Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Kehamilan Kania


__ADS_3

Jam dinding berputar sangat cepat Arshaka menyempatkan diri makan siang bersama Nadia meski telah terlewat. Membersihkan peralatan makan meletakkan piring gelas dan yang lainnya ke tempat semula. Nadia baru ingat jika bunda Maya telah menghubunginya.


"Mas, bunda telpon katanya mau minta di temani belanja," ujar Nadia.


"Oh, ya kapan?


"Besok Mas, bunda meminta Ku untuk menemaninya belanja."


"Tumben bunda belanja minta di temenin, biasanya bunda belanja cuma diatar supir," Nadia mengindikkan kedua bahunya sebagai tanda tidak tahunya.


"Mungkin bunda sudah mulai bosan mas, belanja sendiri terus. Sekali-sekali minta ditemenin sambil ngobrol," ucap Nadia berjalan mendekati Arshaka.


"Ya. Bunda sudah mulai bosan dan minta di temani sama calon menantunya. Atau bunda mau pamer sama teman arisannya karena bakal punya menantu cantik." goda Arshaka sambil mencapit dagu Nadia, yang baginya sangat menggemaskan.


"Jangan gombal mas, nanti aku yang kecewa." selorohnya lagi.


Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya mendengar balasan dari mulut Nadia Arshaka pun bergumam di dalam hatinya,


Mungkin akulah orang yang akan membuatmu kecewa Nadia. Dan aku tidak menginginkan itu terjadi meski suatu hari nanti kau akan tahu yang sebenarnya.


"Mas... Mas kenapa bengong?"


"Ehhh, iya Nadia.'' jawabnya ambigu.


Arshaka melirik jam yang melingkar di tangannya sudah waktunya Arshaka kembali ke rumah sakit. Ada jadwal pertemuan pasien di ruang Cempaka malam nanti, Ia segera pamit dan bersiap ke apartemen mandi dan mengganti pakaian sebelum kembali ke rumah sakit.


"Nadia aku harus kembali ke rumah sakit, jangan lupa menghubungi ku besok, sebelum pergi bersama bunda aku akan menjemput mu.''


"Iya Mas. Ya sudah sana berangkat keburu sore," usir Nadia dengan senyumnya.


"Calon istri ko jadi galak gini, sihh!" godanya lagi. Arshaka membuka pintu mobil memutar kunci sebelum mobil bergerak pergi.


Nadia melambaikan tangan pada pria yang menjadi idola kaum hawa di rumah sakitnya sendiri tempatnta bekerja. Gosip yang begitu santer terdengar setelah tahu dokter tampan yang di elu-elukan itu telah menjadi milik dokter Andrea.


Para suster yang mencoba menarik perhatian dokter sekaligus manager utama mereka pun kecewa.


Lama tidak terlihat dokter Arshaka dan dokter Andrea tidak lagi jalan bersama, para pegawai serta dari kalangan seprofesinya berasumsi jika dokter Arshaka dan dokter Andrea telah putus hubungan. Dan mencari tahu masalah retaknya hubungan mereka dan justru dikejutkan dengan kedekatannya dengan janda muda beranak satu yang merupakan putri dari pasien rumah sakit tesebut pula.


Setibanya di apartemen Arshaka segera membersihkan diri dan bersiap ke rumah sakit untuk jadwal selanjutnya.

__ADS_1


***


Di tempat dimana Kania dilarang untuk bertemu dengan kekasihnya Permadi. Sebaliknya Kania semakin nekat untuk pergi dan mencari cara bagaimana dirinya bisa lolos dari sangkar mas yang telah mengurungnya selama ber-hari.


disaat Kania berpikir keras mencoba mencari cara tapi tubuhnya mendadak menjadi lemas dan gemetar.


"Aku harus mencari cara untuk keluar dari sini. Aku harus menemui Permadi dia harus tahu masalah kehamilan Ku.'' gumam Kania meyakinkan dirinya.


Tokk...!!


Tokk... !!


Seseorang mengetuk pintu kamar Kania tanpa bersuara. Ia segera membuka pintu dengan langkah cepatnya, pria tegap dengan wajah sedikit bengis kini tepat dihadapan Kania.


"Ayah! Kania mohon biarkan ak_" tubuh Kania ambruk, Ardana dengan sigap menangkap tubuh Kania yang hampir jatuh ke lantai.


"Kania?! Bangun Kania!


"Mas, Kania kenapa pingsan?" tanya Ratna panik.


"Kita harus bawa Kania ke rumah sakit, Mah," perintah Ardana cepat. Ardana segera membawa tubuh lemah putrinya kedalam mobil yang diikuti Ratna istrinya di belakang.


Dering ponsel di sakunya bernada nyaring mengejutkan dirinya yang tengah memikirkan kondisi Kania yang sedang tidak baik-baik saja, Ratna melirik sekilas suaminya. Dari bahasa tubuhnya Ratna dapat melihat wajah cemas Ardana yang nampak begitu jelas. Setelah menerima panggilan telepon dari kantor Ardana menghampiri istrinya.


"Bagaimana, Mah apa dokter sudah keluar dan mengatakan sesuatu?" tanya Ardana melirik pintu yang tak kunjung terbuka.


"Apa ada masalah serius mas?" tanya Ratna melihat wajah tegangnya.


"Ayah minta mama jaga Kania. Ayah harus ke kantor ada sedikit masalah yang harus di tangani." pamit Ardana menatap pintu ruangan dimana Kania masih dalam penanganan dokter.


Ardana pun pergi melewati deretan ruangan besar yang bersisian membawa langkahnya keluar menuju area parkir. Pintu ruangan pun terbuka Ratna segera mendekati pintu dimana dokter memanggil orangtua pasien.


"Keluarga pasien atas nama ibu Kania," panggil seorang perawat dengan papan jalan di tangannya.


Ratna segera mendekat "Saya ibu dari pasien, Suster," ujarnya.


"Silahkan pasien sudah bisa dijenguk," ucap suster.


"Maaf, Dok. Sebenarnya putri saya sakit apa?" tanya Ratna. Yang sudah tidak secemas sebelumnya.

__ADS_1


"Ibu Kania tidak mengalami sakit yang serius. Hanya saja kandungannya yang hampir memasuki trismeter awal sangat riskan dan beresiko, jika ibu Kania terlalu stres," mendengar penjelasan dokter membuat Ratna syok dan tidak mampu berkata-kata lagi. Hanya tatapan matanya yang nampak seolah ingin mengatakan sesuatu menatap wajah pucat putrinya yang masih di bawah pengaruh obat.


Apa Kania hamil? ujarnya dalam hati.


"Bu...bu Ratna!'' panggil dokter heran melihat wajah kaget orangtua pasien.


"Ehh, iya dok maaf."


"Saya harap ibu bisa menjaga kondisi kandungan ibu Kania untuk tidak memikirkan hal-hal yang berat." saran dokter pada ibu Kania dan beranjak pergi dari ruangan.


"Hamil! Kania hamil, bagaimana jika ayahnya tahu? Dia pasti akan sangat murka, Kania kau sungguh keterlaluan bisa-bisanya kamu hamil di luar nikah.'' geram Ratna marah menyesali sikap buruk putrinya.


"Mah, mamah! Tolong Kania mah jangan beritahukan ini pada ayah jika Kania_"


"Cukup Kania! Berapa kali mama melarang mu untuk tidak lagi berhubungan dengan Permadi. Kau telah membuat kesalahan besar, dengan kehamilan mu ini mama tidak bisa menjamin kemurkaan ayahmu. Kau pikirkan saja bagaimana caranya agar ayahmu tidak mengetahuinya, Kau membuat malu keluarga kita Kania." ucap mamanya menangis keluar seraya meraih tasnya dan menyelesaikan administrasi rumah sakit.


"Maafkan Kania, Mah... Maaf!" rintih Kania merutuki kebodohannya. Memegangi perutnya yang masih rata.


Menyesal pun tak ada gunanya semua telah terjadi begitu saja. Kini telah ada kehidupan baru di rahimnya yang harus ia jaga. Seperti panjangnya waktu yang yang lama ia tunggu hanya demi seorang Permadi mantan kekasih yang telah beristri.


🍁🍁🍁


Esok hari di pagi yang cerah dibawah hembusan bayu dengan semburat cahayanya yang menebar rasa hangat di setiap insan. Dimana mereka melakukan rutinitasnya setiap harinya sesuai tujuan mereka masing-masing.


Nadia yang telah bersiap untuk pergi bersama calon ibu mertuanya berbelanja hanya tinggal menunggu mobil menjemputnya. Sesuai perintah Arshaka ia akan menghubunginya sebelum ia berangkat, Setelah melakukan panggilan Nadia menunggu kedatangan Arshaka dengan duduk di kursi depan yang berada di teras.


Mba Nadia udah rapih aja mba Nadia udah di bolehin kerja sama pak dokter?" tanya Tantri yang sebenarnya ingin menggoda kakaknya.


"Mba mau nemenin bunda Maya belanja, sebentar lagi Mas Arshaka yang jemput untuk kerja mas Arsha tetap nggak bolehin mba, Tantri." jawab Nadia santai. Melirik ke arah ujung jalan dan benar saja mobil dengan warna hitam mengkilat telah sampai di depan halaman rumah.


"Emm, gitu. Tuh pangeran udah dateng!" godanya lagi tanpa dosa. Yang cengar-cengir menyambut datangnya calon kakak iparnya.


"Nadia kamu sudah siap?" tanya Arshaka membuka pintu mobil. Angguk Nadia tersenyum.


"Hai Tantri! Kau juga mau berangkat kerja?" tanyanya. Dengan melihat penampilan Tantri yang telah siap bertengger diatas motor scoopy merahnya.


"Ya nih, Pak dokter Tantri mau berangkat. Selamat bersenang-senang pak dokter, mba Nadia." ujar Tantri melambaikan tangan pada keduanya seraya memantik gas maticnya.


Arshaka segera mengantar Nadia ke rumahnya, untuk bertemu bundanya dan meminta pak Lukman untuk mengantarkan Nadia dan bundanya ke pusat perbelanjaan.

__ADS_1


__ADS_2