Cinta Dalam Sujudku

Cinta Dalam Sujudku
Malam yang indah


__ADS_3

Rintik hujan menyapu kediaman Izdi. Suasana ba'da mahgrib sangat menawan. Malam ini Izdi kembali mendengar lantunan ayat suci Al quran yang wardah bacakan. Suranya begitu indah. Gadis belia itu sangat rupawan dan berkarakter. Setelah beberapa hari sakit, dia dalam masa pemulihan. Dia belum bisa bisa melantunkan suara indahnya. Namun malam ini sangat berbeda. Aura nyonya izdi sudah nampak dalam diri Wardah.


Wardah yang berdiri di dekat jendela menngunakan baju tidur ala-ala dia yang sederhana sekali. Bahkan sebenarnya dia bisa meminta lebih untuk membeli barang-barang mewah tapi itu tidak dia lakukan. Dia selalu tampil sederhana namun tetap bersahaja.


" Sayang ... Sedang memikirkan apa?" tanya mas izdi sambil memelukku dari belakang. Dia rupanya sedang menikmati aroma parfumku.


" Tidak banyak mas, bukankah aneh kita tidak berkomunikasi. Hanya 2 kali kita berkomunikasi tapi malah langsung jadi halal. Apa mas iz tidak menyesal tidak melakukan ta'aruf dengan wardah?" tanya wardah sedikit panjang. Izdi membalas jawaban itu setelah mencium pipi istrinya.


" Sayang, jika mas Azzam saja mencintaimu dalam diam maka aku bisa membuatmu mencintaiku dalam doa. Bukankah pernikahan ini hasil dari doa sekaligus takdir ya?" tanya izdi tersenyum meledek.


" Mas mulai lagi kan. Mas Azzam itu tidak pernah mampir di hati Wardah meskipun beliaunya baik. Tapi entah sihir apa yang membuat wardah kecil mencintai mas," jawab wardah dengan sedikit kesal. Azzam jadi menikmati pelukan wardah yang sedang kesal.


" Ganteng padahal ya?" goda izdi.


" memang," jawab wardah yang membuat izdi melotot saat mendengar jawaban itu. Kali ini wardah yang bergembira atas sikap izdi yang seperti itu.


" Wardah ... Bisa-bisanya ya memuji ketampanan pemuda lain," ucap izdi tidak terima sebagai bentuk protes.


" Kan situ yang mulai mas. Salah lagi kan wardah," jawab wardah sambil trsenyum geli saat melihat ekspresi suaminya itu.


" Ya ampun wardah, ngeselin banget ya kamu. Awas aja bentar lagi!" serunya mulai mengejar wardah yang terlepas dari pelukannya. Mereka berlatian di kamar seperti anak kecil.


"Ahhhhhhh ... !" pekik fatimah saat tersadar izdi telah mengunci tubuhnya. Saat ini konsepnya Izdi sedang enak menikmati semuany dari atas. Wardah mulai memicingkan mata.


"Sayang sekali lagi yuk, supaya tidak lupa caranya. Mau ya sayang?" tanya izdi memelas. Wardah menganggukkan kepalanya bertanda bahwa dia menyetjui permintaan izdi.


Malam indah di cappadocia pun akhirnya terulang kembali di kediamannya. Izdi menikmati malam ini dengan bahagia. Berbeda dengan hari pertama yang terjadi setelah di hantam sebuah permasalahan. Tetapi kali ini terjadi karena izdi telah terpesona dan mencintai istrinya.


Bucin. Yes itulah kata yang tepat untuk mereka berdua saat ini.


Bucin tingkat dewa.


Bucin Berat.

__ADS_1


Bucin kelewat batas.


Bintang, Rembulan malam, cahaya remang menjadi saksi pemersatu cinta mereka.


Di pesantren ...


" Ning mohon maaf saya diberikan kesempatan untuk berbicara dengan antum secara langsung sama aba dan umi. Keberatankah?" tanya Azzam pelan.


" Mau membahas apa ust. Azzam?" tanyanya dengan nada datar muka flat.


" Bagaimana ning, adakah pada diri saya yang ning tidak suka? Supaya kita lebih saking memahami," ucap azzam.


" Harus ya?" tanyanya drngsn nada yg sama.


" iya neng penting supaya tidak salah paham," jawabnya.


Zizah masih belum ingin meneruskan pembicaraannya. Dia masih menatap kearah kolam ikan di belakang ndalem. Azzam hanya dengan sabar menunggu orang yang akan dinikahinya itu berbicara.


" Siapa perempuan kemarin?" tanya Zizah pada Azzam.


" Yang bersamamu saat di taman rumah sakit?" tanya Zizah penuh dengan penekanan. Azzam kembali tersenyum.


" Dia mantan calon kakak iparmu nona manis," jawabnya ngasal alias sedikit tidak sopan.


" Terus ngapain pak ustadz berjongkok di hadapannya segala, bak pasangan kekasih. Apa mau dilanjutkan kisah kakakku sama kamu ustadz?" tanya Zizah dengan kesal.


" Nona manis mana mungkin aku mendekati dia, aku hanya iba melihat keadaannya setidaknya dulu dia adalah temanku saat bersekolah. Hanya sebatas itu, anaknya manja riang namun saat melihay kondisinya kemarin aku tidak sampai hati. Meskipun aku sadar dialah yang bersalah begitupun dengan orang tuanya tambah salah. Sudah ya jelas ya nona?" jawab Azzam dengan telaten pada manusia cantik di hadapannya ini.


" Baiklah," jawabnnya singkat. Azzam menggelengkan kepala dengan jawaban makhluk cantik di depannya ini. bagaimana bisa di cuek banget.


" Ning, kenapa diam lagi?" tanya Azzam menyelidik.


" Lah, mau ngapain lagi? Aku udah ust. Nanya itu dong lainnya ogah alias malas nanya," jawabnya ala-ala anak muda zaman now.

__ADS_1


" Benar ya tak tinggal loh, kalau sudah ndak ada yang ditanyakan," jawab Azzam memberikan sebuah stimulus supaya mendapatkan respon baik dari nona manis.


" ada sebenarnya," jawabnya lagi.


" Apa?" Azzampun membalasnya dengan singkat.


" Bantu aku mengerjakan tesis tadz!" serunya tanpa mau ada kerugian sedikit atas kedatanganku terhadapnya. Makhluk satu ini memang cinta pada pendidikan. Membuatku tak bisa berkutik.


" Harus sekarang ya? Butuh waktu itu nona manis," jawabnya sekena mungkin.


" Maka jika seperti itu datanglah setiap hari supaya tesisku segera selesai tadz," jawabnya tanpa ada malu. Benar-benar tidak ingin mengalami kerugian fatal nona ini.


"Baiklah, ambillah laptopnya!" seru Azzam dengan sedikit kesal. Zizah pun bergegas menuju kamarnya untuk mengambil keperluan tesis. Azzam menantinya di joglo di samping kolam. Meskipun malam namun halaman ini tertata seperti di kafe.


Selang beberapa saat ...


" Ini tadz!" seru Zizah. Azzampun mulai memakai kacamatanya. Zizah yang notabene-nya suka seseorang yang pintar. Dia mulai sedikit terpesona pada laki2 di depannya ini.


" Kemarilah! Coba amati pengerjaanmu yang ini," ucap Azzam pada Zizah. Akhirnya merekapun berlanjut saling bertukar pendapat tentang sebuah tesis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kamar Izdi ...


" Mulai malam ini berjanjilah lebih terbuka padaku ya sayang? Jangan merasa sendiri lagi. Aku khawatir jika saat ini ada janin yang tumbuh di rahimmu. Tapi semua itu masih praduga," ucap izdi membuat gadis di sampingnya tersenyum.


" Benarkah mas?" tanyanya dengan berbinar. Izdi malah menggelengkan kepala dengan sikap antusias istrinya.


" Belum tahu. Lah kenapa bahagia sekali sayang, mas baru saja ingin membuatmu bersekolah kembali. Bukankah duduk di bangku kuliah adalah salah satu keingananmu ya sayang?" tanya izdi menilisik istrinya supaya tidak kembali menutupi keinginannya. Namun alhasil dia mengangguk. Izdipun tersenyum.


" Tapi mas kalau sama sudah dititipi wardah mau kok, ndak harus kuliah juga. Itu kan hanya sebuah keinginan lagian ada yang lebih penting lagi bukan," ucapnya meyakinkan izdi.


" Apapun itu asalkan membuat sayangku ini bahagia dan membuatmu rileks. Lakukanlah namun tetap harus di jaga!" seru izdi pada istrinya.

__ADS_1


" Baiklah mas, makasih ya ..." jawab wardah dengan tersenyum.


" Tidurlah sudah malam!" seru izdi lagi. Wardah mengangguk lalu memeluk izdi. Dengan senang hati izdipun menyambut pelukan hangat istrinya.


__ADS_2