Cinta Dalam Sujudku

Cinta Dalam Sujudku
Keputusan Wardah


__ADS_3

Seusai mencuci tangan wardah kembali ke tempat duduknya. Ia kembali menatap dokter Rangga. Ingin mendengarkan kelanjutannya.


" Bagaimana ny. Izdi?" tanya Rangga sekali lagi.


" Apa jaminannya untukku dokter jika suamiku ikut merawat Kakak? Bukankah itu harus aku tahu penjelasan anda?" tanya wardah dengan tegas. Suasananya jadi horor saat wardah menatap muka dengan datar.


" minta jaminan apakah ny. Izdi? Tanya Rangga dengan serius. Kali ini rangga menatap kedua mata wardah. Dia merasa mengenali gadis itu. gadis medsos yang meninggalkannya begitu saja karena harus menikah.


" Bahwa suamiku memiliki hati yang sama sebelum merawat kakak," jawab wardah tanpa berpalinh. Senyuman pun terbit di wajah Rangga. Ia pikir wardah akan meminta sesuatu yang sulit padanya.


" Itu mudah ny. Iz. Akan aku lakukan untuk istri sahabatku," ucap rangga kemudian yang kemudian mendapati jawaban wardah yang membuat mereka berdua melongo saling berhadapan dan bingung.


" Jika mudah, kenapa harus meminta ijin padaku, ajak saja tuan izdi langsung. Semua terserah padanya!" seru wardah kemudian berdiri dan meninggalkan mereka berdua yang bingung.


" Ngga .... Loh lihat dia marah kan? Gimana kalau kamu saja yang mengcover Fatimah. Please kali ini saja," jawab izdi dengan nada yang pasrah. Dia ingin membantu sahabatnya tapi dia juga tidak ingin membuat istrinua berpikiran negatif thingking.


" Aku benar-benar butuh kamu izdi untuk memancing ingatannya kembali pada terapi esok," ucap rangga menerawang ke depan.


" Baiklah akan aku bantu sebisa mungkin, nyonya wardah pengertian hanya saja saat melihatmu dia ogah. Hahahah," jawab izdi dengan tertawa sambil menepuk pundak sahabatnya. Spontan saja rangga melongo namun dalam hati kecil ia merasa ada yang aneh dengan istri izdi. Tapi karena hari sudah larut terpaksa ia harus pamit pulang.


" Iz, aku pulang ya thank you makan malamnya. Satu lagi istrimu sangat menarik, ada yang aneh pada pandangannya tentangku. Coba kau tanyakan. Hahahahah," bisik rangga tertawa sambil berjalan keluar. Izdi hanya menggeleng tanpa membalas tawa. Dia memang sempat mendengar wardah bercerita tentang dirinya. Jadi tidak asing jika rangga merasa aneh dengan sikap istrinya.


Klakson mobil dibunyikan oleh rangga menandakan bahwa dia berpamitan lewat itu. Sedangkan izdi hanya melambaikan tangannya sambil tersenyum. Kali ini dia biarkan wardah tidak ramah terhadap sahabatnya. Izdi pun memberikan kode kepada bibi supaya menutup semua pintu. Dia ingin beristirahat.

__ADS_1


Sesampainya di kamarnya ...


" Sayang ... Belum tidur?" tanya izdi pada wardah yang sedang membaca buku.


" belum mas ...," jawabnya singkat tanpa ingin menimpali dengan ucapan lainnya. Izdi kemudian berjalan ke arahnya. Dan memeluk istrinya.


" Kenapa hari ini sangat tidak ramah?" tanya izdi dengan lemah lembut. Khawatir istrinya itu tersinggung. Karena sedari tadi wardah sedang malas. Wardah pun menatap suaminya.


" Bukan tidak ramah mas, hanya ingin tahu jawaban dari dokter rangga. Sebenarnya apa perlu mendapatkan ijin dariku. Itu adalah tanggung jawab kalian sebagai dokter, jika meminta ijin kesannya aku harus mengizinkanmj menikah lagi. Bukankah begitu?" jawab wardah dengan tenang. Hati izdi bak terasa di sayat sembilu. Pemikirannya tak sejauh itu namun wardah memikirkan sesuatu yang tak terpikirkan olehnya. Deg. Istrinya benar dia adalah seorang dokter untuk apa dia khawatir dan apa yang dia khawatirkan.


" Ya ... Sayang kamu benar. Seharusnya aku bisa membedakannya," jawabnya dengan tersenyum. Wardah menutup bukunya dan kembali menatap suaminya. Nampak dia memgambil nafas dan mulai kembali mengutarakan sesuatu..


" Mas haruskah kulanjutkan ceritaku tentang dokter rangga?" tanya wardah menatap suaminya. Izdi tersenyum sambil mengangguk.


" Dekat di medsos saja mas, tapi kami sempat ngobrol beberapa kali lewat handphone. Mungkin jika dia peka pasti mengenali suaraku," ucap Wardah. Izdi memandang istrinya dengan seksama. Wardahpun tanpa sengaja menatap mata suaminya.


" Sayangku mencintainya?" tanya izdi pada istrinya.


" Pernah mas ... dia yang menghiasi hari wardah saat hati ini menyadari bahwa sakit saat melihat mas izdi akan segera menikah dengan kakak. Dia yang selalu mensuport hari-hari wardah. Pasti ada mas rasa untuk mencintainya meskipun tidak banyak. Maafkan wardah jika hal ini belum sempat wardah sampaikan. Pernikahan kita begitu mendadak dan wardah pun menelponnya dengan mendadak. Dia tidak terima saat itu mas saya tidak tahu harus bagaimana," jawabya dengan panjang lebar. Izdi hanya mendengarkan dengan seksama.


" Lalu kenapa wardah menerima mas saat itu? Sedangkan wardah memiliki hubungan dengan orang lain," tanya izdi ingin memahami yang sebenarnya ada di hati istrinya.


" Karena wardah sayang pada papa dan mama. Sudah lama wardah tak membantu mereka. Hari itu adalah pertama kalinya beliau meminta tolong wardah ingin berbakti mas," jawabnya membuat izdi mengernuitkan dahinya.

__ADS_1


" Tidakkah wardah masih mencintai mas?" tanya suaminya. Wardah mengangguk menandakan bahwa dia masih saja menyimpan perasaan itu.


" Tentu saja mas. Namamu masih prioritas di hati ini mas meskipun ada lembaran dokter rangga," jawab wardah jujur. Izdi mengembangkan senyumannya. Wardah pun ikut tersenyum. Izdi menggapai wardah dan memeluknya.


" Sayang .. Jodoh memang Allah yang atur kita hanya berupaya memilih yang terbaik untuk pendamping hidup. Tetaplah menjadi pendamping yang baik untukku. Mungkin saja ketika rangga tahu siapa dirimu dia akan sedikit membenci mas," ucap izdi mengenang masa lampau. Saat rangga menaruh hati pada fatimah namun izdilah yang di pilih fatimah untuk menjadi kekasihnya. Rangga yang masih muda saat itu mencobq mengalah dengan ego dan perasaannya. Demi sahabat dekatnya dan orang yang dicintainya dia rela meninggalkan indonesia untuk melupakan hal itu. Tapi saat ini orang kedua yang kembali mengisi hari rangga adalah istri yang paling izdi cintai saat ini. Izdi hanya berharap kali ini rangga memahami keadaannya.


" Maafkan wardah mas. Semua ini di luar kendali wardah," jawab wardah sambil memeluk suaminya. Izei hanya mencium puncak kepala istrinya. Supaya wanitanya tenang untuk menghadapi hal baru ini.


" Maafkan aku Ngga ... Andai aku tahu kamu pernah mencintai wardah aku pasti tidak akan menikahinya meskipun aku mau," batin izdi menyesal.


Malam ini pun penuh dengan dramatisasi cinta antara izdi-fatimah-rangga-wardah.


Di tempat lain ...


" Aku seperti merasa bahwa istri izdi adalah khumairah-ku. Dimanakah dia saat ini aku sangat merindukan gadis itu. Benarkah dia menikah dengan seseorang ataukah hanya membual karena tidak ingin aku datangi. Aku merindukanmu khumairah. Sayang sekali aku tidak pernah menjumpaimu sebelumnya. Tapi aku hafal dengan mode suaramu. Apakah kamu istri izdi ataukah bukan?" monolog rangga di jalanan. Dia pulang dengan perasaab yang ambigu di pikirannya ada fatimah yang harus di sembuhkan di sisi lain hatinya memikirkan khumairah gadis medsos yang mengambil separuh hatinya.


.


.


.


Jangan lupa like, subscribe, komen ya dear. Mkasih dukungannya. Love you all.

__ADS_1


__ADS_2