
“Andrea! Tumben belum rapi?“ tanya mamanya sembari menata piring dan makanan di meja makan.
“Hari ini Andrea cuti untuk sementara, Ma.“ jawab Andrea cukup singkat. Adri papanya hanya melirik Andrea dan istrinya sesaat sambil menyesap minuman panas rendah kafein.
“Itu lebih baik untuk Andrea, Ma. Dia butuh suasana yang lebih mendukung. Papa sudah siapkan tiket liburan untuk mu ke Bali sayang dan semuanya sudah lengkap. Papa berangkat,“ pamit Adri pada Andrea dan istrinya.
“Terima kasih, Pa. Sayang banget Sonya sudah pindah tugas, mungkin aku akan ajak Sonya liburan.“ keluh Andrea pada dirinya menyayangkan momen liburan tanpa sahabatnya.
“Kamu bisa ajak, Sri bersama mu Andrea buat bantu kamu disana.“ saran mamanya,“
“Huum,“ balas Andrea sambil mengunyah sarapannya.
Andrea kembali ke kamar setelah menghabiskan sarapannya, menata pakaian serta barang yang akan dibawa ke Bali.
Mulai dari peralatan mandi, make-up dompet satu yang tak ketinggalan kabel charger alat penting sejuta umat. Setelah semua masuk kedalam koper Andrea turun membawa tas mungilnya.
“Mah, Andrea mau pergi sebentar ada yang mau Andrea cari,“ pamit Andrea mencium pipi mamanya.
“Andrea! Kamu nggak pergi buat ketemu Shaka kan?“ tanya Tania dengan tatapan curiga.
“Nggak, Ma. Beneran! Andrea mau cari sweater baru di butik tante Ella.“ jawab Andrea cukup meyakinkan mamanya.
“Andrea, pinta supir untuk mengantar mu!“ teriak Tania yang entah didengar Andrea atau tidak karena sudah berada di luar.
Tapi mobil Andrea sudah lebih dulu keluar dari pintu gerbang, dan supir masih berada di halaman mencuci mobil khusus keluarga.
“Aku harus menemui Nadia dan meminta maaf padanya. Hanya itu cara satu-satunya agar Shaka kembali percaya, jika aku bisa menerima semuanya dan melupakan semua tentang masa laluku bersamanya dulu.“ ucap Andrea yang bermonolog pada dirinya sendiri.
Harapan Andrea adalah semoga Nadia dan Shaka mau memafkan perbuatan buruknya yang dulu pernah ia dan papanya lakukan. Andrea cukup ragu saat mobilnya sudah sampai di are perumahan, tidak terasa mobil perlahan bergerak hingga sampai di depan pintu gerbang rumah Shaka.
__ADS_1
Melihat mobil berhenti tepat di depan pintu gerbang, pak Lukman segera membuka gembok pintu besi meski sang pemilik mobil tidak menekan klakson mobilnya.
“Non, Andrea!“ sapa Pak Lukman.
“Pak, Lukman. Tante Mayanya ada?“ tanya Andrea.
“Tuan sama nyonya sudah pergi pagi tadi. Tapi Non Nadia ada ko di rumah baru aja masuk nyiram kembang.“ jawab Pak Lukman memberitahu.
“Makasih, Pak!“
“Sama-sama, Non,“ balas pak Lukman sambil menutup pintu gerbang.
Tokk... Tokk...
Andrea mengetuk pintu yang sudah terbuka lebar sekedar memberi isyarat pada tuan rumah.
“Nadia!“ sapanya.
“Dokter, cari bunda Maya?“ tebak Nadia.
“Tidak Nadia, Kedatangan ku kesini untuk bertemu dengan mu,“ jawab Andrea jujur.
“Aku?“ ujar Nadia bingung mengerutkan keningnya.
“Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu Nadia. Kau pasti sudah tahu siapa aku bukan?“ ucap Andrea meraih telapak tangan Nadia mengajaknya duduk dam bicara di sofa tamu.
Nadia mengangguk lemah dengan mimik wajahnya yang penuh tanya. Nadia melirik tangannya yang berada dalam genggaman tangan mantan kekasih dari suaminya.
“Katakan saja apa yang ingin kau sampaikan padaku, Dokter!“ pinta Nadia dengan raut wajah ingin tahunya.
__ADS_1
“A_ku, Ak__ Nadia, panggil saja aku Andrea jangan panggil aku dokter.“ Andrea gugup menjeda ucapannya ragu, tiap kali ingin mengatakan padanya yang sejujurnya rasa takut tiba-tiba menyerangnya.
“Non, Andrea! Silahkan diminum,“ ucap asisten rumah tangga bunda Maya.
“Terima kasih, Bi.“ jawab Andrea sopan.
“Nadia yang pertama aku ingin minta maaf padamu. Apa kau akan memafkan ku? Aku sudah sangat menyakitimu Nadia.“ jujur Andrea memberanikan diri mengatakan.
“Aku tahu jika dokter. Maksud ku Kau adalah mantan kekasih suamiku, dan aku sudah tahu semua tentang mu Andrea. Aku lah yang seharusnya minta maaf karena aku telah menjadi penghalang cinta kalian. Dan Aku sama sekali tidak mengetahui semua itu, yang aku tahu dokter Shaka sendiri dan tidak mengatakan apapun tentang hubungan kalian. Dan aku hadir di tengah-tengah kalian dan aku sangat mengerti bagaimana perasaan mu saat itu.“
“Tidak, Nadia. Akulah yang bodoh telah menyembunyikan kebenaran tentang keadaan ku saat itu. Aku mengandalkan sebuah kesetiaan seorang pria tanpa aku tahu seperti apa rasanya bertahan dalam kebimbangan. Karena aku terlalu pengecut maafkan aku sempat berpikir untuk merebut Shaka dari mu, Nadia. Walau aku tahu kebenarannya jika Shaka sudah tidak memiliki perasaan apapun padaku, apalagi sebuah cinta semua sudah berubah seiring terlewatny waktu. Dan hanya kaulah wanita yang saat ini sangat Shaka cintai Aku, Ak_u lah yang telah meminta papa untuk me_me_misahkan mu agar Shaka tidak bisa lagi menemukan mu tiga tahun lalu.“ Nadia membelalakkan kedua matanya tak percaya dan segera menarik kedua tangannya dalam genggaman Andrea.
“Jadi semua itu adalah__“ Nadia bangkit dari duduknya menghindari tatapan Andrea. Ingatannya kembali berputar pada kejadian tiga tahun lalu membuat Nadia sangat ketakutan melangkah kan kakinya mundur menghindari langkah Andrea mendekati Nadia.
“Nadiaa....!“ teriak bunda Maya
“Bunda.....“
“Ka, Nadia!“
“Andrea! Ada apa? Kenapa Nadia pinsan?“ cecar bunda Maya yang juga ikut terkejut melihat menantunya tiba-tiba jatuh pinsan ada bersama Andrea.
“Tante! Ak_u.“
“Cepat bantu Nadia masuk kedalam kamar.“ pinta bunda pada mereka.
Tantri membantu Andrea membawa kakaknya Nadia masuk kedalam kamar tamu. Karena kamar Nadia ada di lantai dua sulit untuk mereka membawanya ke atas.
“Bunda Kenapa Oma, Tante?“ Fafa terlihat sedih bertanya pada oma juga tantenya.
__ADS_1