Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)

Cinta Tianda Ganti (Ketika Cinta Datang Dan Pergi)
Suami Ngambek


__ADS_3

Nadia bangun setelah mendengar samar-samar adzan subuh yang terdengar jauh. Ia membangunkan suaminya sebelum beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


"Mas. Bangun mas sudah adzan subuh, mau solat sendiri atau berjama'ah?" Nadia membangunkan suaminya tepat di telinganya. Efek kantuk masih menyerang Arshaka malah menarik tubuh Nadia dalam dekapannya.


"Sebentar sayang lima menit lagi," jawabnya memperkuat dekapannya hawa dingin di kota semarang membuatnya malas untuk bangun di waktu subuh.


Alih-alih lima menit lagi Arshaka maupun Nadia justru tertidur kembali sampai 15 menit. Nadia melepaskan diri dari dekapan suaminya dan kembali membangunkan Arshaka.


"Mas sudah hampir jam lima, ayo bangun!" panggil Nadia sedikit memaksa.


"Iya...Iya mas bangun." Arshaka duduk sambil mengumpulkan sebagian nyawanya yang belum sepenuhnya full.


Nadia masuk ke kamar mandi untuk bersuci terlebih dulu, kemudian disusul Arshaka setelahnya. Nadia telah siap dengan mukena putihnya dan menggelar sajadah untuk suaminya menjadi imam solatnya.


Setelah melakukan ibadah subuh dua rakaat berjama'ah Nadia merapihkan kembali alat solat ke tempat semula, dan merapihkan kembali tempat tidur yang kacau karena ulahnya dan suaminya semalam.


"Mau kemana sih, sayang?" cegah Arshaka melarang Nadia keluar kamar.


"Mau ke dapur mas," jawab Nadia singkat.


"Masih terlalu pagi buat ke dapur, lagi pula mas berangkatnya jam delapan. Hari ini mas mau ajak kamu ke posko, setelah jemput Fafa di hotel."


"Ke posko?" tanya Nadia.


"Iya, sayang. Mas mau mengenalkan kamu di sana, biar mas nggak disangka bujangan," Nadia mengangguk tersenyum


"Oh, ya. Tapi aku malu mas," sanggah Nadia merasa rendah diri berbaur dengan teman-teman suaminya yang memiliki titel tinggi sedang dirinya hanyalah janda miskin yang nikahi Arshaka.


"Malu kenapa, sayang? Kamu kan istrinya dokter Arshaka sudah seharusnya kamu dampingin aku kan?" mencoba meyakinkan Nadia.


"Aku takut bikin kamu malu, mas. Disana pasti ada dokter Andrea, dia pasti tidak suka melihat ku bersama kamu mas.'' tolak Nadia lagi.


"Jangan khawatir ada mas. Andrea nggak akan berani macam-macam."


Nadia beranjak ke dapur setelah suaminya berhasil meyakinkan dirinya, untuk ikut ke posko sekaligus ingin menyampaikan pesan dan kesan sebelum Arshaka pamit kembali ke Jakarta pada warga pojok sari serta kepala desa setempat.

__ADS_1


Arshaka menikmati sarapan paginya yang ditemani Nadia yang telah siap dengan pakaian formalnya untuk mendampingi suaminya, Arshaka yang berprofesi sebagai seorang dokter.


usai sarapan Nadia dan Arshaka menjemput Fafa yang kebetulan bertemu di depan loby hotel. Karena Fafa sudah tidak sabar ingin bertemu ayah dan bundanya, Aldo berniat ingin mengantarkan Fafa ke Villa.


"Ayah....Bunda!" panggil Fafa setengah berteriak memeluk ayah dan bundanya.


"Bunda kangen sekali sayang," Nadia dan Arshaka menciumi pipi dan wajah putra gembulnya.


"Bagaimana jalan-jalannya dengan Paman Al, sayang?" tanya Arshaka kini.


"Fafa senang sekali, tapi Fafa kangen bobo sama ayah," jawab Fafa dengan nada manjanya.


"Kalo begitu sekarang gantian Fafa ikut jalan-jalanya sama ayah dan bunda." ujar Arshaka tersenyum menyemangati putranya.


"Terima kasih mas Aldo sudah mau repot-repot mengajak Fafa, Terima kasih untuk waktunya selama tiga tahun menjaga kami. Entah berapa banyak hutang ku padamu mas Aldo yang aku sendiri tidak dapat menghitungnya. Kau sudah sangat baik menolong ku disaat aku benar-benar sendiri dan tidak tahu arah harus kemana,"


"Cukup Nadia! Aku menolong mu karena itu adalah sebuah kewajiban terhadap sesama."


"Aku pun demikian hanya bisa mengatakan maaf dan Terima kasih atas bantuan mu akhirnya Aku bisa menemukan separuh dari jiwaku yang hilang. Semoga kau bahagia dan segera dipertemukan oleh jodoh mu," ucap Arshaka menepuk pundak Aldo saling berpelukan sebagai salam tanda persaudaraan mereka.


Nadia mengusap air matanya yang tumpah mengingat bagaimana pertemuan awalnya dengan Aldo saat itu. Disaat dirinya benar-benar tertekan diantara dua pilihan karena ancaman dari orangtua Andrea mantan kekasih suaminya.


"Hati-hati paman Al." Fafa melambaikan tangan pada paman Al-nya. Fafa merasa ada kesedihan dihatinya lalu memeluk bundanya seraya menangis.


"Ayo, sayang kita harus segera ke posko," ajak Arshaka pada keduanya.


Di mobil Nadia masih nampak diam, rasa bersalah tiba-tiba mengganggu pikirannya. Seperti ada jarum tajam yang menusuk hatinya, bayangan Aldo yang dulu pernah mengutarakan perasaan cinta padanya kembali teringat. berulang kali Nadia menolak dengan alasan belum bisa melupakan masa lalunya yang menyakitkan.


Arshaka melirik sekilas Nadia lalu kembali fokus pada jalanan di depannya.


"Nadia!" panggil Arshaka tapi Nadia masih diam tidak mendengar. ''Nadia, sayang!" panggilnya lagi dengan suara sedikit keras.


"Iy_iya mas Aldo." ucap Nadia tanpa sadar.


"Ko Aldo sih, Sayang?" kelurahan Arshaka kecewa.

__ADS_1


"Maaf. Maaf mas aku nggak ada maksud buat kamu marah," ucapnya segera menyadari kebodohannya.


Kenapa bisa salah sebut nama sih? Mas Arshaka marah nggak ya? Dasar bodo, bodoh....." gumam Nadia dalam hati merutuki kebodohannya dan menyesali.


Bisa-bisanya kamu sebut nama orang lain Nadia. Padahal jelas-jelas ada aku suami mu yang ada di samping mu.


Nadia melirik suaminya sekilas tanpa berani bertanya. Lalu tiba-tiba Fafa bercerita ketika meraih handphone bundanya yang berada di samping bundanya duduk.


"Bunda tadi malam Fafa telpon bunda pakai handphone Paman Al."


"Oh, ya. Ko bunda nggak dengar handphone bunda bunyi,"


"Kata ayah bunda masih bobo," Nadia melirik suaminya lagi, tapi Arshaka diam tanpa merespon ucapan Fafa dan tetap fokus pada kemudinya.


"Benar begitu mas?" lirik Nadia bertanya pada suaminya.


"Ya," jawabnya singkat tanpa ekspresi.


Nadia ingin bertanya pada sikap suaminya yang tibatiba berubah dingin. Tapi Nadia menundanya karena ada Fafa di sampingnya yang rasanya kurang pantas jika di dengar Fafa yang masih terlalu kecil.


"Bunda, Ko Paman Al tulis nama bunda pakai huruf L-O-V-E." Fafa menyebut huruf abjad satu persatu dalam bahasa Inggris.


"Love!" ucap Arshaka cepat. ''benar begitu Fafa, sayang?"


"Benar, ayah," jawab Fafa. Hati Nadia lagsung mecelos mendengar lagsung dari mulut putranya yang semakin membuat Arshaka semakin marah.


Arshaka tiba di lokasi posko disaat semua tengah bersiap membuat barisan, yang disana sudah ada beberapa warga dan bapak kepala desa beserta istrinya. Mereka menyambut kedatangan Arshaka dan keluarga dengan sangat ramah.


Nampak dari mereka tengah berbisik dengan lawan bicaranya setelah melirik dan melihat Arshaka yang menggandeng tangan istrinya mesra dan sangat erat. Dan itu tidak luput dari pandangan Andrea juga Ibra, lalu menatap Andry dengan senyum smirknya.


Pantas saja dokter Arshaka sangat mencintai istrinya memang cantik dengan wajahnya yang imut. gumam dokter Ibra mengagumi.



Nadia menatap suaminya teduh dengan tatapan penuh arti.

__ADS_1


Syukurlah jika mas Arshaka tidak marah, buktinya mas Arsha memeluk ku dan menggandeng tanganku di depan umum. Dan mengenalkan ku di hadapan teman-temannya juga pada yang lainnya.


Hanya Andrea saja yang nampak tidak suka padanya, dan enggan menyapa Nadia. Tapi Nadia berusaha biasa saja demi menjaga image suaminya di depan orang banyak.


__ADS_2