
"Bundaaaaa!" panggil Fafa. Pandangan Fafa tak lepas pada pria yang menggandeng menggenggam erat tangan bundanya.
"Papa!" teriak Fafa lari menghampiri Arshaka yang tersenyum padanya.
"Fafa kau sudah besar, Nak. Dan makin gendut saja." Arshaka meraih tubuh gembul Fafa dan menggendongnya.
"Bunda apakah dia papa Ku?" Nadia tersenyum menganguk pelan. Tanpa memberikan penjelasan apapun pada keduanya.
Aldo harus menelan kenyataan pahit jika ajakannya membawa Nadia dan putranya justru membawa pada kebahagiaan wanita yang dicintainya.
"Mas Aldo!" ujar Nadia memanggil pria yang selama tiga tahun ini ada untuknya.
"Paman Al! Lihatlah papaku sudah kembali dali Aflika!" berontak Fafa dari gendongan Arshaka yang ingin menghampiri Aldo untuk memamerkan pria yang di anggap papanya.
"Paman Al senang sekali akhirnya Fafa bisa bertemu papa mu. Are you happy?" tanya Aldo mengacak pucuk kepala Fafa.
"Yes, uncle lm happy," jawab fafa singkat.
Nadia dan Fafa menginap di hotel yang sama yang sudah di siapkan oleh manager Aldo sebelumnya. Aldo dan Arshaka menginap di kamar yang sama sedangkan Nadia bersama Fafa di kamar sebelah.
"Bunda, kenapa papa tidak tidur sama kita?" tanya Fafa dengan polosnya.
"Kalo papa tidur bersama kita nanti Paman Al tidur sendiri kan kasihan Paman Al tidak ada yang ajak ngobrol." tutur Nadia menjelaskan.
"Tapi Fafa mau tidur sama papa, Nda. Fafa masih kangen sama papa," rengek Fafa minta tidur bersama Arshaka yang dianggap papanya.
"Iya sebentar sayang biar bunda yang telpon papa," Nadia mengirim pesan singkat pada Arshaka jika Fafa ingin minta tidur bersamanya.
~ 💌 Mas Fafa ingin tidur bersama mu ajaklah Fafa di kamar mu.
__ADS_1
~💌 Oke aku akan mengajak Fafa tidur bersamaku.
Balas Arshaka mengirim pesan singkatnya pada Nadia.
"Aldo sorry kalo malam ini kita harus berbagi ranjang bertiga dengan Fafa. Nadia mengatakan jika Fafa ingin bersama ku." Aldo tersenyum menganguk.
"Oke tidak masalah. Itu karna Fafa masih kangen papanya," Aldo kembali menekuni layar laptopnya. Sekedar mengusir rasa jenuhnya karena patah hatinya ia harus menjadi saksi di acara pernikahan Nadia dan Arshaka besok pagi setelah usai melakukan penanganan di posko.
Nadia membuka pintu kamar setelah mendengar bel pintunya berbunyi. Fafa segera lari mendahului bundanya memintanya segera membukakan pintu untuk papanya.
"Papa, ayo kita tidur di sini sama bunda," ajak Fafa menggandeng tangan Arshaka.
"Fafa, bagaimana jika kita tidur bertiga bersama Paman Al? Pasti lebih seru," ujar Arshaka membujuknya untuk tidur di kamar satunya.
"Fafa, nggak mau. Fafa mau tidur di sini sama bunda sama papa seperti teman-teman sekolah Fafa. Bunda di sini papa di sini dan aku di tengah," Arshaka tersenyum lucu melihat aksi fafa yang pintar dan menggemaskan. Jagoan kecil itu sudah pandai mengatur tempat tidur untuk mereka.
Arshaka menatap wajah Nadia yang sudah merah padam akibat ulah putranya yang membuat wajahnya bersemu merah karena malu.
"Papa ko' papa diam aja!" Ayo kita bobo sekalang Fafa ngantuk." sentaknya mengejutkan Arshaka yang masih saja tidak melepaskan pandangannya pada Nadia.
"Eh, iya sayang ayo kita bobo. Fafa, jangan lupa baca do'a sebelum tidur sayang!" perintah Arshaka dan bundanya mengintrupsi.
"Baik bunda," jawab Fafa lalu membaca do'a bersama. Fafa pun memejamkan matanya setelah beberapa menit telah tertidur.
Mereka pun tidur saling memeluk Fafa, Arshaka mengusap lembut pipi Nadia yang ikut terlelap. Nadia pun membuka matanya perlahan merasakan ada sentuhan lembut di pipinya.
"Mas Arsha!" ucapnya lirih. Arshaka tersenyum masih dengan posisi sama mengelus pipi Nadia dan bibirnya memeluk perut Nadia yang membuatnya nyaman.
Arshaka melepaskan pelukan tangannya di tubuh gembul Fafa, Lalu beranjak disebelah Nadia berada. Awalnya Nadia menolak karena merasa belum berhak atas hubungan yang belum resmi sebagai pasangan suami-istri. Arshaka berusaha membujuknya Nadia dan meyakinkan bahwa tidak akan terjadi apa-apa diantara mereka hanya ingin sekedar melepas rasa rindu padanya.
__ADS_1
"Mas kau mau apa?" tanya Nadia takut.
"Mau apa? Ya aku mau khilaf lah sama calon istrku, boleh ya!" ucap Arshaka semakin menggoda Nadia.
"Mas Arsha!'' panggilnya dengan sorot matanya yang tidak benar-benar marah padanya.
''Iya apa? jawab arshaka sedikit sensual di pipi Nadia. Sambil menggenggam tangan Nadia dan terus menggodanya.
" Fafa sudah tidur mas. Sana kembali ke kamar mu bersama Aldo."
"Jika aku tidak mau bagaimana? Aku mau di sini, sayang," Arshaka terus saja menggoda Nadia sampai kedua pipinya benar-benar merah seperti tomat matang yang siap di petik. Dan itu membuat Nadia sangat malu,
"Mas kamu sengaja mau membuat ku malu 'kan? Ayo ngaku!" Nadia mencubit pinggang Arshaka membalas menggodanya.
"Aku sudah tidak sabar ingin segera menghalalkan hubungan kita, aku takut tidak bisa menahan diriku jika berada di dekatmu terlalu lama Nadia. Besok kita harus segera menikah meski harus menikah siri, setelah di jakarta kita akan mengurus dokumen secepatnya untuk meresmikan pernikahan kita secara agama dan negara.'' Nadia mengangguk tersenyum mendengar kata-kata Arshaka dan dirinya benar-benar merasa yakin.
Arshaka menyambar bibir Nadia begitu saja sedang Nadia tidak siap dengan serangan dari Arshaka yang tiba-tiba membuat jantungnya berdegup kencang. Tidak ingin ciuman itu semakin panas dan menuntut Arshaka menyudahi aktivitasnya yang semoat sempat membuat darahnya semakin panas.
"Aku ingin mendapatkan kejutan dari mu Nadia. Dan Aku tidak ingin merusak malam suprise ku." Arshaka mengecup kening Nadia lembut. Nadia mengantar calon suaminya sampai depan pintu kamar dan kembali menutup pintunya.
Arshaka masuk ke kamar mendapati Aldo telah lelap bersama mimpinya. Melirik jam dinding menunjukkan pukul 11 malam. Arshaka berniat ingin kembali ke posko untuk mengambil kopernya yang masih tertinggal di tenda sekalian pamit pada teman-teman relawan lainnya jika ia akan menyewa tempat untuk 10 hari ke depan untuk ia tinggali bersama Nadia dan Fafa setelah besok usai ijab qabul.
Arshaka tidak berani membangunkan Aldo yang telah tidur dengan nyenyak, ia segera meraih kunci mobilnya menuju tenda posko.
Aldo melirik sekilas Arshaka yang telah keluar dari kamar hotelnya, dan melihat mobil arshaka telah keluar dari loby hotel dari atas balkon.
"Mau pergi kemana Arshaka malam-malam begini?" ujar Aldo menatap mobil Arshaka yang telah bergerak menjauh meninggalkan hotel.
__ADS_1
Kau sungguh beruntung Arshaka kaulah pemenangnya, hanya Kau yang bisa menaklukkan hati Nadia. Sekuat apapun aku berusaha mendapatkan cinta Nadia, Sekuat itu pula Nadia membentengi hatinya hingga membuat ku sulit menembusnya.
Aldo terus bermonolog pada dirinya dan berusaha menata hati yang masih terasa pedih, meski belum bisa merelakan Nadia sepenuhnya.