Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Bertemu Adik Sepupu


__ADS_3

Suara deru mobil di depan pintu gerbang membuat pria paruh baya menunda menyerutup kopi hitamnya. Ia berlari dari pos jaga menuju pintu besi yang tinggi menjulang membuka jalan untuk tuan mudanya yang jarang sekali terlihat ada di rumah kecuali hari tertentu saja. Melihat penampakan rumah Arshaka membuat Nadia tak hentinya berdecak kagum.


Cckkkk!!


"Mas ini benar rumah mu? tanya Nadia heran.


"Iya.Ini rumah bunda dan ayah."


Untuk pertama kalinya Nadia baru melihat rumah sebesar itu bak istanah Bogor. Bahkan rumah mantan suaminya tidak ada apa-apanya dibanding dengan apa yang ia lihat saat ini, yang ia pikir lebih mirip dengan istana setan. Nadia terheran menyapu seluruh pandangannya pada satu objek megah yang hanya bisa ia lihat di tv saja.


Arshaka tersenyum melihat tatapan polos Nadia yang natural tanpa dibuat-buat.


"Mas, rumah ini manusia yang buat bukan?" tanya Nadia polos.


"Nadia kamu itu lucu sekali, Sayang! Ya jelas manusia Nadia. Mana ada hantu jadi kuli bangunan turut mendesain rumah ini." selorohnya asal yang cukup membuatnya tertawa juga.


Nadia masih mengedarkan pandangannya yang masih terheran-heran di setiap sudut tempat, Arshaka membawa langka nadia menuju ke dalam rumah bertemu dengan bundanya.


"Hai, Sayang Nadia kamu sudah datang?"sambut bunda Maya seraya cipika-cipiki pada calon istri putranya.


"Eee, Iya bunda Nadia baru saja sampai." jawab Nadia sopan.


"Nadia bagaimana kalau kita sarapan dulu atau minum teh?" tawar bunda padanya.


"Terima kasih bunda, tapi tadi Nadia sudah makan sebelum mas Arshaka menjemput. Biar Nadia yang temani bunda sarapan saja," ucapnya menawarkan diri.


"Tehnya sudah siap, Nyonya." ucap seorang asisten rumah bunda.


"Terima kasih, Titin." jawab bunda. Nadia, Bunda Maya dan Arshaka. Menyempatkan diri minum teh dan makan cemilan sekedar untuk menemani minum teh bersama.


"Ayah sudah berangkat, Bun?" tanya Arshaka setelah menyesap tehnya.


''Ayah mu sudah berangkat ke bandung satu jam yang lalu, katanya ada pihak Apoteker yang akan melanjutkan observasinya bersama ayahmu.'' papar bunda menuturkan.

__ADS_1


Setelah menghabiskan satu lembar roti tawar yang di oles mentega ia pun beranjak dari kursinya. Melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


Arshaka pun pamit ke rumah sakit dan meminta pak Lukman untuk mengantarkan Nadia dan bundanya ke pusat perbelanjaan di sekitaran jakarta.


"Bunda, Shaka pamit. Biar nanti pak Lukman yang antar ke super market. Nadia jangan jauh-jauh dari bunda!" pesan Arshaka seraya mengecup kening Nadia.


"Shaka, memangnya Nadia anak TK. Ada-ada saja kamu." tawa bunda Maya.


"Bunda, Shaka khwatir takut_" Arshaka menjeda ucapannya. Trauma akan takutnya kehilangan cinta pertamanya akan kembali terulang.


Tawa canda yang tadi terlukis di wajah bunda sedikit memudar setelah menangkap ada mimik wajah sendu pada putranya.


"Shaka nanti kamu telat cepat berangkat! Nadia aman bersama bunda jangan khawatir," ujar bunda meyakinkan.


''Terima kasih. Nda," mencium punggung tangan bundanya.


Nadia menggeleng kepalanya heran akan sikap Arshaka yang sangat overprotective terhadap dirinya. Teringat momen indah yang dulu pernah Nadia rasakan, tapi semua kenangan yang dulu pernah ada adalah palsu ketika masih bersama mantan suaminya Permadi. Sekelebat kenangan manis namun sangat menyakitkan yang pernah ada mampu mengacak-acak pikirannya.


"Mas, hati-hati di jalan." pesan Nadia ucapnya lembut, angguk Arshaka.


Bunda Maya meraih troli dan membawanya ke arah deretan rak khusus makan dan kebutuhan dapur. Bunda Maya meraih dan memasukkan beberapa kebutuhan dapur seperti gula, beras, minyak dan tepung serta bahan pembuat kue. Hobinya membuat kue sekedar untuk mengisi waktu senggang karena bosan, Nadia dan bunda beralih ke tempat khusus daging dan ikan setelah memilih beberapa ikan dan daging bunda memasukkan nya ke dalam keranjang.


"Nadia kamu tidak ingin membeli sesuatu untuk kamu bawa pulang, Sayang?" tanya bunda melihat barang belanjaanya di dalam troli. Yang isinya hampir semua barang yang bunda pilih.


"Sudah bunda Nadia sudah membeli barang yang di perlukan saja," jawab Nadia apa adanya mengindik barang didalam keranjang yang sama.


"Kok cuma sedikit Nadia, ayo pilih saja kebutuhan rumah yang kamu inginkan. Biar bunda yang bayar semua,"


"Terima kasih bunda, ini lebih dari cukup. Stok dapur di rumah masih cukup untuk beberapa minggu kedepan."


"Ya sudah kita lanjut cari yang lain saja," ajak bunda ke lantai berikutnya.


Di lantai dimana terdapat deretan pakaian anak yang berjajar tergantung rapi di tempatnya, serta tempat mainan anak dari beragam jenis dan model yang tersusun di rak bertuliskan Toy's. Nadia tertarik pada sebuah mainan anak di tangannya, mobil Jeep jungkir balik dengan ban warna-warni . Bunda pun memperhatikan benda yang Nadia pegang serta meraih lego dan meletakkannya ke dalam troli.

__ADS_1


"Nadia kamu membeli mainan anak? Untuk siapa?" tanya bunda dengan tatap menyelidik.


"Ehh, iya bunda ini untuk_" Nadia melepas nafasnya lega seseorang menegur bunda Maya tanpa lagi sulit harus menjawab apa.


Untuk menjelaskan yang sebenarnya Nadia pun belum siap. Terlebih Arshaka melarang Nadia untuk mengatakan tentang statusnya dengan alasan waktunya belum tepat.


"Hai mba Maya! Apa kabar? Lama kita nggak ketemu kangen sekali Hana sama mba," ucap Hana memeluk bunda Maya dan mereka pun saling berpelukan cipika-cipiki penuh kehangatan.


"Hana, Kau?! Alhamdulillah Mba dan keluarga dalam keadaan baik dan sehat walafiat" jawab bunda Maya antusias yang tidak sengaja bertemu adik sepupunya di super market.


Hana melirik ke arah Nadia di samping kakak sepupunya yang hampir 10 tahun tidak bertemu. Karena harus menjalankan tugas negara yang di embannya. Hana memicingkan kedua matanya heran dengan sosok perempuan yang menurutnya sangat tidak asing.


"Ini menantu mu mba Maya?" tanya Hana penasaran, tatapnya sambil mengingat. Nadia mengulurkan tangan ke arah Hana.


"Saya Nadia, Tante," ucapnya memperkenalkan diri.


Bunda Maya tersenyum menatap keduanya bergantian. "Baru calon menantu," ujarnya tersenyum.


"Ckkkk... Arshaka pintar sekali cari calon istri mba, cantik," decak kagumnya yang masih mengamati calon istri kakak sepupunya.


"Bagaimana kalo kita ngobrolnya cari tempat yang nyaman sudah waktunya makan siang juga," saran bunda Maya mengajak ke kedai yang ada di dalam mall yang biasa orang menyebutnya dengan sebutan Foodcourt.


Bunda mengajak makan siang di kedai yang menyediakan olahan makanan khas bandung. Ada batagor, siomay, nasi liwet dan lalapan sebagai ciri khas masakan sunda. Bunda Maya dan Hana adik sepupunya pun ngobrol ngalor-ngidul sedang Nadia cukup menjadi pendengar sambil menikmati hidangan di meja makan.


"Oh, ya Hana kapan kamu tiba di Jakarta?" tanya bunda Maya.


"Sudah hampir 3 bulan mba, maaf tidak bisa kasih kabar semenjak mas Firman dan mba Maya pindah rumah. Kita jadi lost kontak karena semua nomor kontak banyak yang hilang."


"Iya, Hana kami sekeluarga pindah setelah tidak lagi menempati rumah dinas, ketika mas Firman merencanakan pembangunan klinik dan rumah sakit di kota X." jelas bunda menceritakan perihal kehidupannya.


"Oh, ya Nadia kapan rencana pernikahan mu dengan keponakan ku Arshaka?" tanya Hana yang masih mencoba mengingat Nadia. Yang sangat tidak asing baginya.


"Masih mencari waktu yang tepat tante," jawab Nadia sesuai waktu yang sudah mereka sepakati bersama.

__ADS_1


Lama Berbincang-bincang dan puas melepas rindu dengan adik sepupunya, Mereka pun beranjak dari kedai dan berpisah di basement tempat mobil mereka di parkir. Nadia membantu Pak Lukman memasukkan semua barang belanjaan kedalam bagasi mobil. Bunda yang sudah merasa pegak di kakinya meminta Pak Lukman segera pulang ke rumah dan secepatnya istirahat.


__ADS_2