
Arshaka tiba di posko pukul 11.35 menit, di luar tenda masih ada beberapa warga yang berjaga bersama dua orang relawan dari Bandung dan Surabaya. Mereka juga menyapa arshaka dengan ramah dan mengajaknya bergabung sekedar minum kopi sambil mengobrol menemani mereka yang berjaga di pos tenda.
"Dokter Arshaka kemarilah! Kita ngopi sambil ngobrol-ngobrol sebentar," panggil salah satu warga mengajak Arshaka bergabung dengan yang lainnya.
Arshaka tersenyum menghampiri mereka "Terima kasih, bapak-bapak semua atas tawarannya tapi maaf saya tidak terbiasa minum kopi. Setiap kali minum kopi perut saya selalu sakit, mungkin karena tidak terbiasa jadi sensitif,'' tolak Arshaka dengan alasan logisnya tapi tetap menjaga perasaan semuanya.
Dokter Ibrahim dan dokter Iqbal terkekeh mendengar penjelasan dokter Arshaka,
"Kaya perempuan aja pake sensitif segala, dokter Arshaka," kekeh dokter Ibrahim. Arshaka hanya tersenyum dengan balasan candaan dari dokter Ibrahim.
"Ya, begitulah adanya," timpalnya lagi.
"Oh, ya ngomong-ngomong dokter Arshaka dari mana, seharian ini saya tidak melihat dokter setelah memberikan pemeriksaan pada pasien di tenda?" tanya Pak Wahab salah satu warga yang ikut berjaga bersamanya.
"Benar sekali pak, seharian ini saya bersama istri dan anak saya di hotel. Dan besok setelah apel pagi dan usai penyuluhan saya ingin pamit pada semua. Karena mulai besok saya tidak ada di posko lagi tapi saya tetap di sini sampai tugas saya selesai." jelas Arshaka memaparkan.
"Oo, jadi dokter sudah punya anak dan istri? Sayang sekali padahal saya punya anak gadis yang masih kuliah di Solo.
"Eee..nanti anak bapak jadi yang kedua dong. Saya belum punya pasangan bolehlah kenalan?" goda dokter Iqbal membuat semua kembali terkekeh.
Jadi dokter Arshaka sudah punya istri dan anak, tapi kenapa dokter Andrea malah mencintai pria beristri? gumam dokter Ibrahim bingung. Ia jadi teringat akan ld card milik dokter Andrea yang masih ada padanya. Ia ingin mengembalikan pada pemiliknya tapi seharian dokter Ibrahim tidak bertemu dokter Andrea setelah tugas pagi tadi.
"Maaf semuanya saya harus mengambil beberapa barang yang masih tertinggal saya pamit kembali ke hotel takut anak saya terbangun dan mencari saya."
__ADS_1
"Silahkan dokter Arshaka." ujar mereka membalas.
Arshaka pun beranjak dari duduknya menuju tenda, untuk mengambil koper dan peralatan medis miliknya. Dirasa semua telah siap Arshaka menutup kopernya dan menyeretnya keluar, tanpa sengaja Arshaka seperti mendengar seseorang sedang bebicara di telpon dengan bersembunyi dan sangat mencurigakan.
Karena rasa penasarannya Arshaka mencoba mengikuti kemana langkahnya pergi. Arshaka mencoba mendengarkan percakapan orang itu dengan seksama, bukan karena Arshaka ingin menguping dan ingin tahu urusan orang lain. Tapi demi kemaslahatan bersama di khawatirkan jika ada oknum yang ingin menyalah gunakan dengan memanfaatkan keadaan desa pojok sari yang tengah mengalami musibah alam.
Arshaka tidak begitu jelas mengenali siapa yang tengah dicurigainya itu. Karena orang itu mengenakan jaket hoodie dan kacamata dan penerangan cahaya yang tidak cukup terang. Sehingga Arshaka sulit mengenali ciri-ciri orangnya.
~ Pah, papah mengatakan jika papah sudah berhasil membuat janda itu pergi dari Jakarta. Tapi apa pah dia ada di sini bersama anaknya, dan besok mereka akan menikah secara siri memperkuat hubungannya. Pokoknya Andrea tidak mau tahu papa harus gagalkan pernikahan mereka besok.
Andrea memutus panggilan teleponnya, dan kembali ke kamarnya dengan jalan mengendap-endap diantara tenda-tenda warga menuju rumah kepala desa tempat ia menginap bersama relawan wanita lainnya.
Arshaka begitu terkejut mendengar rencana jahat untuknya dan Nadia. Yang ingin menggagalkan acara pernikahannya di sebuah rumah di pedesaan dekat kecamatan Ambarawa yang telah Arshaka sewa sebelumnya. Beruntung Arshaka telah merekam semua percakapan Andrea dan papanya di telpon, yang akan ia jadikan sebuah bukti kejahatan Andrea dan papanya.
***
Di hotel Arshaka membangunkan Aldo dan mengatakan padanya jika ia akan mengajak Nadia dan Fafa keluar dari hotel dan pindah ke hotel lain sebelum orang suruhan papa Andrea menemukannya.
"Gila Sha, ini lewat tengah malam kalian mau pindah di hotel mana? Nggak akan ada hotel yang beroperasi di jam segini bisa disangka komplotan begal." selorohnya sambil mengucek kedua matanya.
"Aldo, please aku serius dan aku nggak bisa jelasin sekarang ini urgent banget. Gimana bisa bantu tolong carikan kami hotel yang bisa chek in sekarang?"
setelah berpikir beberapa detik Aldo memberi tahu sebuah tempat di kota semarang, sebuah villa yang terletak di sebuah kaki bukit gunung gajah di semarang. Yang memang biasa di sewakan oleh keluarga sahabatnya karena itu permintaan Aldo, sahabat Aldo membebaskan dari biaya sewa dan bisa segera langsung ke sana dan segera menempatinya.
__ADS_1
"Thanks banget Aldo, atas bantuan kamu. Terima kasih juga telah menjaga Nadia dan Fafa selama ini. Aldo mengangguk ringan dan kembali tidur setelah Arshaka keluar dari kamarnya.
Arshaka segera masuk ke kamar dimana Nadia dan Fafa sudah tidur. Sebenarnya Arshaka sungguh tidak tega membangunkan mereka yang sudah terlelap dalam mimpinya. Tapi karena keadaan sudah emergency terpaksa Arshaka membangunkan Nadia untuk segera bangun dan keluar dari hotel.
"Mas Arshaka! kejut Nadia mendapati Arshaka ada di hadapannya masih dengan pakaian lengkapnya.
" Nadia kita harus segera keluar dari hotel ini. Biar aku gendong Fafa kau siapkan semua barang dan koper mu." perintah Arshaka secepatnya.
"Iya tapi ini ada apa mas?" tanya Nadia bingung sambil mengumpulkan nyawanya yang masih belum sepenuhnya full.
"Mas nggak bisa jelasin sekarang, sayang kita harus segera keluar dari sini." pintanya dengan nafasnya yang saling memburu karena panik.
"Iy_a mas tapi aku harus ganti baju dulu,"
"Nggak perli, sayang siapkan saja kopernya mas bantu kamu berkemas."
Nadia memasukkan semua pakaiannya dan barang milik Fafa asal yang penting semua masuk koper. Arshaka menggendong Fafa sambil menyeret koper di tangannya, Nadia memegangi tangan Arshaka erat mengikuti langkah calon suaminya yang terburu-buru.
Mereka pun akhirnya bisa bernafas lega setelah sampai di loby hotel Arshaka segera keluar meninggalkan area hotel. Aldo masih bisa melihat bagaimana Nadia menggenggam erat tangan Arshaka yang hanya bisa ia lihat melalui balkon dari ketinggian hotel dimana Aldo berdiri.
Semoga kalian bahagia. Selamat menempuh hidup baru bersama imam pilihan mu Nadia.
Doa Aldo untuk mereka setelah mobil Arshaka benar-benar jauh dari pandangannya ia kembali menjatuhkan tubuhnya ke ranjang menatap langit-langit hotel. Tanpa ia sadari buliran bening meleleh begitu saja di kedua sudut matanya.
__ADS_1
Begitulah cinta yang sebenarnya, cinta tidak akan saling menyakiti. meski cinta itu tidak bisa kita miliki seutuhnya tapi cinta membiarkan memilih pada kebahagiaannya sendiri. Dan membiarkan cinta mencintai pilihannya.