Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Sebuah Ketulusan


__ADS_3

”Mama! Kenapa kita harus pulang? Kasihan papa, Ma. Papa pasti sangat merindukan kita, papa butuh dukungan kita keluarganya.” ujar Andrea mengikuti langka Tania dibelakangnya hingga kedalam kamar.


”Andrea, mama ingin sekali bertemu papamu. Tapi melihatnya tadi, papamu bukan seperti yang dulu mama kenali.” ucap Tania seiring dengan tangisnya.


”Ma, Papa seperti itu pasti karena masih terbawa emosi. Dan Andrea yakin papa sebenarnya tidak seperti itu.” ujarnya meyakinkan mamanya untuk tidak berpikir negatif pada papanya.


Tokk...Tok....


Suara pintu yang diketuk dari luar. Andrea segera beranjak dari duduknya di tepi ranjang. Membuka pintu kamar melihat siapa yang memanggilnya.


”Non, Andrea di luar ada tamu laki-laki. Kalau tidak salah namanya pak Ibra.” ucap Sri memberitahu Andrea.


”Oh, ya terima kasih, Sri.” ujar Andrea


”Sama-sama, Non!” balas Sri. Andrea meminta mamanya istirahat. Sementara Andrea menemui Ibra di ruang tamu.


”Mas Ibra! Memangnya hari ini tidak ada jadwal?” Andrea menyapa dan bertanya. Seraya melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


”Tugasku sudah selesai sayang. Untuk itu mas kesini ingin jenguk mama.” tutur Ibra sambil mencapit ujung hidung Andrea gemas.


”Tapi mama baru aja istirahat mas.”


”Tidak apa-apa sayang, yang mama butuhkan saat ini memang bedrest.” senyum Ibra menatap lekat wajahnya Andrea. Hingga membuat suasana sedikit canggung diantara mereka. Andrea melirik sekilas pria dihadapkannya mencuri pandang, pria yang masih menatapnya penuh pesona.


”Kenapa? Ada yang aneh, ya Mas!” tanya Andrea canggung bercampur malu sambil melihat dirinya.


”Nggak sayang. Justru kamu semakin cantik dimataku,” goda Ibra tersenyum dengan rayuan mautnya. Dan membuat hati Andrea meleleh bagai lelehan ice cream dengan rasanya yang manis. Reflek tangan jahil Ibra meluncur di pipi Andrea yang putih dan halus seperti selembut kulit bayi.


Tidak lama Sri datang membawa nampan berisi dia gelas minuman dingin lengkap dengan cemilan.

__ADS_1


”Silakan, Pak Ibra. Maaf saya permisi!” pamit Sri merasa tidak enak pada majikannya. Dia datang disaat tidak tepat Ibra hampir saja mencium bibir nona nya. Beruntung Ibra lebih dulu menghentikan aksinya saat mendengar langkah kaki dari arah belakang.


”Mas Ibra! Hampir saja.” protes Andrea dengan sorot mata tajamnya merasa malu akan kedatangan Sri tiba-tiba.


”Maaf, Sayang. Setiap mas ada didekat mu. Mas selalu aja kelepasan.” tuturnya tersenyum tanpa dosa. Andrea mencubit kecil perut Ibra.


”Aww... Sakit, Sayang.” pekik Ibra.


”Biar, tahu rasa kan!” canda Andrea terkekeh akan membalasanya.


Satu jam, dua jam tanpa terasa waktu berputar begitulah cepat. Ibra dan Andrea saling ngobrol tertawa mengingat awal pertemuan mereka di Ambarawa.


Cinta akan menemukan jalan dengan caranya sendiri. Pada siapa ia akan memilih, meski terkadang cinta itu datang dengan caranya yang konyol.


”Sayang besok kita jenguk papa. Besok mas jemput, sampaikan salamku untuk mama.” Pamit Ibra seraya mengecup kening Andrea lembut.


...***...


Dilapas Setelah Adri menghabiskan makan siangnya dengan nikmat dan meneguk segelas air mineral dalam kemasan. Adri bertanya pada sipir yang baru saja selesai memeriksa keamanan sel lainnya.


”Sipir, Apakah tadi putriku datang kesini?” tanya Adrian.


”Ya tadi saya melihat putri bapak datang. Tapi dia tidak sempat masuk sepertinya istri Anda sakit.” jelas sangat sopir mengatakan apa yang dia tahu.


”Jadi bekal tadi putriku yang bawakan? Pantas saja rasa sangat lezat.” tutur Adri bersemangat.


”Bukan tapi istri dokter Arshaka.” jawab sopir itu lalu pergi setelah membawa peralatan bekas makan para napi.


”Apa jadi?! Jadi Nadia yang membawakan bekal itu untuk ku.” lirih Adri pada dirinya sendiri, dengan kedua matanya yang mengembun dan jatuh berair.

__ADS_1


🍁🍁🍁


”Sayang siang tadi pergi jalan-jalan kemana diantar pak Lukman?” tanya Shaka sambil menata bantal di ranjang.


”Aku__Aku datang ke lapas menjenguk pak Adri,” jawab Nadia gugup dengan suarnya yang nyaris tak terdengar.


”Apa?! Kamu pergi ke lapas tahanan?” kejut suaminya setengah marah, menutup buku tebal ditangannya lalu meletakkannya di atas nakas.


”Mas Maaf. Ak__Aku__”


”Tidurlah! Sudah malam.” titahnya menarik selimut merebahkan tubuhnya memunggungi istrinya.


Nadia mengangkat tangannya ingin menyentuh punggung suaminya, namun ia tidak berani. Karena merasa bersalah tidak mengatakan secara langsung keinginannya untuk keluar. Bukan untuk jalan-jalan melainkan pergi menemui papa Andrea di sel tahanan.


”Maaf, sudah membuat mu marah.” ucap Nadia memiringkan tubuhnya memunggungi suaminya.


Semarah apapun Shaka pada istrinya, Nadia. Shaka tidak akan mungkin tidak bicara pada istrinya, sehari saja tidak bicara padanya sudah membuat dirinya gelisah dan uring-uringan.


”Aku marah karena kau tidak mengatakan ingin pergi kemana. Dan mas pikir kau pergi ke taman atau ke mall untuk berbelanja.” pikir Shaka masih dengan posisi yang sama. Nadia merubah posisi tidurnya, menghadap punggung suaminya memberanikan diri memeluk suaminya dari arah belakang.


”Maaf mas, aku tidak akan mengulangnya lagi. Aku tidak sengaja mendengar percakapan mu dengan ayah. Jika mas Shaka memeriksa tahanan bernama Adri orangtua dari dokter Andrea. Dan Aku merasa kasihan hingga timbul keinginanku untuk menjenguknya. Dari itu aku meminta izin dari mu untuk melihat kondisinya, Mas.” tutur Nadia. Suaminya merubah posisi tidurnya hingga mereka saling berhadapan.


”Kau tahu dengan caramu yang seperti itu bisa membahayakan dirimu dan juga bayi kita. Mas khawatir jika terjadi sesuatu pada kalian, jangan ulangi lagi atau mas akan benar-benar marah.” titah suaminya seraya meraba perut Nadia yang mulai membesar.


”Mas kita lupakan saja semua masalah ini. Lebih baik kita tutup saja masalah ini dengan jalan damai, kasihan Pak Adri. Dia sudah cukup dengan menerima hukum juga penderitaan hidup didalam sel tahanan.” pinta Nadia pada suaminya agar mau memafkan kesalahan papa dari mantan kekasihnya.


”Tidak semudah itu sayang mencabut sebuah tuntutan hukum. Kita hidup di negara hukum dan harus mengikuti prosedurnya. Sudah malam kita bahas lain waktu saja.” pinta Shaka menghujani wajah istrinya dengan ciuman sayangnya. Mata itupun mulai mengeluarkan binar nakal pada istrinya.


Mereka pun tidur saling memeluk menyandarkan segala harapan, dan impian mereka pada buah cintanya yang kini tengah bersemayam di rahimnya.

__ADS_1


__ADS_2