
Izdi yang menangis di bawah kaki uminya kemudian diikuti zizah yang memeluk umi. Kali ini jiwa ibu dalam diri umi benar-benar ingij menangis bersama mereka. saat ini umi merasa bahagia saat zizah datang bersama izdi dan istrinya. Umi bahagia saat melihat putra - putrinya kembali akur.
" Nak ... Umi bahagia kalian datang," ucap umi dengan nada yang paling false. Karena dalam kondisi sakit. Izdi beserta zizah memeluk uminya yang kini terbaring lemah.
" Maafkan kami umi," lirih mereka berdua. Umi tersenyum. Aba juga ikut bahagia melihat mereka kembali rukun.
" Zayyan kemarilah nak!" panggil umi.
" Iya ... Umi," jawabnya yang kemudian mendekat. Umi menanti kehadiran zayyan dari beberapa waktu lalu.
" Jadi bagaimana nak?" tanya umi. Mungkin bagi yang lain pertanyaan itu klise. Tapi tidak untuk zayyan dia tersenyum.
" Saya sudah siap. Monggo umi pihak pesantren bisa mengatur," jawaban zayyan pun ambigu. Semua salinf melirik satu sama lain. Umi mengangguk dan menatap ke arah aba sambil memberikan kode. Aba pun nampak paham dengan kode yang diberikan umi padanya.
" Nak ... Mumpung kalian semua berkumpul. Aba dan umi ingin menyampaikan bahwa pernikahan zizah tidak akan kami undur lagi. Jadi, aba dan umi sebagai orang tua sesuai dengan rencana dulu zayyan akan kami nikahkan besok pada jamaah sholat maghrib," ucap aba yang membuat zizah melongo. Zayyan nampak tersenyum mengangguk sedang azzam paham dia memesan gaun pengantin untuk siapa dan kapan digunakan. Izdi nampak tersenyum karena lebih cepat lebih baik.
Zayyan begitu sangat cerdas. Dia bahkan tidak akan meloloskan kesempatan ini. AzAm hanya tersenyum saat kakaknya pandai dalam hal memikat seperti ini. Abi dan istrinya juga ikut mendengarkan. Wardah yang nampak melirik istri abi. Dia sudah tersenyum dan menggandeng tangan suaminya.
Alhamdulillah rupanya kakak sudah terlihat baik-baik saja. Wardah tersenyum pada kakak iparnya. Dia pun membalas senyuman wardah.
" Baiklah ... Anak-anak sekarang kalian beristirahatlah atau bercengkeramah biar umi istirahat dulu ya," ucap aba.
Mereka semua keluar dari ruangan. Umi nampak menangis saat mereka sudah keluar semua. Aba langsung mendekat.
" Ada apa umi?" tanya aba sambil mengusap kepala istrinya itu.
" Aba ... Bisakah umi melihat cucu dari mereka? Umi merasa kurang sehat untuk mendampingi mereka," tutur umi sambil menangis.
" Umi ... Umur kita sudah ada yang mengatur. Semua kehidupan yang ada di dunia ini Allah yang atur. Umi harus ikhlas apapun yang di gariskan oleh-NYA. Tapi tetap saja kita harus berikhtiar," jawab aba sambio menitikkan air matanya. Mungkin saat ini umi sudah lelah karena usia dan lain-lain.
" Aba ... Jika umi tak bisa melihat mereka lebih lama. Umi mohon tetaplah jaga keharmonisan keluarga kita," umi menangis dalam pelukan suaminya.
" Bersabarlah istriku ... Semuanya akan baik-baik saja. Harusnya saat ini sakitmu berkurang ketika melihat putra putrimu sudah berdamai," jawab aba supaya umi tidak bersedih.
__ADS_1
Di ruang keluarga nampak para mantu dan putra aba bercengkeramah dengan sangat akrab. Para istri juga ikut mengobrol. Empat pasang itu membuat kediaman aba ramai jauh dari kata sepi seperti sebelumnya.
" Mas abi ... Gimana udah di hamili belum?" goda izdi yang mulai agak vulgar. Ia ingin kakaknya itu tidak terlalu serius.
" kenapa memangnya?" tanya abi sambil menatap adiknya.
" Biar jagoanku ada temennya lah mas," jawabnya enteng.
" Tunggulah 6 bulan lagi," jawab abi yang flat tapi membuat izdi kegirangan.
" Jadi, mbak hamil mas sekarang?" tanya izdi yang nampak sangat bahagia.
" Iya iz," jawabnya dengan tersenyum.
" Alhamdulillah ... La haula wala quwata illah billah. Rezeki Allah itu luar biasa ya mas. Semoga di jadikan putra putri yang sholih sholihah," doa izdi untuk sang kakak. " kamu kapan mas azzam?" tanya izdi dengan candaan lagi.
" Masih proses," jawabnya acuh tak acuh.
" Kapan selesainya itu proses mas? Udah deh jangan di tunda. Istri udah cantik masak di anggurin sih mas?" tanya izdi dengan celetukan yang menggelikan.
" Ya Allah mas ... Memangnya dokter fatimah marah kalau bahas ini," izdi benar-benar membuat azzam menepuk jidatnya.
" Kamu ini diamlah iz! kak bule jangan di dengerin ya kan kakak belum nikah," ucap azzam pada zayyan yang jadi melotot.
" Weh.... Ini gimana ceritanya kenapa sampai padaku," protes zayyan pada mereka semua. Mereka bertiga jadi tertawa bersama.
...****************...
" Umi dengarkan? Mereka sedang bersenda gurau. Jadi jauhkan pikiran aneh-aneh itu pada diri umi. Bertekadlah sehat demi mereka yang berusaha untuk menyelesaikan masalah ini. Aba yakin umi kuat," ucap aba menyemangati istrinya.
" Aamiin ... Semoga ba. Umi sangat bahagia mereka bisa seperti ini," jawab umi lirih.
" Maka sehatlah umi. Kita akan menjaga mereka bersama-sama," ucap aba yang diikuti anggukan oleh umi.
__ADS_1
Di masjid Pesantren ...
" Ma ... Adzkan main sama kakak-kakak ya?" tanya putranya itu.
" Iya sayang ... Mainlah," jawab wardah. Akhirnya adzkan pun pergi bersama mereka semua.
Sekaramg di teras masjid tinggal wardah dan fatimah. Mereka ingin bernostalgia di pesantren ini.
" Tidak menyangka ya kak. Kita akan di jadikan saru dalam keadaan sekarang. Jika ingat dulu mas izdi adalah kekasih kakak. Bahkan kalian akan segera menikah malah wardah yang menikah. Sedangkan mas azzam yang dulu berusaha untuk mendapatkan wardah ternyata berjodoh dengan kakak. Ternyata kakak adalah cinta pertamanya," kenang wardah pada fatimah.
" Dek ... Maafkan kakak ya jika dulu mendholimimu. Kakak saat itu hanya berfikir jika kamu sudah merebut semuanya dari kakak. Bahkan sejatinya kamu tak merebut apa-apa tapi kakaklah yang justru menyakitimu. Menjerumuskan dalam ikatan pernikahan," jawab fatimah dengan sedih. Wardah tersenyum saat melihat kakaknya dan segera memeluknya.
" Tapi kakak tahu? Pengorbananku kala itu membuatku saat ini bisa memeluk kakak seperti ini dan mendapatka si tampan adzkan. Kebahagiaan ini datang karena kakak," ucap wardah dengan antusias. Fatimah membalas pelukan adiknya.
" Berbahagialah selalu dek. Mbak ndak bisa ngasih apa-apa ke kamu," ucap fatimah lagi. Namun lagi-lagi wardah bangga memiliki kakak sepertinya.
" Tidak kak ... Kamu bahkan seperti ibu keduaku. Karena kakak wardah jadi bisa melanjutkan sekolah. Karena kakak wardah lebih bisa menghargai waktu dan banyak hal lagi tentang kebaikan kakak yang tak bisa wardah sebutkan. Saat ini wardah hanya bahagia ketika bisa seperti ini," jawab wardah.
" Tentu bahagialah selalu dek. Oh ya jangan lupa doakan kakak supaya segera hamil," jawab fatimah dengan senyuman manisnya.
" Aamiin ... Sekoga hamilnya bareng-bareng ya kak kali ini," jawab wardah.
" Aaminn ya robbal alamin," jawabnya.
Dari kejauahan ...
" Adem gak tuh ams lihat mereka bahagia gitu?" tanya izdi dengan melo.
" Senanglah iz. Mereka dulu seakan -akan tak bisa di satukan tapi sekarang alhamdulillah. Semuanya lebih indah daripada sebelumnya," jawab azzam sambil memandang ke arah mereka.
" Kamu benar mas," jawab izdi singkat.
.
__ADS_1
.
Wihhhh ku kasih 1 up lagi ya menjelang masak buat buka puasa heheh. Salam sehat untuk kalian semua yang sudah meluangkan waktu membaca karya author. Love you more.