Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Cinta Tak Tergantikan


__ADS_3

Acara makan malam bersama pun usai, Firman dan istrinya lebih dulu menyudahi makan malamnya karena harus kembali ke ruang kerja. Masih banyak yang harus diurus mengenai rencana surprise Persiapan acara pernikahan putranya dan menantunya Nadia, meski mereka sudah resmi menjadi pasangan suami istri yang sah secara agama.


Tetap saja sebagai keluarga yang terpandang dan dihormati di kalangan masyarakat, bukan karena profesi yang dimilikinya atau kekuasaan yang melekat ada padanya yang orang sebut dengan pangkat. Semakin tinggi titel orang akan semakin di hormati dan disegani akan tetapi Firman lebih mengarah kepada menjaga nama baik keluarganya dari gosip miring apapun itu.


Sebagai keluarga yang berpendidikan dan tahu banyak tentang hukum, entah itu hukum agama atau hukum negara baginya keduanya sama pentingnya bagi pedoman hidup terlebih menyangkut nama baik putranya yang menjadi seorang dokter yang pasti memiliki kode etik yang harus di taati.


Pernikahan putranya pun harus disaksikan banyak pasang mata dan di akui secara sah dimata hukum negara dan agama.


"Sayang Fafa benar-benar mau bobo sendiri di kamar Fafa?" tanya Nadia pada putranya yang masih asik melahap puding strawberry nya.

__ADS_1


"Iya, bunda Fafa kan mau jadi kakak halus belani!" serunya seraya menyuap sendokkan terakhir pudingnya.


"Ayo, sayang kita cuci tangan dulu gosok gigi bersih-bersih lalu kita bobo," titah Arshaka meraih tubuh subur Fafa menggendongnya menuju kamar.


Sementara Nadia membantu asisten rumahnya membereskan meja makan dan merapihkan kembali peralatan makan dan dapur sebelum beranjak tidur. Meski asisten rumahnya sudah melarang Nadia melakukan pekerjaan dapur tetap saja Nadia ingin melakukan.


"Sudah Non Nadia, biar bibi yang lanjutkan beres- beresnya tinggal sedikit juga. Non temenin den Fafa dan tuan Shaka saja di kamar." Nadia tersenyum menatap wajah wanita yang menampakkan guratan garis keriput di wajahnya.


Nadia naik ke atas menapaki anak tangga menuju kamar untuk bersih-bersih diri dan mengganti pakai sebelum tidur. Membuka pintu kamarnya kosong itu artinya suaminya masih berada di kamar Fafa, Nadia berniat mendatangi kamar putranya setelah ia rapih dengan gaun tidurnya.

__ADS_1


Baru saja Nadia keluar dan menutup pintu kamar mandi dengan pakaian yang sudah suaminya bayangkan sebelumnya. Dan ternyata itu sangat sesuai dengan ekspektasi nya. Nadia keluar dengan lingerie transparan yang menunjukkan tiap lekuk keindahan tubuhnya yang selalu di lindunginya dari tatapan mata binal di luaran sana dengan cara menggunakan pakaian tertutupnya. Setiap kali keluar rumah Arshaka ingin Nadia menutup seluruh tubuhnya dari ujung rambut sampai kaki dengan pakaian syar'inya.


Namun Nadia hanya mengenakan pakaian tertutup tanpa memakai hijab dengan alasan belum siap secara lahir dan batin.


"Mas baru aja aku mau susul ke kamar Fafa. Apa Fafa sudah tidur?" tanya Nadia melirik kearah daun pintu. Namun suaminya sudah lebih dulu menarik tubuhnya kedalam dekapannya tanpa lagi buang-buang waktu lebih lama lagi Arshaka menyambar bibir istrinya, memberi sedikit jeda untuk menjawab pertanyaan Nadia.


"Anak kita sudah tidur sayang. Sesuai permintaan ku bahwa malam ini aku sangat menginginkan mu," ucapnya kembali menarik dagu istrinya guna memperdalam pagutannya. Mereka yang sudah saling tersulut hasrat melakukan penyatuan diri secara sempurna dalam sebuah ikatan yang suci. Semua anggota tubuhnya melakukan apa saja sesuai perannya, terlebih mereka merasa saling memiliki kau milik ku dan aku milik mu.


Suara lenguhan panjang dari keduanya terdengar indah bagai nyanyian malam yang merdu sebagai tanda mereka telah sama-sama mendapatkan apa yang mereka cari. Sebuah nikmat Tuhan yang tidak bisa mereka pungkiri adanya, sebagai bentuk anugrah terindahnya yang tertanam kokoh dalam rahim seorang perempuan dalam bentuk kasih sayang.

__ADS_1


Arshaka menghujani wajah istrinya dengan ciuman sayangnya sebagai tanda terima kasihnya telah menerima haknya sebagai suami. Begitu juga Nadia yang ikhlas melayani suaminya bukan hanya karena sebatas menjalankan kewajibannya sebagai istri, tapi karena mereka sadar sama-sama saling menginginkannya. Karena rasa cinta dan sayang diantara mereka yang semakin lama semakin tumbuh dan subur yang tak akan pernah bisa tergantikan oleh dunia dengan segala kemewahannya.


__ADS_2