
sore hari yang menampakkan indahnya. Membuat senyuman merekah di wajah Ustadz tampan Azzam.
Pemuda yang sudah lama di pesantren ini lebih di kenal dengan nama ustadz Mohammad Azzam, namun dia memiliki nama yang sangat indah Mohammad Azzam Alazka Syahputra. Dia adalah pewaris tunggal PT. Medika sehat, Dimana perusahaan tersebut bergerak di bidang farmasi. Perjalanan kisah cinta Azzam sudah bertepuk sebelah tangan sejak lama. Akan tetapi saat itu dia berharap masih bisa memiliki takdir bersama perempuan yang dia kagumi.
Azzam yang mendengar berita keadaan wardah drop merasa ikut sakit. Dia hampir tidak pernah melihat gadis itu sakit. Wardah adalah santri yang rajin, kuat, dan sabar dalam menjalani peliknya kehidupan pribadinya. Namun siapalah Azzam yang tak pernah dilirik sedikitpun oleh gadis itu. mungkin cinta itu masih saja bersarang di hatinya tanpa ijin dari sang pemilik.
" Wardah, apa yang sedang terjadi padamu? Aku selalu saja merasa sakit saat kamu dalam keadaan seperti ini. Hati ini salah tapi siapa aku yang tak bisa menghentikan perasaan ini. Doakanlah aku supaya segera mencintai orang lain. Supaya hatiku yang neko-neko ini bisa sembuh," ujar Azzam saat melewati koridor rumah sakit bersama orang tuanya. Azzam yang saat ini memang berada di kota yang sama dengan izdi menyempatkan diri untuk datang ke rumah sakit.
Saat mengetuk pintu ..
Tok
Tok
Tok
"Assalamualaikum," ucap Azzam dari arah luar. Semua orang di dalam spontan menjawab salamnya secara bersamaan.
" Waalaikumsalam," jawab semua orang di dalam ruangan. Umi yang melihat kedatangan Azzam dan keluarga langsung tersenyum.
" Masuk le Azzam! Bapak, Ibu mas Azzam monggo pinarak!" seru umi dengan berdiri menyambut kedatangan mereka. Azzam langsung menyalami Izdi dan memeluknya.
" Bersabarlah Gus," bisik Azzam pada izdi.
" Makasih mas," jawabnya dengan pelan. Izdi pun menyambut uluran tangan Pak Anwar Syahputra pemilik medika sehat.
" Bagaimana Gus Iz sudah membaik istrinya?" tanya pak anwar sambil melihat kearah wardah yang masih memakai cadar rumahan. Namun wardah sedang beristirahat
__ADS_1
" Alhamdulillah baik pak Anwar sambung doanya untuk Wardah," jawab izdi dengan sopan. Pak Anwarpun menepuk-nepuk pundak Izdi sambil tersenyum dan menjawab.
" Pasti Gus," jawab pak anwar lantang.
" Maturnuwun sanget pak," jawab izdi pada ayah Azzam.
Azzam pemuda itu nampak menatap wardah dari kejauhan. Ia terkadang menyesali kenapa wardah tak menerima dirinya dulu maupun sekarang. Ada perihal apa dalam dirinya yang tidak di sukai oleh gadis itu.
" Nak Azzam silahkan di minum dulu!" seru umi padanya.
Zam, gimana bisnisnya jalan?" tanya kakak izdi yang pertama.
" Gagal gus harus ada uji ulangnya supaya di acc. Ikhtiar sama doanya kurang sepertinya gus," jawab Azzam dengan semburat menyesal karena gagal. Putra pertama umi itu langsung tersenyum lebar.
" Sudah waktunya Zam," jawab putra ndalem yang pertama.
" Waktu apa gus?" tanyanya dengan serius.
Azzam hanya tersenyum malu mendengar nasihat sekaligus peringatan bagi dirinya bahwa dia sudah waktunya menikah. Tapi masih saja jalan di tempat yang sama.
" Gus niki bisa saja guyonannya," jawabnya sebisa mungkin. Kakak izdi itupun menimpali kembali ucapan Azzam.
" Sudah pantas toh pak Anwar, bukankah begitu ya pak? Dia pemuda yang mempesona," sekali gus Abi membuat Azzam tersipu malu. Orang tua Azzam tertawa saat gus Abi membuat putranya seperti anak pemalu.
" Tentu saja gus sudah pantas, tapi sepertinya dia belum berminat. Padahal saya sudah ingin punya cucu," ucap pak anwar yang kemudian tertawa dengan renyahnya. Yang kemudian diikuti oleh semua orang di tempat itu. Hanya neng Zizah yang tak tertawa saat itu. Azzam mulai memperhatikan putra kedua kyainya itu.
" Oh ada neng Zizah gus?" tanya Azzam dengan melihat kearah seseorang di belakang gus Abi. Sontak Abi pun menoleh kearah adiknya. Tentu saja guyonannya recehnya kembali semarak.
__ADS_1
" Hmmm, nikah sama Zizah saja Zam? Lihat dia tak peduli seberapa tampan pria single di depannya ini. Dia sungguh tak berminat, sekolah saja yang diurusi," ucap gus Abi yang membuat Zizah melotot kearahnya karena kini menjadi bagian dari guyonan mereka.
"Memang boleh ya gus jika mengkhitbah neng Zizah?" tanya Azzam tanpa ekpresi yang konyol seperti biasanya. Zizah menatap kearah sumber suara dan menggelengkan kepala.
" Jangan di dengarkan mas Azzam kakak memang seperti ini. Mana pantas Zizah untuk putra pak Anwar," jawab Zizah spontan di hadapan semua orang. Terang saja suasananya menjadi serius sekali. Kali ini Azzam kembali menimpali semua orang memperhatikan kedua single di depan mereka.
" Pantaslah neng, selain cantik putra kyai sedang berusaha keras demi pesantrennya. Sehingga membuat dia kembali ke bangku perkuliahan menyeselesaikan gelarnya," jawab Azzam. Blusss rasanya saat ini pipi Zizah sudah merah merona, semua orang tertawa mengangguk.
Di dekat ranjang istrinya Izdi memperhatikan ucapan demi ucapan yang di lontarkan Azzam. Pemuda di hadapanñya itu memang orang baik tetapi Izdi hanya ingin melihat keseriusannya. Karena Zizah adalah generasi penerus pondok sedangkan mas Azzam adalah berasal dari pemilik perusahaan besar. Azzampun mendekat kearah umi.
" Umi?" tanyanya untuk menemukan sebuah jawaban pasti. Umi tersenyun seraya menjawa dengan saksama.
" Istikharahlah nak, jika hasilnya baik silahkan datang ke rumah untu menemukan jawaban anak gadis umi," jawaban umi begitu adem di hati. Azzam kembali mencium takdim tangan gurunya itu. Seperti orang tuanya sendiri.
" Monggo, silahkan bu anwar! Incip- incip!" seru umi pada mama Azzam.
Perbincangan di ruang VVIP itu sangatlah membuat hati Zizah terusik. Dia berharap Azzam tidak serius dengan ucapannya. Zizah bukan tipe orang yang ramah pada laki-laki siapapun kecuali Ayahnya dan kakak-adiknya. Bukan dia tidak mau menikah hanya saja dia merasa kurang pantas dengan pemuda di hadapannya itu.
Azzam kemudian keluar bersama Izdi ke kantin.
" Kenapa Gus Iz?" tanya Azzam.
" Benarkah mas tertarik pada kakak Zizah?" tanya izdi secara langsung.
" Gus mungkin saat ini sayang belum mencintai kakakmu, tetapi aku tertarik akan kegigihannya. Lelaki mana yang tidak akan jatuh cinta padanya. Hanya saja kakakmu itu membatasi ruang dengan siapapun," jawab Azzam yang membuat dirinya lega.
" Iya mas kakak memang selalu membentengi dirinya. Dulu ada Ustadz ilyas dari lirboyo putra dari sesepuh di sana mengkhitbah kakak. Namun kakak menolaknya dengan alasan masih ingin melanjutkan pendidikannya," ucap izdi mengenang kakaknya.
__ADS_1
" Restunya gus, supaya ning mau menerima dan saya bisa belajar dari gus Izdi bahwa menikah dengan seseorang yang belum kita cintai itu malah akan membuat kehidupan kita lebih berharga karena setiap hari akan terus belajar mencintai," jawab Azzam dengan penuh keyakinan.
" Aamiin semoga dimudahkan mas, kakakku memang seperti itu. Teruslah berdoa!" seru izdi dengan senyum mengembang. Membuat Azzampun tertawa lepas di kantin yang masih belum ramai itu.