
"Assalamu'alaikum, mba Nadia, Fafa!" panggil Tantri menelusupkan kepalanya mencari keberadaan kakak dan keponakannya.
Tantri melangkah masuk meletakkan tas bekalnya sambil menuangkan air ke dalam gelas kosong dan meminumnya sampai habis. "Ko, sepi mba Nadia kemana? Apa ke rumah tante Dita?" pikir Tantri masuk ke kamarnya.
Tanpa ada rasa curiga sedikit pun Tantri meraih handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Sudah hampir dua jam Tantri menungu Nadia dan keponakan nya pulang tapi yang di tunggu tidak kunjung datang, melirik jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Mba Nadia masih belum pulang juga. Apa sengaja menginap ya, tapi nggak biasanya mba Nadia nggak pulang ke rumah tanpa kasih kabar.
Gumam Tantri dalam hatinya.
"Apa aku telpon aja ya! Tantri meraih ponselnya di atas ranjang. "Astaghfirullah main hape sampe habis batre, jadi nggak bisa telpon kan?'' Tantri segera mencarger ponselnya ke kabel pengisian daya.
Ia merebahkan tubuh lelahnya di ranjang lambat laun ia pun tertidur terseret ke alam mimpi, suasana sepi membuat rasa kantuk menyerangnya lebih cepat ditambah tubuhnya yang lelah dan pegal. Esoknya Tantri terbangun di jam lima pagi setelah mendengar suara adzan subuh, ia terperanjat kaget dan duduk sambil mengucek matanya dengan punggung tangannya.
"Mba Nadia!!" teriak Tantri. Mengusap wajahnya gusar
"Astaghfirullahalazim, ternyata aku cuma mimpi." Tantri segera beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi menjalani ibadah subuh.
Setelah itu ia mandi dan menyiapkan bekal untuk di bawa kerja. Sebelum ke dapur Tantri meraih ponselnya yang semalam di caz dan mencabutnya dari pengisian daya. Tantri menyalakan ponselnya untuk mengecek kemungkinan kakaknya Nadia memberi kabar. Ponsel pun menyala Tantri menggeser layar pipihnya keatas kebawah ternyata tidak ada satu pesan pun dari kakaknya. Hanya sebuah notifikasi dan pesan grup dari kantor tempat ia bekerja.
"Tumben mba Nadia nggak kirim pesan apapun," lirihnya. Tantri jadi teringat akan mimpi buruknya semalam, Tantri bermimpi jika Nadia tengah menangis di seret oleh laki-laki bertopeng dan mendorongnya ke jurang.
***
Arshaka keluar dari aula gedung kampus pukul 11 siang, setelah menghadiri seminar sekaligus sebagai narasumber di Universitas terbaik kota Bogor. Sebelum pergi mencari makan siang di luar ia menyempatkan diri membuka laptopnya mencari bingkai galeri yang banyak menyimpan file foto-foto dirinya bersama Nadia.
Sambil memutar musik playernya mendengar sebuah lagu yang berjudul You Are Not Alone dari
Senyum Arshaka memandangi fotonya saat pertama kali baru mengenal Nadia. Juga lagu yang ia putar sebagai awal dimulainya hubungan mereka.
__ADS_1
Arshaka berinisiatif untuk menghubungi Nadia melalui panggilan video call.
Berulang kali Arshaka menghubungi ponsel Nadia. Tapi tidak juga terhubung dan beralih ke panggilan suara masih tetap sama tidak terhubung.
"Kenapa nomor Nadia sulit di hubungi?" lirih Arshaka sedikit kesal. Ia pun menutup ponselnya dan memutuskan untuk kembali menghubungi nomor Nadia setelah makan siang.
🍁🍁🍁
Di sebrang jalan sana Nadia benar-benar dalam ketakutan yang luar biasa, dua pria yang tidak dikenalnya berusaha menculik putranya Fafa dan ingin memisahkan dirinya dengan buah hatinya.
"Aku tidak ingin berpisah, aku tidak mau dipisahkan dari anakku. Tidak mau... Tidak.... '' Teriak Nadia histeris dengan tubuh bergetar hebat akan ketakutan yang telah membuat dirinya trauma.
Nadia memeluk Fafa erat dalam dekapan tubuhnya, wajah kacau dengan penampilannya yang berantakan. Nadia menangis memeluk tubuh putranya Fafa kembali menangis menatap wajah Nadia yang terlihat seperti orang yang tidak waras di bawah rimbunan pohon besar dan rindang.
"Sayang ini bunda, Nak. Jangan menangis sayang!" tangis Nadia yang semakin pecah dalam rasa ketakutan.
Aldo yang melewati jalanan di pinggiran hutan kota seperti mendengar isakan, serta tangisan seorang perempuan. Juga jeritan anak balita laki-laki menangis yang tidak jauh dari mobilnya melintas. Rasa penasaran membuatnya turun untuk memastikan apa yang dia dengar adalah benar.
"Kenapa gadis itu? Dia seperti sedang dalam ketakutan," gumam Aldo berjalan mendekat ke arah dimana Nadia masih memeluk Fafa yang masih menjerit menangis.
"Jangan! Jangan ambil anakku! Pergi...!" teriak Nadia semakin histeris. Memukulkan tangannya ke udara Aldo menarik tangan Nadia berusaha menenangkan.
"Tenang Nona saya tidak akan menyakiti mu. Tenanglah! Sebaiknya kau ikutkah dengan ku. di sini tidak aman untuk mu dan putra mu. Aku akan menolong mu," Nadia menatap Aldo pias dan sedikit tenang meski masih dalam ketakutan.
"Aku tidak mau kalian semua orang jahat!" bentak Nadia dengan tuduhanya yang menyangka pria di hadapannya adalah orang yang telah masuk ke rumahnya dengan paksa. Dan merebut Fafa dari tangannya.
"Percayalah Nona saya bukan orang jahat. Di mana rumah mu saya akan mengantarmu pulang,"
Bayangan Nadia pada dua pria yang merebut paksa putranya kembali teringat. Menggedor pintu menerobos masuk kedalam rumah mengancam dirinya akan membawa putranya jauh dari kehidupannya. Pria paruh baya yang usianya tidak beda jauh dengan almarhum bapaknya meminta Nadia untuk meninggalkan Jakarta sejauh mungkin.
Pergilah jauh dari ibu kota. cek ini akan membiayai hidup mu dan anak mu. Orang-orang ku akan membawamu sampai ke perbatasan kota pergi, jauhi Shaka tinggalkan Shaka. Atau aku akan mencari adikmu dan menghancurkan masa depanya juga.
__ADS_1
Lagi-lagi Nadia menangis teringat akan adiknya Tantri, yang sudah terbiasa bersama sejak kecil.
"Hey, saya datang untuk menolong mu. Jangan menangis lagi! Justru kau yang membuat ku menjadi takut, jika ada yang datang melihatmu seperti ini mereka akan mengira saya telah berbuat jahat pada mu. Apa kau tidak kasihan pada putra mu dia butuh makan dan tempat tinggal." Nadia terlihat sedikit lebih tenang menundukkan wajahnya melirik Fafa puteranya.
Aldo berhasil membawa Nadia pulang ke rumahnya untuk sementara.
Sedang Arshaka panik dan cemas memikirkan calon istrinya yang sudah seharian ini tidak bisa di hubungi. Menghubungi Tantri pun tidak ada jawaban, Ia pun semakin khwatir ingin sekali Arshaka kembali ke Jakarta namun tugasnya tidak bisa ia tinggalkan begitu saja.
Hari pun menjelang sore Tantri pulang lebih awal di jam empat sore, sebelum Tantri berjalan menuju area parkir ia meraih ponselnya yang tersimpan di loker. Ia mendapati ada banyak panggilan dari calon kakak iparnya Arshaka, juga mantan kakak iparnya Permadi.
"Banyak sekali panggilan tak terjawab. Tapi semua dari pria yang ingin mencari mba Nadia, Kenapa tidak ada cowok yang sengaja menelpon ku dan mencari ku." gumamnya. Tantri teringat akan satu nama saat di dalam mobil, setelah ia bertemu pria dadakan yang kemarin menolongnya.
Namaku Aldo Fritz Degass lalu siapa nama mu? Jika kita bertemu di lain waktu aku bisa memanggil mu dengan nama mu.
"Tantri! Kenapa loe, sawan? Senyum-senyum sendiri," goda Ilmiana yang biasa di panggil Anna tiba-tiba mengejutkan nya.
"Rese' banget loe, An. Nggak liat apa gue lagi bayangin abang beb," jawab Tantri bersungut.
"Jomblo wati sejati sok-sok'an pake punya abang beb." ceplos Ilmiana lari menghindari serangan balik dari temannya.
"Mending aku telpon balik mas Arshaka, mungkin penting." Tantri berinisiatif menelpon balik calon kakak iparnya.
Drtttt
Drtttt
Arshaka segera menggeser layar pintarnya menekan ikon warna hijau.
~ Tantri kau dimana? Dimana Nadia kakak mu? Kenapa ponselnya sulit sekali di hubungi?
Tantri menyipitkan matanya dengan dahinya yang berkerut pasalnya calon kakak iparnya membrondong dirinya dengan pertanyaan yang belum sempat ia jawab satu persatu.
__ADS_1
~ Jadi mba Nadia masih belum bisa di hubungi sejak kemarin. Mba Nadia juga tidak pulang semalam dan tidak memberi ku kabar.
~ Apa?!