
Izdi terlihat panik saat maria pingsan di hadapannya. Dia menatap lesu terhadap maria entah dia itu masih istrinya atau bukan akan tetapi yang jelas izdi belum menalaknya. Dokter yang memeriksa maria mengatakan bahwa gadis itu terkena penyakit berbahaya namun harus di cek ulang untuk melihat kebenarannya.
Izdi pun menghampiri perempuan pucat pasi di hadapannya ini. Dia memegang tangan maria yang lemas. Dia menyesal kenapa dulu tak mencarinya sampai di penghujung dunia. Saat ini meskipun dia nampak sukses akan tetapi tubuhnya tak sejalan dengan karirnya. Dia nampak bagus dari luar namun buruk di dalam.
Saat izdi menunduk di dekapan tangan maria. Tiba- tiba dia mendengar maria memanggilnya dengan lirih.
" Mas ... " ucap maria dengan sangat pelan.
" Maria ... Bagaimana ? Apa ada yang sakit?" tanya izdi memandangnya. Gadis dewasa di hadapannya menggeleng sambil tersenyum.
" Kenapa kamu masih di sini?" tanya maria pada izdi.
" Jelaskan padaku kenapa sampai seperti ini," ucap izdi sedikit panik. Maria menggeleng pelan.
" Pulanglah ... Dia pasti menunggumu. Kamu benar kali ini aku salah iz," ucap maria. Seketika izdi mengingat bahwa istrinya tadi sudah merajuk. Tanpa basa basi izdi segera bergegas untuk pulang. Sebelum dia keluar dari ruangan.
" Besok aku akan ke sini lagi," ucap izdi. Dia pun berlari karena ini sudah malam. Bagaimana lagi dia harus menghadapi istrinya.
Perjalanan malam ini membuatnya merasa dingin meskipun di dalam mobil sedingin hatinya yang kurang asupan motivasi. Bagaimanakah jika wardah benar-benar marah padanya kali ini.
Sesampainya di rumah. Nampak rumah sangat sepi entah dimana penghuninya. Baru masuk rumah nampak bibi tersenyum. Aku pun langsung ke lantai 2 rumah. Dimana kamarnya berada.
Di kamar ..
" Sayang, dimana?" tanya izdi celingukan. Tapi tak menemukan sosok sang istri. Dia masuk namun menemukan selembar kertas yang membuat denyut jantungnua berdetak kencang.
' Mas malam ini dan tidak tahu sampai kapan aku ingin bermalam di rumah mama. Aku belum siap mendengarkanmu memiliki istri lain. Aku juga tidak tahu alasanmu kenapa memiliki istri lain. Tapi yang jelas saat ini hatiku sedang sakit aku merasa pengorbananku untuk keluargaku untuk dirimu sia-sia. Aku merasa terpojokkan dengan pilihanku sendiri. Maafkan aku, jangan menjemputku ataupun lainnya. Aku ingin sendiri, aku butuh memikirkan dan mencerna segala sesuatunya sendiri'
Secarik kertas itu membuat lutut izdi lemas tak mampu menopang berat badannya sendiri. Dia jatuh lunglai ke lantai granit kamarnya. Tak ada suara apapun namun air mata izdi mengalir. Wardah pun tak memberikan kesempatan padanya untuk menjelaskan apapun. Bahkan ini kedua kalinya dia di tinggal seorang istri. Tapi izdi menghapus air matanya.
" Tidak ... Kali ini wardah tidak boleh pergi seperti maria tempo dulu. Aku harus memberikan dia sebuah penjelasan," monolog izdi kemudian mengambil kunci mobil menyusul ke rumah pak yusuf.
Izdi menyetir dengan sangat cepat. Dia tidak ingin wardah berpikiran aneh-aneh padanya. Dia tidak ingin rumah tangganya gagal untuk kedua kali. Rasanya sakit sekali.
Sesampainya di rumah pak yusuf.
__ADS_1
" Assalamualaikum," ucap izdi dengan bergemuruh di dadanya.
" Waalaikumsalam, masuklah nak!" jawab pak yusuf.
" ada apa iz?" tanya pak yusuf. Izdi memandang mertuanya dengan wajah sendu.
" Saya ingin bertemu wardah pa," jawab izdi. Papanya pun malah berkata yang membuat izdi melongo dan hatinya terlonjak tanpa jeda. Rasanya sakit sekali ketika hal itu keluar dari lisan orang terdekat.
" Nak, maafkan papa tadi memang wardah kemari akan tetapi efek therapi kemarin Fatimah sudah mengingat segalanya. Tadi dia melihat wardah kemari dan mengusirnya. Papa dan mama mau membantunya namun wardah mencegah untuk tetap di rumah," ucap pak yusuf menyesal.
Flash back ...
" Pa, Ma bolehkah wardah tinggal di sini sementara. Wardah sedang ingin sendiri tanpa mas iz," ujar wardah.
" Nak, ndak baik ketika istri pergi tanpa pamit. Pulanglah bukan mama tidak menerimamu. Ijinlah pada suamimu dulu atau telpon dia," ucap sang mama.
" Aku sudah mengiriminya pesan," jawab wardah singkat.
Namun suara bariton fatimah menggema di seluruh ruangan. Tak ada alih-alih untuk menyampaikan suara itu di ruang tamu. Nampaknya fatimah sedang tak bersahabat kembali dengan adiknya. Fatimah mulai menghampiri adiknya dengan wajah yang kurang setuju.
" Kak ... Malam ini saja aku rindu kalian," ucap wardah memelas.
" Tidak ! Pulanglah," jawab fatimah kemudian pergi ke atas.
" Nak, kali ini kakakmu benar. Pulanglah izdi pasti khawatir padamu," ucap sang ayah. Wardah pun tak punya pilihan lain dia harus pergi. Jika dia menjelaskan duduk permasalahannya pasti sangatlah rumit. Karena wardah sendiri belum tahu ceritanya bagaimana dari suaminya hanya saja saat ini dia ingin sendiri.
" Baiklah aku pergi dulu mas, pa ... Assalamualaikum," jawab wardah pada akhirnya. Orang tuanya mengangguk.
" Waalaikumsalam," jawab sang mama.
Kepergian wardah dari rumah pak yusuf bukanlah tanpa alasan. Karena wardah tak membawa suaminya. Khawatir mereka mempunyai masalah makanya dia tak mengizinkan wardah menginap. .
.
.
__ADS_1
.
"Jadi, begitulah ceritanya nak iz. Dia sudah pergi dari sore harusnya dia sudah di rumah dari tadi," jawab pak yusuf. Izdi nampak blank saat istrinya tak ada di rumah mertuanya karena di rumah pun sampai larut dia tidak ada. Di hubungi pun tidak aktif. Kakinya lemas seketika dan terduduk di lantai. Air matanya mengalir tanpa izin. Jika laki-laki tidak pantas menangis tapi kali ini dia ingin menangis.
" Wardah ... Maafkan aku," lirihnya.
Saat mendengar ruang tamu nampak rame. Fatimah mulai menengoknya. Nampak izdi di sana pemuda yang ia tinggalkan beberapa bulan lalu. Fatimah mulai penasaran namun ia tak menemukan adiknya.
" Kenapa kamu datang tanpa adikku? Pergilah dia tidak ada di sini," ucap fatimaj ketus saat ini.
" Kenapa kamu tidak menampung adikmu barang sebentar saja fatimah. Saat ini dia butuj teman saat ingin marah padaku tapi dia tak bisa mengungkapkannya," ucap izdi lemas.
Fatimah mulai mendekat pada izdi.
" Apa yang kamu katakan? Bicara yang jelas, tadi aku tidak mengizinkannya menginap biar dia pulang iz. Jangan mengada-ada iz. Pasti dia sudah di rumah kalian," jawab fatimah dengan sebuah penjelasan.
" Tapi dia takkan pulang fatimah. Dia saat ini sangat marah padaku. Mungkin dia tak menyebutkannya," jawab izdi lemas dengan kaki bersimpuh. Fatimah mulai menggeleng cepat.
" Jangan bercanda. Pa, ma kalian hubungi wardah ada dimana? Kenapa harus seperti ini coba. Kamu dari tadi kemana saja iz?" Fatimah mulai resah dengan adiknya. Pasalnya dia yang menyuruh anak itu pergi. Meskipun fatimah sakit hati tapi ia mulai mencoba untuk menerimanya.
"Saat ini nomornya sedang tidak aktif. Bantulah aku fatimah, ku mohon temukan istriku untuk kembali," jawab izdi lemas. Seketika fatimah terduduk lemas di kursi. Saat ini dia melihat orang yang mengisi hari-harinya sangat terpukul dengan kepergian wardah.
Drrt.Drrt.Drrt.
Dering ponsel Izdi berbunyi ada pesan masuk.
' Dokter nona maria terkena demam. Bolehkah kami menggunakan obat anda yang ada di ruangan' pesan masuk dari asistennya.
' Gunakanlah, saat ini aku sedang sibuk' jawabnya singkat.
.
.
.
__ADS_1
Galau.