
Dokter Sonya membawa berkas yang ia terima dari Suster Faya mengenai pasien yang akan menjalani operasi. Baik tidaknya operasi dilakukan dokter Arshaka lah yang dapat memutuskan Sonya akan memberikan data pasien untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut dari dokter Arshaka dan menemuinya di ruangan.
Sonya mengetuk pintu namun tidak mendapat jawaban dari dalam, ia pun memutuskan membuka pintu yang tidak di kunci. Ia pun masuk sedikit menelusupkan kepalanya diantara pintu untuk melihat keberadaan Arshaka. Sonya masuk menyapa Arshaka yang nampak melamun dengan pena di tanganya.
"Selamat pagi dokter, sapa Sonya pada Arshaka yang memilin pena di tangannya. Akhirnya Sonya berdehem sedikit keras agar Arshaka tau kehadirannya.
"Ehemm..." serunya hingga membuat Arshaka tersentak dari lamunan nya melihat Sonya ada di ruangannya.
"Dokter Sonya! Ada ada perlu apa?" tanyanya terkejut.
"Maaf dok, ada pasien yang harus segera di operasi dan ini datanya," Sonya menyerahkan berkas dari tangannya.
"Taruh saja di meja saya akan periksa dulu berkasnya," pintanya seraya meraih bekas di meja dokter Sonya pamit keluar dari ruangan Dokter Arsahaka.
Setelah membaca serta mempelajari berkas dan riwayat pasien, Arsahaka meminta Suster Mariyam ke ruang Anggrek melalui panggilan interkom. Arshaka pun telah siap dengan sneli yang menggantung di lehernya menuju ruang Perawatan. Langkahnya sejenak tertahan di lihatnya wanita yang baru saja ia rindukan, bahkan masih hangat dalam ingatan tiba- tiba saja berada di antara dinding koridor yang tengah bertugas dengan alat kebersihan di tangannya.
Meski Nadia tidak melihat kehadiran Arshaka di seberang sana sudah cukup membuat Dokter tampan itu bahagia dengan melihat keberadaan Nadia. Ia pun tersenyum tipis melihat Nadia yang beberapa kali mengusap keringat dengan tangannya. Membuat Arshaka ingin menghampiri Nadia dan mengusap peluhnya, langkahnya menuntun atas perintah hatinya mendekati Nadia. Arshaka mengeluarakan sapu tangan dari saku jas putihnya mengusap keringat Nadia yang mengalir dari pelipis dan dahinya.
Kehadiran Arshaka membuat Nadia terkejut mendapati kehadiran Arshaka yang tiba-tiba datang mengusap keringatnya.
"Dokter?" ucapnya gugup, dengan melirik ke arah jalan koridor yang di ikuti Arshaka menoleh ke belakang kanan dan kiri.
"Kenapa Nadia, kamu malu jika ada yang melihat?" tanya Arsahaka. sekilas Nadia menatap pria tampan dan mapan di depannya.
"Bukan saya yang malu tapi dokterlah yang akan merasa malu. Seorang dokter muda yang sukses dekat dengan seorang janda yang profesinya hanya seorang cleaning service, bukan begitu Dokter?" memicingkan matanya yang mengarah pada wajah Arshaka.
"Lalu kenapa? Jika saya mencintai Janda seorang cleaning service?" tanyanya dengan senyum tipisnya.
"Dokter akan menjadi perbincangan hangat di surat kabar, dan wajah dokter akan menjadi trending topic di halaman utama." ujar Nadia menggebu.
"Itu bukan saya tapi kamu, balasnya melangkah lurus meninggalkan Nadia dan berucap. "Dirimu akan menjadi berita utama, seorang janda berhasil mencuri hati seorang Dokter Arsahaka." tuturnya seiring berjalan menatap punggung Arshaka dari balik dinding.
"Apa! jadi dia janda?" Sonya sangat terkejut mendengar percakapan antara Nadia dan dokter Arshaka yang menurutnya masih kekasih dari dokter Andreayani Siregar. Sonya pun segera memberi tahu informasi yang di dapatnya pada Andrea.
__ADS_1
๐ผ๐ผ๐ผ
Kania dan Permadi berada di mall menghabiskan waktu bersama mengantar Kania shopping dan makan siang di food court. Di mall Jakarta Dita pun mengajak Fafa jalan-jalan sekaligus belanja bulanan karena stok susu Fafa tinggal satu kaleng Dita khawatir jika nanti Nadia lupa belanja.
Semenjak Nadia bekerja ia jadi lebih sibuk setelah pulang pun Nadia hanya sempat mandi, makan istirahat dan tidur. Dita mendorong troly menuju kasir Dita seperti mencium bau tak sedap di depannya Dita memeriksa Diapers Fafa, ternyata Fafa puff dan meminta Rini asisten rumah tangganya menggantikan dirinya antri di meja kasir.
Dita segera mencari toilet untuk mengganti popok Fafa. Setelah Permadi selesai makan siang bersama Kania Permadi nampak sibuk dengan benda pipihnya untuk menghalau rasa jenuhnya, sembari menunggu Kania kembali dari toilet. Dita berjalan terburu-buru membawa Fafa hingga tanpa sengaja bersenggolan menabrak pundak Kania.
Bbrughtt
"Maaf!" ucap Kania tanpa menoleh meraih tasnya yang jatuh ke lantai.
"Ehhh....Iya maaf saya buru-buru," ujarnya membawa Fafa ke dalam kamar mandi membersihkan dan mengganti popok Fafa.
Kania melirik sejenak namun yang di lihatnya telah menutup pintu kamar mandi seraya mengingat suara yang baru saja mengucap kata maaf.
"Tadi seperti suara tante Dita? Aah cuma mirip kali ya!" pikirnya.
Kania berlalu menghampiri Permadi yang sejak tadi sudah bosan menggeser layar ponselnya.
" Iya, di sana juga antri mas ya udah kita pulang aku juga udah capek." keluhnya bergelayut di pundak Permadi.
Kania dan Permadi segera meninggalkan kedai menuju baseman tempat mobilnya di parkir. tiba-tiba Permadi terhenti hingga Kania menabrak punggung Permadi dan mengaduh Karna dahinya berbenturan, karna fokus pada benda pipih di tangannya. Melihat mobil yang mirip dengan mobil Mama Dita Permadi memastikan plat nomor mobil di samping kanannya dan benar itu mobil mamanya. Permadi pun segera menarik lengan Kania dan memintanya secepatnya pergi.
"Kania ayo cepat masuk mobil kita harus pergi dari sini!" perintahnya dengan menarik lengan Kania.
"Sabar dong mas! Aku lagi baca pesan whatsapp ku," Permadi secepatnya menghidupkan mesin mobilnya meninggalkan area basemen mall.
Pak Sobri yang baru saja menghabiskan kopi hitamnya segera bangkit dari duduknya melihat Dita dan Rini mendorong troly berisi beberapa kantong belanjaan. Pak Sobri tertawa lucu melihat Fafa yang berada di dalam troly dengan botol dot yang menyumpal di mulutnya.
"Fafa ganteng mau masuk ke bagasi juga?" goda Pak Sobri pada Fafa yang mendapat perotes sorot mata Dita.
Rini mengajak Fafa masuk ke mobil dan memangkunya di kursi kemudi. Fafa pun tertidur karena lelah jalan kesana kemari melihat dan menarik apa saja yang membuatnya tertarik untuk mengambilnya Dita menciumi pipi gembul Fafa cucu kesayangannya.
__ADS_1
*
*
*
Nadia pulang di jam empat sore mengganti seragam cleaning servicenya, dengan pakaian ganti yang di bawanya dari rumah. Setelah keluar dari toilet langkahnya terhenti karena Ferdy tiba tiba menghalangi jalan Nadia.
"Mas Ferdy mau apa? Maaf tolong jangan halangi jalan saya!" pintanya sedikit takut.
Karena susana agak sepi sedangkan yang bertugas shif malam belum datang masih beberapa jam lagi. Ferdy tidak menghiraukan ucapan Nadia sikapnya semakin berani mendekati Nadia, langkah Nadia menjadi gemetar semakin takut melihat senyum ngeri di wajah Ferdy. Nadia berjalan mundur hingga kakinya mentok di dinding, Nadia memejamkan matanya bergidik ngeri melihat Wajah Ferdy semakin mendekati wajah Nadia. Nadia berteriak minta tolong meluruhkan tubuhnya ke lantai semakin gemetar menahan takut memeluk lututnya.
"Tolonggggg!!
Teriak Nadia dengan tangisnya.
Arshaka tanpa sengaja menyenggol kalender yang setiap harinya di beri tanda silang semenjak ia tahu Nadia bukan lagi istri Permadi. Arshaka meraih kalender yang telah ia beri tanda silang selama dua bulan ini tiba-tiba saja fikirannya teringat pada Nadia. Arshaka pun menghubunginya namun tidak mendapatkan jawaban dari Nadia. Ferdy merijek panggilan telpon milik Nadia tanpa melihat Id callernya.
"Ayolah Nadia kamu turutin kemauanku! Aku akan melepaskan mu." ucapnya di cuping telinga Nadia.
Nadia masih dalam posisi menundukkan kepalanya, rasa takut yang terus menderanya berdo'a berharap seseorang datang menolongnya.
"Tolong...siapa pun tolong!'' teriaknya putus asa.
Arshaka mendengar teriakan minta tolong, Arshaka lari menuju toilet wanita di ujung jalan secepat kilat Arshaka menarik kerah baju Ferdy yang tengah mengusap-usapkan wajahnya diantara pipi dan kepala Nadia yang duduk menundukkan kepalanya, Nadia melayang- layangkan tangannya sebagai tanda penolakan.
" Laki-laki biadab, Arshaka terus memukul wajah dan perut Ferdy tanpa ampun, hingga wajahnya serta hidungnya berdarah dan sudut bibirnya sobek. Seorang Dokter Arshaka mengamuk bagai raja rimba. Nadia memeluk Arshaka meraih kedua tangannya buku jarinya yang terluka memukul-mukul terlalu keras sehingga darah mengalir di sela-sela jarinya. Arshaka pun menghubungi security untuk melemparnya keluar.
"Security! Lempar orang itu ke penjara pastikan dia tidak akan lagi menghirup udara luar." perintahnya dengan nafasnya yang masih memburu, Arshaka memeluk Nadia mengusap wajahnya yang masih ketakutan.
"Kita pulang sekarang jangan takut! Aku bersamamu." memapah tubuh gemetar Nadia membawanya kedalam mobil mengajak Nadia pulang ke apatemennya.
Nadia menelusupkan wajahnya ke dalam dada Arsahaka berjalan menuju litf. Pintu lift terbuka Arshaka merangkul pundak Nadia yang masih gemetar menuju pintunya apartmentnya. Arshaka membuka pintu apartemen dengan kartu aksesnya. Tanpa sengaja Dita mama mertua Nadia melihat dengan jelas Nadia masuk ke dalam kamar apartment bersama laki-laki yang bukan putranya. Dita menonjolkan kedua matanya tak percaya akan sikap menantunya yang biasanya santun di matanya.
__ADS_1
Like Komen and vote terimakasih๐๐๐๐๐
Dukungan kalian adalah semangat๐ช๐ช๐ช ku Terima Kasih. all