
Azzam yang pergi ke kantin bersama Izdi memutuskan untuk sejenak rehat di Taman Rumah Sakit. Ia sedang memikirkan tentang perasaan, hatinya, dan gejolak dalam jiwanya. Dia ingin kelak sepenuhnya hati ini milik istrinya seorang bukan orang lain. Saat dia sedang menenangkan pikirannya nampak seorang gadis cantik berhijab biru muda yang dia kenal. Iya itulah adalah Fatimah mantan calon istri Izdi. Dia nampak sangat pucat diatas kursi roda. Azzampun mencoba untuk mendekatinya dan bertanya kabar.
" Assalamualaikum Fatimah," ucapnya dari belakang.
" Waalaikumsalam, siapa?" jawab fatimah pada pemuda yang ada di belakangnya. Dengan sedikit bergegas Azzam berpindah tempat.
" Teman izdi," jawabnya singkat.
" Siapa Izdi?" pertanyaan yang membuat Azzam melongo. Mana mungkin dia melupakan Izdi secepat ini. Bukankah sebelumnya mereka sangat bucin. Pikiran itu terus mengitari otaknya saat ini.
Tiba- tiba seseorang datang dari arah brlakang dan menyentuh pundaknya.
" Siapa?" sumber suara itu menanyakan siapa Azzam. Diapun spontan menolah dan mengembangkan senyumannya.
" Azzam tante," jawabnya dengan sopan. Mama Fatimahpun tersenyum.
" Duduklah nak!" Seru sang mama pada Azzam. Azzam yang sedari tadi bingung jadi mengikuti saran Mama Fatimah. Dia jadi penasaran ada apa sebenarnya diantara 3 sejoli ini. Yang 2 saudara yang 2 lagi sepasang kekasih.
"Ada apa nak, kenapa tiba-tiba menghampiri Fatimah?" tanya samg mama pada Azzam . Pemuda itu menyunggingkan senyum terbaiknya itu untuk menghargai ibu yang telah melahirkan perempuan yang dia cintai sebelumnya . Ya, wardah adalah putri keduanya itu berarti Azzam pernah dan masih mencintai dia. Hanya saja dia tidak seberuntung Izdi yang bisa memulai kehidupan maghligai rumah tangga.
" Nak, kok melamun?" tanya mama fatimah sekali lagi.
"Oh, iya tante. Tadi saya tidak sengaja kemari karena melihat fatimah di sini. Saya di sini juga sedang berkunjung kepada putri tante yang lainnya," ucap Azzam yang membuat mama Fatimah menunduk.
__ADS_1
" Tante kenapa?" tanya Azzam saat melihat ekspresinya berubah. Ia khawatir ada ucapan yang salah saat menyampaikan pesan itu.
" Tante bingung nak harus seperti apa. Di satu sisi tante juga memikirkan Wardah, namun di sisi lain Fatimah adalah putri tante juga. Mau tidak mau fatimah adalah prioritas tante. Sedangkan Wardah sudah memiliki keluarga yang baik," jawabnya hati-hati.
" Maaf tante saya tidak mengurangi rasa hormat. Tetapi Wardahpun butuh sosok seorang ibu. Bukankah dia selama ini hanya bersama bibinya?" tanya Azzam memastikan karena dia di pondok dulu sangat mengena wali santri yang datang. Mama wardah tak pernah sekalipun datang.
" Semua itu harus dilakukan nak. Karena tante harus mengorbankan kebahagiaan salah satu putri tante," jawabnya membuatnya aneh. Tak ingin berkepanjangan dengan permasalahan mereka. Azzampyn pamit undur diri ingin kembali ke ruangan wardah.
" Oh," jawabnya menggantung. " Baiklah, tante saya permisi dulu. Semoga Fatimah kembali sehat," ucap Azzam seraya berdoa untuk gadis itu. Azzampun mendekati Fatimah dan berjongkok di depannya.
" Fatimah, apapun keadaanmu saat ini bgaimanpun sulitnya kamu menjalaninya. Tetaplah menjadi orang baik semua datang atas takdir yang telah Allah tentukan. Jangan menyiksa dirimu seperti ini, itu menandakan tidak kepuasanmu atas takdir-NYA. Baiklah, saya permisi dulu. Semoga lekas sehat kembali," ucapnya sedikit panjang lebar. Sambil sedikit menasehati gadis rapuh di depannya itu. Dia hanya kasihan jika harus melihatnya seperti seseorang yang menyesali keputusannya.
Fatimah tak bergeming sedikitpun. Dia hanya mengangguk saja. Azzam kemudian tersenyum dan berdiri dari tempatnya.
" Ning tunggu! Ada yang ingin saya jelaskan," seru Azzam dengan berlari. Hingga akhirnya dia dapat menghentikan langkah Zizah dari depan. Seketika gadis itupun menghentikan langkahnya.
" Apa? Kenapa harus menghentikan langkah saya mendadak?" tanyanya sedikit ketus. Azzam tersenyum kecut saat mendengar jawaban orang yang akan di khitbahnya ini sangat tidak mengenakkan.
" Ning, kenapa berjalsn cepat? Padahal saya ingin mengatakan sesuatu," ucap Azzam dengan lugas. Khawatir gadis itu kembali memasang muka juteknya.
" Jangan mengatakan khitbah pada seseorang jika kamu saja mampu berjongkok di hadapan hareem lainnya. Saya punya mata dan hati yang harus di jaga. Mungkin saya terlalu selektif tapi jujur saya tidak menyukai lelaki yang berjongkok di hadapan wanita lain. Saya rasa sudah cukup ya ustadz. Permisi!" serunya sambil menekankan bahwa dia tidak menyukai tipe laki-laki yang seperti itu. Seketika Azzam tersenyum dan mencelos. Mungkinkah ning Zizah saat ini sedang cemburu pada dirinya. Azzampun memegang tangan Zizah yang terbungkus kain.
" Ning, yang kau tuduhkan adalah salah. Aku akan jelaskan jika ning berkenan," ucap Azzam meyakinkan.
__ADS_1
" Saya sedang tidak ingin mengklarifikasi apapun tentang gadis yang ustadz temui," jawabnya singkat yang membuat Azzam tersenyum menang saat melihat tatapan ning yang menandakan dia tak menyukainya.
" Keterlaluan, apa memang semua laki-laki seperti itu. Sayangnya, aku memang tidak pernah memperhatikan kaum adam sebelumnya. Jangankan ustad itu kakak adikku saja tidak pernah kuperhatikan secara detail," monolognya saat mengingat omongan Azzam yang ingin mengklarifikasi kedekatannya tadi dengan fatimah. namun rupa-rupanya ning Zizah tak menyukainya.
Di sisi lain ...
" Sayang bisa ya?" tanya Izdi pada istrinya. Wardahpun tersenyum pada suaminya itu. Hati Izdi rasanya berbunga-bunga kembali saat melihat senyuman cantik Wardah.
" Bisa mas," jawabnya dengan hati-hati.
" Cantiknya istri Izzudin ini, harus semakin banyak bersedekah ini supaya senyumannya lebih menawan dan candu," goda Izdi pada istrinya. Wqrdah yang mendengar gombalan izdi hanya menggelengkan kepala menandakan bahwa suaminya itu semakin ke sini semakin aneh sikapnya.
" Alah, laki-laki emang gitu mas. Sukanya mah gombal gitu ntar gak ada endingnya mas," jawabnya membuat Izdi melongo. Lah istrinya bisa menjawab gombalannya dengan kata-kata yang empuk dan pedas manis.
" Ah, sayangku ngomongnya kok gitu sih. Mas jadi tersinggung nih, padahal bukan buaya loh ini beneran setia," jawab izdi memanja. Wardah kembali menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil.
" Apa iya? Buaya bukan? Emang bukan mas, kan istrinya wardah ya? Kalau berubah jadi buaya wardah juga gak maulah," jawab Wardah dengan tertawa renyah. Izdi yang melihat sikap istrinya yang bercanda jadi melongo. Dia pandai bergurau juga rupanya. Izdipun ikut tertawa saat melihat belahan hatinya bahagia.
" Teruslah seperti ini sayang. Bahagia tanpa menanggung beban sebanyak waktu kemarin. Hari ini, esok dan seterusnya fokuslah pada masa depanmu. Mas akan mendukung setiap aktivitas yang membuatmu tersenyum cantik begini," ucapnya dalam hati dan ia menyungginkan senyuman di hadapan istrinya. Wardah masih dalam keadaan tertawa bahagia karena bisa membalas gombalan izdi dengan kata-kata yang tidak bermanfaat namun bisa dijadikan bahan untuk mengulas senyum diantara mereka.
" Tetaplah bahagia seperti ini sayang," ucap izdi yang kemudian diikuti anggukan Wardah.
"
__ADS_1