Cinta Dalam Sujudku

Cinta Dalam Sujudku
Kebahagiaan Wardah


__ADS_3

Sepulang kuliah wardah langsung menghambur pada putra semata wayangnya. Semua orang sudah berada di ruang keluarga. Wardah tersenyum saat Adzkan sudah bisa tertawa kecil.


" Hai sayangnya bunda main apa sih ya sama utiii?" tanya wardah seperti anak kecil. Putranya itu terlihat bahagia saat melihat wardah.


Ketika wardah sedang asik menggendong putranya. Mama dan ayahnya menanyakan kuliah hari ini. Namun wardah tak menyebutkan nama izdi sama sekali. Dia tidak ingin merusak moodnya atau pun mood kedua orang tuanya.


" Kuliahnya lancar sayang?" tanya sang mama.


" Lancar ma ... Tapi wardah merindukan wajah gemesnya ini loh," jawab wardah sambil menggoyang-goyangkan putranya. Sang mama mendekati putrinya itu.


" Makanlah dulu setelah ini ajaklah adzkan bersamamu," ucap sang mama. Wardah mengangguk dan mengatakan sesuatu dari meja makan.


" Kakak hari ini tidak pulangkah ma?" tanya wardah.


" Ada shif malam sayang! Tadi diantarkan Azzam kebetulan dia sedang ada di jakarta," jawab sang mama. Wardah tersenyum bahagia.


" kenapa tidak suruh melamar saja mas azzam ma? Dia baik kok sepertinya suka dengan kakak," ucap wardah sambil menikmati makanannya. Sang ayah menimpali ucapan putrinya.


" Cobalah rayu kakakmu jika sempat. Dia begitu tidak minat untuk menjalin hubungan. Papa sudah sedikit memaksa tapi dia takut nak," jawab sang ayah. Wardah mengangguk mungkin kejadian dengan izdi membuat kakaknya kembali di landa takut untuk membangun komitmen baru dengan siapa saja.


" Oke pa .. Semoga wardah berkesempatan mengobrol ke arah sana," jawabnya. Seusai makan malam wardah menggendong putranya.


" Sini-sini sayang ... Uttiii capek. Adzkan sama bunda dulu ya sayang. Selamat malam uutiii," ucao wardah dengan manja manis group. Uti dan opah senyum manis.


" Selamat malam adzkan sayang jangan rewel ya sayang," jawab mama dan papa wardah.


Malam ini mungkin sedikit berbeda bagi wardah setelah bertemu dengan suaminya. Dia bukan tak ingin kembali tapi kehadirannya tak pernah di harapkan oleh keluarga izdi semenjak ada maria. Wardah pun memutuskan hubungannya dengan bu nyai dan kyai-nya. Entah sampai kapan berlangsung. Karena dia juga tak bisa menduga apapun yang akan terjadi. Saat ini dia sedang kembali menikmati masa mudanya dan menikmati menjadi orang tua tunggal bagi putranya.


Adzkan begitu penurut. Ada kakak fatimah yang selalu mendampinginya. Bahkan menyayangi putranya seperti putranya sendiri. Saat wardah menikmati ketampanan putranya itu handphone-nya berbunyi. Nama kakak tercintanya terpampang di gawai.


" Ya kak ada apa?" tanya wardah


" Sedang keponakanku tersayang?" tanya balik fatimah padanya. Wardah memgarahkan ponselnya ke arah adzkan yang sedang menikmati permainan di tangannya.

__ADS_1


" Hai, sayangnya bibi sedang apa sih? Uhhhhh ... Emesnya si ganteng. Bibi malam ini gak pulang cayangkuuuu ... Miss you sayangnya bibi. Emmmmuuuaahhhhhh," ucap fatimah panjang lebar pada adzkan yang hanya bisa tersenyum dan mengoceh patah-patah.


" Dek? Gimana kuliahnya hari ini?" tanya fatimah dengan seksama.


" Baik kak. Kakak sendiri gimana shift malamnya?" tanya wardah pada kakaknya. Fatimah mengedarkan pandangan handphone-nya ek sembarang arah.


" Alhamdulillah aman dek," jawab fatimah. Wardah manggut-manggut.


" Oh ya dek kakak ke kantin dulu mau ngopi biar gak ngantuk. Istirahatlah bukankah besok kuliah," fatimah mengatakan hal seharusnya ibu mereka katakan. Wardah mengangguk dan mematikan handphone.


Malam ini sangat menyenangkan bagi wardah. Dia bisa menikmati kehidupan beserta karunianya. Adzkan adalah prioritas dan pendidikannya adalah ilmu baginya penting untuk masa depan.


Keadaan di rumah sakit ...


" Mau beli apa nona?" tanya seseorang di sana pada fatimah yang sedang memesan coffe latte. Fatimah pun menoleh dan...


" kenapa bisa di sini?" tanya fatimah pada pemuda itu. Pemuda itu berdiri dan mendekati fatimah.


" Ini tempat umum. Apa aku tidak boleh berada di sini?" tanyanya menginterogasi fatimah. Fatimah hanya mengedikkan bahu.


" Bagaimana masihkah ada kesempatan bagiku fatimah?" tanya pemuda itu dengan nada yang serius.


" Aku benar-benar sedang tidak ingin mengomentari hal itu. Jika mas terburu-buru bisa mencari yang lain," jawab fatimah. Azzam pun tersenyum.


" Aku akan menunggumu. Tapi jangan berlama-lama kasihanilah hatiku ini," ucap azzam memelas. Fatimah jadi terkekeh melihat tingkah azzam yang menirukan anak kecil yang kehilangan mainannya.


" Bisa saja kamu ini mas," jawab fatimah dengan menampilkan deretan gigi putihnya.


Dari belakang teman fatimah menyapanya.


" Dokter boleh saya gabung?" tanya leona.


" Silahkan dok! Ada apa dokter leona?" tanya fatimah dengan menghadap pada ke arah leona. Namun leona jadi tersenyum sendiri.

__ADS_1


" Tidakkah kamu mau mengenalkan dia terlebih dahulu?" tanya leona menatap azzam. Fatimah jadi menggeleng.


" Dia mas azzam ... Kenalkan mas dia dokter leona. Cih ... Kau ini dokter seperti mahasiswi yang sedang ospek saja," ucap fatimah meledek. Leona jadi tertawa pecah di hadapan mereka berdua. Azzam hanya menggeleng dan fatimah menikmati coffe-nya yang sudah datang.


" Fatimah hubungi aku jika senggang. Aku pergi dulu ya. Assalamualaikum," pamit azzam pada fatimah. Gadis itu mengangguk sambil tersenyum.


" Waalaikumsalam," jawab fatimah.


Leona dan fatimah berbincang-bincang dengan santai. Sebwlum mereka memutuskan kembali ke ruang jaga. Kebetulan hari ini mereka jaga di UGD. Ketika menyusuri koridor rumah sakit.


" Dia kekasihmu fatimah," ucap dokter leona.


" Entahlah le kami sedang dekat saja. Dia berharap bisa menikahiku tapi aku kadang dia sedang bercanda saja. Kami beda haluan le ... Dia seorang pengusaha sedangkan aku dokter bisa ndak dia memaklumi tugasku ini," jawab fatimah panjang lebar. Leona hanya manggut-mangut.


" Itu bisa di atur asalkan kaliannya saling cinta nona. Tidakkah kamu ingin menyusul aku yang romantis-romatisan tiap malam. Asik tahu ad temennya," guyon leona sedikit mengkode sahabatnya itu. Fatimah menggeleng pasti leona memanas-manasi dirinya.


" Halah ... Paling cuma itu doang buk. Selebihnya sering adu mulut," jawab fatimah sedikit meledek sahabatnya.


" Haiiissssshhhh tau aja kamu ini fatimah. Tapi aseeeliiii loh sayang menyenangkan. Gak pengen emangnya?" tanya leona memastikan. Bola mata fatimah memutar malas.


" Jangan membuatku begidik ngeri. Udah ah ayokkkkkk kita jaga lagi. Hempaskan piktormu itu sayyang," ucap fatimah sambil terkekeh. Leona jadi mengejar fatimah yang berlari.


" Dokter hambar lohh! Asemm memang kamu ya .... " teriak leona mumpung area ini sepi pengunjung.


" Terserah loh deh," jawab fatimah dengan entengnya. Leona kemudian memeluk temannya itu.


" Berpositiflah dengan pemuda itu. Dia begitu tulus, tadi ku lihat dia memang sengaja datang kemari. Jika tidak demi kamu kupastikan ogah laki-laki itu kemari," ucap leona membuat fatimah heran. Sedari tadi dirinya memang tidak begitu memperhatikan kenapa azzam bisa berada di rumah sakit.


Benarkah azzam menyukaiku? Apakah itu hanya prediksi leona saja. Halah entahlah biarkan seperti ini dulu. Batin fatimah.


.


.

__ADS_1


Selamat malam. Maaf baru up ya jangan lupa like gift vote yaaaa makasihhhhh. Lope youuuuu.


__ADS_2