Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Karin Putri Permadi


__ADS_3

Ibra dan Andrea berjalan sejauh hampir satu kilo meter mencari rumah warga atau warung kecil di sekitaran jalan, yang hampir mendekati permukiman yang masih sangat jarang, jarak rumah dengan tetangga sedikit jauh kurang lebih 100 meter.


Akhirnya mereka menemukan salah satu rumah warga ya di depannya ada warung kecil yang menjual bahan sembako. Ibra meraih telapak tangan Andrea mengajaknya duduk istirahat di bangku kayu berukuran panjang.


"Permisi bu, saya mau membeli dua botol air mineral," Ibra memanggil seorang ibu pemilik warung.


"Iya, sebentar silahkan duduk," Ibu pemilik warung mempersilahkan Ibra dan Andrea duduk di bangku yang terdapat di depan warungnya. Meneguk air hingga separuhnya rasa haus yang sejak tadi terasa mencekik kerongkongan nya.


"Adek ini darimana sepertinya habis berjalan jauh? Sampai haus gitu bajunya juga sampai basah karena keringat."


"Benar bu, mobil kami mogok di jalan. Boleh saya menumpang untuk mencarger ponsel agar saya bisa menghubungi montir?" izin ibra sopan pada ibu pemilik warung yang usianya kira-kira 50 tahunan.


"Tentu boleh silahkan!" menunjukkankan kabel penghubung daya pada stop kontak yang terdapat di dinding warung. Ibra segera mecolokkan kabel charger ke ponselnya, ia kembali duduk di samping Andrea yang sedang mengikat rambutnya asal dengan karet yang dia temukan di meja warung yang entah bekas terpakai untuk mengikat apa?


Melihat rambut Andrea yang hanya diikat asal hanya sekedar menghalau rasa gerahnya, justru membuat penampilanya terlihat cantik alami. Apalagi yang menampakkan leher jenjangnya yang putih mulus membuat Ibra tak melepaskan pandangannya.


"Kenapa jadi liatin aku terus dokter? Ada yang salah?"


"Nggak ada yang salah, jika ada pria menatapmu dan mengatakan kau cantik." Andrea memutar matanya malas sambil meletakkan botol air mineralnya. Lalu meraih roti sobek yang tertata di atas meja dan memasukkan kedalam mulutnya, karena Ibra belum juga melepaskan tatapannya muncul ide iseng ia raih botol minumannya menyedot sedikit air dengan sedotan lalu meniupkan ke wajah Ibra yang masih setia menatapnya.


Air pun terpercik ke wajahnya Ibra mengibaskan kedua tangannya ke udara.


"Andrea apa-apaan sih kamu!" gerutunya sambil mengusap sedikit air yang membasahi wajahnya. Andrea tertawa melihat wajah kaget Ibra.


Ibu si pemilik warung tersenyum melihat sikap mereka yang kekanak-kanakan.


"Dasar anak muda kalo lagi kasmaran nggak ada malu," gumamnya menggelengkan kepalanya dan kembali masuk ke rumah karena takut mengganggu kenyamanan dan kedekatan mereka. Ibra mencoba melihat daya di ponselnya dirasa cukup meski belum terisi full ia mecabut dari kabel pengisian untuk menghubungi montir dan agar mobilnya segera diperbaiki.


***

__ADS_1


Adri melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya sambil menunggu pintu lift terbuka Adri menghubungi orang suruhannya untuk mencari Andrea juga mencari informasi tentang Arshaka. Namun pintu lift yang terbuka membuat Adri mengurungkan niatnya, kembali memasukkan ponselnya kedalam saku jasnya.


"Kenapa handphone Andrea sulit di hubungi? Seharusnya Andrea sudah sampai di rumah dua jam yang lalu." gumam Adri mencemaskan putrinya.


"Selamat siang Pak Adri maaf jika saya sedikit terlambat," ucap Permadi melepaskan jabatan tangannya pada pemilik perusahaan teknologi terbesar di indonesia.


"Tidak apa-apa saya juga baru sampai bagaimana dengan hasil laporan presentasi projek kemarin?"


Permadi menyerahkan berkas juga menunjukkan hasil presentasinya yang diambil secara virtual melalui layar laptopnya.


"Bagus Permadi saya senang dengan hasil kerja mu. Lalu bagaimana dengan proyek cabang kita di Yogyakarta?" tanya Adri setelah melihat rekaman hasil meeting Permadi.


"Untuk cabang di Yogyakarta kita sudah serahkan kepada kepala cabang beserta jajarannya, Pak."


Permadi kembali menutup layar laptopnya.


"Saya serahkan tanggung jawab ini padamu Permadi saya masih ada urusan," ucapnya pamit meninggalkan kantor Adri selaku pemimpin serta pemilik perusahaan berbasis teknologi dan perakitan mesin dan komputer.


Meskipun kini Permadi telah menikahi Kania dan memiliki seorang putri cantik, namun kasih sayangnya pada Atfa Rahendra Permadi putra pertamanya dari pernikahan pertamanya dengan Nadia yang kini telah menjadi mantan istrinya.


Sudah seharusnya Permadi membiarkan Nadia bahagia bersama pria yang mencintainya dengan tulus. Penyesalan memang selalu datang terlambat tanpa tahu kapan perasaan sayang serta cinta itu muncul, sudah terlalu banyak luka yang Permadi ciptakan pada mantan istrinya tanpa memikirkan dampak buruk yang akan terjadi di kemudian hari.


Jika suatu saat Fafa mulai bertanya siapa jati dirinya sebenarnya maka kebencian lah yang akan Permadi terima dari putranya.


"Papa......'' teriak suara gadis mungil yang lari dari arah pintu merentangkan kedua tangannya ingin memeluk papanya.


"Karina!" panggil Permadi melihat kedatangan istrinya, Kania dari balik pintu memanggil suaminya.


"Mas!" senyumnya melangkah mendekati meja kerja Permadi.

__ADS_1


HAP


Permadi menangkap tubuh mungil putri cantiknya di pangkuannya. Tanpa sengaja Karin melihat foto balita pria tanpa busana telungkup dengan tersenyum lucu.


"Papa itu foto dede bayi siapa? Itu kalin waktu bayi? tanya karin dengan suara imut khasnya. Permadi langsung men-dekstop layar laptopnya sebelum Kania mendekat dan melihatnya.


"Foto siapa mas?'' tanya Kania seraya meletakkan tas slim bagnya.


"Cuma wallpaper aja, sayang yang kebetulan ada di perangkat laptop," kilah Permadi berbohong pada Kania. Untung saja Kania tidak begitu memperdulikan semua yang berhubungan dengan masalah pekerjaan suaminya.


"Karin, gimana suka main ke kantor papa?" Kania tersenyum pada putri kesayangannya sambil mencubit gemas wajah imut Karin Ardina Permadi putri cantik yang ia lahirkan 3 tahun yang lalu.


"Mas nanti malam ada undangan acara Reunian teman kuliahku. Mas ikut ya! Acaranya wajib bawa pasangan kamu mau kan mas temenin aku ke acara?" tanya Kania penuh harap. Permadi hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Kania dan mengangguk pelan.


"Mama, Kalin boleh ikut tidak?" lagi-lagi karin bertanya dengan suara cadelnya yang gemas dan lucu membuat Permadi mencolek pipinya yang putih bersih.


"Boleh dong sayang! Coba tanya papa boleh nggak karin ikut?" perintah mamanya.


"Pa, Kalin boleh ikut?" tanya Karin menunjukkan senyum manisnya.


"Emmmm..... boleh nggak ya?" goda Permadi mengetuk jarinya di bibirnya. "Karin di rumah aja deh sama oma Dita dan opa." ucap Permadi menggoda Karin yang sudah cemberut memanyunkan bibir mungilnya.


"Nggak mau mama, papa culang nggak aja kalin jalan-jalan," rengek Karin membuat papa, mamanya tertawa akan aksi lucunya.


Mereka cukup bahagia dengan keluarga barunya meski pernikahan Kania dan Permadi masih belum mendapatkan restu sepenuhnya dari ayah Kania Ardana dinata. Hanya mama Ratna yang yang masih menunjukkan perhatian dan sayangnya pada Kania dan cucunya Karin. Sesekali Ratna mengunjungi rumah Kania setiap kali merindukan cucunya yang sangat ceriwis dan suka bertanya. Kania mengajak Karin pulang setelah menghabiskan waktu maka siang di restoran yang tidak jauh dari kantor Permadi bekerja.


Permadi mengantarkan anak dan istrinya pulang ke rumah lalu kembali ke kantor.


"Dada papa...'' Karin melambaikan tangannya ke udara pada Papanya.

__ADS_1


"Dada, Karin sayang." balas Permadi pada putrinya.


"Hati-hati mas!" pesan Kania sebelum Permadi masuk kedalam, dan menyalakan mesin mobil.


__ADS_2