyata menikah adalah hal membahagiakan. Menikah bukanlah alasan untuk menghambat karirnya.
" Makasih mas sudah membuat mataku terbuka. Bahwa dengan menikah kebahagiaan itu mengajarkan kita dalam sebuah kebahagiaan," senyuman itu mengembang dengan sendirinya.
Kebahagaiaan fatimah terasa lengkap saat adiknya pun ikut berbahagia atas rumah tangganya. Fatimah merasa lega pada akhirnya izdi bersatu kembali dengan wardah. Entah bagaimana kelak rintangan keduanya. Tugas fatimah hanya menyatukan kembali kedua insan yang telah jatuh cinta itu. Saat fatimah asyik dengan lamunannya azzam memanggilnya dengan lembut dan sedikit nyaring.
" sayang mandilah jangan melamun. Apa mau melanjutkan lagi!" godanya karena fatimah terlihat bengong. Dia yakin saat ini dia memikirkan adiknya.
" No ... Aku akan pergi mandi dan ajaklah aku ini jalan-jalan pak CEO jangan di embat dalam kamar doang," jawaban fatimah membuat suaminya itu tertawa-tawa. Pasalnya fatimah selalu bisa melawak dalam keadaan romantis. Benci sekali saat dia mengalihkan keromantisan dengan hal lain. tapi itulah sisi menarik dari kakak wardah. Gadis itu periang hanya sajq dia salah jalur beberapa waktu lalu. Namun saat ini dia sudah kembali pada hal yang positif dan itu pun karena usahanya untuk menjadi baik.
Di hotel tempat wardah menginap ...
" Ma... Pa.. Lama sekali sih gak jemput adzkan!" seru putranya dengan sangat menggemaskan. Di usianya yang masih kecil dia nampak sangat berbeda dengan anak-anak lain. Izdi mendekati putranya dan segera memeluk dan menggendongnya.
" Main lagi ya pa?" tanya adzkan penuh semangat.
Wardah hanya tersenyum saja saat melihat putra dan ayah itu saling berkomunikasi. Bibi yang sedari tadi berada di seberang kini menghampiri wardah untuk menyapa.
" Bagaimana kabarnya nyonya?" tanya bibi dengan tersenyum ramah.
" baik bi. Bibi gimana kabarnya sudah lama kita tidak bertemu," jawab wardah.
" Baik nyonya. Setiap hari bibi selalu berharap nyonya kembali. Rumah itu sudah lama tidak di tinggali sama den izdi nyonya. Baru beberapa minggu den izdi kembali menempatinya," cerita bibi pada wardah.
" kenapa seperti itu bi?" tanya wardah.
__ADS_1
" den izdi tak mengizinkan siapapun tinggal di rumah itu kecuali nyonya. Dia mengajak nona maria ke rumah lain nyonya," ucap bibi bercerita.
Wardah menatap suaminya dengan seksama. Wardah kembali tersenyum.
Jika kamu mencintaiku kenapa tidak mencariku sejak dulu mas. Kenapa kamu biarkan rumah itu kosong bertahun-tahun. Bahkan kamu tak mengizinkan maria tidur di ranjang kita. Dia juga istrimu. Dia juga cinta pertamamu sebelum aku hadir. Batin wardaj dengan sedih sekaligus bahagia.
Bibi tersenyum bahagia saat wardah masih saja memeliki sikap hamble seperti dulu. Tidak ada perubahan apapun dalam diri nyonyanya. Meskipun istri izdi itu telah di sakiti oleh keluarga suaminya secara tidak langsung. Wardah tetaplah seperti gadis belia yang begitu mengangumkan untuk bibi yang selama ini mengenalnya.
" Sayang ... Yuk kita keluar! Bi ayo kita jalan-jalan," ajak izdi pada kedua orang itu. Izdi begitu mencintai istrinya begitu pun dengan sang bibi dia serasa ibu kedua baginya. Karena bibi dia kembali berani menghadapi wardah. Dia tak menemukan sosok ibu di uminya karena mereka terlalu jauh.
Mereka berempat pun pergi ke pantai dekat sana. Izdi dan wardah benar-benar menikmati liburannya seperfecr mungkin. tak ingin dia lewatkan beberapa detik saja. Tiba-tiba saja ponsel izdi berdering.
" Ada apa kak?" tanya izdi pada kak abi.
" Kapan pulang?" tanya abi pada adiknya.
" kami sedang berjalan-jalan kak menikmati bulan madu kedua dengan putra kami. Pulanglah suatu saat kami akan pesantren kasihan santri di sana jika di tinggal terlalu lama," jawab izdi sebijaksana mungkin.
" Kalian sudah menikah lagi?" tanya abi dengan kaget.
" Ini bukanlah planning kami. Tapi orang-orang yang ingin melihat kami bahagia yang menyatuka kami kembali," jawab izdi pada kakaknya. Abi pun tak dapat berbuat apapun. Sejatinya itulah yang terbaik untuk izdi.
" Semoga bahagia dek," ucap abi sebelum menutup telponnya.
" Terima kasih kak," jawab izdi dengan sopan.
Perbincangan itu penutup diantara mereka sebelum keluarga izdi meninggalkan rumahnya.
☆
☆
__ADS_1
☆
Jangan lupa like komen subcribe dan giftnya ya makasih sayangku. Mohon maaf belum bisa up banyak kondisi author lagi kurang fit. Maaciw.