Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Kisah Perjalanan Cinta Shaka Dan Nadia


__ADS_3

Sembilan bulan pun berlalu Nadia kembali melahirkan putri kecilnya yang Shaka beri nama Nadira Iklima Azzahra. Si kembar Sakar yang baru menginjak usia dua tahun berlarian dengan tawa bahagianya bersama oma dan opanya di rumah.


“Sakar hari ini adik kecil kalian akan pulang ke rumah. Jadi Shakti dan kakak Akhar harus sayang sama adik.“ tutur Oma maya pada kedua cucu tampannya yang lucu.


“Ndak Au, Ma.“ Kata Shakti sambil mengutak-atik mainannya. Oma mengernyitkan dahinya mendengar jawaban lucu Shakti.


“Oma! Opa akan kerumah sakit mana tahu Shaka membutuhkan bantu opa. Sakar, Sayang di rumah sama oma nggak boleh nakal ok!“


“Ote opa!“ jawab mereka dengan suara khasnya yang cadel. Oma tersenyum melihat cucu-cucunya yang tumbuh sehat dan pintar.


“Shakti! Akhar! Ayo kita makan. Makanan sudah siap!“ seru Titin membawa dua piring makanan kesukaan Shakti dan Akhar. Nasi putih dengan sup ikan kakap merah dengan sawi asin.


“Holeee!“ seru mereka bersorak melempar mainnya sembarangan menghampiri Titin membawa piring makanannya.


Oma menyuapi Akhar di dekat kolam ikan yang berada di taman belakang. Sedang Titin menyuapi Shakti yang sibuk dengan mainan di tangannya.


“Titin! Shakti sudah makan?“ tanya oma meletakkan piring kosong di atas meja dapur.


“Sudah oma.“ jawab Titin.


“Kamu mandi' in Shakti dulu, baru nanti Akhar ya! Saya tunggu di kamar.“


“Baik oma.“


Shakti dan Akhar pun sudah bersih dan wangi yang dimandikan Titin secara bergantian. Setelah bersih mereka berada di kamar oma untuk tidur siang setelah minum susu dan lelah bermain.


Di rumah sakit opa Firman mengurus administrasi rumah sakit. Sedang Shaka mengemasi barang yang di bantu bibi untuk di bawa pulang.


Nadia duduk di kursi roda yang di dorong Shaka menuju area parkir, dan masuk kedalam mobil yang dibantu suster dan Shaka.


“Mba Nadia duduk di depan saja. Biar non Nadira di belakang sama bibi.“ angguk Nadia masuk kedalam. Shaka memutari bodi mobil setelah menutup pintu untuk istrinya.


“Terima kasih, Bi.“ ucap Shaka seraya menyalakan mesin kemudi.


...***...


Di rumah besar keluarga Bimantara semua telah berkumpul, baik Hana dan seluruh anak dan menantunya. Tantri juga datang bersama suami dan putri kecilnya yang baru berusia tiga bulan. Tidak lama kemudian mobil Shaka dan opa Firman memasuki halaman rumah. Titin dan pak Lukman membantu mengeluarkan tas dan yang lainnya dari dalam bagasi mobil tuan mudanya.


“Selamat datang princessnya pak dokter. Ihh cantik banget Non Nadira mirip den Shaka dan mba Nadia!“ seru Titin menggoda bayi mungil yang berada dalam gendongan bibi.

__ADS_1


“Terima kasih mba Titin.“ balas Nadia tersenyum pada asisten rumahnya.


“Halo ka Nadira sayang! Selamat datang baby girl.“ ucap Aldo dan Tantri sambil menggendong putri cantiknya Alfiyana degass.


“Hai Fiya cantik, udah gde aja kamu!“ goda Nadia menoel pipi chubby putri Tantri.


Mereka semua berkumpul di ruang tengah, dengan canda tawa. Mereka bertukar pengalaman dan cerita tentang si kecil sebagai ibu muda.


Sedangkan para kaum pria lebih suka ngobrol di saung. Yang berada di taman belakang di dekat kolam ikan tempat si kembar bermain. Mereka suka sekali makan sambil melihat ikan kesayangannya bersama oma juga opa Firman.


“Nadia! Jika kau hamil lagi apa kau bersedia memberikan anakmu padaku?“ ucap Andrea tiba-tiba. Membuat semua yang berada di sana, menoleh kearah dokter cantik itu yang kedua matanya mulai mengembun. Suasana yang semula ramai candaan hening seketika setelah mendengar ucapan Andrea yang terdengar pilu.


Nadia menatap kearah Andrea menarik sudut bibirnya tersenyum kaku. “Andrea, mungkin saat ini Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang lebih indah untukmu. Hanya saja ia ingin kau lebih bersabar lagi sampai batas kesabaran yang telah Tuhan tentukan. Dan yang perlu kau lakukan saat ini adalah menunggu Andrea.“ tutur Nadia bijak. Dengan mimik wajahnya yang terlihat canggung, antara rasa iba dan tidak tega melihat wajah sedih pada wanita yang dulu pernah singgah di hati suaminya.


“Mendengar semua ucapanmu benar-benar membuat hatiku teduh, Nadia. Kau tidak hanya baik dan cantik, bahkan kau terlihat begitu sempurna dengan segala yang kau miliki. Tapi aku merasa Tuhan telah mengutuk diriku menjadi wanita yang tidak sempurna.“ ucap Andrea menangis.


“Andrea!“ panggil Nadia tidak menyangka akan ucapan Andrea.


“Sayang!“ Ibra terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut istrinya. Andrea mendongak menatap wajah suaminya dengan pipinya yang basah berurai air mata.


“Andrea, Tuhan tidak akan pernah mengutuk hambanya. Meski orang itu adalah seorang penjahat sekalipun, jadi jangan berkecil hati masih ada banyak cara untukmu bisa memiliki anak Andrea.“ ucap Nadia meyakinkan untuk tidak putus dan terus berusaha.


“Benar Andrea. Apa yang Nadia katakan memang benar. Masih ada banyak cara untukmu bisa memiliki anak, kau bisa mengikuti program bayi tabung, insenminasi mungkin atau adopsi bayi?“ ujar oma Maya yang diangguki Hana dan yang lainnya.


“Aunti........! Uncle....!“ panggil Akhar dan Shakti dengan suara cadelnya memeluk kaki Andrea dan Ibra bergantian.


“Hai sayang Sakar!“ seru Ibra dan Andrea menggendongnya.


“Hari ini uncle sama auntie tidak bawa hadiah buat Sakar, tapi buat adik kecil Nadira. Jadi Sakar nggak boleh ngambek ya!“ seru Ibra menggoda dan mencapit ujung hidung si kembar.


Mendengar ucapan uncle nya si kembar Sakar yang pintar dan cerdik berontak dari gendongan Andrea dan Ibra.


“Tulun! Aku mau tulun, uncle!“ Semua pun tertawa melihat tingkah lucu si kembar.


“Sakar ko ngambek, Sayang!“ panggil ayahnya yang juga tertawa melihat kelucuan kedua putranya. Shakti dan Akhar kembali mendekati Andrea dan Ibra setelah mendapatkan mobil remot dan robotnya.


“Dasar si kembar akalnya bisa licik juga!“ selorog Hanan tertawa melihat kedua putra kakak sepupunya.


Selama satu minggu Aldo dan Tantri berada di rumah keluarga besar Bimantara. Begitu juga dengan Hana dan keluarga besarnya, mereka semua kembali pulang kerumah mereka setelah acara syukuran menyambut putri Nadia dan Shaka usai. Kebahagiaan Nadia dan Shaka semakin lengkap dengan hadirnya buah hati kedua mereka yang cantik.

__ADS_1


“Sayang rasa bahagia ini sungguh nyata aku rasakan. Terima kasih telah menjadi pendampingku yang setia, aku ingin melewati semuanya hanya bersamamu sampai waktu yang memisahkan kita. Karena diantara kita Tuhan pasti akan memanggil salah satu diantara kita. Dan aku akan menunggu mu disana di pintu surga.“ tutur Nadia sedih menyandarkan kepalanya di dada suaminya.


“Sayang jangan buatku menangis dan sedih. Hari ini adalah hari kebahagiaan kita sayang, di hari ulang tahun pernikahan kita yang genap tiga tahun ini Tuhan telah memberi hadiah terindahnya untuk kita. Happy anniversary sayang! Semoga kita bisa menjadi orang tua yang bertanggungjawab.“ ucap Shaka mencium kening Nadia dan semakin turun hingga di bibirnya.


“Jangan macam-macam mas! Kamu lupa istrimu baru melahirkan dan belum genap satu bulan!“ ucap Nadia menginterupsi gerakan nakal suaminya.


“Ya mas tahu. Mas cuma mau satu macam aja sayang!“ ucapnya menyusuri dada istrinya dengan bibirnya. Dan tiba-tiba pintu kamar terbuka Shaka terperanjat kaget melihat dua malaikat kecilnya masuk kedalam.


“Ayah....! Ayah kenapa cium-cium bunda?“ tanya Shakti dan Akhar mendekati ayah dan bundanya.


“Sayang! sini, Nak. Anak ayah nakal sekali sudah buat ayah dan bunda kaget.“ tuturnya mengangkat kedua putranya di pangkuannya.


🌺🌺🌺


Waktu pun berlalu seiring berjalannya waktu, Shakti dan Akhar tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan pintar yang banyak digilai kaum Hawa. Shakti dengan kepribadiannya yang sedikit keras dan tegas menuruni dari sifat kakek buyutnya yang menjadi seorang tentara sebagai abdi negara.


Berbeda dengan Akhar kakaknya yang berhati lembut seperti Nadia bundanya. Yang lebih tertarik pada dunia medis sama seperti ayah juga opa Firman menjadi seorang ahli dokter bedah terbaik di Oxford University sekaligus menjadi hafidz Qur'an yang menjadi kecintaannya terhadap ilmu agama. Nadia dan Shaka berasal di makam ayah dan bundanya mendoakan mereka yang telah tenang di alam sana.


“Ayah, Bunda! Jadi kalian ada disini? Kami sampai lelah mencari ayah juga bunda. Nadira hampir saja menangis karena aku bilang ayah dan bunda pergi umroh!“ seloroh Shakti menggoda adik manjanya yang tertunduk sedih memeluk bundanya.


“Ayah, bunda mas Shakti dan mas Akhar selalu saja kompak buat Nadira sedih. Nadira lebih suka jika kakak tidak dirumah sibuk dengan tugas merek masing-masing.“ cicit Nadira dengan suara sedihnya.


“Dasar kakak-kakak yang nakal! Senang sekali melihat adik kalian menangis. Sekarang cepat do'akan oma dan opa!“ perintah Nadia dan Shaka menepuk bahu kekar kedu putranya.


“Baik ayah!“ jawab mereka bersamaan.


“Nadira! Ayo sayang do'akan om dan opa.“ Nadira mengangguk patuh duduk berjongkok diantara kakak kembarnya. dan beralih ke makam kakek Nurdin dan nenek Laila juga kakak Atfa Rahendra Permadi yang merupakan kakak tertuanya. Mereka pun kembali kerumah setelah melakukan ziarah kubur.


Shakti pamit pada kedua orangtuanya untuk kembali tugas menjaga perbatasan perairan di wilayah kepulau Riau. Begitu juga Akhar yang meminta do'a untuk keberhasilannya menjalankan pembedahan pada pasien cangkok jantung.


“Ayah dan bunda memberi do'a terbaik untuk keberhasilan kalian putraku. Semoga kalian selalu dalam lindungannya.“ ucap Shaka dan Nadia mendo'akan.


“Amin!“ ucap semuanya. Sakar mencium punggung tangan kedua orangtuanya sebelum masuk mobil masing-masing.


Nadira pun mencium punggung tangan kakak-kakaknya.


“Hati-hati! Ka Sakar! ucap Nadira tersenyum. Nadia dan Shaka saling tersenyum melempar pandang satu sama lain.


...TAMAT....

__ADS_1


Terima kasih telah menemani perjalanan menulisku. Semoga terhibur maaf jika masih banyak sekali kekurangan dan typo bertebaran.


Terima kasih reader ku 🙏🙏🙏 I Love You All. Mmmuuachhh!!! 😘😘


__ADS_2