
Drttttt....Drrttt
Ponsel Arshaka terus saja berdering, Bunda Maya melihat ponsel putranya tergeletak di meja ruang keluarga. Melirik jam dinding menunjukkan pukul 21.45 menit sudah dua kali hapenya berdering namun Arshaka tak nampak di sana. Bunda Maya meraih ponsel Arshaka mencoba mencari putranya di kamar ternyata benar Arsahaka berada di balkon kamar entah apa yang sedang di pandangnya hingga putranya senyum-senyum tak jelas.
"Shaka...Shaka!" panggil bundanya dengan menyentuh bahunya.
Sontak membuat Arshaka terkejut serta gugup mendapati Bundanya berada di kamarnya secara tiba- tiba.
"Kamu itu kenapa Shaka, senyum senyum sendiri di balkon? Hapemu bunyi terus sejak tadi." goda Maya sambil menyodorkan ponselnya. Arshaka tersipu malu meraih ponsel dari tangan Bundanya.
"Kalo sudah mantap dan yakin kenapa tidak di ajak main kerumah?" tanya bundanya yakin.
"Dia wanita yang baik, Bun. Sangat tangguh, penyayang dia juga cantik seperti Bunda" ujarnya membayangkan wajah ayu gadis dalam bayangannya.
"Lalu apa lagi yang kamu tunggu Shaka? Cepat kanalkan pada Bunda juga Ayah." Namun senyum Arshaka berubah sendu mendengar penuturan dari bundanya.
Belum sempat Arshaka menjelasakan ponselnya kembali berdering di lihatnya layar pipihnya. Tertera panggilan dengan nomor pribadi atau private number. Arshaka mengerlingkan dahinya dan enggan menerima panggilan dari nomor yang tidak jelas, dan membiarkannya berdering tanpa mejawabnya.
"Kenapa tidak di angkat? Siapa tahu penting telpon dari rumah sakit mungkin." imbuhnya lagi sambil merapihkan bantal serta selimut Arshaka. Lalu keluar dari kamar putranya dan menutup pintu turun ke lantai bawah menemui suaminya yang masih berkutat di depan layar laptopnya di kamar.
"Sudah malam Yah, istirahat belum punya cucu nanti gak kuat gendong cucu lagi!" candanya menggoda suaminya yang masih serius dengan layar datarnya. Firman pun membuka kaca matanya dan menutup laptopnya dan menaruhnya di atas meja di samping ranjang. Mendekati istrinya menyentuh tengkuk serta pinggulnya yang mendapat respon terkejutnya dari istrinya.
"Eh...ehhh!! Kenapa ini yah, mau apa?" menangkis kedua tangan Firman yang hendak menggendong tubuhnya.
"Bunda perlu buktikan? Kalo Ayah masih kuat gendong Bunda. Apalagi cucu," Firman mencoba mengangkat bobot tubuh Maya.
"Sudah, sudah...Jangan macam- macam, Yah!" Maya menangkis tangan suaminya agar menjauh dari tubuhnya. Pasangan pasutri itu nampak harmonis meski di usianya yang tak lagi muda.
...****************...
Di hening malam dalam kesunyian jiwanya yang sepi, Andrea memeluk layar ponselnya yang terpasang di layar wallpaper foto Arshaka. Pria sekaligus kekasih yang masih di cintainya ia berjuang melawan sakit serta rasa rindu yang mendera tiap kali mengingat kisah cintanya.
"Arsha apa kau tidak merasakan getaran jiwaku, yang selalu menangis karena rinduku akan hadirmu," tangis Andrea hingga dadanya terasa penuh dan sesak.
__ADS_1
Tania merasakan betapa sakitnya perasaan putrinya yang berjuang untuk sembuh, tanpa berani memberi tahu pada Arshaka tentang kabar dirinya yang sebenarnya.
"Mungkin kamu mengira jika Andrea sengaja meninggalkan mu Arsha. Kamu pasti mengira jika putriku telah Pergi bersama laki-laki lain." ucap Tania lirih di balik pintu kamar Andrea mengusap air matanya dan berlalu.
Andrea kembali menekan kontak nomor Arshaka agar ia tahu bahwa dirinyalah yang telah menghubunginya beberapa kali yang lalu. Lagi-lagi ponsel Arshaka berdering dengan kontak yang sama private number ia pun mencoba mengikuti saran Bundanya.
"Mungkin saja ini penting." gumamnya ia pun menekan tombol hijau.
~ Hallo.
Pertama tak ada respon Arshaka kembali mengulang
~ Hallo!! tetap sama,
Arshaka menatap sekilas ponselnya karena tidak ada jawaban apapun Arshaka merijek panggilan yang di anggapnya panggilan misterius.
Andrea menangis memeluk ponselnya kembali, hanya suara tegas dan sedikit parau yang mampu ia dengar tanpa berani membuka suara masih terasa berat untuk Andrea berkata jujur. Menatap pantulan dirinya di cermin membuka penutup kepalanya yang telah polos bak kepala bayi tanpa sehelai rambut di kepalanya. Yang dulu tergerai indah tiap kali Arshaka membelai serta mencium aroma wangi yang menguar dari helaan rambutnya. Lingkar mata semakin hitam, wajah semakin pucat tubuh semakin kurus dan sakit tiap kali melakukan kemoterapi, setelah operasi sumsum tulang belakang pun tidak menunjukkan adanya tanda tanda kondisi Andrea membaik.
"Biar Nadia bantu goreng ikannya Ma!" tawar Nadia yang ingin membantu mama mertuanya masak.
"Gak usah, kamu gak tau caranya ini untuk Fafa makan," ucapnya datar dengan spatula ditangannya tanpa menatap Nadia.
Dita melirik menantunya yang menata peralatan makan dari dapur ke meja makan. Nadia merasa sikap mama mertuanya sedikit berbeda tidak seperti biasanya berbicara lembut dan sayang padanya, Nadia berfikir mungkin mama Dita sedang ada masalah pikirnya tanpa ambil pusing. Nadia menuangkan susu dan air putih serta mengoleskan selai pada roti gandum untuk Permadi dan papa mertuanya sarapan.
"Nadia, kamu gak bangunin suami mu?" ketusnya mama Dita lagi.
"Sudah Ma, Mas Permadi sudah rapih biar Nadia panggil buat sarapan," langkahnya.
"Ya, sudah sana lihat, nanti terlambat lagi!" Nadia pun ke atas melihat mantan suaminya yang berada di balkon dengan ponsel di tangannya.
"Mas, nggak sarapan semua udah nunggu di bawah?" tanya Nadia dingin. Yang di balas jawaban singkat Permadi.
"Hemm,"
__ADS_1
Permadi menekan layar pintarnya menyimpannya ke dalam saku jasnya. Mereka pun melakukan sarapan pagi tanpa obrolan hanya dentingan garpu dan pisau roti yang mereka pakai untuk mengiris. Hanya Nadia saja yang sarapan dengan nasi lauk serta tumis sayur, ia tidak terbiasa sarapan dengan roti menurutnya masih lapar.
Apa lagi untuk pekerja berat yang mengandalkan tenaga juga otot. makanan beratlah sumber energinya, setelah selesai makan Nadia membantu membereskan meja. Dita mengajak Fafa di taman depan mengantar suaminya berangkat kerja di susul Nadia yang juga berada di belakang mertuanya. Melakukan hal yang sama meski harus berpura-pura demi keadaan yang tetap kondusif, sampai waktu yang tepat tiba untuk mengatakan yang sebenarnya pada semua.
"Fafa, Opa berangkat dulu Sayang! Nanti kita main lagi Ok!" pamit opa Sapto pada cucunya serta mencium pipi gembil Fafa.
"Hati-hati Opa!" pesan Dita yang menirukan suara balita.
Dan melambaikan tangan Fafa yang di pegangnya. Permadi melempar senyum pada putranya yang kini lebih lebih sering tinggal bersama dengan omanya dan opanya.
"Hai Fafa, anak papah suah gede sudah pinter, salim papa, sayang!" Permadi menjulurkan tangannya mengajarinya salim tangan pada putranya. Fafa pun mencium punggung tangan papanya dengan lucu.
Nadia turut mendekat melakukan hal yang sama karena ada mama mertuanya, jika tidak Nadia tidak akan perduli mau berangkat mau tidak terserah toh Nadia tidak lagi terikat kewajiban yang semestinya seorang istri lakukan.
"Hati-hati mas!" ucap Nadia tanpa ekspresi.
Setelah mobil Permadi berlalu Dita mendekati menantunya memintanya melanjutkan menyuapi Fafa.
"Nadia kamu lanjutin suapin Fafa mama mau siap siap ketemu tante Rossa, jangan lupa jam 9 nanti kasih Fafa buah biar gak keras puff nya! Kamu beneran udah berhenti kerja? " tanya Dita memastikan.
" Iya, Mah Nadia udah Resign dari kerjaan." jawab Nadia sambil menyuapi Fafa dengan nasi team ikan salmon buatan omanya.
Fafa begitu lahap makan sambil lari-larian dengan celotehan lucunya, tanpa Nadia sadari mobil Grigio Telesto milik Dokter Arshaka berhenti di depan gerbang rumah Mertua Nadia.
Menatap wanita beranak satu itu yang sedang bercanda lucu bersama putranya, nampak senyum tersungging di bibirnya dokter tampan merogoh hape di jas putihnya mengirimkan pesan singkatnya pada Nadia.
✉️~ Kau cantik hari ini, dan aku suka!"
( Kayu lagu aja! )
Nadia mendengar pesan masuk di hapenya meraih ponselnya yang tergeletak di bangku besi taman dan membukanya. Nadia nampak merona membaca pesan dari pria yang berhasil mencuri hatinya. Nadia pun melempar pandangannya ke depan gerbang nampak mobil mewah berwarna putih terparkir di depan.
Nadia membalas senyum Arsahaka dari kejauhan, Arsahaka melambaikan tangannya, Nadia menggendong Fafa yang sudah mulai bosan bermain hingga akhirnya mobil Arshaka pergi meninggalkan gerbang rumah kediaman keluarga Sapto Cahyo Permadi.
__ADS_1