
Hari bahagia yang Andrea dan Ibra tunggu pun tiba, acara pertunangan yang mereka gelar di gedung sekitaran Jakarta Barat. Yang dihadiri sanak family dan rekan kerja dari pihak Andrea maupun Ibra.
Adri pun telah dibebaskan dari penjara tanpa syarat atas dasar kekeluargaan dan jalan damai yang Nadia minta dari suaminya.
“Sayang acara akan segera dimulai, ayo kita ke atas panggung!“ ajak Ibra menarik tangan Andrea.
“Iya mas,“ jawab Andrea mengikuti langkah Ibra. Matanya masih berkeliaran mencari sosok orang yang telah membuat hari bahagianya menjadi lebih lengkap. Karena Nadia dan Shaka yang telah membuat kedua orangtua Andrea ada di tengah-tengahnya mendampingi putrinya sampai di hari H nanti.
“Lihatlah, Mah! Putri kecil kita dia terlihat sangat cantik sekali. Kebahagiaan orangtua ialah melihat anaknya menikah dengan pria yang benar-benar mencintainya.“ ucap Adri sedih pada Tania istrinya dengan kedua matanya yang mengembun.
Istrinya pun mengangguk dengan air mata bahagianya yang berurai. Saat mc meminta pada kedua pasangan untuk saling bertukar cincin para tamu undangan bertepuk tangan dengan meriahnya.
“Cium... Cium...!!“ para tamu bersorak bertepuk tangan, meminta pada pasangan calon pengantin itu. Untuk memberikan kiss sebagai tanda peresmian hubungan mereka sebagai calon pengantin.
Ibra tanpa ragu lagi segera mendaratkan bibirnya di kedua pipi Andrea. Orang pertama yang memberikan selamat pada mereka adalah Adri dan Tania. Sebagai orangtuanya yang benar-benar merasakan kebahagiaan batin yang sesungguhnya.
Andrea melihat Nadia dan Shaka duduk di kursi tamu, di barisan utama sebagai tamu khusus mereka. Adri memberikan ucapan terima kasih pada para tamu undangan, yang telah menyempatkan hadir di hari pertunangan putrinya.
“Pada hari yang bahagia ini, Saya Adri papah dari Andrea dan segenap keluarga. Ingin menyampaikan rasa terima kasih kami, khususnya saya pribadi. Ingin mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya pada Nadia dan Shaka, yang telah bersedia memberi maafnya. Dan membebaskan saya dari hukum negara yang seharusnya saya jalani sebagaimana mestinya. Atas segala kesalahan terbesar yang pernah saya lakukan pada Nadia dan keluarga Bimantara. Untuk itu saya ingin Nadia dan Shaka berdiri disini sebagai tamu kehormatan di acara pertunangan putri kami.
Andrea meminta Nadia dan Shaka untuk naik ke atas panggung sebagai tamu kehormatannya. Meski awalnya Nadia menolak, namun atas permintaan Andrea yang menyatukan kedua tangannya di depan dada. Akhirnya Nadia bersedia naik keatas panggung, yang dibantu suaminya. Meski Nadia sedikit kesulitan karena perutnya yang sudah mulai membesar, diusia kandungannya yang ke enam bulan.
“Andrea selamat atas pertunangan kalian, semoga lancar sampai di hari H nanti. Dan kami berdo'a semoga kalian menjadi pasangan yang selalu diberkahi kebahagiaan.’’ ucap Nadia dengan do'a terbaiknya mengulurkan tangannya memberi salam pada kedua pasangan yang baru saja meresmikan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius.
“Terima kasih Nadia, Shaka kami juga berharap kalian menjadi orang tua yang paling bahagia. Dan semoga anak kalian lahir dengan selamat ibu dan bayinya juga sehat.“ balas Andrea mengusap-usap perut Nadia sudah terlihat sangat besar. Sedangkan Shaka dan Ibra meng-Aminkan ucapan do'a Andrea.
Shaka memberikan ucapan selamatnya di depan para tamu undangan, dan rasa terima kasihnya karena telah menjadi tamu spesial di acara tersebut.
__ADS_1
Para tamu pun menikmati hidangan dan minumannya sambil mendengarkan ucapan Shaka diatas panggung. Nadia dan Shaka pamit undur diri dari acara, karena Nadia merasakan tidak nyaman di perutnya.
Beberapa kali Nadia mengalami kontraksi palsu yang dibarengi adanya gerakan dari kedua bayinya yang aktif.
“Andrea, maaf kami tidak bisa mengikuti sampai di akhir acara. Sepertinya si kecil ingin istirahat lebih awal.“ ujar Nadia melirik perutnya yang membentuk gelombang gerakan si kembar.
“Tidak apa-apa Nadia. Shaka terima kasih sudah hadir, mereka memang pintar sekali tidak ingin ibunya kelelahan.“ Shaka memapah tubuh istrinya menuruni anak tangga dengan sangat hati-hati. Mereka pun pamit pulang setelah pada kedua orang tua Andrea.
Di lobi mereka bertemu dengan dokter Sonya, sahabat dari Andrea yang menyempatkan diri datang jauh-jauh kota Medan. Karena pihak rumah sakit memutasi dan menempatkan dokter Sonya di rumah sakit terbaik di kota Medan.
“Ibu Nadia, dokter Shaka! Apa kabar?“ sapa Sonya pada atasannya tempat dia bekerja di rumah sakit sebelum dirinya di mutasi. Serta memberi ucapan selamat pada Nadia dan Shaka, yang tidak lama lagi akan memiliki anak-anak yang lucu.
“Terima kasih, dokter Sonya. Tapi maaf kami tidak bisa lama-lama, Nadia mengalami kontraksi dan itu membuatnya tidak nyaman.“
“Baik, dokter. Silakan, bu Nadia. Maaf sudah menghambat waktu dokter.“ ujarnya sungkan merasa tidak enak hati kerena menunda langkah mereka yang ingin segera meniggalkan tempat acara.
“Sayang apa perutmu masih merasakan kontraksi?“ tanya Suaminya sambil mengelus perut Nadia.
“Benarkah? Anak ayah manja sekali. Jadi setiap kali kontraksi maunya di elus-elus ayah seperti ini.“ seru Shaka tersenyum yang masih fokus mengoperasikan mesin kemudinya.
Setibanya dirumah Shaka dan Nadia mendapati adiknya Tantri sudah ada di ruang tamu bersama bunda Maya dan ayah Firman.
“Assalamu'alaikum!“ ucap Nadia dan Shaka.
“Waalaikumsalam,“ jawab semuanya yang ada di ruang tamu.
“Mba Nadia sudah pulang?“ tanya Tantri tiba-tiba.
__ADS_1
“Tantri, Kamu disini? Kapan datang?“ tanya Nadia dan suaminya.
“Satu jam yang lalu mba, mas,“ jawab Tantri berdiri mencium punggung tangan Nadia dan kakak iparnya.
“Mba ganti baju dulu nanti kita ngobrol lagi,“ ujarnya mengayunkan langkah kakinya menuju kamar bersama suaminya.
Nadia melepas hijab dan pakaian syar'i nya dan menggantinya dengan daster yang membuat tubuhnya lebih nyaman.
“Ngobrolnya jangan lama-lama sayang, Mas tunggu di kamar.“ pinta Shaka meraih piyamanya dari dalam lemari.
“Nggak akan lama ko mas. Aku keluar dulu temenin Tantri ngobrol. Lagian cukup lama juga Tantri baru main lagi kesini setelah acara empat bulanan kita beberapa bulan lalu.“
“Ya sudah mas tunggu sambil buka email kantor yang belum sempat mas balas,“ Angguk Nadia menerima kecupan sayang dari suaminya di keningnya. Shaka mulai membuka layar datarnya ke atas ranjang, dan duduk bersandar di sandaran ranjang memangku laptopnya membuka email dari rumah sakit serta departemen kesehatan.
“Tantri, malam ini kamu menginap kan?“ tanya Nadia mengambil posisi duduk di antara bunda Maya dan Tantri.
“Iya mba, malam ini Tantri menginap disini. Mungkin cukup lama ada sesuatu yang ingin Tantri sampaikan sama mba Nadia, tapi dimana kakak ipar mba?“ Tantri bertanya dengan ekor matanya mencari sosok pria yang telah merubah hidup kakaknya menjadi seorang ratu yang paling bahagia.
“Mas Shaka ada di kamar melanjutkan pekerjaannya yang masih tertunda. Apa yang mau kamu sampaikan sama mba Tantri?“ tanya Nadia penasaran.
“Begini mba, mungkin besok Aldo akan datang kesini bersama keluarganya dari Batam. Untuk melamarku dan aku tidak tahu harus jawab apa, karena saat ini keluarga yang Tantri punya hanyalah mba, mas Shaka dan keluarga. Apa boleh jika besok keluarga Aldo datang kesini? Tantri minta izin dari bunda Maya juga ayah Firman untuk acara besok.“ Nadia mendengarkan ucapan adiknya lalu menatap bunda Maya juga ayah Firman seolah ingin meminta izin dari kedua mertuanya.
“Tentu saja boleh sayang. Tantri kau dan kakakmu Nadia itu sama-sama putri kita bukan begitu, Yah?“ tanya bunda Melirik pada suaminya.
“Benar kami juga adalah orangtua kalian jauh sebelum Shaka menikahi kakakmu Nadia, Tantri. Besok kami yang akan menjadi wali sebagai orangtuamu. Bunda besok siapkan semuanya untuk menyambut kedatangan keluarga Aldo kerumah kita.“ Nadia tersenyum lega memeluk ibu mertuanya yang begitu baik dan perhatian dengan dirinya dan adiknya.
“Terima kasih bunda. Terima kasih ayah, Nadia tidak tahu harus bagaimana lagi mengatakannya kami sangat bahagia mendengarnya.“
__ADS_1
“Sama-sama, sayang. Bunda dan ayah memang sama-sama menyayangi kalian.“ ucap bunda mengusap lembut punggung Nadia yang menangis dipelukan ibu mertuanya. Begitu juga dengan Tantri mengusap kedua sudut matanya yang basah, begitu haru memiliki keluarga yang sangat menyayanginya.
“Ada apa ini? Kenapa istri dan adik iparku menangis memangnya apa yang bunda dan ayah lakukan pada kalian?“ tanya Shaka yang berjalan mendekati istrinya yang duduk diantara bunda dan adik iparnya.