Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Hari Duka Kepergian Atta Rahendra Permadi


__ADS_3

Semua orang menjadi tegang acara pernikahan yang seharusnya menjadi hari bahagia Nadia dan Arshaka berubah menjadi hari duka. Lagi-lagi Nadia harus mengalami hal terburuk dalam hidupnya, setelah kepergian ibu dan ayahnya.


Langkah kaki yang saling berbenturan dengan lantai suara tangis orang yang berada di sekitar. Serta suara bunyi serena mobil polisi yang saling bersahutan masih dapat Fafa dengar meski samar- samar.


“Dokter, cepat tolong selamatkan nyawa putraku sekarang!“ perintah Permadi sedikit kasar dan penuh permohonan.


’’Anda bisa tunggu diluar. Kami akan berusaha menyelamatkan nyawa putra Anda. Bantu kami dengan do'a, Suster siap semuanya!“ ucap dokter dan menutup pintu ruangan instalasi unit gawat darurat.


Semuanya duduk tidak tenang memikirkan keselamatan nyawa Fafa. Sapto dan istrinya berjalan mondar-mandir menangisi kejadian naas yang baru saja menimpa cucunya. Baru sebentar mereka merasa bahagia kembali bertemu dengan cucu laki-lakinya tapi Tuhan kembali mengujinya.


“Dimana anakku, Dimana Fafa mas?“ tangis Nadia menarik lengan suaminya.


“Sayang, tenanglah tim dokter sedang melakukan tindakan medis. Kita do'akan semoga Tuhan menyelamatkan Fafa, dan kita bisa melihat Fafa dalam keadaan selamat.“ ucap Arshaka memeluk istrinya memberi kekuatan dan memenangkan hatinya.


“Bantu aku turun mas, aku ingin melihat putraku.“ pintar Nadia memohon.


“Nadia kau harus tenang, Sayang. Ingat ada nyawa dalam rahim mu, Nak.“ pesan bunda Maya mengingatkan.


“Sayang sabar ya! Kita tunggu hasil pemeriksaan dokter. Ayah dan Om Baskoro sedang melacak keberadaan penjahat itu yang lari ke Bandara.“


Nadia mulai sedikit tenang meski pikirannya nyalang memikirkan keselamatan putranya. Mengingat kejadian mengerikan yang terjadi begitu cepat.


“Bunda minta maaf, Sayang. Bila akhirnya harus terjadi seperti ini,“ ucap bunda Maya merasa bersalah pada menantunya.


Nadia menggeleng kepalanya cepat. “Tidak bunda, ini semua bukan salah bunda tapi kejahatan ini sudah terencana dengan mengambil kesempatan yang ada.“ ujar Nadia mencoba mengerti dan tidak menyalahkan dari pihak mana pun.


“Benar apa yang Nadia katakan, mba Maya. Kejahatan ini sudah terencana secara matang.“ Hana berkata seraya melangkahkan kakinya mendekati brankar dan kakak sepupunya.


“Tapi siapa pelaku otak dari kejahatan ini. Kenapa setega itu kami merasa tidak memiliki musuh?“ tanya bunda Maya berpikir keras.

__ADS_1


“Karena sasarannya adalah Nadia. pihak kepolisian telah memberikan informasinya melalui cctv gedung, mobil sedan putih parkir didepan pintu utama diluar gedung.“ jelas Hana.


Arshaka teringat akan kejadian di Ambarawa saat mendengar obrolan antara Andrea dan papanya lewat telepon genggamnya.


Apa ini ada hubungannya dengan Andrea dan papanya? Tapi Andrea sedang ada di Bali kabar terakhir yang aku terima dari dokter Ibra jika mereka liburan di Bali. Dan Andrea telah menitipkan surat resign yang dititipkan oleh security.


Arshaka bermonolog mengaitkan kejadian di Ambarawa dan yang saat ini telah terjadi.


“Kau tahu sesuatu Shaka?“ tanya bunda Maya.


“Eh, tidak bunda.“


Ceklek suara pintu dibuka dari luar.


“Suster bagaimana dengan putraku?“ tanya Arshaka dan Nadia.


“Pasien memanggil bunda juga ayahnya.“ ujar suster itu memberitahu.


Nadia turun dari ranjang yang dibantu oleh suaminya menuju ruang UGD.


Semua keluarga dari pihak Permadi masih berada di luar ruangan menunggu izin dari dokter. Permadi ingin menerobos masuk tapi suster melarangnya masuk.


“Suster saya adalah papa kandung pasien. Kenapa suster melarang saya masuk?“ protes Permadi merasa tidak terima. Mama Dita mendekati Permadi mengusap punggungnya memintanya bersabar.


“Maaf Pak, pasien hanya ingin bertemu dengan bundanya. Dan pasien hanya boleh di jenguk dua orang saja.“ papar suster itu lalu kembali menutup pintu ruangan.


“Sayang ini bunda, Nak. Fafa harus kuat demi bunda, dan ayah.“ tangis Nadia memeluk putranya.


“Bunda!“ panggil Fafa dengan suaranya yang sangat lemah.

__ADS_1


“Iya sayang.“ jawab Nadia.


“Bunda jangan nangis lagi. Fafa mimpi bertemu nenek dan kakek mereka ajak Fafa pergi,“ kata Fafa nyaris melemah.


“Fafa bicara apa, Sayang? Ayah sama bunda disini jagain Fafa.“ tangis Nadia semakin etat memeluk tubuh putranya.


“Dokter jantung pasien semakin lemah.“ ujar suster.


“Cepat siapkan alat pacu jantung!“ perintah dokter.


“Fafa, harus kuat sayang!“ Nadia histeris, Arshaka keluar memberi kesempatan pada Permadi menemui putranya.


Permadi masuk setelah Arshaka memanggilnya, Ia berjalan mendekati brankar dimana putranya berbaring tanpa daya. dengan dipasang alat medis di tubuhnya.


“Sayang ini papa, Nak. Fafa ini papa sayang, maafkan papa tidak bisa menjaga Fafa dengan baik papa bukan papa yang baik.“ sesalnya dalam tangis mendekap tubuh lemah putranya.


“Papa!“ ucap Fafa dalam dihelaan nafasnya yang berat.


“Iya, Sayang. Om Permadi adalah Papa kandung Fafa.“ ucap Nadia menjelaskan.


“Papa!“ panggilnya lagi dengan suara yang sangat lemah hampir tak terdengar.


Tutttt....tuttttt......!“


Suara layar monitor berhenti seiring berhentinya detak jantung Fafa yang sudah tidak ada.


“Fafa!“ jerit Nadia kembali histeris. “Jangan pergi, jangan tinggalkan bunda.“ Nadia memeluk tubuh Fafa yang tak lagi bernyawa.


“Sayang, Nadia!“ Arshaka meraih tubuh istrinya yang tiba-tiba luruh kembali tak sadarkan diri.

__ADS_1


Satu persatu mereka yang menunggu diluar masuk kedalam melihat kondisi terakhir Fafa. Permadi tak bisa lagi berkata-kata menjambak rambutnya frustasi menjatuhkan dirinya ke lantai.


__ADS_2