
Nadia terbangun dipukul tiga fajar ia kembali merasakan mual di perutnya secepatnya ia turun dari ranjang memuntahkan isi perutnya.
“Sayang!“ panggil suaminya. Arshaka membuka kedua matanya meski masih terasa sangat berat karena rasa kantuk ia menyusul istrinya dikamar mandi. “Sayang mual lagi?“ sambil memijat tengkuk Nadia.
“Aku nggak kenapa-napa, Mas cuma mual sedikit.“ jawab Nadia sambil mencuci mulutnya.
“Mau mas buatkan sesuatu?“ Nadia mulai berpikir ingin dibuatkan apa oleh suaminya.
“Susu aja mas yang rasa coklat.“ jawabnya cepat.
“Sudah, Sayang itu aja?“ memastikan.
“Tunggu mas!“ suaminya menoleh. “Harus mas yang buat nggak boleh yang lain, nanti rasanya jadi tidak enak.“ Arshaka tersenyum menghampiri Nadia.
“Kayaknya anak ayah jadi manja beneran, maunya sama buatan ayah aja? Tunggu sayang ayah buatin sebentar.“ Mengusap perut Nadia lembut, lalu beranjak ke dapur membuatkan susu hangat rasa coklat.
“Mau buat apa, Shaka bawa-bawa gelas?“ tanya bunda Maya keluar dari kamar mandi.
“Buatin susu hamil buat Nadia, Nda.“ ujarnya
“Biar bunda yang buat mana gelasnya?“ pinta bunda meraih gelas dari tangan putranya.
“Jangan bunda!“ pekik Arshaka.
“Lho! Kenapa, Shaka?“ tanya bunda bingung.
“Nanti cucunya bunda bisa ngambek. Tadi sebelum Shaka kesini cucu bunda sudah pesan mau buatan ayahnya saja, Nda.“ Bunda Maya tersenyum menyerahkan kembali gelas ditangannya.
“Cucu oma sudah mulai manja ternyata.“ cicit bunda Maya kembali ke kamar.
__ADS_1
Tidak lama Arshaka membawakan segelas susu hangat buatannya. “Sayang ini susu hangatnya spesial buatan ayah.“ Nadia tersenyum mengambil gelas dari tangan suaminya.
“Terima kasih, Mas,“ ujarnya.
menyesap sedikit susu itu lalu sesapannya berubah menjadi tegukan yang terlihat seperti orang yang kehausan dan lapar.
“Sayang, Hati-hati minumnya!“ melihat cara Nadia minum susu hamilnya sekilas Arshaka teringat pada Fafa jika minum terdengar suara tegukan didalam tenggorokannya.
“Kenapa, Mas?“ tanya Nadia heran yang tengah menatapnya dirinya aneh.
“Nggak papa sayang. Mau mas buatin lagi?“ Nadia menggeleng cepat. Meletakkan gelas di meja dekat ranjang, sebelum kembali tidur suaminya membawa gelas bekasnya kedapur.
Mereka kembali merebahkan tubuhnya di ranjang memeluk tubuh istrinya dari belakang, sehingga lebih mudah Arshaka mengusap-usap perut istriny'a yang belum terlihat menonjol. Usapan tangan suaminya terasa sangat nyaman dan menenangkan Nadia kembali tertidur lebih cepat.
Adzan subuh yang terdengar sayu-sayup memecah sunyi. Arshaka kembali mengerjapkan kedua matanya duduk di tepi ranjang mengusap kening istrinya dan menghujani wajahnya dengan ciuman lembut yang sengaja membuat tidur nyenyak istrinya terusik.
“Biarin habis tidur terus!“ menduselkan wajahnya ke dalam ceruk leher istrinya.
“Mas sudah, geliiii.....!!“ keluh Nadia tidak tahan menahan tawa mereka tertawa lepas sampai terdengar dari luar.
“Mas Shaka sama mba Nadia ngapain, sih subuh-subuh? Nggak punya perasaan banget. Nggak tahu apa kalo adeknya masih jomblo.“ keluh Tantri tiba-tiba merasa kangen pada Aldo pria yang berhasil mengacak-acak perasaannya.
ia pun bangkit dari ranjang segera ke kamar mandi mengambil wudhu.
Berbeda dengan Nadia dan Shaka yang kembali berkeringat setelah yang semalam terjadi, kini mereka sama-sama menginginkannya lagi. Sebelum akhirnya mereka mandi dan sama-sama melakukan ibadah berjamaah di kamar.
“Terima kasih sayang. I love you,“ menciumi wajah istrinya, membalut tubuh Nadia dengan selimut dan membawanya kekamar mandi.
...***...
__ADS_1
“Pagi, Bunda!“ sapa Nadia dan Shaka.
“Pagi, Sayang!“ jawab Bunda Maya.
“Mba Nadia, udah basah lagi aja! pasti habis....???
“Tantrii!!“ tegur bunda Maya. “ Seneng banget godain kakaknya.“ kedua kakaknya hanya tersenyum saling melempar pandang.
“Biarin, Nda biar panas dia liatin kita basah-basahan. Makanya buruan ajak Aldo nikah nanti keburu diembat orang.“ seloroh kakak iparnya.
“Kebalik mas Shaka. Ada juga aku yang keburu diambil orang,“ mereka semua jadi tertawa. Mendengar deheman Firman keluar menutup pintu kamar, yang tadi terdengar ramai tiba-tiba sunyi.
“Tadi Ayah dengar kelihatan ramai kenapa jadi sepi lagi? tanya Firman menarik kursi mundur sebelum mendudukinya. Mereka hanya tersenyum bertukar pandang.
“Ayah mau tahu aja!“ goda bunda Maya pada menuangkan teh hangat untuk suaminya.
“Jadi ayah nggak boleh tahu?“ meraih cangkir tehnya. “Shaka, nanti sebelum kamu berangkat ke rumah sakit keruangan ayah sebentar.“ ucapnya meletakkan kembali cangkir setelah menyesapnya.
“Baik, Ayah!“ jawab Arshaka cepat.
“Nadia sudah kelihatan gemukan. Makan yang banyak Nadia, jangan lupa minum vitaminnya. biar cucuku sehat dan cerdas sepet ayahnya dulu.“
“Iya, Ayah. Nadia akan menjaga cucu ayah dan bunda dengan baik.“ ucap Nadia tersenyum.
“Terima kasih, sayang!“ ujar suaminya menyambar kening istrinya.
“Mas! Kebiasaan,“ protes Nadia malu melirik semua yang ada di meja makan.
“Kan ayah belum tahu tadi kita ketawa kenapa,“ selorohnya asal. Lalu kembali melanjutkan ritual sarapannya.
__ADS_1