Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Ziarah Ke Makam Fafa


__ADS_3

Nadia dan Shaka menemui Andrea di ruang tamu yang tengah duduk menunggu kedatangannya. Dilihatnya wajah Andrea yang nampak sedih dan kalut, Nadia dan suami melangkahkan kakinya masuk dan menegurnya.


”Dokter Andrea!” tegur Nadia masih dengan nada sopan, berbeda dengan Shaka yang tidak mengucapkan sepatah kata pun. Menatapnya pun juga tidak, ia mendaratkan bokongnya duduk di sofa bersisian melingkarkan tangannya di punggung istrinya. Seraya mengusap lembut perut Nadia.


Arshaka sengaja memamerkan keromantisan nya dihadapan mantan kekasihnya. Seolah ingin membuat Andrea semakin terbakar cemburu. Andrea menatap Shaka dan Nadia dengan tatapan canggung.


”Nadia, Shaka! Maafkan aku telah mengganggu waktu istirahat mu.” ucap Andrea gugup.


”Langsung saja ke inti pembicaraan, Andrea.” ujar Shaka dengan wajah datarnya, yang memang sudah menjadi khas nya dokter Arshaka.


”Se_Sebenarnya kedatanganku kesini__”


”Apa yang ingin kau katakan pada kami dokter Andrea?” tanya Nadia tidak sabar, menatap lekat netra wanita cantik berambut ikal itu.


”A__Aku. Aku ingin minta maaf atas semua kesalahanku padamu Nadia. Shaka aku mohon maafkan semua salah dan khilafku. Atas nama papa aku mohon maafkan papa, Nadia! Apakah tidak ada kata maaf untuk kami. Papa melakukannya karena tersulut emosi, marah dan juga dendam setiap kali melihatku bersedih. Aku memang bodoh tidak bisa menerima kenyataan, sangat sulit bagiku saat itu untuk bisa melupakan semuanya. Hingga aku mengkonsumsi obat tidur dalam dosis tinggi dan itu membuat papa syok, dan membuat papa menjadi gelap mata.” Andrea menangis tidak sanggup melanjutkan lagi kata-katanya. Ia menangis sesegukan menundukkan wajahnya yang terlihat kacau.


Nadia meremas telapak tangan suaminya menahan buncahan yang begitu sesak didadanya. Arshaka mendekap tubuh istrinya yang begetar mencoba menahan tangisnya.


”Aku tidak menyangka seorang ayah tega melakukan itu pada anak kecil yang tidak berdosa. Putraku bahkan tidak mengerti kesalahan dan masalah diantara kita, para orang dewasa yang bertindak bodoh melebihi dari seorang anak kecil.”


”Sayang, Tenangkan dirimu. Aku mohon demi calon anak kita.” Shaka mengelus punggung istrinya lembut menenangkan Nadia. ”Andrea aku mohon jangan buat istriku semakin stress, Apa kau tidak melihat kondisinya sekarang?” bentak Shaka sedikit keras meminta Andrea untuk tidak mengatakan apapun lagi.

__ADS_1


Suara Arshaka yang terdengar sedikit lantang dan keras terdengar hingga kamar bunda Maya. Bunda Maya dan suami keluar untuk melihat ada keributan apa yang terjadi di ruang tamu.


”Andrea! Shaka! Ada apa ini? Kenapa ada ribut-ribut?” tanya Firman menatap Andrea anak dan menantunya bergantian. ”Andrea ada maksud apa kau datang kemari?” Kini tatapan Firman berubah menjadi sedikit mengintimidasi ke arah Andrea.


”Andrea tolong jangan ganggu ketenangan keluarga Shaka dan Nadia. Sudah cukup papamu memberi sebuah duka pada putra Nadia. Tolong jangan buat Nadia semakin stress dengan hal ini.” pinta bunda Maya penuh permohonan.


”Aku hanya ingin minta maaf pada kalian. Hanya itu yang ku inginkan, tolong maafkan kesalahan kami.” ucap Andrea menangis. Meraih tasnya beranjak dari duduk serta menatap Nadia dan Shaka sekilas lalu pergi meninggalkan ruangan.


”Sayang, kita kekamar.” pinta suaminya menuntun langkah Nadia menuju kamar.


...***...


Sesuai janjinya Shaka menuruti keinginan Nadia yang ingin pergi berziarah ke makam putranya Fafa. Arshaka membawa keranjang berisi kuntum bunga yang diambilnya dari kebun belakang rumahnya yang dibantu Titin untuk memetiknya.


”Terima kasih mba Titin sudah bantu petik bunganya.” ucap Shaka meletakkan bunga kedalam keranjang.


”Bunganya sudah lebih dari cukup, Mas.” kata Nadia melihat isi keranjang di tangan suaminya lalu mencium harum bunga mawar di tangannya.


”Kita berangkat sekarang,” senyum Shaka pada istrinya menggandeng tangan Nadia. ”Pak Lukman tolong bukakan pintunya!” panggil Shaka sambil menutup pintu mobilnya


”Baik, Den Shaka,” jawab Pak Lukman mendorong pintu gerbang membukanya lebar-lebar.

__ADS_1


”Sayang harus janji setelah sampai disana. Sayang Nggak boleh nangis,” larang Shaka pada Nadia seraya meraih jari tangan istrinya. Nadia tersenyum tipis melirik suaminya yang fokus menatap jalanan didepannya mengoperasikan mesin kemudi.


”Iya mas aku janji tidak akan menangis.” ujar Nadia menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.


Setibanya di makam Nadia dan Shaka melihat Permadi ada di makam putranya, duduk berjongkok mendoakan almarhum Fafa darah dagingnya. Nadia melihat punggung mantan suaminya ada di depan makam putranya. Ia menatap suaminya sekejap dengan kedua bola matanya yang seolah ingin bertanya, Shaka mengindik dengan kedipan matanya sebagai jawaban yang mewakili pertanyaan istrinya.


”Kita kesana,” lanjut Shaka menggiring langkah istrinya menuju makam Fafa. Permadi sedikit menoleh kebelakang mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat kearahnya.


”Nadia, Dokter Shaka!” Permadi menyapa, melihat kehadiran mereka di makam putranya. Permadi memberi sedikit jarak untuk mereka berdua yang akan mendo'akan Fafa.


”Assalamu'alaikum, Sayang ini bunda dan ayah, Nak. Kami datang untuk mendo'akan Fafa. Bunda dan ayah sangat merindukan Fafa.” ucap Nadia seraya menaburkan bunga dan air mawar di atas gundukan tanah didepannya dan mendo'akan nya.


Usai mendo'akan almarhum putranya, Nadia dan Shaka berjalan menuju mobilnya. Sebelum masuk kedalam ternyata mobil Permadi masih ada di area parkir pemakaman.


”Nadia!” panggil Permadi Nadia menghentikan gerakan tubuhnya yang ingin masuk kedalam mobil.


”Mas Permadi!” ujar Nadia menoleh menjawab panggilan mantan suaminya.


”Sekarang Tuhan benar-benar membuat kita untuk tidak memiliki hubungan apapun lagi. Terlebih pengikat itu telah putus dan Fafa adalah sebuah alasan untuk ku belajar menjadi seorang ayah yang baik. Maaf pernah membuat mu terluka, disaat aku ingin kembali kepadamu dan ingin memulainya dengan awal yang baru. Dia lebih dulu hadir sebelum aku memulainya.” ucap Permadi melirik suami Nadia lewat sorot matanya. Arshaka mengepalkan kedua tangannya marah, rahangnya mengeras melirik Permadi tajam dan menarik kerah kemejanya kencang serta mendorongnya ke mobil kasar.


”Laki-laki brengsek, pecundang! Bisa-bisanya kau mengatakan itu dari mulut kotor mu, setelah apa yang kau lakukan pada Nadia dulu. Sudah ku peringatkan padamu setelah kau membuang logam muliamu jangan harap kau bisa memungutnya lagi.” Arshaka mendorong tubuh Permadi cukup keras hingga membentur bodi mobilnya.

__ADS_1


”Mas Shaka cukup. Lebih kita pergi dan jangan buat keributan disini atau Fafa akan merasa sangat sedih,” ucap Nadia melerai suami dan mantan suaminya.


__ADS_2