
“Andrea! Maaf aku pikir kau adalah Tantri, maaf tidak sopan di depanmu.“ ujarnya menatap kedua putranya yang telah lelap
“It's ok Shaka. Tidak masalah.“ balas Andrea lebih santai.
“Dokter Shaka, selamat atas atas kelahiran baby twins kalian. Mereka sangat tampan dan lucu dan membuatku sangat menginginkan mereka.“ ucap Ibra tersenyum mengelus pipi Shakti dengan jarinya. Dan membuat tidur bayi mungil itu terusik.
“Terima kasih dokter Ibra. Aku harap kalian akan segera menerima kabar baik itu dari istrimu, dan akulah orang pertama yang akan mengucapkan selamat untuk mu.“ kata Shaka pada pada dokter spesialis ortopedi di rumah sakit miliknya.
Eeee... Hik..kk...!!
Akhar mulai terusik dari tidurnya, bibir mungilnya bergerak lucu mencari sesuatu yang membuat perutnya lapar. Andrea kembali memberikan botol susunya dan Akhar mengisapnya kuat. Tidak lama tangis Shakti mulai terdengar dan Nadia melakukan hal yang sama seperti yang Andrea lakukan. Tapi Shakti tidak mau menghisap botol susunya, bahkan tangisnya semakin kencang. Dan membuat penghuni rumah menghampiri banyak twins untuk menenangkan Shakti.
“Sayang cucu oma kenapa menangus, Nak?“ bunda Maya meraih tubuh ringkih cucunya untuk menggendongnya tapi
tangisnya semakin kencang. Opanya pun tidak bisa menenangkan.
“Ayah, jika Shakti sudah menangis yang ia butuhkan hanyalah bundanya. Sayang bawa Shakti ke kamar dan susui dia.“ titah Shaka pada istrinya. Firman memberikan cucunya pada Nadia dan ajaibnya tangis Shakti tidak lagi terdengar dan lebih tenang dalam dekapan bundanya.
“Dasar cucu opa satu ini, nakal ya. Bikin opa dan omanya panik!“ seru Firman menepuk pantat cucunya sayang. Semua punya tertawa dibuatnya melihat aksi Shakti yang lucu dan menggemaskan.
“Nadia, biar oma ajak Akhar ke kamar sekarang. Lagipula Akhar kembali tidur.“ kata oma meraih cucunya dari stroller.
“Terima kasih oma, oma jadi capek mengurus Akhar.“ ucap Nadia.
“Tidak sayang, sebaliknya oma sangat senang bersamanya.“ balas oma.
“Kalau begitu kami pamit pulang Nadia, Shaka. Sekali lagi selamat atas kebahagiaan kalian, baby twins om dan tante pulang dulu sampai ketemu lagi.“ ucap Andrea pada kedua baby twins dan mencium pipi mereka bergantian.
Di kamar Shaka terus saja menatap putranya tanpa bosan. Jika bayi mungil itu bisa bicara, mungkin saja makhluk kecil itu akan berkata pada ayahnya. Apa ayah tidak jengah menatapku terus?
“Sayang, aku bahkan seperti sedang bermimpi. Rasanya aku masih belum percaya jika aku memiliki dua putra sekaligus. Dan aku telah menjadi seorang ayah. Aku mencintaimu sayang, aku mencintai kalian. Kalian adalah darah dan nafasku tanpa kalian aku tidak sanggup berdiri dengan tegar.“ ucap Shaka menggenggam telapak tangan istrinya dan mencium buku jarinya. Nadia mengusap kedua pipi suaminya yang basah.
Nadia menggelengkan kepalanya ringan. “aku tidak akan kemana-mana mas. Kami akan selalu ada untukmu Kau, Shakti, dan Shakhar adalah jantung dalam tubuhku.“ tuturnya menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Shaka menciumi pucuk kepala istri penuh cinta.
...***...
*Satu tahun kemudian*
“Shakti, Akhar dimana kalian sayang? Ayo minum dulu jusnya sayang“ panggil Nadia setengah berteriak membawa dua botol jus buatannya. Mencari kedua putranya yang baru saja ditinggal ke dapur membuat jus pir untuknya.
Kedua bocah itu dengan tenangnya menumpahkan bedak, dan mengacak-acak pakaiannya dan duduk disamping ranjang dengan kompaknya.
“Nda, Ndaaa.... “ ucap keduanya dengan bahasa anehnya yang hanya Nadia dan omanya saja yang mengerti. Kedua putranya tertawa mengibaskan kedua tangan dan tubuhnya yang cemong terkena bubuk bedak.
“Sakaarr! Jadi bunda harus buka segel bedak lagi untuk kalian?“omel Nadi berdecak sedang kedu tertawa senang membuat kamarnya seperti kapal pecah.
“Assalamu'alaikum cucu oma! Sakar kalian sedang apa? Astagfirullahalazim, Sakar! Kalian sudah seperti udang di tepungin,“ seru bunda tertawa lepas melihat kedua cucunya seperti alien.
“Nadia, Hati-hati lantainya licin! Oma akan minta Titin membersihkan lantainya dari bedak. Oma takut kamu kpleset bahaya, Titin... tolong bersihkan lantainya dan jangan lupa masukkan durian yang tadi saya beli ke dalam kulkas.“ perintah oma pada Titin
“Iya oma!“ jawab Titin cepat.
__ADS_1
“Oma apa sebaiknya acara ulang tahun Sakar kita tunda besok saja. Lagi pula opa dan ayahnya masih di Bandung.“ ucap Nadia memberi saran.
“Tidak bisa sayang. Oma sudah terlanjur menyiapkan semuanya dan meminta pak Lukman untuk menjemput anak-anak panti untuk datang ke rumah.“
“Ya sudah oma, Nadia akan mendikan Shakti lebih dulu.“
“Iya sayang biar Akhar sama oma dulu. Sudah sana buat cucu-cucu oma seperti pangeran!“ perintah oma mencium gemas si kembar.
“Siap oma!“ balas Nadia.
Setelah memandikan keduanya barulah Nadia bersiap diri untuk menyambut kedatangan anak-anak panti yang dijemput supir omanya. Sakar terlihat tampan dan menggemaskan dengan pakaian ala ceo yang omanya pilih kemeja putih deng dasi pita di kerahnya lengkap dengan jas sebagai pelengkap.
“Assalamu'alaikum, Sakar sayang!“ ucap Tantri dan Aldo mencubit gemas keponakannya.“
“Tante! Jadi datang? Katanya tidak bisa ke Jakarta karena hamil muda Dan lagi manja-manjanya.“ tanya Nadia ingin tahu.
“Tadinya aku melarang Tantri melakukan perjalanan jauh. Karena kita masih bisa lihat acara si kembar lewat panggilan vidio call. Tapi Tantri bilang ngidamnya karena pengen ketemu si ganteng Sakar.“ Sambung Aldo membalas pertanyaan kakak iparnya.
Nadia tersenyum menatap adik perempuan satu-satunya yang semalaman tidak bisa tidur karena ingin bertemu dengan kedua keponakannya.
Acara pun berlangsung di tutup dengan acara do'a bersama, yang di pimpin oleh ustadz Zamani. Ketua sekaligus pengurus panti asuhan Az-zahra, saat tiba di penghujung acara oma, Nadia dan juga Aldo bagi-bagi salam tempel untuk anak-anak panti.
Tidak lama mobil Shaka memasuki pintu gerbang halaman. Shaka dan opa Firman langsung menuju taman belakang, dimana acara ulang tahun Sakar diadakan. Pak Lukman dan dua asisten rumah tangganya membawa bingkisan yang sudah Shaka dan ayahnya bawa dari Bandung untuk semua anak panti.
“Assalamu'alaikum!“ ucap Shaka dan opa Firman.
“Waalaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh,“ jawab mereka semua yang ada di tempat acara.
“Iya seharusnya memang seperti itu. Tapi acara di langsungkan siang tadi. Jadi kami bisa pulang secepatnya dan menemani acara putra kita, sayang.“ jelas Shaka memberitahu. Dan meraih kedua putranya dalam gendongnya.
“Ayya...yaa yah!“ celoteh mereka pada ayahnya tersenyum dan memeluknya.
Kebahagiaan Nadia dan keluarganya semakin lengkap. Tidak ada yang lebih indah dari sebuah cinta yang sudah Tuhan anugrahkan pada mereka yang mau bersabar.
Di meja makan semua menikmati hidangan makan malam bersama tanpa adanya obrolan. Hanya dentingan sendok dan piring yang saling berbenturan, Shaka dan Nadia lebih dulu menyelesaikan acara makan malamnya. Sebab Titin dan bibi suah terlalu lelah menjaga si kembar dan buruk istirahat.
“Nadia! Tolong ambilkan buah durian dalam lemari es.“ perintah ibu mertuanya sebelum Nadia melangkah ke kamar.
“Bunda beli durian?“ tanya Shaka meletakkan gelas bekas minumnya.
“Iya Bunda memesannya langsung dari tante Siska. Katanya mau balik ke Jakarta mumpung tantemu ada di Medan makanya bunda minta dibawakan.“ jelas bunda menuturkan.
Baru membuka pintu kulkas, Nadia sudah mual dan tidak tahan dengan bau buah yang yang menjadi favorit suami dan mertuanya.
Oeee....kkk...
“Kenapa duriannya bau sekali, Bunda!“ pekik Nadia mengeluh bau buah yang membuat perutnya tidak tahan.
“Kamu kenapa sayang?“ teriak Shaka beranjak dari kursinya.
“Kulkasnya bau, Mas!“ jawab Nadia mencuci mulutny dengan air mengalir.
__ADS_1
“Bau! Bau apa, sayang?“ tanya suaminya penasaran.
“Coba kamu buka aja mas kulkasnya pasti bau!“ jawab Nadia cepat mencapit hidung dengan jarinya.
“Nggak bau sayang, malah baunya enak bau durian.“ cicit Shaka mencomot satu buah lalu melahapnya.
“Mas Shaka, Bau! Pokoknya nanti jangan tidur dikamar aku nggak suka mas.“ omel Nadia meninggalkan suaminya di dapur.
’’Nadi, mana duriannya? Bunda sama ayah sudah tunggu daritadi. Bagaimana rasanya sayang?“ tanya bunda.
“Duriannya bau, Nda. Nadia nggak suka.“ ucap Nadia sambil menutup mulutnya yang ingin muntah lagi.
Bunda Maya mengernyitkan dahinya serta menyipitkan matanya heran. “Nggak suka? Bukannya dulu kamu dan Shaka paling doyan?“ Bunda semakin heran pada perubahan sikap Nadia dua minggu terakhir ini.
“Durian Medan memang manisnya tajam, Nda baunya juga beda dari durian lainnya.“ timpal ayah mertuanya membela.
“Nadia! Sayang! Jangan-jangan kamu___“
“Memangnya istriku kenapa Bun?“ tanya Shaka tidak mengerti.
“Shaka kamu itu suaminya. Kenapa tanyanya sama bunda!“ protes bunda dengan senyum tipisnya.
“Bunda ngomongnya nggak jelas malah kasih teka-teki ke Shaka,“ ujarnya mencari istrinya.
“Opa....!
“Heem...“
“Opa tahu menantu kita kenapa?“ tanya bunda berteka teki.
“Memangnya menantu kita kenapa, Nda?“ tanya suaminya bingung akan pertnyaan istrinya.
“Shakti dan Akhar akan punya adik, Opa!“ seru bunda Maya senang.
“Mas Shaka! Kenapa kesini? Sana tidur di kamar tamu aja!“ usir Nadia tidak suka.
“Sayang ko tega sih, suruh aku tidur di kamar tamu?“ keluh Shaka dengan wajah melasnya. Nadia mendorong tubuh suaminya di depan pintu kamarnya.
“Sudah sana Shaka, turuti saja apa maunya Nadia! Kamu mau si kembar bangun lalu kamu bergadang lagi?“ Shaka membalik tubuhnya menghadap bundanya.
“Bunda, ko ikut suruh Shaka tidur di kamar tamu? Para wanita hari ini berubah menjadi lebih tega.“ ucap Shaka menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Terima kasih omanya Sakar. Hari ini Nadia memang sedang tidak ingin tidur dengan ayahnya Sakar.“ ujar Nadia menutup rapat pintu kamarnya.
“Sayang! Ini beneran Aku__“
“IYA!“ jawab Nadia cepat
“
...***...
__ADS_1