
Mobil Permadi memasuki pintu gerbang rumah mama Dita, melihat mobil papanya telah terparkir di depan pintu rolling garasi. Membuat Permadi bertanya pada Sobri tukang kebun sekaligus supir mamanya.
"Pak Sobri, Papa sudah pulang tumben?'' tanya Permadi heran.
"Sudah, den Permadi sejak pukul 3 sore tadi," jawab Sobri sambil memangkas tanaman hias.
Permadi masuk kedalam dengan berpikir,
Tumben banget Papa masih sore sudah di rumah atau ada acara keluarga. Tapi kenapa mama tidak memberi kabar paling nggak mama selalu telpon.
Gumam Permadi bermonolog dalam hati.
"Assalamualaikum. Mama, Papa!''
"Waalaikumsalam," jawab Sapto dan mama Dita dingin dengan wajah datarnya.
Permadi nampak heran tidak biasanya kedua orangtuanya bersikap dingin dan cuek terhadapnya. Permadi menganggap itu sebagai situasi biasa dan mengira ada pertengkaran kecil diantara mama dan papanya. Ia pun melenggang pergi menuju kamarnya yang berniat menghampiri putranya Fafa di kamar yang dijag Rini asisten rumahnya.
"Permadi!'' Tegur Papanya. Mama Dita masih diam dengan wajah datarnya.
"Papa, Ada hal penting yang ingin Papa dan mama sampaikan?" tanya Permadi bingung.
Sapto beranjak dari duduknya melangkah mendekati putranya dan,
Plakkk!
"Papa!" bentak Permadi memegangi pipi kanannya yang panas dan merah akibat tamparan Papanya.
"Kenapa?Ayo lawan Papa mu ini Permadi!''
"Papa?! Apa-apaan sih, Pah?''
"Apa benar kamu kembali menjalin hubungan dengan Kania?" bentak Sapto dengan nada yang tinggi.
Permadi sangat terkejut akhirnya Papanya dan semuanya tahu jika Permadi lah yang telah menyulut api di dalam rumah tangganya sendiri.
"Kenapa diam? Cepat katakan berapa lama kamu berhubungan dengan Kania?" bentak Sapto lagi kali ini dengan nada yang lebih tinggi.
"Maafkan Permadi, Pah, Mah!'' ujarnya menatap papa dan mamanya bergantian.
Mama Dita pun bangkit dari duduknya mengusap sudut matanya yang meleleh. "Jadi benar kamu yang telah menghianati Nadia?" tanya Mama Dita menyanggah.
Permadi menundukkan wajahnya lalu mengangguk pelan, mama Dita terkejut membelalakan kedua matanya tak percaya jika putranya lah yang telah menghianati menantunya Nadia. Menantu pilihannya yang sempat ia sakiti melalui ucapan pedasnya bahkan melarang Nadia bertemu dengan putranya. Segumpal daging bernama hati tiba-tiba terasa pedih dengan getir pahit di ulu hatinya mendengar kenyataan yang sebenarnya.
Plakkkk!
Plakkk!
__ADS_1
Kini giliran mamanya yang menampar pipi putranya kanan dan kiri, semakin terasa panas dan nyeri yang Permadi rasakan. Tapi rasa sakit itu belum seberapa dibandingkan rasa sakit yang Nadia rasakan pada saat itu.
"Ma, Permadi mohon tolong maafkan Permadi. Permadi tahu ini salah tapi__", Permadi menghentikan ucapannya ketika mamanya mulai meringis menahan sakit di dadanya.
"Mah_ Mamah! Mamah kenapa, Mah?'' Permadi menahan tubuh mamanya yang telah ambruk di tangannya menahan beban tubuhnya.
"Mama!" panggil Sapto tak kalah terkejutnya.
"Permadi, ini semua karena ulahmu Papa tidak akan pernah memafkan mu jika terjadi sesuatu," ancam Sapto panik.
"Pah, kita harus bawa mama ke rumah sakit sekarang," Permadi memanggil Sobri menyiapkan mobil.
Sapto dan Permadi membawa mama Dita ke mobil yang di kemudikan oleh Pak Sobri. Permadi meminta Rini untuk menjaga Fafa di rumah, selama dirinya dan Papanya di rumah sakit menjaga mama Dita.
"Mba Rini tolong jaga Fafa baik-baik di rumah, Jangan kemana-kemana dan jangan tinggalkan Fafa sendiri!'' ucap Permadi memperingatkan.
"Baik den," ucap Rini. Permadi segera membawa mamanya ke rumah sakit.
***
"Mba Nadia, hari ini adalah tujuh harinya bapak. Mba jangan sedih lagi kita doa'kan bapak ya mba. Bukannya mba tadi mba sudah bertemu Fafa lalu kenapa mba menangis. Tahlil akan segera di mulai." Angguk Nadia merapihkan kerudungnya seraya mengusap kedua pipinya. Dan berbaur dengan ibu-ibu pengajian yang siap membacakan do'a untuk ahli kubur.
Selama kurang lebih satu jam setengah acara tahlil usai dengan acara jamuan sederhana, guna menghormati para tamu undangan yang turut mendo'akan atas meninggalnya ayah Nadia dan Tantri. Nadia dan Tantri menyalami para tamu dan mengucapkan kata terima kasih di akhir acara sebelum beranjak pulang.
Di rumah kediaman Sapto Cahyo Permadi Fafa tengah menangis hingga kejer tanpa mau diam. Rini pun bingung dibuatnya diberi susu pun tidak mau meminumnya.
Rini ingin menghubungi Permadi tapi ia takut jika majikannya akan marah, karena situasi sedang tidak memungkinkan. Akhirnya Rini memberanikan diri untuk menelpon Nadia dan mengatakan jika omanya Fafa masuk rumah sakit dan Fafa menangis tanpa bisa diam.
Drtttt!!
Ponsel Nadia bergertar di tangannya dengan segera Nadia melihat id caller di layar ponselnya.
"Mba Rini?" lirih Nadia segera menggeser ikon hijau.
~ Hallo mba Rini
Nadia mendengar suara Fafa menangis kejer dan parau.
~ Fafa... Fafa kenapa sayang?
Nadia panik, tanpa pikir panjang nadia segera memutus panggilan telpon dari Rini.
~ Lho, ko dimatiin sih telponnya mba Nadia?
Rini masih sibuk membujuk Fafa yang menangis kencang.
Nadia segera memesan ojek online untuknya menuju rumah mama Dita. Sudah dua kali Nadia memesan ojek berbasis digital namun ordernya selalu di cancel. Nadia mencoba mengetuk pintu kamar adiknya memintanya untuk mengantar dirinya menemui Fafa.
__ADS_1
Tokkkk!
"Tantri apa kau sudah tidur?" tanya Nadia dengan nafasnya yang memburu.
"Mba Nadia!" lirihnya sedikit cemas.
Tantri bangkit dari pembaringan nyamannya dan segera membuka pintu kamar.
"Tantri, tolong antarkan mba ke rumah mama Dita!" pinta Nadia panik.
"Mba Nadia tenang dulu, Ada apa sebenarnya?" tanya Tantri.
"Fafa menangis, Tantri. Sepertinya Fafa sangat membutuhkan Mba," jawabnya khwatir.
"Tapi mba motor kita kan rusak dan belum sempat di service ke bengkel." ucap Tantri mengingatkan.
"AstagfirullahhAalzim, Tantri mba lupa! Ya sudah mb akan cari ojek di dekat gang."
"Tapi mb__ " Nadia sudah lari menuju pintu depan tiba-tiba.
Buggghtt
Nadia menabrak tubuh Arshaka, kepalanya terbentur dada pria yang membuatnya rindu seharian ini.
"Nadia!" tegur Arshaka.
"Mba Nadia!" panggil Tantri setengah berlari.
"Kalian ini kenapa? Sikap kalian sungguh aneh." tanya Arshaka bingung.
"Mas Arshaka tolong antarkan aku ke rumah mama Dita. Fafa terus saja menangis," mohon Nadia.
"Nadia, jika terjadi sesuatu kau harus menghubungi Ku. Lalu kenapa kau tidak menelponku?" tanya Arshaka menggandeng tangan Nadia menuju mobil.
Di dalam mobil Nadi melirik Arshaka tanpa berani bertanya ketika ia melihat mobilnya melaju dengan kecepatan yang cukuo tinggi. Arshaka yang sejak tadi merasa diintrogasi pun segera bertanya dengan melirik Nadia sekilas dan bertanya.
"Ada apa Nadia? Sepertinya sejak tadi kau memperhatikan Ku?" liriknya yang tetap fokus pada kemudinya.
"Pagi tadi aku sempat melihat mobil mu mas. Sepertinya Mas Arshaka sedang terburu-buru karena kau melajukannya cukup tinggi," ujar Nadi.
Cittttt
Arshaka menginjak pedal gas secara tiba-tiba hingga menimbulkan suara decitan gesekan antara ban mobil dan aspal yang tertahan secara cepat. Arshaka begitu terkejut mendengar pernyataan dari Nadia.
"Jadi kau melihatku Nadia?" tanya Arshaka menatap wajah cantik Nadia dengan mimik wajah tegang.
Nadia mengangguk lalu Arshaka memeluk Nadia dengan sangat erat seolah tidak ingin melepaskan pelukkannya.
__ADS_1
"Nadia, Bagaimana jika kita menikah dalam waktu dekat?'' tanya Arshaka masih dalam posisi memeluk bahkan lebih erat lagi.