
“Alhamdulillah, Yah si kembar sudah lahir!“ ujar bunda bahagia.
“Alhamdulillahirobbil'Alamin. Tuhan telah mengabulkan do'a kita,“ ucap Firman atas rasa syukurnya pada sang Khalik.
Bunda Maya tersenyum bahagia tidak sabar ingin segera melihat kedua cucunya. Didalam ruangan perawat sedang membersihkan baby twins setelah tadi Shaka mengazani kedua putranya.
Shaka menatap wajah istrinya yang masih lemah, mengusap lembut rambutnya dan memeluknya erat.
“Terima kasih sayang, kau adalah wanita hebat yang berhasil berjuang melahirkan putra kita.“ ucap Shaka mengecup kening Nadia.
“Siapa nama putra kita, Mas?“ tanya Nadia di helaan nafasnya.
“Mas sudah mempersiapkan nama untuk kedua putra kita, sayang. Shakti dan Shakhar.“
“Apa arti nama itu, mas?“ tanya Nadia dengan wajah serius. Belum sempat Shaka menjawab pertanyaan istrinya. Dua perawat datang membawa dua jagoan tampan mereka.
“Hallo, bunda kami sudah bersih dan wangi.“ ujar kedua perawat membawa dua baby twins mereka.
“Sayang lihatlah! putra kita menangis kencang sekali.“ ucap Shaka memberitahu Nadia.
“Bu Nadia bisa susui mereka bergantian.“ kata dokter Sandra sebelum beranjak keluar, menyisakan baby twins dan ayah bundanya. Bunda Maya dan suami segera beranjak setelah melihat pintu ruangan terbuka.
“Dokter Sandra! Bagaimana keadaan kedua cucu kami dan ibunya?“ tanya bunda Maya dan suaminya.
“Alhamdulillah, ibu dan bayinya semuanya sehat. Bu Firman sudah bisa menjenguknya, saya permisi!“ ucap dokter Sandra pada pasutri itu yang statusnya sudah menjadi opa dan oma.
“Assalamu'alaikum cucu oma dan opa!“
“Waalaikumsalam. Bunda, ayah!“ jawab Nadia dan Shaka.
“Sayang, bagaimana apa sudah merasa lebih baik?“ tanya bunda mengusap lembut pucuk kepala Nadia.
“Kami semua baik-baik saja, bunda. Alhamdulillah berkat do'a kalian kami selamat.“ bunda memeluk menantu kesayangannya.
__ADS_1
“Biar opa yang gendong kedua cucu opa. Berikan pada ayah Shaka, ayah bisa gendong keduanya.“ ujar Firman antusias dengan bangganya.
“Ayah tidak akan bisa menggendong keduanya. Shakti jika menangis sangat kuat. Ayah pasti kewalahan menggendongnya.“ Shaka berkata pada ayahnya. Bunda dan Nadia tertawa mendengar penjelasan Shaka yang begitu bahagianya.
“Bunda belum bisa membedakan mana Shakti dan Shakhar.“ ujar bunda menggendong salah satu cucunya.
“Yang Bunda gendong memiliki tanda lahir di telapak tangan kanannya, itu adalah Shakti. Dan yang bersama ayah adalah Shakhar ayah dan bunda bisa panggil Akhar.“ ucap Shaka pada kedua orangtuanya. Yang tengah tertawa bahagia memikirkan bagaimana cara mereka memanggil cucunya tanpa harus melihat tanda lahirnya terlebih dulu.
“Nadia bagaimana jika Akhar bersama ayah juga bunda. Biar Shakti bersamamu agar kamu tidak terlalu lelah, sayang.“
“Nadia tidak keberatan bunda, asal tidak membuat bunda repot dan lelah.“ ujar Nadia khawatir jika ibu mertuanya repot mengurus salah satunya dari putranya.
“Tentu saja tidak sayang. Karena mereka adalah harapan kami penerus keluarga kita.“ ucap bunda tersenyum pada Shaka dan suaminya.
Setelah puas bercengkrama bersama kedua cucunyanbunda Maya, dan suami pamit pulang. Untuk menyiapkan acara syukuran menyambut kedua cucunya pulang kerumah. Nadia Shaka baru bisa pulang esok pagi setelah Nadia benar-benar sudah pulih.
...***...
Tepat pukul sembilan pagi Shaka bersiap membawa pulang istri dan kedua anaknya pulang. Setibanya di rumah Shaka dan Nadia melihat halaman rumahnya sudah ramai berjajar mobil milik saudara dan kerabatnya yang sengaja datang untuk melihat baby twins Shaka dan Nadia.
Tantri dan Aldo berjalan menghampiri kedua kakaknya untuk melihat si kembar tampan.
“Hallo keponakan tante yang ganteng, Tante kangeeen sekali ingin melihat kalian.“ ujar Tantri menoel pipi mungil kedua keponakannya.
“Tante, apa kabar? Bundaku juga kangen cama tante.“ ucap Nadia cadel menirukan suara anak kecil. Di kamar Tantri menemani Nadia dan keponakannya siapa tahu kakanya membutuhkan bantuannya. Memberikan sedikit waktu pada kakak iparnya istirahat setelah semalaman berjaga menjaga si kembar yang sedikit rewel di tengah malam.
“Tantri bagaimana dengan bulan madu kalian? Apa suah ada tanda-tanda si kecil sudah hadir?“ tanya Nadia pada adiknya kearah yang lebih sensitif.
Tantri menggelengkan kepalanya ringan. “Belum mba do'akan saja semoga Tantri segera menyusul mba Nadia. Dan secepatnya diberi kepercayaan oleh Tuhan.“
“Aminn, semoga kamu secepatnya diberi momongan Tantri. Biarkan semua berjalan mengalir apa adanya“ ucap Nadia mendo'akan.
Malam hari suasana di rumah keluarga Bimantara semakin ramai akan kehadiran para tamu dan tetangga dekat yang ingin sekali melihat penerus generasi Firman Arsyad.
__ADS_1
Nada membawa putri kecilnya, mengajak Nadia membawa si kembar keluar untuk duduk di ruang tamu. Karena banyak saudara yang datang ingin melihat putra mereka.
“Mba Nadia ayo ajak Sakar keluar! Tantri kamu bantu mba Nadia gendong keponakanku ya!“ajak Nada meminta membawa kedua keponakannya.
“Bukan Sakar, Nada. Tapi Shakti dan Akhar!“ protes Tantri merasa bukan nama dari keponakannya.
“Iya maksudku itu. Jadi aku tidak perlu panggil satu-satu,“ ucap Nada tersenyum gemas pada baby twins tampan itu.
Nadia dan Tantri tertawa setelah menyadari maksud dari putri saudara sepupu bunda Maya.
Mereka yang duduk ngobrol setelah mengikuti acara syukuran beranjak berhambur. Menghampiri Shakti dan Akhar, yang ingin melihat lansung betapa tampannya putra dari dokter Arshaka. Pria yang dulu menjadi primadona para ibu-ibu komplek yang ingin sekali menjadikannya menantu.
“Jeng Maya cucumu tampan sekali. Sayang sekali dulu kita tidak jadi besanan.“ tawa bu Harni dengan gurauannya.
“Itu semua karena belum jodoh, Harni. Dan yang menjadi wanita beruntung itu adalah Nadia. Bukan begitu jeng Maya?“ sambung bu Retno menimpali obrolan antara bu Harni dan bunda Maya.
Kamu memang wanita yang sangat beruntung, Nadia. Kamu telah mendapatkan apa yang tidak semua wanita miliki, sebuah ketulusan sehingga Tuhan selalu berbaik hati padamu tidak seperti diriku yang dinyatakan___“
“Sayang kenapa masih berdiri disini? Kamu tidak ingin melihat si kembar? Mungkin dengan menggendongnya Tuhan akan segera memberikan apa yang kau inginkan.“ tanya Ibra tiba-tiba pada Andrea istrinya dari arah belakang.
“Ehh, iya mas. Sudah ketemu Shaka?“ tanya Andrea gantian.
“Sudah cuma ngobrol sebentar. Kebetulan dokter Shaka baru bangun. Katanya hampir semalaman tidak tidur karena menjaga si kembar yang rewel. Sayang kita juga pasti akan seperti itu kurang tidur karena bergadang menjaga anak-anak kita.“ ujar Ibra tertawa, dalam benaknya ia berharap semoga di rahim istrinya secepatnya ada benihnya yang tumbuh sebagai buah cintanya.
“Eh, iya mas. Aku pun berharap yang sama denganmu. Aku ingin menemui Nadia.“ ucap Andrea dengan senyum paksanya. Meski ada sedikit rasa sedih yang ia coba tahan.
“Nadia!“ Sapa Andrea mengambil duduk di sisi Nadia yang sedang memberi asi pada kedu putranya.
“Nadia boleh aku gendong salah satunya? Aku bantu pegang botol susunya.“ tanya Andrea melihat Nadia sedikit repot memegangi botol susu di tangan kanan dan kirinya.
Si kembar begitu kuat menghisap botol susunya yang berada didalam stroller karena keduanya sudah tidur. Karena yang lain tengah sibuk dengan urusannya masing-masing.
“Sayang anak kita sudah tidur?“ tanya Shaka pada istrinya, dengan melingkarkan tangan kekarnya di pinggang Nadia. Dan mencium pipi istrinya yang terlihat lebih berisi setelah melahirkan.
__ADS_1
“Mas Shaka! Nggak liat ada dokter Andrea, malu mas!“ protes Nadia lewat sorot matanya.