
Sesampainya izdi di ruangannya...
Dia menatap istrinya yang masih tertidur karena efek obat bius. Ia terpaksa memberikan penenang dosis rendah kepada istrinya supaya wanitanya bisa beristirahat. Namun dia sempat memikirkan perkataan dr. Rahman sahabatnya jika istrinya ini sedang hamil akan tetapi masih harus cek ulang 2 minggu lagi. Izdi menarik nafas panjang.
" Istirahatlah, putraku biar Wardah umi yang menjaga," ucap seseorang dari belakang. Spontan izdi melepas genggaman tangannya dan menoleh kearah datangnya suara.
" Umi!" seru Izdi langsung berlari kearah uminya. Izdi nampak menangis di dekapan uminya. Namun umi hanya mengelus pundak putranya. Abi dan kakak-kakak hanya bisa memandangnya sambil mngelus pundah sang adik.
" Sabar nak, ujian datang untuk memperkuat imanmu le. Ayo lebih rajin lagi ibadahnya. Putra Umi pasti bisa bukankah anak umi yang satu ini lebih unggul dari kakak-kakaknya?" canda umi setelah memberikan sedikit wejangan yang sangat mengena di hati.
__ADS_1
Kemudian izdi memeluk kakak-kakak dan Abinya. Mereka bak teletubies yang saling berpelukan. Mereka melepas rindu setelah lama tak berjumpa.
Kakak Izdi Muhammad Abizhar El Kaffa adalah seorang dosen muda di Universitas Islam ternama di kotanya. Kisah cintanya sangat indah namun sangatlah menyentuh hati. Abi adalah putra pertama Umi yang memiliki paras tampan dan nuansa islami serta kecerdasan yang diatas rata-rata. Pemuda ini tak begitu banyak tersenyum pada siapapun. Namun sekali tersenyum membuat kaum hawa jadi halu.
Azizah Nur Fadhilah adalah kakak kedua Izdi, paras cantiknya adalah warisan tunggal Umi. Fadhilah adalah penerus pesantren, kesabarannya sudah menjadi perbincangan seantero wilayah tempat mereka tinggal. Saat ini Zizah sedang menempuh pendidikan S2-nya di Management. Pendidikannya kali ini dia tempuh karena untuk kelangsungan pesantrennya.
Terakhir adalah Izdi dokter tampan yang agamis namun memiliki kerumitan tentang masalah kisah cintanya. Izdi yang memiliki jalinan diantara dua saudara itu membuatnya dalam dilema berat. Namun pernikahan Izdi dan Wardah mendapat dukungan penuh dari keluarga. Wardah bukanlah gadis yang luar biasa, tapi setidaknya gadis itu lebih baik daripada sang kakak.
" Sudah kak, malah lebih tepatnya sering bertemu sebelum kejadian ini," ujarnya dengan menghela nafas dengan beratnya.
__ADS_1
" Bagaimana menurutmu Iz?" tanya Abi masih dengan mode serius.
" Dia menyesali semuanya kak. Tapi aku sudah menentukan pilihanku pada Wardah, jadi tugasku dan tanggung jawabku hanyalah untuk istrik," jawab izdi dengan yakin namun tetap dalam keadaan gamang entah dimana hati dan pikirannya berada.
" Itu sudah benar Iz, jangan sampai hatimu goyah karena ini bisa jadi ke depan Fatimah tetap ingin menikah denganmu dan orang tuanya pun sangat mendukung putrinya itu. Yang kakak lihat Wardah seperti bukan putri mereka, apa benar seperti itu?" ucap sang kakak panjang lebar dan terus bertanya pada sang adik.
" Putri Kandung mereka kak, tapi Wardah lebih banyak dikorbankan karena untuk kebahagiaan sang kakak. Wardah yang patuh itu selalu saja menurut kak, jika ada apa- apa diapun jarang berbicara kak. Aku menyesal masih belum bisa menjadi kepercayaan wardah," jawab izdi tak kalah panjangnya dari sang kakak. Abipun mengelus pundak adiknya. Dia berharap izdi bersabar untuk mendapatkan kepercayaan istrinya.
" Sabarlah Iz, pasti suatu hari Wardah akan memposisikan dirimu lebih dari siapapun. Teruslah buat dia bahagia, kakak hanya ingin melihat kalian bahagia. satu lagi buatlah dia kembali ke bangku sekolah!" nasihat sang kakak pada izdi yang akhirnya menerbitkan senyumannya.
__ADS_1
Nampak dari kejauhan Umi tersenyum menggangguk pada dirinya. Izdipun membalas senyuman Umi. Perempuan yang paling dia cintai selain kakak dan istrinya.