Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Ikut Acara Bazar Amal


__ADS_3

Nadia menyiapkan pakai Fafa juga dirinya serta keperluan yang akan ia bawa selama di Ambarawa termasuk mainan yang Fafa suka.


"Bunda, Fafa mau bawa robot ini," ujarnya menunjukkan robot mainannya ke dalam koper.


"Fafa, kalo semua mainan yang kamu suka di bawa nanti pakaian bunda mau ditaruh dimana? keluh Nadia menata barang yang akan di bawanya.


Tokkk..


"Itu pasti paman Al," seru Fafa lari membuka pintu kamar. Nadia menggelengkan kepalanya melirik Fafa heran.


"Fafa, paman baru saja membeli ice cream, snack, coklat, permen cokelat dan susu. Satu lagi taraaaaa mobil remot control, bagaimana Fafa suka?" Aldo sangat menyayangi Fafa, setiap kali Aldo datang ia pasti akan memanjakannya dengan barang yang Fafa suka.


Nadia melipat kedua tangannya di dada melangkah maju mendekati dua pria yang tengah menikmati ice cream coklat. Lalu menjewer telinga kedua pria beda generasi itu keduanya pun berdecak kesal menggerutu sambil mengusap telinganya.


"Enak sekali ya kalian para pria makan ice cream dan coklat. Kalian tahu bukan bagaimana rasanya sakit gigi? Mau di jewer lagi?" ucap Nadia marah menjewer telinga Fafa dan Aldo meski mereka tahu jika yang Nadia lakukan hanyalah candaan.


"Bunda..." teriak keduanya bersamaan. Aldo pun mengucapkan kata bunda mengikuti teriakan Fafa tanpa sadar lalu terdiam sejenak menatap Nadia dengan tatapan piasnya.


Fafa tertawa terbahak melihat Aldo dengan wajah cemongnya karena coklat di bibirnya. Dan itu membuat Nadia turut tertawa lucu melihat wajah Aldo bagai balita yang baru belajar makan.


Kamu cantik sekali Nadia jika kau tertawa, Dan itu membuat ku sangat bahagia. Gumamnya dalam hati menatap wajah wanita yang sulit ia raih hatinya.


***


Beruntung Fafa ikut dalam Bazar Amal yang di selenggarakan langsung oleh anak perusahaan milik Aldo sendiri, yang bertepatan di tanggal merah. Sehingga Fafa tidak perlu membuat surat izin libur sekolah selama tiga hari yang di mulai pada hari jum'at.


"Paman Al apakah kita sudah siap belangkat sekalang?" tanya Fafa tidak sabar untuk berangkat berlibur.


"Okey kita Go..." Mereka pun masuk ke mobil setelah semua barang dan koper masuk dalam bagasi.


Di perjalanan Fafa asik menikmati pemandangan di sisi kanan dan kiri jalanan yang memanjakan matanya. Hamparan luas nan hijau menambah keindahan lukisan alam semesta, Nadia pun terlihat sangat menikmati pemandangan seluas mata memandang.


Aldo melirik sekilas menoleh pada Nadia yang masih larut dalam lamunan menatap jalanan luar dari kaca jendela. Angin semilir bertiup menyapu wajah cantiknya membelai, mengurai indah rambut hitamnya yang nampak berkilau. Fafa pun tertidur memeluk Aldo yang tengah fokus mengoperasikan kemudinya, dalam benaknya Aldo berharap semoga suatu hari ia dan Nadia akan menjadi satu keluarga yang bahagia bersama Fafa dan anaknya sendiri dari pernikahannya dengan Nadia.


Nadia pun menoleh ke sisi kanan mendapati putra telah tertidur di pangkuan Aldo, sontak Nadia meraih Fafa dalam pangkuan Aldo. Khwatir jika Fafa akan menggangu konsentrasi Aldo yang sedang fokus pada jalan di depannya. Mobil melaju dengan kecepatan normal menyisir jalan kota yang padat merayap, karena hari libur tanggal merah yang disambung hari sabtu dan minggu banyak yang memanfaatkan hari liburnya dengan berwisata.


"Fafa, kenapa malah tidur di pangkuan Paman Al?" Nadia mencoba meraih tubuh Fafa, namun Aldo melarangnya menunjukkan jari telunjuk di bibirnya.

__ADS_1


Ssstttt!!


"Biarkan seperti ini, Nadia tidak apa-apa." ucapanya melarang Nadia mengganggu tidur Fafa.


"Nanti kamu pegal mas, masih jauh lho perjalanannya,"


"Tenang saja Nadia, aku bisa!" bantah Aldo tidak ingin Nadia membantahnya.


Akhirnya Aldo, Nadia dan Fafa istirahat sejenak di rest area meregangkan ototnya yang tegang dan kaku akibat perjalanan yang sangat jauh. Mereka menikmati snack dan makan ringan lainnya yang Nadia siapkan sebelumnya di rumah.


Ponsel Aldo berdering saat tengah menikmati kopi panasnya yang ia beli di kedai di sekitar rest area. Menerima panggilan telepon dari panitia tim penyelenggara bahwa semua telah siap 100%.


Aldo meminta managernya untuk mengurus tempat mereka menginap selama tiga dua malam, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari acara bazar.


"Kenapa mas Aldo tidak membuat acara bazarnya di Jakarta kan lebih dekat?" tanya Nadia heran.


"Iy kau benar sekali Nadia. Aku sengaja membuat acara bazarnya di Ambarawa, karena apa di sana ada satu desa yang sedang mengalami bencana alam karena banjir besar. Dan nantinya uang hasil bazar akan kita sumbangkan di sana, dari informasi yang kuterima ada relawan dari rumah sakit yang ikut membantu para korban.


"Oh, ya! Mulia sekali mereka semoga semua para korban di beri kekuatan dan kesehatan dan yang turut membantu para korban di limpahkan rezekinya." doa Nadia untuk mereka.


"Hanya itu saja?" tanya Aldo penuh teka-teki menatap intens wajah Nadia.


"Ya aku mengerti. Semoga pemilik acara bazar amal itu segera mendapatkan jodohnya." senyum Nadia pada Aldo.



Mereka kembali melanjutkan perjalanan kurang lebih dua jam lagi mereka sampai di lokasi. Fafa yang tadi mengantuk kembali segar setelah menghabiskan snack dan mie cup nya hingga tandas.


"Fafa, are you ready?"


"I'm ready uncle," jawab Fafa antusias berjalan bergandengan tangan Fafa berada di tengah-tengah mereka.


🍁🍁🍁


Para petugas medis relawan pun tengah melakukan pemeriksaan kepada para korban di tenda-tenda posko. Dokter Arshaka dan yang lainnya setelah memberikan penanganan dan obat dan vitamin mereka mencoba menghibur para korban dengan bernyanyi sambil bertepuk tangan.


Sebagian dari mereka ada anak-anak, para remaja dan orang tua bahkan lansia mereka merasa terhibur akan kehadiran para dokter relawan. Bahkan mereka bercanda ria agar pasien tidak merasakan sedih yang berlarut-larut akibatkan bencana banjir yang menerjang tempat tinggalnya.

__ADS_1


"Aku tidak mau di suntik. Aku tidak mau," teriak anak perempuan yang usianya kira-kira 10 tahun.


Dokter Andrea lalu mendekati anak perempuan tersebut mencoba memberi pengertian padanya dan membujuknya.


"Hai, gadis cantik siapa namamu boleh dokter tahu?" tanya Andrea pada pasien yang beranjak remaja tersebut.


"Namaku Nadia Silvie, dokter," jawab gadis itu.


"Nadia?" tanya Andrea sedikit tekejut mendengar jawaban remaja perempuan di hadapannya.


"Nama yang indah secantik orangnya," ujar Arshaka tiba-tiba. Mendengar nama Nadia membuatnya tertarik untuk mendekat.


Hati Andrea langsung mencelos mendengar pujian untuk nama Nadia. Ucapan Arshaka membuatnya tidak nyaman, Andrea memaksakan dirinya tersenyum meski enggan demi menjaga imagenya sebagai seorang dokter.


"Dokter sangat tampan, pasti istri dokter sangat cantik," ucapnya menduga-duga.


"Ya. Sangat cantik. Seperti dirimu adik manis. Bagaimana masih takut untuk suntik?" tanpa memberi jawaban gadis itu menggelengkan kepalanya.


"Tidak sakit ko' seperti di gigit semut hanya sakit sedikiiittt saja!" seru Arshaka berujar tanpa gadis itu sadari jarum suntik telah dicabut dari kulitnya.


"Aku tidak takut dokter," serunya setelah Arshaka menarik jarum suntiknya, dan memberikan kapas yang telah diberi cairan alkohol di kulit bekas jarum suntik.


"Anak pintar!" puji Arshaka mengacak pucuk rambut gadis di depannya. Lalu melangkah pergi.


Ada sesuatu yang membuat Arshaka bediri tertegun, diam untuk sesaat mencari sesuatu menolehkan kepalanya ke sisi kanan dan kiri.


"Ada apa Shaka?" tanya Andrea bingung.


Arshaka tidak menjawab pertanyaan Andrea bahkan ia lari secepatnya mencari aroma wangi parfum yang sangat ia hafal. Yang membuat dirinya hampir terpeleset karena tanah yang basah dan licin, Arshaka terus menyusuri jalan di sekitarnya mencari aroma wangi yang semakin dekat di sekitar ia berdiri.


"Nadia kau tunggu di sini, aku ingin melihat keadaan para warga di tenda. Apa kau mau ikut?" ajak Aldo pada Nadia yang sedang duduk di bangku kayu berukuran panjang.


"Eh, Aku tunggu di sini saja,"


"Ya sudah aku ke sana sebentar," ucap Aldo.


"Paman Al Fafa ikut. Bunda tunggu aku di sini ya! Bunda jangan kemana-mana!" pesan Fafa pada bunda nya.

__ADS_1


"Iya, Sayang bunda tunggu di sini,"


__ADS_2