
Kania menyeka air matanya yang luruh di kedua pipinya menatap wajahnya di cermin kamar mandi.
Permadi menyugar rambutnya frustasi menyesali akan sikap bodohnya, bisa-bisanya Permadi menyebut nama mantan istrinya disaat dirinya tengah bercinta dengan Kania. Permadi meraih celana boxer dan memakainya kemudian mendekati pintu kamar mandi, mengetuknya sedikit keras agar Kania keluar dan menemui dirinya.
Tok... Tokkk!!
"Kania, buka pintunya sayang! Aku minta maaf! Aku tahu aku salah tolong maafkan aku! Aku sama sekali tidak ada maksud menyakiti hatimu sayang," bujuk Permadi pada Kania yang masih menangis di dalam.
"Lebih baik kita lupain saja hubungan kita ini mas! Selama ini kamu cuma kasih aku janji-janji palsu. Nyatanya kamu tidak pernah berniat untuk menikahi Ku, Kau datang saat kamu membutuhkan aku seperti saat ini apa yang sudah kamu lakukan padaku mas," sesal Kania menahan sesak di dadanya.
"Please Kania dengarkan aku, Sumpah demi apapun itu yang selama ini kita lalui bersama itu karna aku masih mencintai kamu sayang. Aku tidak sengaja sehingga membuat mu sakit hati sayang. Please!" pintanya penuh permohonan.
Kania membuka pintu kamar mandi begitu pintu terbuka lebar Permadi segera memeluk Kania, meminta maaf karna tanpa sengaja membuat Kania marah. Menarik lengan Kania mengajaknya duduk di tepi ranjang menjelaskan padanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Jika aku memiliki perasaan pada Nadia tidak mungkin aku menceraikannya, di tambah lagi aku dan Nadia memiliki Fafa." ujarnya nenjelaskan. Kania mencoba menerima penjelasan Permadi secara logika.
Lagi-lagi Kania luluh dengan ucapan Permadi, Kania melirik jam yang melingkar di tangannya ia pun meminta Permadi untuk mengantarkan-nya pulang. Mereka keluar dari kamar hotel pukul tujuh malam tanpa sengaja ayah Kania Ardana Dinata melihat Kania dan Permadi saling melingkarkan tangan di pinggang saat cek out dari hotel.
Setelah meeting selesai Ardana mengakhiri meetingnya dengan saling berjabat tangan sebelum kliennya pamit undur diri. Dan ingin segera secepatnya menemui Kania di lobby hotel, untuk menanyakan keberadaan mereka berdua di hotel tempat ia mengadakan pertemuan bersama kliennya. Namun Ardana terlambat Kania dan Permadi sudah masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan area parkir hotel.
Ardana mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar ia sampai lebih dulu di rumah sebelum Kania putrinya tiba di rumah, Ardana nampak begitu marah Kania masih saja menjalin hubungan dengan Permadi. Ardana mengeratkan rahangnya keras jari- jemarinya mengepal mengetukan kepalan tangannya pada kemudi mobil, menambahkan laju kecepatan yang hampir saja menabrak pengendara motor yang melaju dari arah berlawanan.
Ardana sampai di rumah lebih cepat 10 Menit dari jarak tempuh dan waktu dari kecepatan normal setiap harinya. Ardana membanting pintu mobil sangat keras hingga membuat Ratna mengelus dadanya, sangking kagetnya dan mengikuti langkah suaminya yang masuk ke dalam rumah dengan tergesa gesa.
__ADS_1
"Mas, kamu itu kenapa sih datang-datng ko langsung marah- marah?" tanya Ratna bingung. Seraya meraih tas kerja suaminya.
Ardana meneguk air putih hingga tandas menampakkan kilatan amarah yang nampak di wajahnya. Bisa saja Ardana menumpahkan rasa marahnya pada wanita di hadapannya yang sudah hampir 30 tahun menemani perjalanan hidupnya. Tanpa kata dan suara yang keluar dari mulutnya hanya rasa marah yang mewakili dirinya. Terdengar suara mobil berhenti tepat di depan Pagar rumah, Permadi turun membukakan pintu mobil. Kania turun dari mobil dan masuk setelah Permadi pamit pulang dan mengucapkan kata maaf serta mencium kening Kania pelan.
" Hati-hati!" ucap Kania yang di balas senyum tipis juga anggukan kecil dari Permadi.
Kania masuk ke dalam dengan langkah ringannya belum sampai Kania melangkah menapaki anak tangga Ardana mendekati putri bungsunya dan menampar pipi kirinya hingga lima jari ayahnya tercetak jelas di pipi mulus Kania. Dengan tubuh gemetar Kania memegangi pipinya yang merah dan panas. Kania membelalakan kedua matanya menatap Ayahnya, Ratna begitu terkejut dengan sikap suaminya yang mendadak sangat marah dan menampar Kania tanpa bertanya dulu apa masalahnya.
"Mas!" kejut Ratna mendekati putrinya yang masih memegangi pipinya dengan air mata yang telah luruh membasahi pipinya.
"Tanyakan pada anakmu sedang apa dia di hotel dengan duda berengsek itu?'' dengan jari menunjuk ke arah Kania. Ratna pun tak kalah terkejutnya mendengar penjelasan suaminya.
"Kania, sudah berapa kali mama ingatkan jauhi Permadi! Kenapa kamu selalu tidak mau dengar kata- kata mama." Kania hanya menatap hampa pada kedua orang tuanya dan mengusap air matanya kasar.
...****************...
Di mobil Permadi menelpon Dita mengatakan jika dirinya dan Nadia pulang kerumah miliknya, yang mendapatkan jawaban sinis dari mamahnya.
π ~ Mah, malam ini aku sama Nadia pulang ke rumah kita.
π~ Terserah...."
Permadi pun heran tidak biasanya mamanya menjawab telpon darinya dengan nada sewot.
__ADS_1
Permadi mengangkat bahunya berdecak. Permadi pulang kerumahnya tanpa sengaja Permadi melihat mobil mamahnya baru saja keluar dari halaman rumahnya yang di antar Pak Sobri. Permadi memarkir mobil di depan halaman mencoba masuk kedalam. Permadi mengira jika mamanya datang mengantarkan Nadia dan Fafa.
Ternyata ia tidak menemukan keberadaan Nadia juga Fafa rasa kangen tiba-tiba muncul di benaknya. Memandangi Foto Fafa tersenyum lebar di usianya yang baru menginjak satu tahun saat baru belajar berjalan, mengusap sudut matanya yang mengembun.
" Maafkan ayah Fafa, ayah tidak pantas untuk kau sayangi," lirihnya pada figura di tanganya.
πΌπΌπΌ
Nadia merasa tidurnya tidak nyaman membalikkan tubuhnya ke kanan dan kiri berkali-kali. Hingga akhirnya duduk dan meraih bantal di dekatnya dan memeluknya erat. senyum manisnya terukir di kala mengingat sikap lembut Arsahaka padanya, membelai lembut pipinya yang dengan berani untuk pertama kalinya Arshaka ingin mencium bibir Nadia.
Namun Arsahaka mengurungkan niatnya saat akan menyatukan bibirnya pada bibir Nadia bayangan Bunda Maya seketika menghentikan aktifitasnya di dalam mobil.
Begitu juga dengan Arshaka tak dapat memejamkan matanya, sejenak membayangkan wajah wanita masa depannya. Memenuhi ruang hati dan pikirannya, Arshaka mengulas senyum di wajahnya membayangkan jika dirinya benar benar menikahi Nadia dan melakukan perjalanan honey moon-nya di Pulau Dewata.
Sepanjang hari bersama Nadia di kamar pengantinnya melewati malam-malam panjang pertamanya. Membangun keluarga bahagianya bersama anak-anaknya membayangkan bagaimana repotnya Nadia mengurus dua anaknya yang berlarian lucu dengan perutnya yang besar karna mengandung anaknya yang ke lima. Bibirnya menyunggingkan senyum lucu jika itu benar-benar terjadi Arshaka tersenyum menggelengkan kepalanya.
Nadia chamelia.
Teman-Teman mohon dukunganya like Komen dan vote terima kasih ππππ€π€π€
Love πππ You
__ADS_1