Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Kau Menyesal Telah Membuatnya Janda?


__ADS_3

Pintu apartemen pun terbuka setelah kunci digital mencari pusat sensor dan terbuka. Meletakkan kunci mobil diatas meja Arshaka menyalakan musik player duduk istirahat sejenak merehatkan tubuhnya yang lelah di atas sofa bed. Isi kepalanya seolah berputar mengingat pertemuannya dengan cinta pertamanya Andrea.


Kata orang jika cinta pertama itu sulit terlupakan, bahkan banyak sajak yang membenarkan akan penulisan kata-kata tentang indahnya cinta pertama. Arshaka sendiri sulit mengartikan cinta yang sedang ia rasakan dan membelit hatinya. Antara sisa rasa yang masih tertinggal dan perasaan simpatik dan iba akan keadaan Andrea yang membuatnya prihatin.


Terlebih tidak ada kata putus diantara mereka, hanya masalah hubungan komunikasi yang tidak jelas arahnya. Arshaka menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sambil mendengarkan musik yang ia putar di layar laptonya. Seiring musik yang mengalun dengan lembut dan nada perlahan tinggi seolah syair terdengar seakan mewakili dari perasaan yang Arshaka alami.


๐ŸŽถBiakanlah resah sayang


Sukar ku lalui buat ku berduka


Kenangkanlah oh semalam


Walau cinta dikunci janji tak ku lupa


๐ŸŽถ Tak daya ku halangi


Tak Ku cuba jauhi


Tetap di sini


Terus menanti....


๐ŸŽถ Ikrar kita mengharungi badai sakti


Mencari sinar kasih suci


Walaupun nafasku ini pasti terhenti


Jangan pula ada sangsi lubuk hati


Percaya cinta tiada ganti


Kau yang ku cari


Kau lah kasih ke akhir haya nanti


๐ŸŽถ Kenangkanlah oh semalam


Walau cinta dikunci janji tak ku lupa


๐ŸŽถ Tak daya ku halangi


Tak ku cuba jauhi


Tetap di sini


Terus menanti...


๐ŸŽถ Ikrar kita mengharungi badai sakti

__ADS_1


Mencari sinar kasih suci


Walaupun nafasku ini pasti terhenti


Jangan pula ada sangsi lubuk hati


Percaya cinta tiada ganti


๐ŸŽถ Kau yang ku cari


Kau lah kasih ke akhir hayat nanti...


(lagu by Siti nurhaliza)


Perlahan Arshaka terpejam terhanyut dalam lantunan syair lagu, ia pun terjaga saat waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Musik sudah berhenti berputar memijat pelipisnya yang penat, masih dengan posisi yang sama kepala bersandar di sofa. Arshaka beranjak menutup layar laptopnya mengayuhkan langkah kakinya ke kamar meraih handuk membersihkan diri sebelum lanjut istirahat dan tidur.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Fafa tersenyum dan tertawa bahagia dengan candaan yang Nadia ciptakan. Susana hatinya pun kembali ceria ditengah candaan dan tawanya tiba-tiba senyum Nadia perlahan memudar, Nadia teringat akan ucapan Rini yang mengatan jika mama Dita masuk rumah sakit. Saat Rini mendengar ada sedikit keributan di ruang tengah dan mama mertuanya sudah berada di tangan Permadi dalam keadaan pingsan.


"Eh, Fafa keponakan tante yang ganteng sudah wangi ternyata," goda Tantri merebut Fafa dari tangan Nadia.


"Tantri, mba mau minta tolong. Nanti tolong jaga Fafa ya! Mba mau jenguk mama Dita di rumah sakit.''


" Sakit apa memangnya mantan mertua mba Nadia?" tanya Tantri sambil membenarkan posisinya menggendong Fafa.


"Mba juga kurang tahu, semalam mba Rini cuma mengatakan itu saja," jawab Nadia sedikit ambigu.


"Dendam tidak akan merubah semua menjadi lebih baik, hanya akan menjadi luka basah yang terus membekas tanpa bisa mengering dan membusuk. Memangnya kamu mau hati mu menjadi busuk?" goda Nadia tersenyum.


"Ihhh,, amit-amit deh mba! Jangan sampai!" balas Tantri cepat mengindik bahunya dengan ekspresi ngeri.


"Jadilah wanita yang baik dan mengerti." ucap Nadia mencubit dagu Tantri. Tantri meruncingkan bibirnya.


Usai mengganti pakaian dan sedikit merias wajahnya, Nadia meraih tas kecil hadiah pemberian arshaka untuknya. Cukup untuk menyimpan barang pribadinya seperti hape, dompet, liptin dan tisu. Nadia pamit pada Tantri juga si kecil tampan buah hatinya Fafa, menggedongnya sebentar sebelum beranjak keluar.


"Sayang, Fafa bunda pergi sebentar saja. Tunggu bunda di rumah sama tante, jangan nangis dan nggak boleh nakal!" pamit Nadia mencuimi pipi gembil putranya.


"Mba hati-hati di jalan!" pesan Tantri meraih keponakannya dan menggendongnya.


Nadia berjalan kaki sampai di mulut yang dan beruntung ia melihat ada tukang ojek yang mangkal. Nadia berjalan mendekati pangkalan si ojek pun menawarkan jasa ojek motornya.


"Mau ngojek mba?" tanya tukang ojek pada Nadia.


"Iya. Bisa antar ke rumah sakit Centra Medika?"


"Bisa mba ini helmnya," ujar sang ojek memberikan helm pada penumpangnya.


Tidak sampai 20 menit motor ojek yang Nadia tumpangi berhenti tepat di area parkir rumah sakit. Di sana Nadia melihat Permadi keluar dari arah koridor, Nadia segera mempercepat langkah kakinya menghampiri mantan suaminya yang hendak menuju arah loby.

__ADS_1


"Mas Permadi?" panggil Nadia setengah berteriak.


Permadi menghentikan langkahnya menoleh mencari sumber suara yang memanggi. "Nadia," lirihnya dengan tersenyum.


"Mas dimana ruangan mama?" tanya Nadia cemas.


"Mamma ada di ruang Melati 02," jawab Permadi yang tidak bisa melepaskan hazelnya menatap mantan istrinya yang semakin mengusik pikirannya.


"Terima kasih.'' jawab Nadia singkat. Tapi Permadi tiba-tiba meraih jemari tangan Nadia, hingga Nadia terkejut dan melirik tangannya.


" Nadia, Maafkan aku__"


"Maaf Mas, aku tidak berlama-lama takut Fafa menangis.'' ucap Nadia menarik tangannya.


Permadi hanya bisa menatap punggung Nadia yang berjalan menjauh tanpa lagi menolehkan pandangannya ke belakang.


Setelah aku benar-benar membuatmu jatuh dan terluka. Tapi kenapa justru aku merasakan sakit luar biasa.


"Kenapa? Kau menyesal setelah menjadikannya janda, Permadi?"


Suara yang terdengar halus namun beroktaf, membuat Permadi terdiam hanya menampakkan sorot mata sinisnya karena tidak suka melihat kehadiran Arshaka. Sejak kejadian malam itu di meja resepsionis saat meninggalnya Ibu Laila, ibu Nadia. Tanpa membalas atau menjawab pertanyaan Arshaka yang dianggapnya tidak penting, Permadi meninggalkan Arshaka yang masih menatapnya hingga mobilnya keluar dari area parkir.


**


"Kania, mau kemana kamu? Ayah melarangmu menemui laki-laki berengsek itu."


"Ayah, izinkan Kania menjenguk tante Dita di rumah sakit."


"Tidak, Ayah tidak akan mengizinkan mu keluar rumah kau dengar itu. Atau ayah akan berbuat lebih, Ayah bisa lakukan apapun termasuk menghancurkan karir Permadi dengan mudah."


"Ay_yah_! " Teriakan Kania terjeda dan menangis bersamaan.


Kania merasakan perutnya mual dan kepalanya pusing berputar-putar. Kania secepatnya lari ke dalam kamar mandi menahan mual di perutnya yang terasa ingin muntah.


Hoeekk!


Hoekkk!


Kania memuntahkan isi perutnya yang sejak tadi terasa sangat mual. Hanya cairan bening yang terasa sedikit pahit dan asam. Kania membasuh mulutnya dengan air mengalir, menatap pantulan dirinya di cermin.


"Kenapa aku tiba-tiba jadi pucat begini?" tanya Kania pada dirinya sendiri.


"Kania...Kau kenapa sayang?" tanya mamanya khawatir. Ardana hanya menatap istrinya tanpa menghiraukan.


"Ee, Kania tidak apa-apa, Mah.'' jawab Kania lemas.


"Kamu sakit sayang?" tanya mamanya lagi melihat wajah pucat Kania.


"Cuma masuk angin biasa, Ma hampir dua minggu Kania lembur dan pulang malam.''

__ADS_1


"Ya sudah kamu istirahat saja kania, jangan keluar rumah dulu." bujuk mamanya.


__ADS_2